INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB 46 LIBURAN ADALAH SALAH SATU CARA MENGHILANGKAN STRES?


__ADS_3

(PAGAR ALAM, 11.30 WIB)


“Liburann!!!” teriakku di dalam hati


Semester 4 telah berakhir, hari liburan 2 minggu lebih menjadi hal ditunggu. Bebas dan senang adalah perasaan yang telah lama aku rindukan.


Kami sekeluarga pergi berlibur ke Pagar Alam, walau sebenarnya hanya bersilaturahmi ke rumah saudara.


“Kuharap aku bisa bersantai disini”


Udara segar di balik pegunungan dan sawah, Pagar Alam sendiri seperti dataran tinggi yang cukup di minati oleh masyarakat Sumatera.


“Kemana ya bagus nya? Mungkin makan dulu”


Tenang dan damai tanpa ada gangguan, maksud ku adalah gangguan manusia. Jika makhluk halus aku sekarang bisa melihat mereka walau hanya sekedar bayangan.


Kini aku sudah semakin peka pada dimensi lain, bahkan aku sudah mempelajari teknik pengusir setan.


“Makan dulu ah…”


Sesaat setelah aku kehidupan tenang sementara ku akan lancar di patahkan karena kehadiran seseorang yang tidak ingin aku temui.


“A…Ainur?” aku kaget sampai bertanya


“Lho kok kau ada disini?” tanya Ainur


Di warung makan yang aku masuki ternyata terdapat orang yang tidak ingin aku temui. Seperti benang takdir yang cukup rumit terjadi, sangat tidak terduga dan kebetulan.


“Aku kesini bersama keluarga, kau sendiri kenapa ada disini?” aku duduk di kursi


Walau ada Ainur disana aku tetap duduk dan menlanjutkan niat makan ku, tentu karena aku sudah sangat lapar.


“Kenalan Ainur?” tanya pemilik warung yang ternyata adalah bibinya


“Iya tante”

__ADS_1


“Teman sekolah kok bi, tapi tidak disangka kita bisa kebetulan bertemu disini”


“Kebetulan yang menakutkan” pikir ku


Ternyata Ainur juga sedang menemui keluarga di Pagar Alam, ia sudah berada disini dari kemarin.


Aku tidak tahu kalau kita akan bertemu disini. Tentu bukan hal mudah untuk melanjutkan percakapan, bibi nya pun sudah masuk kembali kedalam.


“Lho ada Ferdi, kok bisa kesini?” tanya tante Siti


Aku pun membalas pertanyaan Mama Ainur,


“Iya tante saya sama keluarga kesini. Liburan”


“Wah kebetulan kalau begitu, ya sudah tante mau ke kebun dulu. Disini sama Rahma ya”


“Iya tante”


Dua orang telah pergi, kini kami hanya berdua, aku sebagai pelanggan dan ia sebagai penjual.


“Oke” jawab Ainur singkat


Aku pun berusaha untuk melanjutkan percakapan, situasi dingin ini aku tidak bisa berpikir.


“Ngomong-ngomong om sama adik kamu mana?”


“Mereka ke kebun dari pagi”


Bibi nya kembali membawa lauk lain untuk di jual, saat itu tatapannya mengarah pada kami berdua.


“Nur, disini sudah semua kalau mau ke kebun bisa, atau mau disini saja…” goda si bibi


“Enggak kok, bentar lagi saja, sampai orang ini selesai makan”


“Orang ini? Jadi selama ini kau menganggap aku bukan orang?” tanya ku

__ADS_1


“Iya, kenapa?” ia membalas


Aku tidak ingin membuat keributan dan pertengkaran kecil, ku makan saja santapan yang ada di depan ku.


Yang disiapkan oleh Ainur, tampilannya juga cukup menarik dan menggiurkan.


“Tidak aku sangka ternyata dia juga bisa membantu di warteg”


“Iya lah, kan selain pintar di kelas aku juga membantu orang tua. Bukan seperti kau, peringkat 2”


Ainur membentangkan layar kematian, membahas tentang peringkat kelas saat pembagian rapot semester kemarin.


“Geh, lain kali aku yang akan menang”


“Kalian ini kayaknya pacaran ya” ujar bibi


“Tidak mungkin!” jawab kami serentak


“Tuhkan, emmm” goda bibi


Aku langsung mempercepat makan, entah kenapa yang lidahku rasakan hanyalah rasa manis saja.


Udara dingin yang awalnya menembus kulit kini sudah menjadi hangat. Saat kami malu satu sama lain, mata kami tidak sengaja saling bertatapan.


“Oh iya Nur, nanti kalau pergi ke kebun jangan lupa salam dulu, lalu pas melewati rumah tua disana jangan berhenti. Pokok nya jalan terus saja”


Aku dan Ainur pun tertarik pada cerita bibi,


“Memangnya kenapa bi?” tanya ku


“Bukan apa-apa kok, tapi jangan lupa ya. Dan kalau ada suara dari dalam atau suara yang memanggil jangan menoleh, pokoknya terus jalan sampai kebun”


Pertanyaanku tidak dijawab, bibi hanya menambahkan penjelasan saja. Membuat aku sedikit memiliki firasat aneh dan takut di hati.


“Rumah tua ya”

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2