
(Minggu, Rumah Aksay)
Pagi hari setelah kejadian itu kami semua tidak kontak satu sama lain, disatu sisi Putri menjelaskan kerusakan pada rumah ketika orang tuanya kembali.
Warga sekitar juga berbondong-bondong mecari tahu situasi di rumah Putri karena sejak siang kejadian itu rumahnya tampak berisik.
“Yah tinggal lihat hari Senin saja”
Lalu untuk Ainur tidak tahu ia baik-baik saja atau tidak karena pesanku tidak di balas sama sekali. Sanjaya sendiri tidak mengetahui nomornya tapi Putri bilang dia aman.
Bagiku luka dari kegilaan kemarin masih terasa di ingatan, tangan dan kaki merasakan, mata masih suka berhalusinasi, dan hati pun masih berdegub kencang saat mengingat semua.
Selain itu luka luar pun ku terima saat terjatuh dan terkena barang-barang melayang. Tidak berani pulang kerumah dengan penuh luka aku menginap di rumah Aksay sampai luka cukup pulih.
Bahkan Aksay yang melihat keadaan ku kemarin cukup terkejut, namun aku tidak membuat terlalu khawatir dan mengatakan habis kecelakaan kecil.
“Hari ini mau pulang?” tanya Aksay membawakan aku teh hangat
“Iya, nanti sore saja. Biar pulang agak malam dan tidak kelihatan luka”
“Kau ini pula bagaimana bisa terjatuh begitu? Untung motor mu tidak apa-apa”
“Malah pentingin motor, dengar, kemarin itu sangat menakutkan, kupikir aku akan mati tahu”
“Makanya kalau berkendara itu yang benar”
__ADS_1
Percakapan kami berdua menyambung tapi dalam artian berbeda, dia berpikir aku habis kecelakaan motor.
“Kalau aku bilang kemarin habis menangkap setan, percaya tidak dia ya?”
Meski begitu dia pasti tidak percaya, aku bukan seorang dukun atau orang sakti jadi mana mungkin. Aku sendiri awalnya tidak percaya, namun sekarang berkata tidak mungkin adalah sebuah kebohongan.
“Ngomong-ngomong kemana Om sama Tante?”
“Ke pasar”
Aku membalas menganggukan kepala,
“Tapi udara di dekat sawah adalah sebuah obat bagi pikiran, seolah-olah angin dingin membekukan ingatan dari ketakutan”
***
Aku pulang ke rumah kemarin sore dengan diam-diam, takut terbuka soal luka. Berada di kamar semalaman dan menahan lapar sampai malam saat semua orang sudah tidur.
Baru aku memakan sisa masakan ibu untuk mengisi perut, sampai pagi aku bersiap lebih awal ke sekolah dan tidak berpamitan. Membeli sarapan di jalanan dan memakan di dalam kelas sebelum bel masuk berbunyi.
Rasa tidak enak tentu ada pada hati, untuk orang tua dan keluarga seperti menghindari atau menutup diri. Namun alasan pasti adalah aku tidak ingin mereka khawatir dengan lukaku.
“Pagi yang buruk” batinku
Aku sudah duduk di kursi ku setengah jam sebelum bel berbunyi, orang kedua setelahku adalah Yusli yang di damping pacarnya dari kelas lain mengantar. Lalu di lanjutkan dengan dua orang lagi beberapa menit kemudian.
__ADS_1
Tapi hari ini ada beberapa orang yang aku tunggu, seperti tidak sabar untuk bertanya dan bercerita tentang kejadian supranatural.
Putri datang lebih awal, sama sepertiku tangannya di perban karena luka.
Sekilas ia seperti menatapku, tapi rasa canggung menghalangi untuk bicara. Beberapa menit sebelum bel berbunyi Ainur datang, namun beda sorot mata ia tidak ingin melihatku.
Sial, sejak kemarin aku merasa kesal pada dunia dan orang-orang.
“Hahh” aku menghembuskan nafas
(Upacara Bendera)
“Selanjutnya pengumuman untuk siswa, tentang lomba dan lainnya. Pada hari Sabtu….”
Aku lupa bahkan hari itu aku seharusnya berada di SMK xx untuk mengikuti lomba, padahal aku sudah berjanji akan kembali.
“Pak ketum, kemarin kita menang banyak lho” ujar Rahma di sebelahku
Kami pasukan PMR berjaga di belakang barisan siswa saat upacara bendera, jika terdapat siswa sakit dapat di ketahui dan di tangani dengan cepat.
“Benarkah?”
“Lomba PMR, Juara 1 Pertolongan Pertama Putra, Juara 2 Tandu, Juara 1 Cepat Tepat, Juara 2 Cepat Tepat, dan Juara Sekolah Ter-Favorit”
Kemenangan besar untuk PMR SMA xx membuat aku terkejut sekaligus bangga, namun sayangnya aku tidak berada disana.
__ADS_1
“Kupikir hari ini cukup buruk, tapi sekarang tidak buruk juga”
BERSAMBUNG...