INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB XVI OPINI....


__ADS_3

(Sudut Pandang Akbar)


(Rumah Mamak Akbar, Palembang)


Matahari belum terbit, suara berisik telah menghiasi rumah mamak. Bersiap untuk kembali jalan-jalan menemui kerabat lama tak jumpa.


Karena beberapa hal aku tidak ikut, atau lebih tepatnya tidak mungkin ikut, kurasa orang tua tidak memikirkan lelah dan capek nya pulang dari Lampung.


Walau begitu tergantung anak-anak, jika mereka mau tentu orang tua menuruti meski dengan alasan lain lagi.


“Paling Cuma mau jalan-jalan doang”


Kulirik jam di kamar, pukul 04.30 WIB waktu subuh sudah masuk, padahal aku masih ingin tidur tapi kupaksa bergerak menuruti diri daripada menuruti godaan setan terkutuk.


“Haaa” mulutku menguap


Kamar mandi kutuju, ambil wudhu setelah itu shalat subuh. Habis itu tidur lagi, mengisi tenaga tubuh.


“Kriiettt” bunyi pintu kamar mandi kubuka


Teringat kembali cerita Om Ambar tadi malam,


“Yah mungkin dia nya sudah pergi juga” pikirku


Kuputar keran air dan berwudhu, di dalam sela wudhu otakku telah menjalankan fungsi dengan baik. Mengingat kejadian apa kemarin dan apa yang harus dilakukan hari ini.


“Ainur ya?!” pikirku


Kututup kembali keran, “Nanti saja lah. Jam 11 juga” aku mulai penasaran kenapa Ainur ingin menemuiku


“Brakk” tumpukan pakaian kotor jatuh dari atas ember ke lantai


Mengejutkan diriku saat itu, jantungku berhenti sejenak dan berdetub dengan cepat setelahnya.


Entah kenapa aku sudah sering mengalami hal ini, ku upayakan tenang. Aku tidak membawa cermin dari Cindi, jadi kutinggal pergi tanpa menanggapi.


“Ternyata masih ada ya, atau yang baru?” batinku


Aku kembali ke dalam dan melanjutkan kegiatan, tidak ingin berpikir macam-macam, shalat subuh lalu tidur kembali, bangun pagi, mandi dan pergi menepati janji.


***


(Sudut Pandang Ainur)


(Rumah Ainur, Palembang)


Jarum jam menunjuk ke angka delapan, aku menunggu kedatangan Akbar di dalam kamar. Tidak berani meninggalkan tempat, beruntung aku sudah mandi dan sarapan. Tak bersih dan tak kenyang pun taka pa yang penting tenang.


“Chat Akbar saja” pikirku


“Akbar jam berapa mau ke rumah?” chatku


Tak disangka Akbar pun membalas chatku dengan cepat,


“OTW” singkatan dari on the way


“Oke” balasku


Tak terpikirkan olehku kenapa melakukan hal segila ini, kenapa malah mengundang Akbar. Hatiku senang sekaligus tak suka ketika ia menemuiku, perasaan yang kukira sebuah kesalahan yang diselimuti kebohongan.


Memikirkan laki-laki sama saja dengan kesalahan atau bisa jadi sebuah hal tabu, bukan karena ketidak inginan orang tua malah Papa dan Mama senang ketika aku dekat dengan laki-laki. Tapi berbeda dengan ketidak inginan orang yang tak pernah kulihat, bisa di sebut makhluk halus.


“Benar, ia tidak suka ketika aku dekat-dekat dengan laki-laki”


Akbar, kuharap dia laki-laki yang berbeda. Bisa berteman dengan barisan ku saja sudah senang, tapi kuharap mereka tulus tak hanya mulus.


“Kumohon” saat itulah pikiran gelap mulai muncul, sedikit demi sedikit mengerogoti jiwa hingga tak dapat berpikir dengan jernih. Seakan aku sudah kalah melawan diri sendiri di dalam kegelapan malam, tidak…aku sudah kalah…sejak lama.

__ADS_1


***


(Sudut Pandang Akbar)


(Rumah Ainur, Palembang)


“Assalamualaikum” ku ambil roti komplit di gantungan motor yang kubeli sebelum ke rumah Ainur


Pintunya terbuka tapi masih ada jeruji pintu yang menutupi, kurasa memang seperti itu keluarganya.


