
(Sudut Pandang Akbar)
(Rumah Ainur, Palembang)
“Sekarang mahkluk itu nggak muncul-muncul lagi?”
“Nggak? Kalau kemarin dia sering muncul di mimpi atau saat aku mau keluar misalnya ambil air wudhu atau cuci sesuatu”
“Ini makhluknya sama yang Ainur ceritakan dengan yang tadi malamkan?”
“Bukan, beda!” tegasnya membuat aku kembali tegang
“Lah, jadi?”
“Itu tadi cerita-cerita yang lama, karena Akbar ada disini jadi kuceritakan semua”
“Hemm” aku hanya mengangguk tapi di dalam pikiran “Lah tiga cerita, tiga kasus dong? Gimana ini?”
Satu saja sulit sebenarnya apa yang terjadi oleh Ainur,
“Kemarin aku jalan-jalan sama grup Fahri dan barisan kelas aku di Mall. Nah pulangnya aku itu lihat sosok dengan pakaian hitam, kayak detektif gitu, tapi matanya merah, wajahnya menunduk terus. Kupikir aku salah lihat kalau sosok di parkiran itu cuma bayangan, nah pas sampai rumah tepatnya di sebelah kamar aku, kamar adik aku sosok hitam itu muncul. Dia seperti mau mendekati aku, aku teriak dan mengunci pintu, untungnya Papa dan Mama datang. Setelah itu sosok itu hilang, tepat sudah agak lama baru aku chat Akbar minta tolong”
“Hemmm” aku kembali mengangguk
Kupikirkan dengan tenang dan matang, arti dari kejadian berurutan ini. Potongan-potongan puzzle yang masih sulit dirangkai, atau lebih tepatnya masih belum terkumpul semua.
Pertama, makhluk halus di rumah karena bekas tempat pemujaan, kedua santet dari ilmu hitam dan muncul makhluk hitam raksasa, lalu ketiga kemunculan sosok hitam bermata merah dari Mall.
Jika di kaitkan, tidak ada hubungan, semua berasal dari penyebab yang berbeda. Tidak kusangka akan jadi sulit seperti ini, tapi bukan sesuatu yang sulit jika hanya untuk memberi saran.
“Oh iya satu lagi, sebenarnya dari dulu aku itu agak susah dekat dengan laki-laki”
“Heh? Maksudnya?” tanyaku
“Itu kayak kalau aku dekat-dekat dengan laki-laki aku cepet emosi, atau tidak suka. Enek gitu, bisa dibilang kayak ada perasaan benci” ujar Ainur
“Tapi bagaimana dengan aku?”
“Nah kalau Akbar entah kenapa tidak apa-apa. Sama juga kayak Ibra, Dinata, dan Rehan, tapi bisa dibilang kalau ada laki-laki dengan niat dekatin aku atau suka sama aku pasti aku sedikit demi sedikit benci”
“Hemm, apa itu karena efek santet?”
__ADS_1
“Bukan, ini sudah lama”
Cerita Ainur kali ini benar-benar selesai, di akhiri dengan wajah menunduk kebawah seraya tidak ingin menceritakan lebih jauh lagi.
Kurasa sudah saatnya aku memberikan tanggapan akan semua hal terjadi, tapi tetap saja aku masih bingung.
“Boleh aku lihat kamarnya?” kataku
“Boleh” tante Siti berdiri menandakan mempersilakan
Aku pun mengikuti, menuju ke kamar tempat kejadian perkara. Masuk keruang keluarga, dimana lantai beralaskan ambal tebal sementara di depan terpampang televisi dan sound.
Jika masuk ke belakang lagi terdapat dapur, dan berhadapan dengan toilet. Tangga yang menghubungkan lantai dasar dan kedua cukup kecil, mungkin karena bekas ruko.
“Nah kemarin-kemarin ada teman tante kesini, yang katanya dia lihat kuntilanak merah di tangga ini”
Sattt…seketika bulu kudukku merinding,
"Memangnya harus diceritakan sekarang?” pikirku
Kubaca doa dan ayat-ayat Al-Qur’an, setiba di kamar Ainur aku cukup terkejut. Kamar wanita yang seharusnya kupikir bagus, cantik, dan seperti seorang ratu, namun tidak dengan kamar Ainur.
Bagaimana mengatakannya ya…kamarnya cukup besar, dengan ranjang besar di dalamnya, satu lemari pakaian dan satu lemari buku yang membuat aku lihat pertama kali.
Khayalan tak sesuai fakta, saking pintarnya banyak buku di dalam kamar.
Meski begitu sentuhan wanita masih ada, karena terlihat rapi, bersih, wangi dan enak ditinggali. Dindingnya di tempeli foto kenangan bersama teman sebarisan di kelas SMA.
