INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB XXIV PENGIKUT 2


__ADS_3

(Sudut Pandang Ainur)


(Rumah Ainur, Palembang)


Perasaan di hati mulai mati kenapa?...Padahal aku sudah memberanikan diri tetapi dia lari. Apakah ini kutukan atau kesialan yang kudapatkan sejak lahir tidak ada satupun lelaki mencintaiku apa adanya.


Kupikir dia berbeda tetapi sama saja seperti semua…tangisan sedu keluar dari mulut cantik air mata pun keluar dari mata jentik perempuan pintar dan tegas itu.


Duduk menangis di tempat tidur sembari memeluk boneka beruang kesayangan memikirkan kejadian kemarin malam.


Keberanian dan rasa malu ia rasakan untuk menyatakan cinta pada lelaki impian yang menurutnya berbeda dengan kaum Adam lain tetapi ia mendapatkan balasan pahit ditinggal begitu saja tanpa membalas pertanyaannya.


Ainur sadar jika dikamar sepi itu dia tidak sendirian melainkan ada orang lain memperhatikan, yah makhluk halus yang kata orang menyukainya. Tersirat dalam pikiran apakah Akbar bisa melihat makluk halus seperti dirinya dan sudah tahu jika ada makhluk halus yang menunggunya?


Apa karena itu Akbar langsung pergi meninggalkannya…takut…pasti dia takut dengan makhluk halus itu… tangisan kembali terjadi tapi kali ini Ainur sudah menyerah ia tidak tahu harus berbuat apa, orang tuanya pun menyerah.


“Dasar makhluk bodoh…pergi dari hidupku…pergi jangan ganggu aku lagi” tangisan mulai bertambah diringi lemparan bantal kesudut dinding seolah melempar pada seseorang


“Kenapa harus aku…lebih baik aku mati saja…”


Keputusasaan melanda Ainur sejak lama tapi hari ini adalah puncaknya, rasa sakit dalam hati seperti tertusuk ribuan jarum jahit.


Orang tua Ainur hanya mendengar dan memperhatikan tangisan dari putri pertamanya sementara adiknya ketakutan melihat kakak terbaik bertingkah laku seperti kesetanan.


“Puput masuk ke kamar dulu ya” pinta ibu Ainur kepada anak bungsu dengan raut wajah sedih


Puput tidak punya pilihan ia hanya menundukan kepala sembari menutup telinga berlari masuk ke dalam kamar bilik.


Ditutup pintu tanpa dikunci melompat ketempat tidur dan menutupi diri dengan bantal dan selimut. Sementara ayah Ainur sudah didepan pintu putri tercinta tak bisa masuk karena terkunci dari dalam, ibunya serasa khawatir dan bergegas menelpon pak ustadz terdekat.


“Halo pak ustadz ini saya Siti pak, boleh datang kerumah tidak pak, Ainur sakit lagi pak…hiks…hiks…hiks” kali ini sang ibu tidak bisa menahan air mata melihat anak nya tersiksa


“Iya ibu siti tenang dulu ya saya akan segera kesana”


Tok…tok…tok… pintu berbunyi menandakan seorang tiba di depan pintu, Siti mengharapkan kehadiran Pak Ustadz yang cepat terkejut dengan kehadiran anak muda dengan berpakaian muslim lenkap dengan peci di kepala.


***


(Sudut Pandang Akbar)


(Rumah Ainur, Palembang)

__ADS_1


“Halo tante saya Akbar kawan sekelas Ainur, saya kesini mau ketemu dengan Ainur…Ada?”


Kedatangan ku serasa tidak tepat aku merasakan aura negatif yang sangat menggangu, perasaan tidak enak hatiku berkata sesuatu yang buruk terjadi pada Ainur.


Ditambah setelah melihat ibu Ainur mengeluarkan air mata sesaat membuka pintu untuk ku, pasti terjadi sesuatu.


“Ainurnya…hiks..ada lagi …hiks” tangisan sedu kini berubah menjadi tangisan pilu sembari memelukku erat ibu Ainur serasa tertekan dengan keadaan


“Kak...ayo buka kak pintunya…nanti papa dobrak pintunya” suara ayah Ainur sudah membesar menandakan naik pitam


Dalam waktu singkat aku menyimpulkan kejadian ini, segera kulepas pelukan ibu Siti dan menenangkannya.


“Ibu tenang dulu ya” aku meyuruh duduk di sofa sambil mengambil air mineral cangkir di tempat minum


Setelah tenang pikiranku kacau melihat sang ayah mendobrak pintu kamar anaknya, terus saja aku langsung menolong.


“Ayo om biar saya bantu” dengan cepat dan keras kutendang pintu menggunakan kaki kanan di tambah dobrakan dari om Panji membuka paksa pintu yang terkunci


Aku sangat terkejut melihat kamar yang seharusnya rapid an harum berubah drastis seperti kapal pecah sehabis tertabrak batu karang.


Lirikan tajam dari mata dari sudut ke sudut ruangan, aku hanya melihat pemandangan kacau dari kamar perempuan, aku membantu om Panji untuk membawa Ainur keluar kamar menuju ruang tamu.


