INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB VIII LOMBA!


__ADS_3

***


(SMA Negeri xx Palembang)


Satu teman baikku pindah menyisakan kenangan manis dan pahit di hati, seorang siswi dengan kemampuan istimewa dalam hal spiritual, ia bernama Cindi si anak indigo.


Sebuah pengalaman berujung masalah besar telah kami lalui meski ia tidak akan pernah kembali. Mulai dari melihat penampakan jelas makhluk halus, berkomunikasi dengan mereka, mencoba berurusan dengan mereka bahkan hampir kehilangan nyawa karenanya.


Satu-satu kenanganku bersamanya adalah sebuah cermin magis yang dapat membuatku melihat makhluk halus dengan jelas.


Beberapa hari setelah kejadian besar di rumah korban tragedi bunuh diri sekolah Cindi tidak pernah masuk lagi. rumahnya pun tidak ada orang mungkin dia sudah pindah ke tempat lain meski urusan dengan pihak sekolah disini belum selesai.


“Yah, kenangan ya kenangan, masa lalu ya masa lalu, masa depan ya masa depan. Sekarang aku harus berlatih untuk menghadapi perlombaan di depan mata bersama ekstrakulikuler PMR” pikirku sekarang yang berada di UKS


Di saat para siswa lain sibuk dengan pelajaran di dalam kelas, aku dan para anggota PMR lain di luar melakukan latihan tentu dengan izin surat Dispensasi dari sekolah. Karena besok adalah hari H perlombaan, latihan kami hari ini pasti sangat berat ditambah perintah dari Kak Gun sebagai pelatih.


“Seperti yang sudah kalian lakukan hari ini, ingat saja latihan hari ini untuk besok. Dan pasti kalian sudah tahu bagaimana rasanya melakukan perlombaan di depan juri namun kali ini berbeda karena selain menggunakan banyak tenaga tapi yang paling penting adalah akal kalian” kata Kak Gun sambil menunjuk kepalanya


“Siap kak!” tegas kami serentak yang sekarang dalam keadaan berbaris rapi seperti tentara


“Pokoknya ingat saja ini, latihan adalah lomba dan lomba adalah latihan, makanya latihan tadi sangat berat supaya kalian bisa merasakan suasana perlombaan lalu untuk besok di perlombaan anggap saja sebagai latihan”


“Siap kak!”


“Kalau begitu kita sudahi latihan hari ini, besok jangan sampai terlambat” Kak Gun mengakhiri latihan hari ini dan pergi dari UKS diantar oleh kak Citra


Meski pelatih sudah mengakhiri latihan namun tidak bagi senior kami, mereka tetap menahan kami sampai mereka bosan dengan waktu. Walau aku sedikit tidak suka karena hanya menghabiskan waktu dan tenaga untuk bermain-main, namun di situ juga aku menemukan ikatan baru.


“Jadi dek, besok jangan telat ya kita kumpul dulu di Gang Kompi. Besok yang laki-laki angkut barang dari UKS ke Bis”


“Kak boleh tanya” Osama mengangkat tangan sambil berdiri


“Iya Osama bin Laden” kata kak Fani memberikan julukan kepada Osama sama seperti tokoh islam dunia pemimpin Al-Qaeda


“Besok kumpul jam berapa ya kak dan pakai baju apa untuk kami yang PP dengan donor darah?” dua pertanyaan dalam satu nafas oleh Osama


“Iya Os iya yang sabar kalo bertanya” kak Fani mengolok Osama


“Besok jam 6.30 sudah ada di Gang Kompi, jam 07.00 kita berangkat. Pakai pakaian olahraga seperti biasa, kecuali untuk donor darah, RSPS dan RPS bawa baju putih juga. Ngerti?!” kak Azizah menjawab pertanyaan Osama dengan tegas


“Baik kak. Ngerti” keberanian Osama runtuh seketika mendengar kak Azizah bicara


Aku sendiri menahan tawa ketika melihat Osama mungkin karena lucu, sementara aku melihat beberapa temanku lainnya mulai kelelahan berdiri.


