
(Perpustakaan, Istirahat Kedua)
(Sudut Pandang Akbar)
Aku dan Ainur masuk ke dalam Perpustakaan sambil di landa ketakutan, bagaimana tidak saat di kelas makhluk tanpa kepala menunjukan wujudnya hampir membuat Ainur celaka. Dengan rasa takut aku berhasil menghentikan arwah itu dan membuat ia pergi, “Tapi kenapa dia menampakan diri?”
Mataku fokus ke sudut belakang perpustakaan, tepat…seorang wanita duduk di kursi paling belakang sendirian seperti menunggu kedatangan seseorang, “Hei Cin!” sapaku
Ainur yang melihat Cindi seperti menjauhkan badan tidak suka dengan keberadaan Cindi, layak seekor singa siap menerjang rusa sebagai makananan.
Tak ingin suasana menjadi canggung lebih baik kumulai saja penjelasan agar kesalahpahaman tidak terjadi lagi, “Cin ini Ainur teman sekelasku”
“Lalu?” aku terhenti setelah mendengar Cindi berkata seperti orang menahan amarah
“Ehh ya…itu” aku terlalu gagap sampai melupakan apa yang ingin aku katakan
“Aku menunggu kau saat jam istirahat pertama tapi kau tidak datang. Kemana saja, bareng cewek lain ya?” sebuah lontaran kalimat membuat kesalahpahaman mendalam
“Heh, tidak kok…begini, tadi pagi itu kelas kami ulangan makanya aku tidak bisa kesini. Jadi jangan salah kaprah dulu dong, ini juga Ainur teman sekelasku”
Seperti kuharapkan dari Cindi tanpa waktu lama ia mencerna setiap perkataanku agar bisa mengerti keadaan sebenarnya, “Begitu” katanya ketus
“Lalu, nur dia Cindi…Cin..di teman ku dari kelas IPA 2, ingat teman…teee…maa…nn” aku menjelaskan dengan nada panjang seperti berlatih bernyanyi
“Iya, habis itu kenapa dia ada disini”
“Nah aku ingin menjelaskan masalah kemarin dulu, waktu itu yang kau lihat itu kami bukan ciuman tapi Cindi cuma ingin memeriksa mataku”
“Memeriksa mata? Memangnya kenapa matamu?”
“Dia pikir aku itu punya mata biru yang bisa melihat hantu, tapi sayangnya aku tidak punya. Tapi Cindi punya, ya…bisa dibilang dia adalah anak indigo”
“Tunggu! Anak indigo?” tanya Ainur dengan tegas
“Iya” aku menganggukan kepala, “Selain itu akan aku ceritakan semua hal, tapi kau bisa berjanji untuk merahasiakan ini dan juga kau bisa menolong kami?”
“Tunggu! Kenapa kita kasih tahu dia padahal kita berdua saja sudah cukup” Cindi mulai berdiri dari kursi seperti siap menyerang
“Iya Cin karena kita butuh Ainur, dia dekat dengan para guru dan mungkin kita bisa mendapatkan informasi lebih tentang kasus itu” terangku
“Memangnya bisa”
“Itu tergantung apakah dia mau atau tidak, tapi kau setuju kan kalau Ainur mengetahui hal ini?” kataku menunjukan keseriusan
Tak tertampikan sepertinya Cindi tidak mempunyai pilihan, walau egois tapi alasanku memilih Ainur adalah sebuah buah matang sudah kupikirkan baik-baik.
“Jadi bagaimana Nur?” Ainur mencoba untuk mengerti keadaan
“Jadi apa yang harus aku lakukan?”
“Yah kalau begitu akan kuceritakan semua”
Dengan suara berbisik aku menjelaskan semua hal yang terjadi mnegenai kasus bunuh diri di sekolah beserta kejadian penelusuranku dan Cindi Sabtu malam kemarin. Ainur yang menerima semua informasi itu dibuat kaget dan bingung, meski aku tidak tahu ia akan percaya atau tidak di akhirnya.
