INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB XI CERITA DI PANTAI PASIR PUTIH


__ADS_3

(Lampung Barat, 09.00 WIB)


(Sudut Pandang Akbar)


Tepat sehari sebelum aku pulang ke Palembang, Paman mengajak kami ke Pantai terkenal di Lampung. Tempat wisata dimana banyak sekali pengunjungnya waktu hari libur, Pantai Pasir Putih.


Berangkat menggunakan mobil karena banyak barang bawaan membuat telingaku sakit dan rasa mual menyerangku. Bagaimana tidak, mobil yang seharusnya di isi oleh 6 orang bertambah 3 orang apalagi adik keponakan ku yang kecil. Tak bisa diam dan berisik sekali membuat kepala ku berputar-putar tanpa henti, namun kutahan rasa mual sampai di Pantai.


“Bar tidak apa?” tanya bude ku yang duduk di kursi depan


“Nggak apa bude” jawabku


Tidak ingin keadaan memburuk, kubuka kaca jendela mobil dan menghirup udara dari luar jendela. Untuk mengilangkan perasaan tidak enak aku memain-mainkan kaca mobil Pamanku. Naik…turun…naik…turun…menjelang beberapa menit kemudian aku sudah bosan dan kembali melihat arloji.


“Masih lama apa sampainya?” tanya batinku


***


(Pantai Pasir Putih, Lampung Selatan)


Aku dan saudaraku masuk lebih dahulu didampingi oleh Bude sementara Paman dan Om mengurus tiket masuk ke Pantai. Saat memasuki wilayah pertama kali aku sudah merasakan hembusan angin menerpa wajah.


Pandanganku teralihkan oleh pemandangan indah nan mempesona dari tempat wisata satu ini, maklum pertama kali pergi ke Pantai. Namun kurasa bukan itu alasannya, pemandangannya sangat indah membuat aku takjub dan mematahkan persepsiku.


Kupikir hanya air pasang surut ditambah dengan tembakau-tembakau yang ada di pantai ini, namun hal itu kutarik kembali. Pepohonan, pemandangan, dan pasir pantai yang cukup indah membuat aku tidak ingin membuang waktu.


“Jangan lupa ganti baju dulu kalau mau basah-basahan” kata Pamanku datang dari belakang


Beberapa menit kami berganti baju, tanpa malu di depan umum untung karena kami sudah pakai pakaian double dari rumah paman. Tanpa basa-basi, aku dan Irul keponakan terdekatku berlari menyosor air pantai.


“Byurr” suara air menghempas kena kakiku


“Whoo dingin..” kata Irul “Ayo bang lomba lari sampai kesana” pangkasnya


“Oke siapa takut” jawabku dengan tegas ”Satu…dua…tiga…” aku menghitung waktu start


Irul yang langsung berlari tanpa sadar langsung kuhentikan, “Hei Irul tunggu…Kan aku belum selesai hitung. Bukan satu sampai tiga tapi lima” kataku mengerjai Irul


“Heeee” ia tampak kesal ketika aku mengerjainya, aku hanya tertawa melihat ia yang kembali lagi ke garis awal


Waktu terus berlalu, bermain di air, foto dan berjemur semua aktivitas berbeda dilakukan oleh keluargaku. Namun setelah matahari telah tinggi di atas bumi, kami berkumpul kembali untuk makan siang.


Beraneka macam makanan khas Lampung dan Palembang di depan mata, tapi yang paling membuat mata ku tertarik adalah soto ayam buatan Bibiku.


“Rul temani aku sebentar” saat baru minum air kelapa terasa kantung kemihku tidak tertahankan


“Mau kemana?” tanya ayahku


“Mau ke WC” kataku sambil menarik Irul

__ADS_1


***


(Rumah Ainur, 12. 30 WIB)


(Sudut Pandang Ainur)


“Haaa, Liburan di rumah terus. Ma, ayo jalan-jalan kemana kek?” cetusku


“Coba ajak papa dulu baru mama” Mama kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang


“Pa..” belum selesai aku bicara tapi papa sudah memotongnya


“Sibukkk…” kata papaku


“Huuu sibuk terus”


Mendapat jawaban dari permintaanku tidak terpenuhi, tak ada pilihan untuk liburan semester ini aku hanya di rumah saja. Meski ada teman-temanku yang sering main ke rumah tapi mereka juga liburan dengan keluarga.


Namun disaat aku berpikir di dalam kesepian sesuatu mengingatkan aku kepada Akbar, entah kenapa aku merasa ingin bertemu dengannya. Peristiwa mengerikan kemarin masih membekas di ingatan, seakan tidak terlupakan. Berusaha menangkap tersangka dari tragedi pelecehan di sekolah puluhan tahun lalu.


