INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB 45 CERITA KELIMA DAN TANGGAPAN


__ADS_3

(SMA xx, Semester 4)


“Hoaam”


Udara sejuk pagi membuat aku menguap, serasa malas sekali pergi sekolah. Hari ini adalah pembagian nilai rapot akhir semester, membuat aku cukup gugup.


“Aku atau Ainur lagi yang akan menjadi peringkat pertama?”


Tentu bagi kami berdua dan teman-teman sekelas hal itu sangat wajar dinanti, karena kami berdua bersaing ketat untuk mendapatkan posisi pertama.


Aku memegang peringkat pertama terbanyak sejauh ini dengan 2 kali juara 1 di kelas, sementara Ainur baru satu kali.


“Ferdi!”


Agus datang menepuk punggung ku,


“Oi sakit lah”


Tapi aku tidak mempermasalahkan nya, jika aku meladeninya hanya akan tambah parah.


“Ahh tidak sabar ni bagi rapot habis itu liburan” ujar Agus


“Yah memang sih, aku juga mau liburan”


“Mau kemana kau Fer?”


“Kata ibuku kami ingin menemui saudara di Pagar Alam”


“Wuis enak nya, aku paling di rumah main pas sore”


“Lebih baik kau gunakan juga untuk belajar, pas kelas 12 nanti akan semakin dikit waktu belajar”


Kami berdua saling bercakap akrab seperti biasa, bahkan terlihat kakak dan adik. Itu terjadi mulai saat SMP dulu, ketika kami berdua di tempat dudukan bersama.


...***...


Suasana kelas sudah cukup ramai walau masih pagi, namun kami siswa yang hadir disini hanya menunggu wali kelas dan orang tua kami datang.

__ADS_1


“Jangan begitu Cep”


Suara keras dari Agus dan Ferdi terdengar sampai ke dalam kelas, mereka berdua masih berada di lorong.


Aku pun selalu berpikir keadaan kami yang mulai menjauh sekarang, baik sekarang maupun di masa depan.


Padahal kejadian itu sudah berlalu cukup lama, dan percakapan terakhir kami adalah sebuah penolakan keras dari Ferdi.


Setelah itu jarak antara kami semakin jauh, walau begitu kami sesekali kontak karena pelajaran atau pun tugas.


Hari ini juga mungkin Ferdi merasakannya, sebuah persaingan yang kami rasakan sejak kelas 1 SMA.


Ketika ia melangkah masuk, mata kami pun saling bertemu, ia juga mengkerutkan dahi seakan berkata hari ini adalah siapa pemenangnya.


“Hemm” aku pun membalas tatapannya


...***...


(Kelas IPS 2)


“Baiklah bapak-bapak dan ibu-ibu, sekarang saya akan membagikan rapot siswa tapi sebelum itu untuk peringkat 1 sampai 3 akan saya panggil lebih dulu”


Sudah hampir jam 10 artinya hampir 3 jam kami menunggu dari pagi, padahal sekolah lain aku lihat sudah ada yang pulang.


Namun akhirnya hal yang di tunggu-tunggu, pengumuman peringkat.


“Peringkat pertama, Ainur. Tolong maju ya nak”


Saat itu hatiku cukup kecewa, namun tidak masalah karena artinya kami masih seri.


“Kedua, Ferdi”


“Baik bu” aku maju ke depan bersama ibu


“Ketiga Anna Nur”


Ketiga orang yang sama seperti semester kemarin, menempati posisi atas dalam peringkat kelas, berbedanya kali ini peringkat pertama di ambil oleh Ainur.

__ADS_1


“Wah Ferdi kalah semester ini” ujar Anna yang berdiri di sampingku


“Iya, mungkin karena kurang belajar juga”


Tentu itu bukan alasan, karena aku sendiri sangat sibuk saat kelas 2 apalagi saat semester 2 kemarin, sudah menjadi ketua PMR, ketua kelas, ketua Ikatan Masjid, dan lagi menjadi anggota OSIS.


Entah apakah sekolah ini suka atau benci padaku, aku merasa sangat lelah mengurus semua tanggung jawab itu.


Tapi itu tidak menutup bagi Ainur, ia juga sedikit sama sepertiku, ia adalah ketua Ekstrakulikuler Sastra, anggota Sanggar seni tari yang selalu mengikuti lomba, sekertaris kelas, dan menjadi perangkat inti MPK yang hampir setara dengan OSIS.


“Kali ini aku kalah” pikirku


“Ferdi kali ini yang kedua ya” kata tante Siti yang mengejutkan ku


“Eh iya tante”


Ia sendiri adalah mama Ainur yang sudah pernah aku temui sebelumnya, tapi aku jarang lagi bermain kerumah jadi kami jarang bertemu.


“Iya, tapi kakak sudah belajar dengan rajin kok. Mungkin Ainur yang sudah semakin hebat” tambah ibuku


“Eh? Kenapa malah berpihak pada Ainur?”


“Oh iya lain kali mampir lagi ke rumah ya, kamu jadi jarang main ke rumah. Om dan tante jadi kangen sama kamu”


“Ohh ternyata kakak sering ke rumah bu Siti ya”


“Iya tapi itu sudah lama juga”


Percakapan di tengah pembagian rapot, sampai kami kembali duduk pun mereka masih terus bergosip.


Aku pun melihat Ainur disamping dan ia ternyata sudah menyadarinya. Ia membuat ekspresi bangga dan mengejek ku.


“Apa?! Awas saja kau nanti. Selanjutnya aku akan menang” pikirku


“Emm” Ainur sedikit tersenyum


Yah begitulah akhir dari semester di kelas 11 kami, ada suka dan duka, ada senang ada sedih, ada sayang ada benci, ada teman ada musuh. Semua itu biasa bagi kami remaja, itulah warna warni kehidupan anak SMA.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2