
(Sudut Pandang Ferdi)
"Sialan, sudah pasti ini ulah mereka"
Aku menenangkan pikiran, berusaha agar tidak terjebak lagi. Hari hampir sore, kulihat jam di tangan.
"Jam 3 sore kah, padahal tadi terasa masih jam 1. Apa karena hal ini juga?"
Pertama adalah ini adalah ulah makhluk halus untuk menjebak ku ke dimensi mereka. Mungkin sejak awal mereka menjebak ku.
Kedua, inti dari masalah ini adalah rumah tua itu. Karena aku berlari dan berakhir kembali kesini. Rumah tua itu yang memanggil.
Ketiga, tubuhku saat ini mungkin adalah astral dan yang asli pingsan di suatu tempat. Jika begitu kemungkinan besar ada di dalam rumah tua.
Mau tidak mau aku harus masuk kesana. Tidak, kurasa lebih baik aku mencari jalan keluar dari hutan ini.
"Aw!" aku mencubit diri sendiri
"Sakit?"
Aneh, jika aku berpindah seharusnya aku tidak merasa sakit. Sekarang antara yang benar dan salah, tidak tahu lagi mana yang sebenarnya.
Kaki ku mulai melangkah menuju rumah tua, dengan berat hati aku menghadapi situasi.
"Huft"
Berdiri di depan pintu masuk saja membuat aku merinding. Tanaman menjalar dimana-mana, tua dan kotor terlihat sepanjang rumah.
"Mau dipikir berkali-kali, cuma ini satu-satunya" batinku
"Haa, terserahlah!" aku memaksakan diri
"Apa yang kau lakukan?" tanya seseorang dari belakang ku
__ADS_1
Tentu aku terkejut dengan suara kedatangannya. Saat aku melihat nya tentu semakin terkejut.
Orang yang ku kenal, suara nya begitu kecil dan agak kasar. Cindi, dia datang. Tidak, kurasa aku bermimpi.
"K..kenapa kau disini?" tanyaku
Aku mencoba untuk tidak langsung menerima kehadirannya. Tentu alasannya adalah dia hanyalah sebuah ilusi.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu"
"Ap..aku tidak akan percaya ini. Jadi pergilah!"
Aku mulai membaca doa dan istighfar,
"Itu tidak akan mempan padaku, aku manusia kau tahu. Aku belum mati" jelasnya
"He, kau pikir aku akan percaya"
"Jika memang begitu, maka aku juga sama, seharusnya tidak percaya denganmu"
"Begitu rupanya, kau tidak percaya bahwa aku manusia karena pertemuan tidak terduga kita disini"
Aku tersentak,
"Emm"
Ia mendekatiku, dan tanpa kusadar sebuah tamparan keras mendarat di wajahku.
"Plak!"
Aku tidak mengerti, sakit, perih, terasa nyata. Sebenarnya dia itu asli?
"Apa kau benar-benar Cindi?"
__ADS_1
"Masih tidak percaya?" ia bersiap untuk menampar lagi
"E..eeh, sudah, aku percaya kok" memegang pipi
"Baguslah" meletakan lagi tangannya
"Tapi kenapa bisa? Kenapa kau ada disini?"
Cindi hanya diam dan melangkahkan kakinya masuk ke rumah tua.
"Akan aku jelaskan nanti, namun sebelum itu, kau juga ingin masuk kan?" ajaknya
Sama saat kita pertama kali bertemu, tanpa banyak bicara, dia membawaku ke dunia yang tidak biasa. Lalu di tengahnya aku selalu menikmati itu, meski nyawa taruhannya.
"Aku mengerti, ayo kita masuk"
Langkah kaki kami masuk bersamaan, pintu dibuka dengan keras olehku. Tatapan kami serius dan takut, memulai kembali petualangan, tirai panggung di buka, cahaya semakin menghilang ditelan kegelapan.
...***...
(Sudut Pandang Ainur)
"Ferdi belum kembali?"
Aku sudah menduga sesuatu hal yang aneh sedang terjadi. Saat ia berlari sendirian, seperti sedang dikejar seseorang.
"Namun apa yang ia lihat?"
Hari sudah mulai sore, malam tinggal beberapa jam. Suhu pun menurun, terasa di kulit kami, apalagi saat malam nanti.
Liburan ini hanyalah pertemuan keluarga biasa, namun ketika kami bertemu tidak sengaja. Aku merasa seolah takdir mempertemukan kami.
"Dan sekarang, takdir seolah memisahkan kami"
__ADS_1
BERSAMBUNG....