“Capek…lelah…dan ingin cepat pulang…kurasa pemikiran 21 orang itu sama sepertiku”


“Oke hari ini sampai sini dulu, pulang ke rumah langsung istirahat. Bareta pimpin do’a” ujar kak Azizah sambil mengambil tasnya sendiri


“Baiklah teman-teman sebelum kita pulang ada baiknya kita berdo’a. Berdo’a mulai” Bareta memimpin do’a karena ia memiliki ukuran tubuh tinggi dan tepat berdiri di depan barisan


Do’a selesai di panjatkan, lalu di lanjutkan dengan hormat sebelum pulang, “Siap terima kasih!” serentak anak kelas 10 memberikan salam kepada senior kelas 11


“Kembali kasih” mendengar kata itu semua barisan bubar dengan teratur dan yang lain mengambil tasnya masing-masing


“Akbar bisa tunggu sebentar” kata kak Aisyah memanggilku di tengah kerumunan manusia yang ingin cepat pulang ini


“Ah, iya kak” aku menghampiri kak Aisyah dengan cibiran di dalam hati, “Haduh apa lagi ini? Padahal aku ingin cepat pulang”


“Ehm, bisa tidak Akbar jangan pulang dulu. Ada yang ingin kakak bicarakan”


“Iya kak bisa” aku cepat menjawab tanpa sadar tapi diriku sadar kenapa aku mengatakan hal itu padahal bisa di tolak


UKS mulai sepi teman-teman seangkatanku sudah pergi bahkan senior pun tinggal kak Aisyah, kak Diajeng, kak Rizki dan kak Fani. Dalam pikirku jika empat senior ini masih disini dan ingin bicara padaku berarti pembicaraanya akan serius dan lama.


“Dek bantu kakak angkat bambu tandu di ruangan dalam yuk” ajak kak Rizki


“Sumpah! Aneh!” sebuah perasaan takut mendatangiku entah kenapa tapi aku mulai merasa ada sesuatu yang direncanakan oleh para senior kepadaku, secara tidak sadar pikiran negatif sudah menguasai dan membuat aku berpikiran yang tidak-tidak


Dingin dan panas kurasakan di saat bersamaan, “Apa yang mereka rencanakan?” di saat itu aku hanya mengikuti perkataan mereka saja tapi aku tetap berhati-hati dan menjaga jarak


“Sudah sekarang saja Syah” aku medengar kak Diajeng memaksa kak Aisyah dari luar ruangan pasien


Meski begitu aku tidak menghiraukan mereka karena sekarang aku memperhatikan kak Fani dan kak Rizki, tapi kupikir saat itu adalah sebuah rencana menjahili junior atau memberikan suatu tugas penting untukku.


Kak Aisyah datang berdiri di depan pintu ruangan membuat aku berhenti bergerak melihat tingkahnya yang aneh, seperti orang yang sedang tidak tahan buang air. Jantungku tiba-tiba berdegub kencang memikirkan apa yang terjadi.


“Ak..bar, emmm” kak Aisyah memanggilku dengan malu-malu


“Ah iya kak kenapa?” aku menghadapkan badan padanya agar dapat berbicara dengan mudah


“I..ini!” “Eh?” kak Aisyah memberikan sepucuk surat berwarna pink kepadaku setelah itu dia pergi tanpa berpamitan, “Itu dulu…daahh..”


“Hehh masa begitu saja” kak Fani terlihat kecewa melihat kak Aisyah pergi


“Eh syah tunggu aku” kak Diajeng mengejar kak Aisyah sembari mengambil tasnya yang tertinggal di UKS


Aku sendiri di liputi oleh kebingungan dan ketakutan, walau hanya sesaat jantungku tadi berdegub kencang saat kak Asiyah memberikan surat.


“Surat apa ini?” tanyaku kepada kak Fani dan Kak Rizki masih terlihat kecewa akan hal terjadi


“Ya, yang penting dia sudah berani. Nah Bar tinggal kau saja sekarang, apa jawaban kau?” tanya kak Fani membuat aku tidak paham akan perkataannya


“Jawaban? Jawaban apa kak?” aku membuka dan membaca isi surat dari kak Aisyah


Surat cinta tidak kusangka kuterima dari kak Aisyah…jadi ini alasan ia menungguku hanya untuk memberikan kertas yang berisi perasaannya padaku. Membaca setiap kata dalam surat itu mukaku panas dan jantungku berdegub kencang…malu dan bingung menjadi satu. Akhir kata dari surat pemberian kak Aisyah adalah jawabanku untuk pernyataan cintanya dan itu membuatku bingung.


