
(Rumah Raihan)
Malam sudah menjelang larut, langit bersinar karena cahaya rembulan, tidak menandakan suatu keburukan.
Kami bergadang semalaman, awalnya kami bermain kartu, namun setelah banyak ronde kami memutuskan untuk bermain game di handphone.
Aku sendiri bermain catur bersama Raihan, di selingi dengan kacang dan kopi, mata kami masih bertahan tapi tidak dengan otak dan pikiran.
“Hei, mau ke KI tidak” singkatan dari Kambang Iwak di Palembang
“Jauh nya cuy, nyari cewek tuh yang deket-deket saja” ujar Agus
“Baru jam 11 Gus, banci saja baru keluar jam segini”
“Yakin mau ke KI, katanya ada razia minggu ini tiap malam”
“Ais, tidak juga polisi itu ada sampai malam begini, mereka pasti sudah tidur dari tadi”
“Tapi itulah, jauhnya itu” tambah Raihan
“Ergan tidak ikut pula, kalau ada dia bisa main gitar”
“Hoaam” aku menguap
“Yang tidur duluan awas saja, pasti kena jahil” kata Agus
“Sialan kau ya” kataku
Namun aku sudah tidak tahan lagi, biasanya jam begini aku sudah siap-siap tidur setelah belajar.
__ADS_1
“Oh iya, aku lupa bilang kalau di rumah ini ada penunggunya” Raihan tiba-tiba merubah suasana
“Ai han, kau ini malah cerita begituan” tegas Harry
“Lah, kenapa, kan rumah-rumah aku”
Aku hanya menggelengkan kepala saat Raihan menceritakan rumahnya.
Namun aku juga merasakan hal aneh dari rumah ini, sejak di luar dan masuk ke dalam perasaan pusing semakin menjadi.
Rumah Raihan sendiri panggung dengan kayu sebagai tembok, dan saat aku masuk ke dalam benar-benat bau kayu tua, dan kayu di atas sudah hampir lapuk.
Rumah Raihan luas, tapi ia dan kakaknya hanya menggunakan ruang tamu atau ruangan depan sebagai tempat tinggal.
Kamar dan ruangan lain terlihat ditinggalkan, ada banyak kotoran dan benda-benda tua si setiap ruangan.
Untuk tidur dan memasak menggunakan ruangan depan, dan untuk mandi ada kamar mandi di bawah yang terbuat dari batu batako.
Kasur, kipas angin, kabel panjang, piring dan gelas, dan alat memasak yang sederhana semua berada di ruangan depan.
“Jadi kau cuma menggunakan ruangan ini sama WC?” tanyaku
“Iya, tapi juga kadang pakai dapur di bawah. Dan disana juga kadang terlihat penampakan kata teman kakakku” berusaha menakut-nakuti
“Hem” aku menganggukkan kepala
“Han, aku mau ke kamar mandi, temani dong” ajak Osama
“Lah, kan kau sudah sering menginap disini, kok masih minta temani”
__ADS_1
“Gelap Han, takut aku”
“Heleh, penakut sekali”
“Ya sudah Os, sama aku saja, aku juga mau ke WC” ujarku pada Osama
“Sip, kalau Ferdi tambah berani aku”
Kami pun langsung turun menuju kamar mandi, saat melewati ruangan lain aku merasa seperti dilihat oleh seseorang.
Di tempat yang luas ini, aku dan Osama saja, tidak ada orang lain tapi tatapan itu sangat tajam membuat aku merinding.
Saat turun kebawah, kami harus melewati tangga kecil yang terbuat dari batu yang di semen tidak sempurna. Kamar mandi rumah ini ternyata satu ruangan dengan tempat kami meletakan motor.
“Lah ini gudang kan?” aku melihat motor
“Iya, gudang itu sebenernya ruang belakang, liat tu dapur, disitu kamar mandi” tunjuk Osama
“Harusnya diperbaiki sedikit jadi kayak rumah orang berpenghasilan tinggi”
“Hahaha, kau tahu sendiri kan keluarga Raihan itu bagaimana?”
“Tapi seharusnya ayahnya sedikit melirik tempat tinggal anaknya” kataku sedikit meninggi
Aku adalah orang yang memiliki rasa pertemanan yang tinggi, apalagi melihat keadaan teman yang sedikit kurang perhatian dari orang tua.
Beruntung aku masih memiliki keluarga yang lengkap, teman-teman yang baik, maka dari itu aku akan selalu bersyukur dan berusaha melindungi mereka.
“Benar, itulah manusia” bisikku
__ADS_1
BERSAMBUNG....