INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB XXX MURID BARU ITU TERNYATA TAHU


__ADS_3

(SMA NEGERI XX PALEMBANG)


Rintik hujan menghiasi hari, kemarin mimpi buruk datang melalui firasat, benar saja aku harus mendapatkan sebuah tanggung jawab besar dan merepotkan. Menjadi seorang ketua dari dua sudut pandang berbeda, PMR dan kelas, namun mengomel pun tak ada guna.


Meninggalkan masalah itu, murid baru bernama Putri pindah tepat kemarin…dimana firasatku mengatakan akan terjadi sebuah masalah. Jika perkiraanku benar, bukan hanya tanggung jawab sebagai ketua saja tetapi murid baru itu termasuk masalah.


Sejak awal aku sendiri merasa ada aneh dengan putri, mengingatkan pada seseorang…ya…Cindi. Namun Putri lebih menawan dibandingkan Cindi, sebuah pertanyaan besar adalah…apakah dia sama seperti Cindi?


“Put ayo kita ke kantin” ajak Ainur


Beruntung ia sudah bisa bergaul dengan teman sekelas, meski masih belum beradaptasi dengan baik


Lebih baik menjaga jarak dengan Putri sebagai ketua kelas dan teman sekelas, aku tidak ingin kembali terlibat dengan masalah ghaib.


“Skak!” tegas Raihan


“Emmm” Osama mulai kebingungan


Aku hanya melihat permainan catur kedua orang hebat ini sambil memakan bekal sendiri.


Makan dilantai mengingatkan aku pada latihan PMR bukan tidak ada alas tapi malu dilihat orang lain, aku jadi rindu dengan ruang rahasia di kelas 10. Tempat gantung diri korban tragedy sekolah, meski agak seram tapi itu adalah tempat persembunyian bagi anak laki-laki dikelas.


“Hemmm” Osama mulai mengerakan bidak


“Njir lama Os, aku juga mau main” kataku


***


(Sudut Pandang Ainur)


“Put mau ikut ke kantin tidak” ajak ku


“Boleh” ia beranjak dari tempat duduknya


Putri adalah siswi pindahan dari sekolah luar pulau Sumatera, bahkan ia bercerita sering berpindah-pindah sekolah karena urusan pekerjaan orang tua.


Sulit mendapatkan teman dan kenangan, meski begitu ia adalah siswa pintar dan rajin. Pendiam dan pemalu menjadi satu, sulit untuk bergaul dengan laki-laki itu kelemahan dari Putri.


“Put kau mau pesan apa?”


“Aku roti bakar saja” ujarnya dengan malu


“Tante roti bakar 2 ya, sama es tehnya 2 juga” pesanku kepada tente Gun


“OK” balas tante Gun


Sembari menunggu pesanan datang keadaan canggung kembali kurasakan, mungkin karena tidak ada Dedek jadi kurang ramai atau karena Putri kurang bisa mencairkan suasana.


“Terima kasih ya Nur”


Entah ada angin apa Putri berterima kasih, tak ingin menyakiti hati kubalas saja diikuti dengan menanyakan alasan.


“Iya sama-sama, tapi terima kasih untuk apa Put?”


“Yah terima kasih sudah mau berteman dengan aku, bahkan teman-teman sekelas juga sangat baik padaku”


Alasan terima kasih yang membuat aku kagum dan ingin menangis dari Putri, perkataan memang kurang menyakinkan tapi wajahnya sangat serius.


“Selain itu ketua kelas kita baik juga, walau dia seperti menjaga jarak denganku” ujar Putri tiba-tiba membicarakan Akbar


“Eh nggak kok Akbar nggak mungkin begitu, sebenarnya dia itu baik kok” kataku memuji Akbar


“Iya aku tahu kok dia baik, bahkan sebelum ini dia menolong Ainur kan”


Mendengar perkataan Putri beberapa menit belum kupahami, tapi setelah itu aku sadar akan maksud dari perkataannya.


“Apakah dia tahu kejadian waktu liburan itu?” batinku


“Eh maksudnya Put?”


“Akbar menolong Ainurkan saat diganggu oleh makhluk halus yang mengikuti Ainur”


Benar saja, seperti terkena petir di siang bolong aku terperanjat bagaimana Putri mengetahui hal itu. Seketika aku mengambil jarak aman darinya, tanpa disangka benar-benar tahu tentang kejadian itu.


“Kok kamu bisa tahu?”


“Iya, aku akan jujur. Sebenarnya aku bisa lihat masa lalu, selain itu aku juga bisa melihat makhluk halus sama seperti Ainur”

__ADS_1


Aku benar-benar kaget karena Putri tanpa menutupi diri ia memiliki masalah yang hampir sama denganku.


Mendengar hal itu tentu aku sudah tahu bagaimana rasanya, tak ingin sendirian…membutuhkan orang lain. Kurasa aku membutuhkan Akbar lalu kenapa tidak Putri bisa membutuhkan aku.