Kak Aisyah memang cantik dan baik tapi kadang-kadang cerewet dan menyeramkan, tapi ini adalah pilihan sulit bagiku karena terdapat aturan di PMR melarang sesame anggota berpacaran satu sama lain. Tapi kurasa kekuatan cinta lebih besar dari pada aturan karena buktinya kak Aisyah dengan susah payah mengungkapkan perasaan sukanya padaku, kini tinggal diriku “menerima atau menolak”-nya.


***


(Gg. Kompi, 06.00 WIB)


Embun pagi membasahi mata dan kulit, dinginnya angin pagi membuat aku sakit perut. Apalagi tahu jika hari ini terdapat perlombaan penting membuat aku gugup setengah mati.


Aku dan Osama menaiki kendaraan bermotor untuk mengunjal barang perlombaan dari UKS ke tempat pertemuan Gg. Kompi, tidak sedikit barang bawaan yang membuat aku hampir terjatuh dari motor, namun beruntung aku tidak membawa bambu tandu yang tinggi dan cukup berat.


Disiplin waktu berarti bagi kami tepat jam 06.30 seperti janji yang dikatakan oleh kak Azizah kemarin kami sudah berkumpul lengkap. Lomba belum di mulai tapi aku dan anggota laki-laki sudah dilanda kelelahan mengangkut barang.


Meski begitu tidak ada istirahat bagi kami, selain senior kelas 2 ternyata kelas 3 atau sering disebut Megas juga ikut.


“Oke adik-adik semuanya sudah lengkap? Barang-barang tidak ada yang tertinggal?” tanya kak Slamet sebagai mantan ketua PMR kelas 3


“Siap tidak kak!” jawab kami anggota kelas 1 dan 2 bersamaan


“Oke kalau begitu kita berangkat”


Kami segera menaiki bis yang sudah di sewa, meski bis cukup besar tapi tidak bisa menampung banyak beban perlengkapan. Alhasil ada anggota kelas 1 yang pergi menggunakan motor, tapi hal itu bukan masalah menurutku karena tempat perlombaannya ada di SMA xx sebuah sekolah tetangga dengan sekolah kami.

__ADS_1


Hari pertama perlombaan dari awal kepergian sampai perlombaan pertama selesai semua berjalan dengan lancar. Semua teman-teman, senior bahkan megas berjuang dan bekerja sama untuk mencapai tujuan, yaitu menjadi Juara Umum.


***


(Minggu, Hari Kedua Perlombaan)


Hari kedua, cuaca berawan menghiasi langit pagi walau sebentar lagi masuk tengah hari. Aku dan teman-temanku baru saja menyelesaikan lomba Pertolongan Pertama Putra, lelah dan lega karena sudah melakukan hal terbaik dalam penjurian berharap kami bisa mendapatkan hasil maksimal.


“Ahhh capeknya, walau lombanya di dalam ruangan tapi masih deg-degan juga” kata Agus langsung tidur diatas meja yang telah disusun agar tidak ada barang-barang milik sekolah lain hilang


“Beli es yuk” ajak Adrian


“Oke ayo” Harry dan Agus setuju


Trio ini pergi meninggalkan base kelas tanpa izin senior atau megas, walau begitu aku tidak ingin menegur mereka karena takut akan kesalahpahaman.


Tapi aku tahu jika mereka pergi pasti jawabannya akan datang setelah kami pulang ke rumah nanti,


“Pasti nanti kena hukum dulu” batinku melihat Agus dan teman-temannya pergi tanpa izin ke senior dan megas


Namun sekarang bukan waktunya mencari masalah, tugas kami masih banyak, teman-teman yang lain pun masih berada di tempat karantina perlombaan masing-masing. Berjuang untuk memenangkan lomba, begitu pun aku masih tersisa satu lomba lagi untukku. Kepemimpinan, cabang lomba terakhir bagi sekolah kami.


Beberapa jam setelah semua anggota berkumpul saat makan siang pun tiba, mungkin bagi ekstrakulikuler selain 3P makan siang adalah hal biasa yang bisa dilakukan kapan saja. Berbeda dengan ekskul Pramuka, Paskibraka, dan PMR tepatnya bagi kami makan siang adalah hal yang ditunggu sekaligus tidak dinginkan.


“Kalian sudah bawa makanannya kan?”