“Tapi aneh sih, kok aku mau-maunya bantu dia dan anak kelas IPA itu” pikirku


Meski begitu aku terasa terbiasa mengalami hal itu, seharusnya aku lebih takut waktu itu atau aku memang seberani itu?.


Tidak mungkin hal ini terjadi tiba-tiba, meski begitu aku merasakan diriku ini aneh seperti mereka berdua. Siapa dan kenapa aku bisa seperti itu?


Aku sendiri tahu…di rumahku pun ada yang seperti itu, yang disebut makhluk halus. Bahkan aku tahu ada sesuatu di dalam diriku, dekat denganku…namun tidak terlihat.


Mataku tertuju pada nama penelpon yang menghubungiku, “Fahri? Mau apa dia?”


Fahri teman sekelasku, memang akhir-akhir ini ia sering mendekatiku. Entah kenapa aku tahu jika ia mempunyai perasaaan terhadapku namun diriku berkata “Ia tidak cocok denganku atau aku tidak suka padanya”.


Bukan sekali ini saja namun setiap aku berdekatan dengan laki-laki, pasti mereka menaruh rasa padaku, menembakku dan akhirnya sama, kutolak.


Inilah penyebab aku tidak disukai di SMP ku, karena aku dianggap Bunga sekolah maka teman perempuan lain menjauhiku.


“Tit” kutolak panggilan dari Bareta


Kubuka sesuatu yang lain, teringat akan kebosanan aku melihat Whats*** untuk mencari kabar baik, siapa tahu ada kegiatan menyenangkan. Benar saja, grup kelas penuh dengan chat dan pesan,


“Ayo kita buat pesta bakar-bakar”


“Ayo!”


“Bakar apa?!”


“Terserah bakar ayam, jagung kek”


“Ohh kukira bakar rumah wkwkwk”

__ADS_1


Isi dari percakapan dari grup kelas adalah mereka ingin mengadakan pesta bakar-bakar untuk kelas IPS 2.


“Boleh juga” aku pun tertarik dan ikut andil dalam percakapan dunia maya itu


“Tapi di tempat siapa?”


Inilah pertanyaan yang membuat semua orang bingung, seakan jika tidak menemukan tempat acara tidak akan terlaksana.


“Maaf rumah aku penuh”


“UP dulu bosku”


Berbagai alasan datang dari teman-temanku supaya rumah mereka tidak dijadikan sebagai tempat berlangsung acara. Tak ada yang ingin menjadi tuan rumah aku pun turun tangan dengan mengatakan bisa mengadakan acara tersebut di rumahku.


“Ah gimana dengan mama nanti ya?” tanyaku pada diri sendiri “Ya sudah nanti ngomong sama mama dulu deh”


Akhirnya kesepakatan di buat, acara bakar-bakar akan dilakukan di rumahku…mereka setuju untuk memanggang jagung, sosis dan ayam. Acara akan dilaksanakan pada hari Rabu, setelah uang patungan terkumpul.


***


(Pantai Pasir Putih, Lampung Selatan)


(Sudut Pandang Akbar)


“Bang sudah belum?” teriak Irul kepada ku


“Sabar woy, lagi konsen nih”


“Byurr” Segera saja aku selesai dan menyiram sisa kotoran


“Lama amat sih?”


“Susah nggak mau keluar jadi lama”


Ku cuci tangan terlebih dahulu sebelum kembali, di sanalah aku merasakan sebuah kejanggalan. Seorang wanita berdiri di tepi pintu toilet dengan wajah menunduk kebawah, kupikir ia hanya menunggu teman atau saudaranya. Tak lama selesai membasuh kedua tangan hingga bersih, kuhampiri Irul.


Kami berdua berjalan melewati wanita itu, aku menengok sedikit ke arahnya tapi aneh Irul seperti tidak mengindahkan wanita itu. Ketika keluar kamar mandi aku pun menanyakan kejanggalanku,


“Rul cewek tadi ngapain?” tanyaku pada Irul


“Cewek yang mana?” pernyataan dari mulut Irul yang membuat aku bingung


“Itu yang di toilet tadi” aku menunjuk kearah toilet


“Nggak ada kok bang, lagian itukan toilet cowok. Mana ada cewek yang masuk”


Aku tertegun mendengar perkataan Irul barusan, kutelan matang-matang kata-kata itu. Hingga beberapa menit sampai aku dan Irul kembali ke tenda keluarga, ternyata benar perkataan Irul.


“Mana ada cewek masuk ke toilet pria. Lalu apa yang aku lihat tadi?” pikirku

__ADS_1


BAB XI CERITA DI PANTAI PASIR PUTIH....SELESAI


__ADS_2