Setengah jam berlalu, mulutku berbusa menceritakan masa kelam dan masalah yang kami hadapi, “Jadi begitulah, rencana kami selanjutnya adalah membuat keluarga dari pihak korban laki-laki dan perempuan bertemu satu sama lain”
“Sejak kapan kalian mulai mengusut masalah ini?” tanya Ainur
“Kalau di ingat…beberapa hari lalu, setelah aku bertemu dengan Cindi”
“Begitu, tapi apa tujuan kalian mempertemukan keluarga kedua belah pihak”
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Ainur sebab bukan aku yang berkomunikasi dengan mereka, aku melihat Cindi sebagai tanda untuk bergantian menjelaskan, “Hahhh” Cindi menghela nafas
“Bukan keinginan kami yang ingin mempertemukan keluarga korban, tapi ini adalah permintaan terakhir dari kedua arwah itu” jelas Cindi
Ainur kembali diam sambil memengang kepala seraya berpikir keras, “Baiklah aku mengerti, tapi sebelum itu aku punya pertanyaan padamu Cindi”
“Baiklah apa itu” tanpa basi-basi Cindi menyetujui
“Kau adalah anak indigo bukan, apakah kau bisa memintamu untuk menyembuhkanku?” permintaan Ainur membuat aku kebingungan
“Heh, menyembuhkan? Apa Ainur ada penyakit serius?” tanya dalam batinku
“Tidak, maaf aku tidak bisa” tolak Cindi mentah-mentah “Aku tahu jika ada yang mengikutimu, maksud dari menyembuhkanmu adalah untuk mengusir hantu yang menganggumu kan?”
Sekarang aku mengerti alur pembicaraan setelah Cindi menjelaskan, tapi aku masih tidak bisa mengerti maksud pembicaraan kedua wanita di depanku.
“Apa, kenapa?”
“Aku sudah melihat kejadianmu dari masa lalu, kau selalu di banding-bandingkan, terkucilkan, membenci dan pernah mencoba bunuh diri bukan?” perkataan Cindi seperti peluru yang melesat tepat ke hati Ainur, ia tersentak tak mau bicara
“Aku tidak bisa menolongmu dalam hal ini, karena yang menganggumu bukan hanya satu tetapi dua atau tiga selain itu aura mereka sangat kuat dan gelap. Karena itu aku minta maaf” Cindi menundukan kepala membuat suasana seketika hening
“Begitu ya” raut wajah marah Ainur berubah menjadi sedih sama seperti waktu pertama kali kami bertemu
“Walau begitu aku hanya bisa memberikan informasi dan petunjuk agar kau bisa terhindar dari mereka, Itu pun jika kau mau” Cindi memberikan sebuah tawaran yang menurutku seperti barter nyawa saja
“Benarkah, kurasa tidak ada salahnya mencoba. Selain itu aku juga terkejut mengetahui jika ada anak memiliki keistimewaan selain diriku di sekolah ini” terima Ainur
“Heh, tunggu! Maksud kau Nur, anak istimewa…selain kau?” aku berpikir sejenak apa maksud Ainur barusan
“Ya begitulah, sebenarnya aku juga bisa melihat makhluk halus atau bisa disebut anak indigo bukan, tapi kemampuan mata batinku sudah ditutup beberapa tahun lalu saat aku di ruq’yah”
“Hahhh!!! Benarkah?”
“Dasar Ferdi apakah kau tidak melihat kornea matanya berwarna?”