“Siap iya kak” seluruh kelas 10 sudah membuat barisan lingkaran untuk makan siang


“Lauknya telur ceplok, kerupuk, kecap dan sayur kangkung kan?” tanya kak Rizki


“Iya kak” jawabku


“Siapa yang makan siangnya tidak lengkap?”


Seketika kami saling berpandangan satu sama lain, tidak ada yang mengaku jadi semua kelas 10 membawa makan siangnya.


“Siap kak bawa semua” tegasku menjawab


“Oke, kalau begitu. Akbar pimpin do’a sebelum makan”


“Baiklah teman-teman sebelum kita makan ada baiknya kita berdo’a. Berdo’a mulai!” semuanya berdo’a dengan khusyuk “Selesai!”


“Marii makann!” sebuah kebiasaan kami sebelum makan untuk mengatakan hal ini


“Waktu makannya 5 menit ya!” seketika kami benar-benar terkejut, bagaimana bisa menghabiskan makanan selama 5 menit, aku sendiri tidak masalah tapi disini ada orang yang tidak suka nasi dan makannya lambat


“Kalau lewat makannya dicampur” tambah kak Rizki terlihat seperti penjajah yang memberikan budak makan


Hal ini lah yang membuat kami menanti sekaligus benci makan bersama senior, bukan menikmati malah tersiksa. Walau begitu ada baiknya kami melakukan hal ini,


“Wahhh gimana ini nggak habis” teriak Agustina yang kotak makan siangnya masih utuh


“Woy makan Tn!” ujar Agus kepada Agustina


“Nah gus tolong abisin. Aku nggak suka nasi” kata Agustina memberikan kotak bekalnya kepada Agus tanpa rasa kasihan melihat Agus masih memakan bekalnya sendiri


“Nanti woy, punyaku saja belum habis” Agus makan sambil marah


“2 menit lagi” kak Rizki mengoyangkan handphone yang dilayarnya terdapat stopwatch waktu


“Aku juga” aku meletakan kotak bekal ke lantai sambil menarik nafas


“Nah Osama, Ferdi bantu makanin punyaku” ujar Agustina memberikan kotak bekalnya


Ya inilah alasan aku tidak suka makan bersama, karena para anggota wanitanya sangat manja dan suka menyulitkan aku.


Ketika aku habis makan pasti mereka meminta bantuanku untuk menghabiskannya, dengan lauk yang tidak menggoda membuat nafsu makan hilang namun terpaksa karena kewajiban membantu agar tidak mendapatkan hukuman.


“Nah Ferdi tolong punyaku juga” Indria juga meminta bantuanku


Melihat hal itu aku menatap para anggota cowok yang lain, Bareta, Fahri, Agus, Adrian, Harry, dan Babay masih berjuang menghabiskan makan siang mereka sendiri.


“Danc** yang laki-lakinya lama sekali” batinku mengerutu


Tanpa pikir panjang aku membantu memakan makanan mereka, pertama aku membantu Indria karena ia tersisa sedikit lagi. “Krek…krek” suara garing kerupuk dari mulutku terdengar sendiri


Kulihat juga Osama mebantu menghabiskan makanan Melati, ya mungkin karena dia adalah pacarnya maka Osama mendahulukan Melati. Tapi, setelah tersisa 1 menit “Belum ada yang selesai makan kecuali aku dan Osama”


“Nah sudah Ndri” aku menyerahkan kotak makan siangnya ke Indria


“Oke waktunya habis. Stop!” teman-temanku yang belum menghabiskan makanannya segera meletakan sendok


Tahu apa seterusnya terjadi mereka meletakan kotak makan mereka ke bawah, lalu kak Rizki, kak Fani, kak Azizah dan kak Aisyah mengambil satu per satu kotak bekal yang makanannya masih tersisa. Dipilih dari dua puluh kotak makan itu dua kotak makan ukuran besar, langsung saja semua makanan tersisa dari mereka yang belum habis di campurkan menjadi satu di dalam kotak makan itu.


Bagiku memakan punya Indria saja sudah berbeda dengan rasa bekal punyaku jika semuanya dicampurkan maka rasanya tidak karuan “tidak enak”


“Karena masih ada sisa sedikit kakak tambahkan yang lain” kak Rizki memberikan makanan sisa yang telah diaduk rata itu dengan air es berperisa coklat


“Gila, nambah enek aku” pikirku membuat aku sudah tidak ingin makan-makanan lagi hari ini


Di depan mata terlihat makanan yang membuat semua orang berpikir tidak layak dikonsumsi, rasa tidak suka dan ingin muntah walau hanya melihatnya.


