INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB XII PULANG


__ADS_3

(Lampung Barat, 11.00 WIB)


(Sudut Pandang Akbar)


Hari ini aku dan keluarga pulang ke Palembang, setelah berlibur ke Lampung menikmati Pantai Pasir Putih kami singgah sebentar sebelum pulang untuk membeli oleh-oleh.


Hanya makanan yang dibeli, seperti tidak ada hal lain untuk dijadikan kenangan, memang begitu keluargaku selalu memikirkan kerabat lain untuk merasakan hal sama.


Sekali lagi aku harus merasakan mual berkepanjangan di perjalanan, sejak kecil aku memang suka mabuk kendaraan roda empat.


Berbeda saat pergi kepantai, mobil yang digunakan cukup baik dengan AC dan music untuk meramaikan suasana, meski begitu satu hari satu malam menahan mual bukan hal baik. Karena aku beberapa kali kami berhenti lebih dahulu untuk ke toilet, baik di pemberhentian Pom Bensin, Masjid atau tempat yang memiliki toilet.


“Huekkk” perutku terasa sakit ketika muntah untuk ke tiga kalinya


“Sabar sebentar lagi sampai kok”


“Berapa lama lagi Om?”


“Sekitar 4-5 jam lagi”


“Sialan” umpat batinku


***


(Mobil Keluarga)


“Gimana sudah baikan?” tanya bibiku yang bernama Wati


“Sudah agak mendingan”


“Bawa tidur saja, nanti kalau sudah sampai dibangunin” kata nenek


“Iya mak” aku memanggil nenek dengan sebutan mamak, entah darimana asalnya seluruh keluarga dari tali ibuku memanggil nenek dengan sebutan mamak


Kubaringkan tubuh di kursi mobil, tidur dengan posisi duduk hanya memejamkan mata untuk ke dunia mimpi. Beberapa saat ketika perjalanan kembali di mulai aku kembali teringat kejadian di toilet pantai kemarin, siapa atau apa itu?


“Nggginggg” suara nyaring terdengar entah darimana


Mendengar suara itu aku tidak bisa tidur, atau lebih tepatnya aku memang tidak bisa tidur di kendaraan baik mobil, kapal maupun pesawat. Kubuka handphone untuk menghabiskan waktu, kulihat disana pesan penuh di grup kelas sekolah.


“Ternyata mereka mau bikin acara bakar-bakar ya” bisikku


“Hemm boleh juga” ku ketikan pendapatku jika aku ikut malam rabu nanti


“Malam rabu di rumah Ainur, ah aku lupa dimana rumahnya ya?”


“Kenapa tidak bisa tidur?” tanya bibi Wati


“Iya nggak bisa tidur”


Aku melirik kakak keponakan, Kak Gusti namanya dengan tahi lalat besar di tangan kanan dan wajah yang cukup dewasa tertidur pulas di kursi depan.

__ADS_1


“Kak Gusti nyenyak kali tidurnya”


“Halah Gusti mah tidur dimana saja bisa, di kandang kuda juga bisa” cetus Bude Mar ibu dari kak Gusti


Mendengar Bude Mar berkata seperti itu kami tertawa bersamaan di dalam mobil. Yah perjalanan pulang kali ini pasti panjang, karena berangkat pagi , di perajalanan siang, sampai mungkin sore atau malam.


Berbeda saat berangkat kemarin, kami pergi malam dan sampai di Lampung pagi menjelang siang. Mungkin karena malam aku tidak merasakan mual, dan jalanan tidak macet seperti siang hari.


***


(Rumah Ainur, Palembang)


(Sudut Pandang Ainur)


Hari Senin kembali datang, tidak terasa sudah satu minggu aku libur tapi banyak menghabiskan waktu di rumah. Jalan-jalan paling hanya ke mol atau ke supermarket, tapi ada satu hal yang aku tunggu yaitu acara bakar-bakar kelas.


“Semoga saja jadi tidak Cuma wacana belaka” kataku


“Mbak ada yang cari tuh” adikku Raihan mengejutkanku


“Siapa dek?” tanyaku


“Nggak tau?” aku dan Raihan kedepan melihat siapa tamu yang datang


“Lho?!” kulihat Fahri dan gengnya berada di depan rumahku


“Agus, Pras, Adrian, Fahri ngapain kesini” setelah kulihat lagi ternyata ada ceweknya juga, “Oh ada Eli sama Alma juga ya”


“Nur kami mau jalan-jalan, mau ikut dak?” tanya Bareta kepadaku


“Huuu nggak bisa ya”


“Ayo lah nur, bentar saja, bentar” kata Adrian memaksa


Keputusan bulatku kembali menjadi titik, memang aku ingin jalan-jalan tapi jika dengan mereka rasanya tidak baik untukku. Ide pun datang kepadaku, lebih baik aku mengajak teman-teman barisanku juga.