Ketika Cindi mengatakan itu aku langsung mendekatkan wajah melihat apakah benar Ainur memiliki mata berwarna biru, sebuah bola mata yang dimiliki anak istimewa, “anak indigo”
“Ehh, iya benar warna biru sama kayak Cindi” tatapku tajam
“Hei Akbar apa yang kau lakukan?” Ainur mendorongku untuk menjauh
“Ah maaf, maaf, ternyata benar, pantas saja waktu kita pertama bertemu di WC waktu itu kau bilang kau melihat sosok anak kecil. Jadi karena kau bisa melihat mereka juga ya”
“Tapi nggak gitu juga kan kalau ada yang salah paham bagaimana?” cetus Ainur
“Nah ini baru reaksi orang normal kalau wajahnya di dekati” Cindi menyambung permbicaraan sambil melihat kearahku
Aku mengerti maksud Cindi jika ia sedang menyindirku, “Memangnya aku bukan orang normal selain itu kan salahmu dekat-dekat sendiri”
“Tapi kau sendiri tidak mendorongku malah siap untuk menciumku saat itu”
“Nah benarkan, kau bermaksud menciumnya” Ainur menambah panaskan pembicaraan
“Tidak…itu tidak benar…itu kecelakaannn…percayalah” volume suaraku mulai meninggi diiringi air mata keluar mengalir karena ketidak percayaan
“Bh..ha..ha..ha..ha” Ainur dan Cindi seketika tertawa menikmati kesengsaraanku
“Iya…iya sekarang ak percaya kok nggak usah nangis gitu” ejek Ainur
“Aku nggak nangis” ujarku sambil mengusap air mata menggunakan lengan baju
__ADS_1
“Ahhh ada orang mesummm” teriak Cindi dengan volume suara yang kecil
“Hei Cindi!”
“Kha..ha..ha..ha”
“Akbar lucu sekali kalau takut”
“Oh iya waktu penelusuran kemarin pun saat arwah korban itu datang Ferdi malah sembunyi di belakangku”
“Ehhh, masa laki-laki begitu sih?”
Pertemuan ini adalah sebuah kesengajaan dari keberuntungan, karena kami bertiga bisa bertemu dan berteman sekaligus menghilangkan semua kesalahpahaman.
Meski awalnya tegang dan saling tidak percaya akhirnya sebuah ikatan terbentuk, walau tujuannya agak aneh tapi aku bersyukur bisa bertemu dengan kedua wanita ini, yang satu pintar dan pemarah “Ainur” sedangkan satunya Suram tapi baik hati dan lemah-lembut “Cindi” tapi aku sendiri tidak bisa percaya jika mereka berdua adalah anak Indigo, apakah ini sebuah pertanda keberuntungan atau kesialan bagiku?
***
(Perpustakaan, Istirahat Kedua)
(Sudut Pandang Ainur)
Pertemuan tidak sengaja sesama orang yang memiliki kemampuan sepertiku, “Cindi” dia juga anak Indigo, mungkin jika aku bisa berteman dengannya aku bisa sedikit tenang dan nyaman. Selain itu meski aku tidak menceritakan masa laluku ia sudah mengetahuinya, sebuah kemampuan yang hebat.
Tapi apakah dia benar-benar ingin berteman denganku atau ia hanya pura-pura, ia memiliki sifat yang sama sepertiku saat aku masih di jalan kegelapan.
“Kurasa bukan waktunya untuk memikirkan hal itu, sekarang aku memiliki banyak teman dan orang-orang yang percaya padaku” batinku
Aku setuju untuk membantu Akbar dan Cindi menyelesaikan kasus tragedy bunuh diri di sekolah 10 tahun lalu. Mendengar cerita dan penjelasan mengenai tragedy itu membuat bulu kuduk ku berdiri apalagi setelah arwah siswa dan siswi masih bergentayangan di sekolah.
Aneh…seharusnya aku takut dan tidak perlu mengikuti permintaan mereka…tapi aneh aku tertarik dan penasaran…apakah ada sesuatu yang menarik ke depannya mungkin itu pikirku.
“Nah ini buka alumni tahunan” aku menunjukan kepada mereka berdua mengenai buku tahunan, untuk menjalankan rencana selanjutnya kami memerlukan banyak informasi mengenai identitas para korban
“Makasih Nur, ternyata bagus ada Ainur kita jadi mudah koneksi dengan guru”
“Ini kata bu Eka buku tahunan antara tahun 2006-2009, kalau kejadiannya 10 tahun lalu dari sekarang berarti tragedinya sekitar tahun 2007 ya” ujarku berdasarkan fakta
Cindi menganggukan kepala sementara Akbar mengambil salah satu buku tahunan, “Oh sebelum itu, Cindi kau tahukan nama hantu perempuan dasi merah dan hantu tanpa kepala itu?”