“Jadi…Putri juga bisa melihat makhluk halus ya?” tanyaku


“Iya, aku menceritakan hal ini di tempat ramai karena aku takut kalau berada di tempat sepi dan gelap. Selain itu aku sudah sedikit melihat cerita Ainur dan Akbar, tapi aku tidak tahu cerita lengkapnya jadi kurasa kita bisa…” belum selesai ia bicara tante Gun datang membawakan pesanan


“Ini dia” ujar tante Gun yang tidak tahu memotong pembicaraan penting


Cerita tidak berlanjut setelah itu…kami hanya menyantap roti bakar dan teh pesanan tanpa pembicaraan. Namun aku tahu lanjutan dari ceritanya barusan, ia membutuhkan bantuan.


Selesai menyantap makanan suara bel masuk terdengar tak lama dari itu, di perjalanan tentu saja aku tidak ingin pertemanan dengan Putri terhenti.


Kupaksa saja mulut untuk bicara,


“Put sudah berapa lama kau bisa melihat hal-hal aneh?”


Putri berpikir sebentar sebelum mengatakan jawaban, terjadi jeda menegangkan bagiku


“Eh…sebenarnya dari kecil tapi aku baru sadar setelah kelas 6 SD”


“Begitu ya, berarti sudah lama. Kalo aku dari kelas 1 SMP”


Wajah Putri berlinang air mata namun belum mengalir kebawah, ia seperti terharu ketika aku menanyakan pertanyaan barusan.


“Kupikir Ainur nggak percaya padaku dan menjauhi aku. Tahu kan kalau aku belum lama disini tapi sudah bercerita aneh-aneh, aku ini memang aneh”


Langsung saja kepekaan wanitaku meningkat, waktu menghibur dan mengahapus semua kenangan buruk milik Putri.


“Tidak kok, malah aku senang Putri bisa jujur. Selain itu aku juga sudah sering bertemu dengan orang aneh, jadi jangan khawatir”


Percakapan kami berakhir ketika akan memasuki kelas, seakan seluruh mata menuju kea rah kami jadi aku berpikir untuk tidak melnajutkan. Putri juga tahu bagaimana bersikap selanjutnya, sama sepertiku.


“Sekarang bagaimana?” pikirku


Aku sebenarnya ingin mengatakan masalah Putri kepada Akbar, namun diri mengatakan saat ini bukan waktu yang tepat. Hal terpenting sekarang adalah berteman dengan Putri dan melihat keadaan selanjutnya.


“Skak…mat” suara Akbar terdengar keras


Kulihat Akbar kegirangan sampai berdiri, tak tahu apa yang terjadi tapi tanpa sadar aku tersenyum untuknya.


***


“Allahu akbar…Allahu Akbar” suara adzan berkumandang


Sudah masuk waktu dzuhur, pelajaran telah dihentikan dan istirahat kedua datang. Sebelum makan siang shalat dilakukan secara bergiliran bagi para wanita, tentu saja aku ingin menyegerakan shalat jika tidak malas nantinya.


“Put, Dek ayo shalat” ajakku kepada Putri dan Dedek


“Iya”


Diperjalan menuju masjid kami bercerita sedikit, namun aku menggunakan kesempatan itu untuk berbicara serius dengan Putri.


“Put nanti setelah shalat kita ke pondok baca yuk” ajak ku


“Eh, iya Nur”


Setengah jam berlalu, shalat selesai ditunaikan Dedek yang bertemu Ibra langsung berpisah dengan kami berdua.


Kesempatan datang, kami menuju pondok baca sebelum itu kami membeli beberapa roti dari koperasi.


“Put sebenarnya kamu tahu cerita aku dan Akbar dari mana?”


“Eh…itu…sebenarnya aku itu bisa lihat masa lalu dari orang”


“Maksudnya kayak meramal gitu?”


“Eh, iya hampir mendekati kayak gitu sih. Tapi kalau mau lebih jelas aku bisa melihat masa lalu dengan menyentuhnya, misalnya orang, benda atau hal yang dapat dipegang”


“Aku masih nggak ngerti”


“Ka…kalau gitu biar aku kasih contoh”


Putri menarik tangan menuju sebuah batu di pinggir kolam sekolah, ia mengenggam tanganku dan meletakannya di atas batu itu, tangan kanannya berada di bawah sementara tangan kirinya berada di atas tanganku.


Aku hanya pasrah dan tidak tahu akan perbuatannya setelah itu aku sangat…sangat…terkejut.

__ADS_1


Seketika di kepala ku muncul sebuah gambar-gambar masa lalu, terlihat orang dan kejadian disana, seperti sebuah kilas film yang cepat. Keringat membasahi wajahku, tubuhku lemas tak bertenaga, aku tersungkur ketanah.


Hebat sekaligus menakutkan itu hal yang kurasakan, mulutku tak bisa bicara bernafas pun susah. Tidak terpikirkan aku akan mengalami kejadian seram seperti itu. Inikah kemampuan Putri, lebih hebat dari aku duga, Tuhan memang Maha Kuasa itu adalah kelebihan pemberiannya.