“Sekuat apa sih pertemanan mereka?” tapi kurasa itu hanya sementara, karena aku memang merasa ada kejangalan di kelompok Ainur
Meski begitu saat aku pertama kali melangkahkan kaki dan melihat, entah kenapa aura di dalam kamar Ainur cukup pengap bercampur wangi parfum. Seperti ada polusi udara di dalam ruangan itu membuat aku sedikit sesak nafas.
Ku lihat-lihat kamar Ainur, buku-buku tersusun rapi di rak, meja belajar bahkan ada di bawah tempat tidur. Alas lantai terbuat dari ambal yang kurasa cukup menarik perhatian, tapi sekali lagi aku merasakan sesuatu yang janggal.
Aku pun mulai angkat bicara, “Ini kapan terakhir kali di bersihkan? Misalnya pernah tidak barang-barang yang besar seperti kasur, lemari di pindahkan dari sini ke sini?” kataku menunjukan sebuah cara
“Habis itu pernah tidak kamar ini dibersihkan semua, di kolong-kolongnya bahkan di sudut-sudut kamar?”
“Nah kalo itu…” Ainur menatap mata mamanya
“Jarang sih, paling kalau mau lebaran cuma di bersih-bersihin debunya”
__ADS_1
“Jadi jarang ya. Kurasa menurut Akbar tante, lebih baik sering-sering di bersihkan. Olehnya mereka itu suka dengan tempat yang lembab sama sudah lama dibersihkan"
"Ini lemari, ranjang, dan barang besar lain bisa di pindahkan letaknya karena mereka pasti sudah buat sarang disana kalo tidak pernah di pindah letakan. Minimal setengah bulan sekali, atau setahun sekali pindah letak barang-barang dan bersihkan”
“Sapu pel, terus jangan sampai banyak tumpukan kayak gini” saranku
“Hemm, ya sudah mbak nanti kita bongkar habis itu bersihin kamar mbak”
“Iya ma”
Setelah selesai memberikan saran aku pun tertarik pada suatu benda, yaitu foto lukisan seorang laki-laki yang seperti bangsawan Inggris. Mataku tertuju pada lukisan itu, tapi tidak kuindahkan mungkin hanya perasaan.
“Bar!, kemarin aku lihat makhluk yang ngikutin aku di Mall itu terlihat dari sini ke kamar itu” sambil menunjuk Ainur bersembunyi di belakangku
Dari pintu kamar Ainur aku mencoba memperhatikan kamar seberang, entah kenapa kepalaku tambah pusing dan berat.
Ku langkahkan kaki memasuki kamar itu, terlihat jelas auranya sangat berbeda, meski tampilannya hampir sama dengan kamar Ainur.
Lebih gelap hanya berteman lampu remang-remang meski siang sudah mendekati, tempat tidur besar sama seperti di kamar Ainur letaknya tepat ditengah-tengah kamar.
Didepan terdapat lemari besar dan meja rias dengan cermin diatas, membuat suasana mencekam.
“Ini kamar tamu” pikiranku terputus ketika Tante Siti bicara
Kulihat hanya Tante Siti yang masuk ke dalam kamar, tidak terlihat Ainur mungkin masih takut akan kejadian semalam. Tante Siti kembali menceritakan sesuatu yang membuat aku sendiri penasaran.
“Kamar ini biasa nya untuk kerabat keluarga yang menginap tidurnya disini, Om sering tidur disini tapi tidak ada apa-apa. Tante sama adik-adik Mbak Rahma jarang sih tidur disini tapi nggak pernah ada gangguan atau muncul sosok hantu gitu”
“Tapi dulu ada gitu kerabat tante yang menginap disini, dia juga punya mata batin. Katanya disini penunggunya pocong, dia sendiri pernah lihat. Itu katanya pocongnya berdiri di sudut tempat tidur dekat jendela itu”
Seketika aku terperanjat mendengar nama yang membuat aku tidak berani melihatnya lagi. Boleh dibilang aku sudah pernah melihat pocong bahkan sering, ada penampakan yang biasa sampai menyeramkan, kalau biasa pocong hanya berdiri sambil menundukan wajahnya, tapi yang paling seram bertatapan langsung dengan hantu mirip lontong itu.
“Apa mungkin tante tidak bisa melihat mereka ya?”
“Begitu ya, apa mungkin karena Ainur Cuma bisa lihat?. Sebenarnya kenapa juga Ainur bisa lihat-lihat seperti itu?”
“Nah itu juga tante tidak tahu ya”
Aku berpikir sejenak mengumpulkan keberanian, entah kenapa tenagaku seakan terus berkurang seperti diserap oleh sesuatu.
Ingin kugunakan cermin Cindi tapi setelah tante Siti menyebut kata Pocong, aku tidak berani mungkin saja aku melihat sosoknya.
__ADS_1
“Yah tinggal tanya Ainur saja nanti” kataku sambil keluar dari kamar
XVII CERITA KETIGA DAN TANGGAPAN.... SELESAI