“Iya namanya Siti Zuleha dan satunya Cecep Nugroho”
“Heh darimana kau tahu nama hantu tanpa kepala itu?”
“Saat berkomunikasi dengan mereka, sedikit identitas mereka hanyut dan masuk ke dalam pikiran. Meski begitu aku hanya bisa mengingat nama dan tragedi bunuh diri itu saja”
“Tidak masalah jika kita bisa menemukan nama mereka kurasa semua akan baik-baik saja”
Butuh waktu lama untuk mencari data kedua korban, kami yang sedari awal bolos pelajaran siang memutuskan untuk kembali ke kelas sambil membawa buku tahunan. Tidak enak jika bolos pelajaran dikarena takut memengaruhi diri mereka sendiri,
“Kalau begitu kami berdua kembali ke kelas ya” kata Akbar kepada Cindi
Aku dan Akber berjalan di koridor dengan hati takut akan kemarahan guru, ini merupakan kegiatan menyimpang yang aku lakukan di SMA untuk pertama kali “Bolos pelajaran”. Kalau orang tuaku tahu perilaku di sekolah sering bolos mungkin aku akan mendapat masalah serius.
“Oke aku intip dulu ya ada guru atau tidak” Akbar mengedap-endap mengintip lewat jendela belakang melihat apakah ada guru di dalam kelas
Dengan hati-hati ia menengok ke sana sini, dengan menyipitkan mata ia mendapatkan berita, “Oke tidak ada guru Nur, ayo masuk” katanya sambil berjalan cepat ke kelas
Sesampai di kelas keadaan begitu ramai, tidak ada guru dan pelajaran sebuah keberuntungan untukku, “Lho Tin nggak ada pelajaran Sosiologi? Paknya kemana?”tanyaku kepada Agustina yang sibuk bermain handphone
“Nggak ada tugas, paknya pergi” jawab Agustina kepadaku dengan nada ketus dan dingin
“Oh gitu ya, selamat berarti” Aku pun duduk di bangku dan meletakan buku tahunan di atas meja, karena tidak ada pelajaran kulanjutkan saja pencarian
“Tadi habis kemana dengan Akbar? Kayaknya deket banget” Agustina bertanya dengan nada dingin
Aku sendiri berharap Akbar datang dan menjelaskan kepada Agustina agar semua jelas, terlihat sekali Agustina tidak senang aku dekat-dekat dengan Akbar. Namun ketika aku menoleh kea rah kursinya ia tidak ada dan malah bermain catur di belakang dekat ruangan kosong.
“Dasar Akbar malah main awas saja ya” batinku marah rasanya ingin ku pukul wajahnya namun tidak bisa
Tapi aku biarkan saja terlebih dahulu untuk pembalasannya nanti, aku pun melanjutkan mencari identitas dari korban bunuh diri sekolah, namun seketika aku teringat kejadian tadi siang sebuah bayangan muncul di belakangku.
Mengingat tempat kejadian berada di kelasnya dan di ruang kosong pikiran negative menghampiriku, “Berarti bayangan hitam tadi apakah dia hantu korban bunuh diri itu?”
Pikiranku terhenti setelah melihat lembar di tengah buku tahunan, sebuah nama tidak asing karena disebutkan oleh Cindi dan foto lama tertempel disana, “Eh ini berarti!” aku sudah menemukan data korban bunuh diri “Siti dan Cecep”
Kepuasan dan kesenangan datang karena aku berhasil menemukannya, ketika aku berdiri untuk memberitahu Akbar siswa-siswa dari kelas lain datang. Kelas yang tidak asing karena sering menggangguku, ku lihat Shata ditarik-tarik oleh teman-temannya menuju ke arah tempat dudukku.