Atau bisa kusimpulkan orang tuanya sangat overprotektif terhadap anak-anaknya, misalnya anak perempuannya tidak boleh dekat-dekat dengan laki-lai dan sebaliknya.


“Assalamualaikum” salamku kedua kali


“Waalaikumsalam” akhirnya ada balasan


Suara siapa tidak tahu tapi terdengar seperti anak kecil,


“Siapa ya?”


Benar saja, anak laki-laki yang keluar. Adik Ainur kurasa, “Itu…Ainurnya ada?” tanyaku


“Nanti” si kecil langsung masuk kedalam


Padahal aku tanya ada atau tidak, bisa di jawab ada atau tidak ada. “Nanti?” benar saja dugaanku


Kutunggu beberapa saat, Ainur muncul namun bersembunyi di balik gorden.


“Oh Akbar ya, tunggu sebentar” Ainur kembali masuk kedalam


Perasaanku terhadap rumah Ainur benar-benar aneh, pikiranku kosong dan berat setelah Ainur memberitahu ada makhluk halus di rumahnya.


Sebelumnya aku pernah kemari bersama Bobi, menjeguk Ainur yang saat itu sedang sakit akibat terjatuh dari sepeda motor.


“Hemmm” aku melihat lantai dua rumah Ainur dari luar


Rumah Ainur bisa dikatakan besar, dengan lantai dua tingkat, letaknya berdekatan dengan sebuah pasar.


Selain itu di samping rumahnya terdapat semacam kos-kosan kecil satu lantai serta di ujung lorong terdapat rumah lepas yang cukup besar.


“Tapi agak aneh sih, kayak bekas toko ruko” kataku


Melihat Ainur sudah keluar membukakan jeruji pintu, aku dipersilakan masuk.


“Assalamualaikum” salamku


“Waalaikumsalam. Duduk dulu bar” jawab Ainur


“Oh iya” aku duduk di ruang tamu, tempatnya bisa dikatakan agak besar karena terhadang lemari dan kursi jadi cukup sempit


Mendengar suara cukup berisik kurasa orang tua dan adik-adiknya berada di dalam. Tak ingin menganggu kurasa lebih baik mendengar cerita Ainur lebih dulu baru menyelesaikan masalah terlebih dahulu.


Aku sadar diri bukan seorang dukun atau orang pintar yang bisa mengusir makhluk halus.


Tapi sesaat aku berpikir tentang masalah ghaib, seketika pikiranku semakin kosong dan sakit, nafasku sedikit sesak dan tubuh sulit merespon.


Beruntung aku membawa cermin Cindi, jadi tinggal memantukan cahaya muncullah wajah.


“Oh ini ya yang diceritakan mbak Rahma” kupikir Ainur yang keluar ternyata ibunya


Langsung saja aku berdiri mengenalkan diri,


“Iya tante saya Akbar” kataku memperkenalkan diri


“Ainur sudah cerita apa ya tante?”


“Itu masalah dia sama rumah ini”

__ADS_1


Aku sedikit bingung dengan perkataan tante yang bernama Siti, “Maksudnya tante?”


Tanpa panjang lebar tante Siti menceritakan semua hal ghaib yang terjadi pada rumah ini, karena Ainur belum sampai ceritanya tak berhenti.


“Dulu rumah ini bekas ruko, tapi sudah lama sebelum tahun 2000-an sudah ditinggal. Waktu itu kerabat tante yang tinggal disini sebelum keluarga tante pindah. Nah tante pernah dengar cerita waktu itu kalau…” belum selesai tante Siti bercerita terpotong oleh kedatangan Ainur


Ainur datang membawakan segelas air putih dingin untukku diletakkan di atas meja, mendengar ibunya bercerita ia pun ikut duduk.


Sementara sang ibu melanjutkan ceritanya, tapi…dengan lafal yang kurang cepat dibandingkan sebelumnya.


