
(Bioskop OPI Mall Palembang)
(Sudut Pandang Ainur)
“Sip ayo duduk di depan”
Judul film tertera di layar, permulaan film sudah menujukan plot yang membawa penonton masuk kedalam cerita. “Pengabdi Setan” sebuah judul film lama yang kembali di rilis dengan wajah baru, tidak disangka film ini akan kembali popular setelah zamannya.
Horor dan menakutkan kurasa kata yang pas saat berada ditengah film, aku pun terbawa suasana hingga jantungku berdegub kencang. Dari pertengahan film sampai akhir aku pun merasa ada yang tidak beres, aku seperti menyukai hal ini bukan…sepertinya aku pernah mengalami hal ini.
“Tapi kapan aku pernah mengalaminya...?”
Ingatan sepintas melintas di pikiran menandakan aku mengingat sesuatu yang penting, disaat aku akan mengingat hal itu serasa leherku dingin ditiup oleh angin lembab. Bukan karena AC tapi angin itu seakan mencecik leher, nafas berat dibuatnya.
Nama pemeran muncul di layar depan menandakan film telah usai, beruntung saat itu Dedek menyadarkanku dari tekanan berat di dalam diri. Jiwaku seperti sudah terlepas dalam tubuh, angin itu menuntun jiwa didalam tubuh untuk keluar.
“Sudah selesai, mau pulang sekarang” tanya Haliya
“Iya, sudah malam pula”
Aku kembali melihat jam tangan, pukul menunjukan 20.50 WIB tidak terasa 2 setengah jam berlalu begitu cepat. Begitu pula kami bersepuluh, remaja SMA yang pulang larut malam bukanlah hal yang baik. Ditengah keramaian kami menuju tempat parkir, padahal hari sudah hampir larut tetapi orang semakin ramai saja dari sebelumnya.
***
(Tempat Parkir OPI Mall)
“Tiket ada di kau kan?” Fahri mengejutkanku dengan pertanyaannya
“Ah iya masih aku pegang kok”
“Awas hilang nanti nggak bisa pulang”
Laki-laki mengambil kembali kendaraan roda dua mereka, sementara wanita menunggu di gerbang saja. Kuakui walau aku terpaksa hari ini tapi menyenangkan juga.
“Lain kali jalan-jalan lagi yuk” kata Agus yang sudah sampai dengan motornya
“Besok gimana?”
“Kan besok ada acara bakar-bakar sekelas. Gimana sih kau ini?” Ibra langsung mengingatkan kami
Kedatangan Ibra juga bersamaan dengan yang lainnya, kami perempuan tanpa disuruh langsung menaiki kuda besi roda dua itu.
“Oh iya, ya” Agus menggaruk kepala
“Iyalah, awas jangan sampai nggak jadi. Besok olehnya mamaku nggak masak jadikan makan gratis” jawab Ibra dengan jujur
“Jujur amat sih kambing…kambing” Dinata pun ikut dalam percakapan itu
“Iyalah Ibra kan makan gratis nomor satu” Raihan pun ikut mengerjai Ibra
“Iya tapi kalau Raihan makan banyak nomor satu” balas Ibra
“Hahahaha”
Di sela tertawaan mereka aku sendiri terdiam melihat sesuatu yang aneh, seorang laki-laki berdiri di bawah pohon seakan menatap kami. Anehnya aku seperti tidak melihat kepala dari laki-laki itu karena penerangan disana kurang memadai.
__ADS_1
“Apa yang aku lihat ini benar?” batinku
***
(Rumah Mamak Akbar)
(Sudut Pandang Akbar)
Langkah kaki kupercepat hingga kembali mendengar keras percakapan para orang tua, seketika kembali dari dapur suasana yang ku kira sepi mendadak ramai seperti pasar. Tidak yang tua, muda atau anak-anak semua ribut tak ada henti lalu pemikiranku terhenti.
“Lah tadi kenapa pas didapur sepi amat” tanya batinku
Tak ingin mempermasalahkan lagi, aku duduk saja tanpa mempertanyakan.
“Makan Om, Bude” tawarku kepada semua orang
“Iya makanlah”
“Cerita apa nih Om seru kayaknya?”
“Besok mau jalan-jalan lagi”
“Hah?! Baru juga pulang mau jalan-jalan lagi. Gila amat” kataku
“Hahaha, kan mumpung libur”
“Justru itu aku mau tanya, kan yang libur anaknya kok malah orang tuanya yang jalan-jalan”
“Dak apo Bar bik eneng kau masih belum jalan-jalan jadi besok biarla”
“Cinta Manis”
“Ohh tempat Bibi Iyem, jauh juga sih. Kapan berangkatnya Om? Besok?” tanyaku
“Iya, sudah lama juga nggak jalan-jalan ke Cinta Manis”
“Berarti menginap disana ya kayak dulu?”
“Kayaknya gitu. Memangnya kenapa?”