“Ayo Shata, yang berani dong” kata Zulkifli
“Heiii kelas IPS 2 we are come back” teriak Doni salah satu berandalan di kelas IPS 3
Semua mata teman-temanku tertuju kepada rombongan mereka, “Dasar baru saja mau tenang malah musibah datang” batinku
Aku memikirkan langkah agar dapat menghindari rombongan kelas IPS 3, ketika pikiranku terhambat melihat Akbar menuju tempat duduknya langsung saja kudekati.
“Bar, ini…” aku mendekati Akbar sambil memberikan buku tahunan yang terdapat identitas hantu penunggu sekolah
“Em, apa?” Akbar menengok kepadaku sambil mengigit pasta keju di mulut
“Aku sudah menemukan identitas korban itu, Cecep dan Siti kan?”
“Bem...nar...kah! Whoaa he...bat Nur, oke bem..ntar ya” Akbar mengambil sesuatu dari tasnya dan meninggalkan pandangannya padaku
Ketika Akbar sibuk sendiri rombongan kelas IPS 3 pun mengambil kesempatan mengacau, “Nah Ainur, Shata mau ngomong sesuatu nih” Zulkifli mendorong Shata ke arahku namun beruntung jaraknya jauh jadi tidak mengenaiku
Aku hanya diam tak berkata dan aku pun berniat untuk mendiamkan mereka sebagai pengganggu, “Hari ini Shata mau menembak Ainur” perkataan Doni memancing perhatian semua orang
“Hehh mana ada, nggak ada kok aku ngomong begitu” elak Shata
Akbar yang berhasil mengambil benda di dalam tasnya langsung melambaikan tangan kepada Shata seperti salam bertemu kembali. Sambil mengigit pastanya ia mendekati Shata, “Yo Fadil” sapa Akbar kepada Fadil
“Ya Akbar, bagaimana kabar?” sapa balik Shata
Tak angin tak ada hujan Akbar membawa Shata keluar kelas tapi sesuatu yang dipegang Akbar menjadi perhatianku, coklat pemberian Shata yang waktu itu kuserahkan kepadanya agar dikembalikan ternyata masih ada padanya.
Tak sedikit sorot mata tertuju kepada keluarnya mereka berdua dari kelas, tidak tahu apa yang terjadi tapi aku tahu mereka sedang membicarakan sesuatu. Tapi perasaan aneh kudapatkan saat Akbar bertindak seperti pahlawan, rasa senang dan terima kasih karena sudah membatuku…kurasa.
***
(Sudut Pandang Akbar)
Keributan besar saat aku berkonsentrasi bermain catur membuat aku kesal, tapi setelah melihat teman lamaku di dorong-dorong sebagai mainan kini aku tidak bisa tinggal diam. Jika Shata memang suka kepada Ainur lebih baik kubantu, tapi Ainur yang tidak menyukai Shata pun juga kubantu karena aku sudah berjanji.
Ku pegang coklat yang katanya pemberian Shata kepada Ainur, teman lama-ku Shata Fadil aku sering memanggilnya Fadil ku bawa keluar untuk membantu menemukan jalan keluar.
“Hahhhh…” aku sengaja menghembuskan nafas sambil bersandar di besi pembatas lantai
“Hemm” aku mengembalikan coklat pemberiannya kepada Ainur
“Kata Ainur dia nggak suka di kasih-kasih coklat, haahh…bagimana ya” aku mengaruk kepala sambil berpikir
“Apa Ainur ada orang yang dia suka?” sebuah pertanyaan yang dapat aku manfaatkan
__ADS_1
“Kalau itu aku tidak tahu, tapi sekarang aku ingin tanya kau suka sama Ainur atau tidak?” tegasku
“Entahlah…tapi kurasa aku suka dengan Ainur” pernyataan mengejutkan dari Fadil karena tidak kusangka ia bisa jujur mengungkapkan isi hatinya
Seseorang yang sudah lama ku kenal, sifatnya yang pendiam namun memiliki pengetahuan luas saat SD tidak suka dengan keramaian. Wajah polos namun menakutkan di belakang ditambah cara bicara yang membuat orang mengerti atau pun salah paham karena tingkat bahasanya tinggi.
