
(Rumah Putri, Tahun 2013, Siang Hari)
(Sudut Pandang Akbar)
Keris dari Putri itu kuambil lalu mengandeng tangannya dan berlari. Saat itu doa dan dzikir tidak pernah aku lepas, aku menunggu timing mengeluarkan ajian lalu menusuk makhluk itu dengan keris.
Sambil menghindari serangan dari makhluk itu, aku terus memutar otak.
“Semoga saja bisa” batinku
“Put” aku melempar sarung keris ke Putri
Perbandingan 1:1 akan menentukan segalanya, aku harus kembali memanfaatkan semua yang ada.
Walau itu berbahaya harus aku lakukan, selain itu Putri tidak sebodoh itu ketika ia tidak kuat ia akan mundur.
Putri menangkap sarung keris dan benar saja pergerakan dari makhluk itu mengincar kerisnya, selain itu berbeda tekanan saat di pegang olehku. Ketika keris itu di pegang oleh Putri iblis itu tampak lebih marah dan menyeramkan.
“Khikkkkk” suara dengingan kembali terdengar
Sekali lagi tanpa ada peringatan, angin kencang menghempaskan aku sampai terkena lemari barang.
“Braakkk” lemari itu hampir menindih
Piring dan gelas antik sepertinya berjatuhan ke lantai pecah dan mengenai kulitku hingga berdarah, disaat aku memegang kendali, jarak kembali jauh seperti ia tidak dapat dicapai.
“Selain itu apakah ia bisa disentuh? Menusuk makhluk ghaib dengan benda fana”
Jika di film-film tentu makhluk halus itu tembus pandang dan tidak menapakan kaki, apakah makhluk ini juga? Melawan hukum alam.
“Wahai iblis jahat pergilah kau kembali ke tempatmu!” Putri kembali membacakan kata-kata pengusir setan
Teriakan Putri terdengar di telinga, wanita ini tidak pernah menyerah sama seperti Cindi, namun keadaanya tidak bagus.
Ia melayang di udara tersudut di belakang dinding seperti orang yang ingin digantung.
Situasi kian memuncak, tekanan di rumah ini membuat aku ingin jatuh pingsan. Bahkan sejak awal aku tidak mengerti apa yang terjadi, pikiranku kosong, penglihatanku mulai kabur saat melihat Putri diserang mahkluk itu.
__ADS_1
“Ngrrrr” suara auman harimau terdengar olehku
Aku tahu itu adalah penjaga yang dimaksud oleh kakek dan Pakde Sobri, seekor harimau putih dari kakek buyut.
“Sialan…” aku kembali bangkit dan menyiapkan ajian paku bumi
Ku tulis dengan cepat mantra dan ayat di lantai takut Putri tidak dapat bertahan.
Ku ucapkan dua kalimat syahadat diakhiri dengan kata takbir,
“Allahu Akbar!”
Makhluk itu melihat ke arahku saat hampir sudah selesai membaca ayat, namun aku sudah siap kuhentakkan tangan ke bumi dan membuat iblis itu terpental, bukan hanya itu lampu kembali hidup dan barang-barang bergoyang.
Dampak dari ajian paku bumi adalah semua makhluk halus di jarak 45 meter, meski tidak terlihat namun masih ada penunggu lain di rumah ini yang terkena dampaknya.
Efek dari ajian ini jika dipakai terus menerus membuat aku kelelahan dan tidak dapat bergerak.
“Aku baru kali ini menggunakan Ajian dua kali, tubuhku seperti mulai kaku. Kurasa ini adalah kesempatan terakhir untukku”
Makhluk itu tidak menghilang seperti di awal, mungkin karena ajianku melemah. Namun melihat keadaan iblis itu juga sudah melemah, Putri terjatuh dari atas membuat ia kesakitan.
Saat aku mengeluarkan keris itu, pandangan makhluk itu berganti ke arahku. Aku tahu ini sangat aneh namun gravitasi semakin tinggi membuat lariku melambat.
“Wahai iblis kembalilah kau ke dunia mu!”
Putri kembali membaca rapalan membuat iblis itu sedikit melayang, tak ingin melepas kesempatan aku langsung melompat dan menerjang iblis itu.
“Haaaaa!!!” kutusuk keris ke iblis itu dengan tangan kanan
Kena…ia bisa di sentuh. Pertama aku menusuk di depan kiri tubuhnya, ia berteriak kesakitan. Takut dengan kegagalan aku menarik dan menusukkan lagi keris itu tepat tengah tubuhnya.
“AKKKHHHHHHH!!!!!!” suara jeritan iblis berdengung di telinga
Kami berdua melayang di udara sampai aku terlempar ke bawah, iblis itu melayang tinggi dan terus meninggi sampai lampu-lampu kembali mati dan hidup.
Saat itu aku dan Putri kembali membaca ayat dan dzikir, hingga kedipan lampu terakhir menyala makhluk itu pun menghilang. Tanpa jejak, suara dengungan tadi menghilang namun telingaku masih merasakannya.
__ADS_1
“Sudah berakhirkan?” tanyaku
Putri mengangguk, aku pun lemas dan tiduran di lantai. Putri juga mendekat dan tidur disampingku dengan tangan gemetar.
Kami berdua tidak tahu jika berguling tepat di tengah ruangan dimana diatas terdapat lampu gantung nan mewah. Disana kami melihat keris itu tersangkut di tengah lampu.
“Ini beneran sudah berakhirkan? Itu kerisnya ada disana lho?” kataku terengah-engah
“Aku juga tidak tahu tapi aura jahat di rumah ini sudah tidak ada lagi” jelas Putri
‘Tidak ada lagi’ bagiku sebuah kata yang ambigu, apakah iblis itu sudah hilang sepenuhnya atau pergi ke tempat lain.
Iblis tidak mudah untuk dikalahkan, namun jika ia memang masih ada di dunia ini pertarungan kami masih belum selesai.
“Tepatnya nyawaku akan menjadi incarannya” pikirku
Sepi dan hening hanya ada suara nafas kami berdua di rumah itu, Ainur sudah pulang sementara Sanjaya masih tidak ada kabar.
Jika ada kemungkinan mereka berdua akan kembali dengan membawa bantuan, namun sebelum itu kami harus menyimpan keris terkutuk agar tidak membuat ulah.
“Ngomong-ngomong orang tuamu kemana? Mereka…tidak akan marahkan kalo rumahnya hancur berantakan seperti ini”
Putri memejamkan mata mendengar perkataanku,
“Tak apa kok, lagipula aku tidak akan berpengaruh jika menjelaskannya kepada mereka. Paling kami akan pindah rumah lagi”
“Begitu ya, kalau begitu sebelum pindah aku akan ikut bantu jelaskan kepada orang tuamu. Dan jika itu tidak berhasil lebih baik kau juga berpamitan dengan teman-teman di kelas jangan langsung menghilang” ujarku
Kejadian ini hampir sama seperti bersama Cindi, aku tidak tahu setelah kejadian besar itu ia langsung pindah tanpa kabar apapun.
Jika Putri harus pergi juga maka lebih baik sedikit meninggalkan jejak untuk teman-temannya.
“Tubuhku masih sakit, jadi aku boleh jatuhkan saja lampunya dengan sepatu” candaku
“Janganlah, pakai bambu atau galah saja”
(Tapi akhirnya masih di lempar pakai sepatu dan sapu juga)
__ADS_1
BAB XXXX MANUSIA TAK BISA MELAWAN HUKUM ALAM....SELESAI