Hari itu tali persahabatan aku dan Putri mulai terikat rapat, kami berdua bercerita akan pengalaman tak mengenakan karena kemampuan ini. Kami saling terkejut satu sama lain tapi di akhir kami saling merangkul, dengan begitu kata sahabat muncul dari sebuah kemampuan yang sama.


( 2 Minggu Kemudian)


Hujan deras mendera kota Palembang, dingin menyelimuti kelas disertai kilatan petir, tak bisa fokus belajar.


Secara pribadi aku takut akan bunyi petir, suara menggema yang memekakan telinga dengan ketakutan. Dimana aku ketakutan maka disana akan selalu ada sesuatu yang menunggu.


“Petirnya besar sekali Ain” ujar Dedek


“Iya, aku juga takut”


Seisi kelas mengalami keributan ditengah badai ini, namun suara mereka teredam oleh suara jatuhnya air dari langit.


Mataku sendiri tidak bisa memalingkan dari semua orang, tapi ada satu orang yang membuat aku penasaran. Putri, sejak seminggu lalu ia tampak pucat dan kurang sehat, ia lebih pendiam dan sulit didekati belakangan.


Masalah…itu pasti yang dihadapinya, keluarga, keuangan atau lainnya, hanya bisa melihat saja tidak bisa ikut campur walau bisa memberi sedikit saran.


“Darrr!!!!....” suara keributan terdengar dari luar


Kaca pintu kelas IPS 4 pecah karena disambar petir


Bukan hanya kelas kami yang melihat kejadian mengerikan itu bahkan semua kelas di lantai 3 mengintip keluar. Hari ini aku merasa bumi tak merestui, jantung berdegub kencang sejak pagi melatih diri menjadi manusia.


“Nur kau tidak apa kan?” tanya Akbar mendekatiku


“Tidak apa kok bar. Tapi nanti ada yang mau aku bicarakan”


“Oke nanti pas istirahat ya”


“Eh kenapa tidak pas pulang saja” kataku


“Oh pas pulang aku langsung ke PMR, olehnya latihan untuk lomba di SMA xx”


“Oke, jadi pas istirahat ya”


Benar, Akbar sudah menjadi ketua PMR dan ketua kelas bahkan menjadi anggota OSIS, banyak tanggung jawab yang ia emban. Begitu juga sama denganku, aku menjadi ketua ekstrakulikuler Sastra dan menjadi anggota OSIS.


(FLASH BACK)


Peraturan dalam memilih anggota OSIS baru di sekolah adalah sebagian diambil dari ketua ekstrakulikuler baru.


Hari ini aku dipilih sebagai ketua Satra yang baru, tentu kesempatan yang tidak akan lewatkan. Pemilihan dilakukan dengan pemungutan suara oleh kelas 10 dan 11, terdapat 2 kandidat yang dipilih, aku dan juga Indah.


“Oke, untuk memilih silakan tulis nama di kertas dan masukan ke kotak” kata kak Mentari sebagai ketua sebelumnya


“Siap kak”


Pemilihan berjalan lancar tanpa ada ketegangan, hasilnya aku unggul dengan 20 suara sementara Indah mendapat 15 suara.


Secara formal aku menjabat sebagai ketua Sastra, dengan begitu di kelasku terdapat 3 ketua ekstrakulikuler dari 11 organisasi sekolah. Akbar ketua PMR, Ibra ketua ITC (Ilmu Teknologi Komputer) dan aku sebagai ketua Sastra.


“Dengan begitu ketua barunya adalah Ainur”


Tepuk tangan terdengar menggema ke seluruh ruangan klub tanda selamat untukku, beruntung Indah tidak terlihat ada tidak kepuasan terhadap hasil.


“Nah nur, sudah jadi ketua yang benar ya. Siapkan untuk penerimaan anggota baru di MOS siswa baru nanti” ujar kak Mentari


“Iya kak”


“Oh iya selain itu apa Ainur mau masuk OSIS?”


“Eh kenapa kak?”


“Begini, peraturan sekolah itu untuk ketua atau wakil ekstra baru bisa menjadi kandidat anggota OSIS. Nah kakak tanya sama Ainur, mau masuk OSIS tidak, atau mau digantikan Indah”


Aku paham akan perkataan kak Mentari, intinya ketika aku menjadi ketua Sastra berarti aku juga calon anggota OSIS tanpa tes lagi.


“Mau kak” tegasku


Dengan begitu aku mengemban dua tanggung jawab sama seperti Akbar dan Ibra, meski begitu kegiatan klub sastra tidak terlalu padat seperti PMR maupun ITC.


Tapi aku sendiri tidak ingin tertinggal dari mereka berdua, terutama Akbar yang sudah memberikan piala kemenangan kepada sekolah.

__ADS_1


(FLASH BACK END)


BAB XXX MURID BARU ITU TERNYATA TAHU.... SELESAI


__ADS_2