Nasi kecap, sayur kangkung, dan telur mata sapi dari 19 orang di campur menjadi satu, diaduk membuat warna nasinya menjadi hitam kecoklatan, ditambah dengan air es coklat terlihat seperti bubur dengan taburan sayur.


“Gantian secara melingkar makannya, waktunya 5 menit harus habis!” ujar kak Rizki menghidupkan stopwatch di handphone


Kotak makan ukuran besar dengan campuran makanan sisa di gilir satu per satu anggota kelas 10 memakannya secara terpaksa, satu suap…satu suap dari semua orang kecuali Osama dan Agus melahap sampai tiga sendok.


Aku sendiri di akhir hanya mampu membantu 2 sendok saja, di mulut terasa walau bukan makanan mewah tapi rasa makanan itu sangat beragam varian. Indera pengecapku merasakan manis dari es coklat dan kecap, pahit dan asin dari sayur kangkung serta telur.


Dua putaran kotak makan itu habis namun masih tersisa satu kotak, mereka tidak kuat atau tidak suka dengan makanan dan lauk itu mulai menunjukan wajah jijik mereka terhadap makanan di depan mata. Walau sendok diisi namun tidak sampai setengah, hanya secuil saja nasi diambil.


“Ayo 2 menit lagi!” kata kak Rizki terlihat menikmati pemandangan makan siang kami


Kini kotak makan itu kembali di hadapanku, tersisa setengah saja tapi hanya ada nasi dan sayur kangkung, telurnya habis oleh anggota wanita karena tidak memakan nasi.


“Kurang ajar aku cuma di sisakan nasi saja” kataku di dalam hati


Tapi seperti biasa, karena sudah terbiasa makan makanan sisa dari adik-adikku di dalam diriku mengatakan jika lebih baik aku mulai menghabiskan makanan ini. Jadi tanpa pikir panjang aku memakan hampir setengah makanan sisa itu, tidak kurasakan tapi langsung kutelan begitu caraku melewati rintangan ini.


“Em, emm…ini sudah” aku memberikan sisa sedikit nasi kepada Haliya di sebelahku


“Ih Bar ini sisa sedikit lagi” Haliya memberikan kotak makan itu kembali padaku


“Sudah nggak kuat aku”


“Bar kalo makan nggak di habisin nanti kasihan makanannya”

__ADS_1


“Kalo begitu kenapa tidak kau saja yang habiskan Hal?”


“Nggak, plis bar” Haliya memohon kepadaku


Tidak ada pilihan karena waktu terus berjalan, sekalian saja kumakan semuanya hingga habis tak bersisa. Setelah aku meletakan kotak makan itu teman-temanku bersorak lega, “Yehh Akbar hebat!” wajah senang terlihat di hadapanku


“Kurang aja kalian semua!” kataku dalam hati namun aku tidak membenci hal ini namun senang membuat aku tersenyum


***


(Pembagian Hadiah, SMA x8 Palembang)


Lapangan sekolah digenangi oleh percikan air, gerimis mengguyur tubuh kami para peserta lomba. Seluruh sekolah peserta dari dalam maupun luar kota Palembang berkumpul membentuk barisan sesuai tanda sekolah masing-masing.


Bersiap mendengarkan pengumuman akan pembagian kemenangan dan piala, sekolah siapa yang menang dan siapa yang harus lebih berusaha lagi.


“Baiklah saya sebagai Ketua Panitia kegiatan perlombaan SMANLAVAN Palembang pertama-tama mengucapkan banyak terima kasih kepada sekolah yang telah ikut serta dalam kegiatan ini…” ketua Panitia yang merupakan mantan kepala sekolah SMA kami menjadi moderator pembagian piala


Udara dan cuaca cukup dingin terasa karena hujan habis turun namun di dalam diri terutama hati peserta merasakan hangat akan panas di saat itu, karena kami tidak sabar dan tidak berhenti berdo’a supaya sekolah masing-masing mendapat kemenangan.