“Kerabat tante itu melakukan kayak aliran-aliran hitam, nah dirumah inilah dia sering melakukan kayak pemujaan-pemujaan atau pemanggilan-pemanggilan makhluk halus. Dulu sih tidak sebagus ini, sebelum tante pindah rumahnya banyak tanah dan akar-akar tanaman”


Aku mendengarkan cerita tante Siti dan mencoba mereka ulang kejadian dengan satu tujuan, berupaya mendapatkan pendapat agar tidak kelihatan bodohnya.


“Itu sih cerita dulu, jadi banyak makhluk-mahluk halus di rumah ini, nah di depankan ada toko”


“Iya tante” sahutku


“Nah itu dulu katanya banyak penunggunya, sama dengan rumah-rumah disebelah. Tante rasa mungkin itu penyebab banyak hantu di rumah tante karena bekas tempat pemujaan hantu-hantu datang kesini”


“Mungkin karena itu juga mbak sering di ganggu” ujar Ainur kepada Mamanya


“Kayaknya mbak. Tapi…anehnya tante sama papanya sama adik-adiknya nggak pernah liat-liat yang begituan. Tante sih mikirnya mbak Rahma punya kayak kelebihan begitu”


“Jadi Cuma Ainur yang sering begitu”


“Iya apalagi belakangan ini kayaknya aku…” wajah Ainur menunduk ketika ingin bercerita


“Kenapa?” tanyaku


“Itu…tapi jangan kasih tahu siapa-siapa ya”


“Iya” sejak awal memang ingin merahasiakan tentang hal ini, jika orang banyak tahu bisa gawat aku


“Beberapa minggu ini kayaknya aku di santet gitu”


Aku sangat terkejut mendengar hal itu, tapi bukan sampai disitu saja,


“Santet?”


“Iya, tapi sepertinya aku tahu siapa yang kirim” kembali aku terkejut kurasa orang lain bisa melihat wajahku sangat terpukul waktu itu


“Siapa?”


“Itu…teman sekelas kita…” awalnya Ainur tidak ingin memberitahu, aku pun mengerti dan tidak ingin memaksanya “Jumi', dia yang kirim” kembali aku tidak menyangka


“Agustin? Yang benar?” tanyaku


“Iya kayaknya gitu, karena aku pernah mimpi Agustin. Selain itu aku pernah lihat penampakan di rumahnya waktu aku berkujung. Penampakannya orang tubuh besar, hitam, lalu mata merah, pokoknya seram. Ini pertama kalinya aku cerita tentang hal ini” ujar Ainur


Aku kembali mencerna cerita Ainur, mulai dari awal hingga akhir teka-teki yang masih menjadi pertanyaan adalah kenapa dia melakukan hal itu, apa dan kenapa tujuan ia berbuat hal seperti itu.


“Kau tahukan…yah bagaimana ya bukannya meninggikan diri sendiri. Tapi Agustin itu kayak manfaatkan aku, karena aku pintar dalam hal ini aku juga ajarin dia. Pas semester 2 kemarin dia mulai menjauh kayak gitu, seperti tisu. Kalau sudah digunakan dibuang”


“Maksudnya dia cuma manfaat-in kau?”


“Iya bener. Setelah dia jauh eh malah aku yang di bilang musuhan sama dia, jelas-jelas dia duluan yang jauhi aku. Waktu dekat-dekat ujian aku sudah jauhan dari diam, makanya pindah tempat duduk. Dia dengan Mel sementara aku duduk dengan Dedek”


“Jadi dia mengirim pellet karena dendam sama Ainur” itulah simpulanku ketika Ainur selesai cerita


“Sekarang bagimana? Lalu makhluk hitam itu?”


“Sekarang sih gangguannya sudah sedikit tapi kemarin-kemarin banyak. Makanya aku sering stress”


Mendengar cerita ibu dan anak itu tubuhku merinding dan pikiranku mulai berat, lebih berat sebelum masuk kedalam rumah.


Kupikir mereka yang diceritakan berada di ruangan itu, sambil melihat kami, dan kurasa mereka memakan keberanianku sedikit demi sedikit.

__ADS_1


Disaat suasana serius itu berlangsung, aku terpikir sebuah pernyataan aneh yang sama alurnya seperti kejadian Ainur, “Ini jadinya kayak film Counjurin*” pikirku


BAB XVI OPINI.... SELESAI


__ADS_2