“Besok aku nggak ikut, aku ada acara sama teman kelas”
“Heehhh, cewek atau cowok”
“Ah salah, sama semua teman sekelas”
“Hemmm abang nggak seru, nanti kalau sudah ada cewek ajak ke rumah om”
“Iya, iya nanti aku bawa”
Aku pun kembali makan, jika hanya berbicara dengan Om Ambar pasti tidak akan selesai. Baginya bicara adalah kelebihan, jadi ia sering bicara banyak dan panjang lebar ke orang lain.
“Oh iya oom juga pernah lihat hantu kan dikamar mandi belakang” ujar Bik Eneng
Seketika kau tersentak, berhenti makan untuk mendengarkan cerita barusan. Om Ambar yang banyak bicara melihat hantu dikamar mandi belakang.
__ADS_1
“Iya pernah waktu dulu tinggal disini” cerita Om Ambar
Dulu Om Ambar pernah tinggal di rumah mamak, sama seperti keluargaku. Namun setelah keluarga kami pindah ke rumah baru, Om Ambar pindah ke rumah mamak. Tapi itu tidak lama, mungkin hanya beberapa bulan karena oom sudah membeli rumah baru.
(FLASH BACK)
Cerita ini ketika Oom masih tinggal di rumah mamak beberapa tahun lalu, dimana ia sendiri hampir jatuh terpelet dikamar mandi.
Waktu itu aku mau mandi untuk shalat shubuh, rutinitas biasa yang kulakukan sebelum matahari menjelang datang. Tapi hari ini entah kenapa aku tidak merasa enak di hati, tak ingin waktu habis tentu saja kuambil handuk di balik pintu.
“Krieettt…” ku buka pintu kayu yang hampir rapuh dimakan rayap, dengan desain pintu terbuka atas dan bawah
Kupandang sebentar rumah buyut yang berada disamping rumah mamak, terlihat tua dan agak menyeramkan. Untung masih ada penghuni manusianya, kalau tidak mungkin bahaya. Di depan pun pandangan masih gelap gulita, kupakai sandal mulai dari kanan lalu kiri segera berlari menuju kamar mandi.
“Hemmm” kuletakan handuk di belakang pintu kamar mandi setelah itu kututup pintu
Beberapa saat, “Byurrr” air menguyur tubuhku dengan rasa dingin menyengat membuat aku terkejut
Namun setelah aku melihat ke sudut atas kamar mandi di situlah aku terdiam sebentar, tak lama lebih jelas penglihatanku
Kuntilanak bertenger di atas sudut, hingga mengeluarkan suara tawa nyaring, “Khi..hi…hi…hi…hi” seketika rasa takut membara sampai ke tubuh
Kupaksa kaki bergerak cepat, kubuka pintu kamar mandi dengan paksa
“Brak” hingg aku berhasil keluar
Tubuhku memang takut namun hatiku masih belum menyerah, teringat aku adalah makhluk yang lebih tinggi darinya. Kusuruh dan kutantang dia untuk pergi, sambil membawa semeber air untuk kisiram padanya.
“Pergi, dasar kau!! Pergi tidak kau!!!” bentakku
Suaraku mungkin membangunkan orang dirumah dan tetangga tapi saat ini keadaanku lebih penting. Kulihat ia masih berada di tempat dengan wajah menunduk kebawah, kubaca Al-Fatihah dan ayat kursi padanya.
“Allhamdullilahirabbil alamin” bacaku dengan tegas
Setelah selesai membaca Al-Fatihah dilanjutkan dengan Ayat Kursi, kuntilanak itu menghilang dalam sekejap mata. Seperti debu tertiup angin tak tahu darimana ia datang dan muncul.
Ember berisi air yang kepegang kusiram ke sudut kamar mandi tempat ia menampakan diri, berupaya agar ia tidak muncul kembali.
“Setan kurang ajar” rasa terkejut dan takut sedikit demi sedikit berkurang
Kutunggu beberapa menit sampai aku menganggap semua sudah aman, ketika waktu menunggu suara orang shalat di masjid telah selesai. Perasaan masih terkejut berdegub kencang kupaksakan kembali masuk dan mandi sebelum waktu subuh habis menjelang pagi.
(FLASHBACK END)
“Sekarang dia nya masih ada atau tidak?”
“Nggak ada sudah di usir sama kakek Mu’in. Kalo masih ada kan kalian pasti sudah digangguin”
“Hiiih seremm”
Anak-anak mendengar cerita Om Ambar barusan terdiam karena ketakutan, padahal sedaritadi mereka asik bermain menjerit-jerit hingga hampir merusak gendang telingaku.
Tapi tidak kusangka Om juga punya cerita seperti itu, hampir sama bagiku tapi aku terlalu pengecut dan payah dalam menghadapi makhluk halus tidak seperti Cindi dan Ainur.
“Kira-Kira mereka berdua sedang apa ya?” pikirku
__ADS_1
BAB XIV PERMULAAN....SELESAI