Begitupun aku, sejenak sudah kutenangkan pikiran namun setelah mendekati penutupan dan pembagian piala hatiku menjadi deg-degan seakan ingin mendapatkan hadiah istimewa,


“Bismillah Juara!” do’aku


“Adek kalo kalian capek boleh duduk kok” kata kak Aisyah dari belakang mengawasi


“Akbar sini dulu” kak Fani memanggilku, akupun segera menghampirinya ke belakang barisan


“Iya kak ada apa?”


Kak Fani menyuruhku duduk di lantai semen lapangan itu, bersama –sama dengan senior lainnya bahkan kami kedatangan Para Megas.


Terlihat mereka sangat fokus akan harapan menang karena saat ini aku menyadari seluruh anggota PMR SMA xx telah berkumpul, perjuangan keras telah kami lakukan selama latihan maupun di lomba.


“Baik sekarang untuk lomba Palang Merah Remaja” Pak Dodot sebutan mantan kepala sekolah yang menjadi ketua panitia kegitan ini mengambil map berisi daftar pemenang dari lomba PMR


“Baik, Lomba PMR…Kepemimpinan juara ketiga di menangkan oleh SMA Sumatera Selatan” suara gemuruh tepuk tangan terdengar


“Juara dua dari sekolah SMA Negeri 1 Palembang, dan…” diantara jeda aku berdo’a supaya kami mendapatkan juara satu karena di cabang lomba ini kami sudah berusaha maksimal mungkin, teman-teman lain pun begitu diam hening menunggu kalimat selanjutnya


“Dan juara pertama di menangkan oleh SMA Negeri xx Palembang” dengan kata itu kami semua melompat kegirangan mengetahui kami berhasil mendapat juara pertama di cabang Kepemimpinan


“Woooow…yeeee!!!…” sorak kami dengan suara keras


“Satu…juara satu…Tio hebat yo, pemimpin dari cabang Kepemimpinan” kata Agus membuat Harry besar kepala


“Baik kepada perwakilan setiap sekolah diharapkan maju untuk mengambil piala”


Harry maju dengan dada membusung sebagai perwakilan mengambil piala kemenangan, saat ia kembali ke barisan piala itu menjadi rebutan untuk melihat seberapa bagus akan desainnya.


Namun kami tahu ini belum berakhir, ya baru satu cabang lomba…masih ada enam dan lomba tambahan jika kami berhasil mendapatkan setidaknya 5 piala juara pertama, tidak mungkin kami tidak mendapatkan juara umum.


“Baik Lomba PMR, Cabang Kepalangmerahan…juara pertama…SMA Negeri xx Palembang”


“Woooowwww!!” kelas 10 kembali kegirangan mendengar nama sekolah kami menjadi juara satu lagi


Kulihat jam di tangan ku, 15 menit sebelum azan maghrib berkumandang pengumuman piala masih berlanjut, karena pengumuman lomba PMR berada di urutan tengah jadi kami semua tahu akan pulang larut malam.


Namun itu tidak sebanding dengan perasaan senang kami saat ini, sesudah pengumuman lomba antar cabang kami tidak percaya kalau sekolahku berhasil mendapatkan 6 piala juara pertama dan 2 piala juara dua.


Kemenangan lomba dari Kepemimpinan, Kepalangmerahan, Pertolongan Pertama, Donor darah, RSPS, dan lomba melukis sedangkan juara dua lomba Ayo Siaga Bencana dan lomba tandu.


“Sekarang…juara umum Lomba Palang Merah Remaja di menangkan oleh…” Pak Dodot sengaja berhenti bicara seakan tahu kami menunggu hasil dengan tegang dan penuh emosi


Barisan sekolahku sudah tidak rapi lagi, kelelahan sudah menghingapi namun semangat masih berapi-api. Diriku pun merasakannya dalam hati, aku berusaha tenang tapi tubuhku terutama tanganku mulai dingin tidak sabar mendengar pemenang.


“Huft…huft” aku meniup hawa panas ke sela tanganku agar tidak menjadi dingin lagi


Aku tahu cara itu tidak akan berhasil yang pasti perasaan tegang ini akan hilang ketika pemenang disebutkan, “ adalah SMAaaa…” pengumuman moderator di permainkan sekolah-sekolah lain pun terlihat tegang


Di barisan sekolahku, Agus, Adrian, dan Rian duduk jongkok di depan barisan, Osama sendiri masih bisa berdiri dengan bendera PMR di tangan kanannya, sementara anggota perempuan duduk di bawah tanpa alas dengan tangan mengenggam seraya berdo’a. Aku, Fahri dan Bareta beserta senior dan Megas berdiri di belakang barisan melihat semua pemandangan aneh dari setiap orang.


