INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB 42 KERETAKAN ADALAH SEBUAH AWAL


__ADS_3

(Sudut Pandang Ferdi)


Pagi setelah upacara bendera kami memutuskan untuk berbicara satu sama lain.


Di awali oleh Putri dan di perantarai oleh Ainur, aku dan Sanjaya datang ke pondok baca.


“Jadi? Bagaimana kabar kalian?” ucapku membuka percakapan


Semua saling melihat satu sama lain,


“Aku baik-baik saja” ujar Sanjaya


“Aku tidak apa-apa” kata Ainur sambil menatapku


“Aku ingin minta maaf pada kalian semua karena sudah melibatkan kalian pada masalahku, bahkan nyawa sampai mempertaruhkan nyawa kalian”


Tentu kejadian itu bukanlah sebuah kejadian biasa, jika kami tidak berhasil warga sekitar dan polisi juga akan ikut terlibat.


Benar saat itu kami pasti akan dalam kondisi hilang atau mati.


“Aku sekarang tidak ingin berurusan dengan mahkluk halus lagi. Kau Sekarang mengertikan Ainur?” jelasku pada Ainur


Semua ini jelas adalah kesalahan sendiri karena aku ingin melindungi Ainur, sejak awal dia yang memaksaku ikut campur dalam urusan Putri.


Namun sekarang kami tidak ingin menyalahkan siapapun, kami semua sama salah.


“Iya” singkat Ainur


“Sanjaya bagaimana dengan mu? Apa kau baik-baik saja?” tanyaku


“Aku tidak apa-apa kok. Maaf saja tapi saat itu aku lari duluan”


“Tidak masalah, justru bagus kau sendiri tahu kapan harus lari”

__ADS_1


“Tapi, aku…”


Sanjaya merasa keputusannya untuk lari sendiri adalah hal memalukan, namun semua itu ia pendam karena melihat Ferdi.


Sosok yang dengan berani membantu meski ketakutan menyelimuti.


“Kalau begitu kita sudah baik-baik saja bukan. Tidak ada gangguan setelah kejadian kemarin bukan?”


Aku bertanya seperti itu karena takut mahkluk itu masih berada di dunia ini dan mengikuti satu dari kami.


Jika aku meyadari hal itu di akhir semua akan menjadi gawat, kita harus akhiri ini sekarang juga.


“Tidak ada, semua baik-baik saja”


“Sama, sepertinya makhluk itu sudah pergi sepenuhnya”


Ainur hanya menganggukan kepala yang berarti baik-baik saja. Semua sudah selesai, tidak ada lagi yang perlu ditakutkan.


“Maaf tapi apa boleh kita bertemu lagi setelah pulang sekolah?” tanya Putri


“Aku ingin traktir kalian, apa boleh?”


Hubungan kami canggung sekarang, namun tidak bisa di pungkiri semua itu akan kembali lagi.


Kuharap begitu,


“Tentu”


(Sepulang sekolah)


(Sudut Pandang Ainur)


Janji setelah pulang sekolah dari Putri membuat aku sedikit ragu untuk datang.

__ADS_1


Ketika mencari Ferdi ia sudah pergi duluan tanpa terlihat, aku merasa ada suatu tembok diantara kami sekarang.


“Dekat namun jauh”


Tidak hanya dengan Ferdi tapi juga dengan Putri, yang seharusnya aku dekat dan berteman kini aku merasa harus menjauhi.


Takut akan sesuatu yang buruk terjadi kembali, seperti kemarin.


(Pondok Baca)


Ferdi dan Sanjaya sudah berada di tempat datang lebih awal, sementara Putri masih belum Nampak. Aku pun melangkahkan kaki untuk ikut bergabung.


“Oh Ainur sudah datang” sapa Sanjaya


“Iya, mana Putri?”


“Entah? Aku tadi keluar duluan karena ada urusan”


“Disini juga dari tadi belum datang”


Aku duduk di kursi batu pondok baca, bersama Ferdi dan Sanjaya. Cuaca sore cukup mendukung suasana, menghilangkan stress setelah belajar seharian.


“Ting!” suara notif dari Hp berbunyi


“Kalian sudah berkumpul, aku ada kantin. Kalian kemarilah”


Isi dari pesan Putri di hp ku, menyuruh kami bertiga datang ke kantin. Aku pun memberitahu kedua laki-laki itu untuk menyusul Putri,


“Putri menyuruh kita ke kantin”


“Kantin? Kenapa tidak kesini?”


“Entahlah”

__ADS_1


Sebuah panggilan dari Putri yang aneh, apa niat dari isi pesan Putri pada ketiga temannya?


BERSAMBUNG….


__ADS_2