INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
SELING 7


__ADS_3

"NYAMUK DI MALAM HARI 1"


Di malam bergelip bintang, aku dan teman-temanku berkumpul bermain bersama, seperti kegiatan rutin bagi kami setelah kuliah, kami bermain game sampai bergadang.


Namun malam itu kami mengubah rencana dengan menginap di rumah teman lain bernama Raihan.


Hari itu Sabtu malam minggu, kami sepakat untuk menginap di rumahnya karena ia meminta.


Kami berangkat setelah magrib menggunakan sepeda motor. Temanku yang ikut lainnya adalah Babay, Agus, Adrian, Harry dan Osama, ditambah aku dan Raihan menjadi tujuh orang.


Bukan tanpa alasan dia mengajak kami menginap, karena kakaknya sedang pergi ke luar kota untuk menyelesaikan Magang, Raihan jadi sering menginap di rumah teman lain.


Sebelum itu Raihan adalah anak kedua dari keluarganya, namun ibunya sudah meninggal sejak ia masih kecil, dan ayahnya menikah lagi.


Kini ia hidup berdua dengan kakaknya, di rumah mereka dulu tidur dan makan dengan melengkapi satu sama lain.


Meski begitu ayahnya masih memperhatikan kedua anaknya itu, memberikan uang bulanan untuk memenuhi kebutuhan.


Awalnya ku pikir tidak apa menginap disana, rumah tempat ia dulu tinggal, pasti bagus. Jarak rumahku dan Raihan sangat jauh, mungkin memakan waktu setengah jam menggunakan motor.


Oleh karena itu di jalan kami berhenti untuk membeli makanan dan camilan malam.

__ADS_1


“Oke sudah minumannya”


Kami berbagi tugas, aku di bonceng oleh Raihan, sementara babay yang sudah tahu rumah Raihan lebih dulu pergi sambil membeli makanan. Sementara aku membeli camilan dan minuman di minimarket.


Aku dan Raihan melanjutkan perjalanan, dari awal aku sudah merasa tidak enak. Hal ini karena rumah Raihan harus melewati Tempat Pemakaman Umum, motor kami melaju di jalan kecil di samping kuburan lama.


Saat itu percakapan kami sedikit berubah,


“Fer, kau sering tidak melihat-lihat makhluk halus?” tanya Raihan


Pertanyaan yang agak membuat aku merinding,


“Nah di rumah ku itu katanya ada penunggu”


Aku tekejut dengan kata-kata Raihan yang tidak tahu suasana, bukan Cuma cerita seram di jalan tapi di tengah TPU.


“Aku sih belum pernah melihatnya, tapi kata kakak dan teman kakak ku yang sering menginap mereka sering lihat” lanjut Raihan


“Woi, jangan ngomong begitu napa?” tegasku


Temanku ini agak tidak peka terhadap suasana, tapi beruntung dia berbakat jika tidak aku akan langsung memukulnya.

__ADS_1


“Yah nggak apa lah, kata teman kakak ku yang menginap itu kan dia punya kemampuan untuk melihat makhluk halus, di rumah ku itu sering kelihatan wanita yang pakai kain merah, nah biasanya dia sering terlihat di WC lantai bawah”


Kepala ku berat, dan bulu kudukku merinding, itu artinya sesuatu firasat buruk mendekat.


“Masih jauh apa rumah kau ini?” tanya ku dengan logat orang desa


Percakapan kami sedikit terhenti, Raihan sendiri fokus dengan jalanan yang di lewati, setelah melewati TPU ternyata perjalanan kami masih berlanjut sedikit dengan melewati jalan kecil di pinggir sungai.


Benar, rumah Raihan ternyata dekat dengan pinggiran sungai Musi, Palembang. Udara mulai dingin karena angin laut berhembus, di jalan yang kecil dan sempit seperti lorong itu hanya bisa di lewati oleh satu motor saja.


Beberapa menit kami melewati lika-liku jalan yang panjang, tentu bagiku yang pertama kali datang tidak akan mengingatnya. Jalan yang jauh dan sulit, banyak sekali kelokan dan tempat yang cukup membuat orang takut.


Tapi yang paling membuat aku terkejut belum berakhir, dimana rumah Raihan, benar-benar tidak bisa aku komentari.


Rumah kayu yang sudah penyote, dengan bentuk panggung dimana di bawahnya dijadikan lantai satu.


Tidak terawat, kotor, lembab, dan bisa di bilang dari melangkahkan kaki ke tangga depan saja, kayunya sudah lapuk dan patah.


“Ini rumah orang atau rumah hantu?” batinku


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2