Aku hanya berdiri sambil menyelipkan kedua tangan di kantong jaket tersenyum melihat kelakuan mereka, tanpa melupakan perasaan tegang ini aku mendapat kenangan,


“Ya, tidak akan pernah kulupakan perlombaan ini” batinku


“Pemenangnya SMA Negeri xx!!!” mendengar nama sekolah kami disebut seketika tanpa aba-aba semua anggota berdiri dan berteriak kegirangan akan kemenangan


“Woooowww!”


“Wooyy, juara umummm!”


“Wwhoooo….!”


Agus dan Adrian melompat sambil berpelukan, anggota wanita langsung berdiri tanpa perintah dan memeluk satu sama lain begitupun senior wanita di sampingku. Seketika kami merasa senang bukan kepayang, di campur haru dan sedih ketegangan seketika hilang.


“Woooo…Agus…Osama” entah kenapa aku menyebut nama mereka berdua, aku pun berlari mendekati mereka dan memeluk tanpa malu


“Gila berhasil woi…menang!…kita menang!” aku berusaha menahan air mata tapi Osama dan Agus pasti melihat mataku bergelinangan air mata walau belum mengalir


“Iya berhasil!!”


‘Wha..ha..ha...aku hebatkan” kata Agus


Senja hampir berlalu dan berganti dengan malam, namun setelah penyerahan piala Juara Umum PMR itu seluruh anggota kelas 10, 11, dan 12, Junior, Senior dan Megas merayakan kemenangan, berfoto untuk mengingat kenangan dan sejarah.


Akhirnya PMR SMA xx mendapatkan juara umum setelah tertidur 7 tahun tanpa membawa Juara umum sekalipun, tapi semua berakhir di angkatan kami meski Juara Umum PMR pertama kami tidak puas akan hasil ini.


Perlombaan itu ternyata tidak hanya diikuti oleh PMR saja tapi ekstrakulikuler lain seperti Sangar Seni (Sangsen) dan ITC (Ilmu Teknologi dan Komputer) ikut berpartisipasi untuk sekolah kami. Sayang mereka hanya mendapat juara harapan bahkan ada yang tidak mendapatkan hasil.


Melihat PMR mendapatkan juara walau itu berbeda ekstrakulikuler tapi kami masih satu sekolah, benar…teman seperjuangan dalam mengharumkan nama sekolah.


Ketiga ekstrakulikler berfoto dan bersenang-senang di tengah-tengah piala besar itu tanpa sadar hari sudah larut malam,


“Oke dek karena sudah malam lebih baik kita pulang sekarang. Tidak usah pakai baris lagi langsung ke bus saja ya” dengan suara lembut dan agak keras kak Slamet berhasil memecah kebuntuan akan keinginan pulang


“Yang cowok tolong angkat Piala ke mobil kak Azizah ya” Kak Sinta sebagai mantan wakil ketua umum memberikan perintah


“Siap kak!” ujar seluruh anggota cowok


Dengan begitu seluruh piala kemenangan diangkut ke mobil kak Azizah untuk di pindahkan ke UKS SMA xx Palembang. Beberapa anggota cowok ikut di mobil kak Azizah termasuk aku sementara sisanya naik bus dan menggunakan motor mereka.


Dua hari berat telah kami lalui bersama, suka dan duka sangat terasa, mulai dari awal kedatangan kami ke tempat lomba sudah di suruh push-up 50 kali, sarapan pagi telur mentah dicampur dengan teh, makan siang yang dicampur seperti makanan sisa, bersenang-senang dan saling mengenal sesama anggota, tertawa dan bertikai saat di ruang karantina lomba, dan ketegangan menunggu pengumuman juara serta kegembiraan saat kami merayakan kemenangan.


Tak bisa kulupakan bahkan setelah 3 tahun lamanya, sebuah kenangan manis dan pahit sebagai dua ikatan berbeda yaitu “teman dan keluarga”


BAB VIII..."LOMBA...?"...SELESAI

__ADS_1


__ADS_2