Aku tahu seharusnya kesempatanku keluar dari masalah tapi entah kenapa mataku menatap terus ruangan yang serasa di penuhi energi negatif itu.


Aku berjalan mendekati jendela luar melewati pecahan vas bunga dan alat-alat kosmetik yang berjatuhan, sebentar aku melihat kearah luar jendela tapi tak kusangka aku seperti melihat banyak sekelabat bayangan hitam berdiri di koridor lantai dua kamar Ainur.


Hati ini mulai berguduk takut tapi dengan berani kubuka jendela pintu itu dan keluar ke luar base kamar Ainur seketika bayangan itu hilang tapi firasat buruk masih kurasakan.


“Bangsa*” seketika aku masuk kembali ke dalam kamar tapi entah kenapa mataku selalu melirik tajam ruangan seakan mencari sesuatu hingga pada akhir penglihatanku “Lukisan Pangeran Belanda” seperti ada sesuatu keanehan dari benda langka dan unik


Tapi tak kepikiran jauh aku langsung turun melihat keadaan Ainur akhir menuruni tangga aku melihat Ainur di lentangkan di lantai dilapisi kasur lantai di kelilingi orang tua, adik bungsu dan seorang ustadz masjid terdekat.


Aku menghampiri Ainur yang tampak tersenyum melihatku,


“Kenapa datang kesini?” tanya Ainur sesudah sadar


“Kemarinkan kamu sendiri minta jalan-jalan berdua, sudah lupa?” saat mengatakan itu kulihat senyuman tipis nan manis Ainur, meski begitu tubuhnya masih terlihat lemas


“Kau ini kenapa?” kudekati ia dan mencari tangan kanannya, kugenggam erat tangan itu hangat dan halus tapi masih bergetar karena ketakutan


Pak ustdaz dan om Panji membicarakan kejadian kelam ini secara serius, mereka berdua naik kembali ke kamar Ainur sementara bu Siti masih menenangkan diri aku berbincang sedikit untuk mencari petunjuk.

__ADS_1


“Kau kenapa? Kamar sampai berantakan begitu, melihat mereka lagi atau di ganggu?”


“Kenapa kamu kesini? Kukira sudah tidak suka lagi dekat-dekat denganku?”


“Heee mana mungkin tahu, kan aku sudah jadian sama cewek tercerdas sama tercerewet di sekolah masa’ di tinggal sih?” sambil memberikan senyuman kepada Ainur kurasa itu adalah cara terbaik


“Kamu tidak takut?” tanya Ainur dengan mengenggam erat tanganku


“Kalau takut ya pasti iya, apalagi sudah melihat bentuk aslinya tambah takut la” perkataanku membuat sontak Ainur dan tante Siti terkejut


“Kamu beneran lihat wujud aslinya?”


“Iya, tapi lebih baik jangan bahas ini dulu. Sekarang aku mau tanya makhluk itu sering ganggu kamu mulai sejak kapan?”


Ia mulai berpikir dalam keadaan lemah "Sejak dulu sih…malah seingatku sejak kecil”


Benar…seperti perkataan Pak de Sobri, kalau sejak kecil sudah ditempeli berarti dia sudah senang sejak lama, pasti ada benda tempat bersemayamnya makhluk itu.


Diriku seakan sok tahu sendiri tapi tak punya pilihan lain hanya ini jalanku…”Kalau begitu dia sudah senang sama kamu sejak lama?”


Raut wajahnya berubah dari manis menjadi masam pucat, “Iya, aku juga sudah sadar sejak lama tapi tidak tahu harus bagaimana”


“Apa kamu pernah buat janji dengan dia atau pernah bertemu dengan dia waktu kecil itu kapan?”


“Seingatku aku tidak pernah buat janji sama makhluk itu, kalau waktu kecil sejak aku pindah kesini rasanya dia sudah ada. Waktu kelas 1 SD”


“Pindah berarti ada kemungkinan makhluk itu ikut kamu dari tempat tinggalmu dulu atau…dia sudah lama menempati rumah baru ini”


“Apakah dulu ada barang keramat yang dibawa om atau tante saat pindah ke rumah ini?” pertanyaanku berbalik kepada orang tua Ainur


“Tidak ada tante jarang dengan barang-barang begituan, kalau om mungkin…tapi cuma batu”


“Kalau dirumah ini banyak benda keramat tidak sejak dulu?”


“Kalau menurut orang rumah ini dulu bekas ruko dua tingkat tetapi sudah lama ditinggalkan karena disebut tempat pemujaan jin”


Bulu kudukku langsung merinding mendengar kembali jawaban tante Siti hingga aku harus mengulang semua hal yang aku kumpulkan selama ini.


Pertanyaan yang kupelajari dari Pak de Sobri kini kugunakan untuk menolong seorang perempuan yang kucinta dan keluarganya kini aku tidak boleh setengah-setengah. Harus ku selesaikan masalah ini...harus…harus.


BAB XXIV PENGIKUT....BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2