“Oke deh, tapi aku ajak Agustina, Ibra, sama Dedek dulu ya”


Kulihat mereka saling berpandangan satu sama lain seperti tidak mengizinkan teman barisanku ikut. Meski begitu aku tidak ingin menghilangkan kesempatan, “Masuk dulu” ajakku


“Assalamualaikum” satu per satu dari mereka masuk


“Wa’alaikumsalam”


“Bentar ya aku siap-siap dulu” kataku pergi kebelakang


Lagsung ku chat teman-teman barisanku di kelas, memohon mereka ingin ikut denganku. Meski agak tiba-tiba pasti mereka mau tidak mau ikut, apalagi Ibra dan Dedek. Sambil menunggu balasan mereka, aku bersiap-siap untuk pergi.


***


(Sudut Pandang Akbar)

__ADS_1


(*****)


“Hemmm dimana ini?” aku merasa jika aku ada dua, diriku yang melihat dan diriku yang memperhatikan dari tempat lainnya


Bagaimana aku bisa sadar akan keanehan itu, hingga beberapa saat aku berpikir sejenak. Beberapa detik tak sampai pun aku tidak mengerti, tapi serasa waktu disini berjalan lambat.


Kulihat sebuah cahaya terang seperti lampu sorot di panggung-panggung besar menyinari sesuatu di ruangan gelap ini. Ku dekati benda itu, namun perasaan aneh kembali menyerang, aku mendekatinya dengan melayang…benarkah itu.


“Lho kok Ainur ada disini” batinku


Sebuah kejadian yang membuat aku sontak kaget adalah melihat sosok mirip Ainur, tidur terbaring di bawah kotak kayu pemakaman atau entah aku salah ingat ia tidur di tumpukan cahaya terang dengan kain putih sebagai alasnya.


Ia tidak sadarkan diri dengan melayang, apa yang sebenarnya terjadi?


Apakah ia hanya tidur, pingsan, atau sudah meninggal, kucoba untuk menyentuhnya. Dan kupanggil namanya, namun tak bisa karena suaraku tidak mau keluar.


Udara di ruangan itu semakin sedikit, dan terasa dinding mendekatiku, jantungku serasa berhenti berdetak sampai suara membangunkanku.


“Bang?!” kejut Irul yang membangunkanku dari tidur


“Hahhh…hahhh...hah” saat itu aku benar-benar terkejut berusaha menenangkan diri nafasku tidak teratur seperti orang habis lari marathon


“Kenapa bang?”


“Nggak apa-apa kok” pada saat itulah aku sadar yang aku lihat adalah sebuah mimpi, mimpi yang terlewat nyata, mungkin sesuatu hal buruk akan terjadi pada Ainur


“Yah tapi aku bukan siapa-siapa, tidak ada yang bisa aku lakukan” pikirku


Kuambil barang-barang di bagasi mobil, dan bergegas masuk ke rumah mamak. Karena sudah menjelang malam lebih baik menginap di rumah mamak terlebih dahulu, besok baru pulang ke rumah.


“Hahh, capeknya. Guling dulu baru mandi” kata budeku


“Kok lama banget sampainya, mobil satunya sampai jam 5 tadi. Ini kok hampir jam 6 baru sampai” tanya Bi Eneng, adik kandung ibuku yang tidak ikut pergi jalan-jalan ke Lampung


“Iya, tuh sih Akbar muntah-muntah terus di jalan, jadi banyak berhenti”


“Hehehe” aku tertawa kecil


“Yah dari dulu mah Akbar suka muntah di mobil”


“Hahahaha” semua yang berada diruang tamu itu menertawakanku, aku tidak membencinya tapi aku hanya sedikit malu.


Sudah menjadi penyakitku kalau mabuk perjalanan, tapi itu tidak pernah ku pikirkan. Selama keluargaku berkumpul aku ingin melihat mereka tertawa dan bahagia. Itulah keluarga dan kerabatku dari garis keturunan ibu, namun berbeda dengan keluarga yang berada di garis keturunan ayah.


Ketika bertemu pasti selalu marah, mencaci maki dan membicarakan aib keluarga mereka dari belakang. Banyak sekali kutemukan hal-hal tidak baik dari keluarga ayahku, meski begitu aku tidak bisa membenci apalagi saat diberi uang saku untuk jajan.


“Brukk” diriku langsung berbaring di kasur mbak keponakanku, Irul pun ikut serta dalam hal itu


“Capek bangetttt” eluhku


“Bang, push rank yuk” ajak Irul

__ADS_1


“Kuyy!!” ajakannya kuterima


BAB XII PULANG....SELESAI


__ADS_2