“Fadilku sudah tumbuh besar” batinku merasa seperti ibunya
“Yah kalau begitu aku dukung kau del, tapi seperti yang kau lihat. Sepertinya Ainur risih dan tidak suka dengan keributan sebesar ini” ujarku membertahu
“Iya sih, itu karena Zul sama Doni dorong-dorong aku terus”
“Yah, kalau begitu kau cuma perlu satu langkah lagi, saat itu kau akan kubantu”
“Apa itu?”
“Hehhh kukira kau sudah tahu maksudku, jadi cepatlah tembak Ainur kalau bisa sekarang”
“Hahhh mana bisa lah, bagaimana kalau aku di tolak?”
Aku melirik ke belakang, kulihat di jendela semua orang melihat dan menguping pembicaraanku, rasa malu terasa hingga ke ubun-ubun, sebelum terjadi salah sangka aku membawa pembicaraan dengan Fadil pindah ke depan kelasnya.
“Pindah yuk” ajakku
Sambil berjalan aku memberikan saran, “Kalau kau di tolak berarti masih ada kesempatan lain, begini kalau ka uterus-terusan berdiam diri tanpa menembak dia sama sekali kejadian seperti ini akan terus berulang kembali. Tapi jika kau sudah menyatakan suka sekali saja entah hasilnya diterima atau ditolak, teman-teman sekelasmu tidak akan memintamu untuk mendekati Ainur lagi bukan”
Entah Fadil megerti maksud perkataanku atau tidak, “Begitu ya, jadi kalau aku menyatakan cinta ke Ainur akan ada 2 pilihan begitu dan itu pilihan itu akan membuat Ainur senang kan?”
“Alhamdulillah mengerti, Fadil ternyata memang hebat” pikirku lega
“Iya, berarti kalau kau diterima malah bagus dan walaupun kau di tolak kau masih bisa mendekati Ainur lagi diam-diam sampai dia menerimamu”
“Oke kalau begitu makasih ya Bar. Nah untuk kau saja” Shata memberikan coklatnya kepadaku
“Wah makasih del” setelah memberikan coklat itu Fadil langsung masuk ke kelasnya, aku tahu jika secara pribadi ikut campur urusan percintaannya dengan Ainur bahkan aku merasa bersalah dan dia mungkin akan menjauhiku
“Kuharap ke depannya baik-baik saja,…tapi…” aku lupa menanyakan kapan dan bagaimana Shata menembak Ainur
Sesaat aku memasuki kelas, mata semua teman-teman menatapku seakan aku seekor mangsa dari pemburu, “Yah mungkin memang begini jadinya” pikirku
“Kajol di panggil Fadil di kelas” aku membohongi Zulkifli agar semua siswa kelas IPS 3 pergi dari kelasku
“Oh oke bar” entah alasan apa aku merasa Zulkufli hormat atau malah merasa takut padaku, dengan cepat ia kembali ke kelas diikuti teman-temannya
Disaat kepergian kelas IPS 3 teman-teman sekelasku melanjutkan keributan seperti biasa,
"Haahhh” perasaan lega menghampiri
Namun tidak untuk Ainur mungkin aku memberikan pilihan berat baginya, tapi sekarang adalah keputusannya itu pun untuk menyadarkan Fadil jika sebenarnya Ainur tidak menyukainya.
Teringat Ainur telah menemukan informasi penting mengenai hantu perempuan dasi merah dan hantu tanpa kepala sekarang adalah waktu tepat untuk menjalankan rencana selanjutnya. Tapi merasa keadaan tidak memungkinkan aku harus menunda untuk menghindari masalah terburuknya yaitu “kesalahpahaman”
“Nur, nanti kita bicarakan lagi simpan saja buku yang itu, kita bahas saat pulang sekolah saja” bisikku kepada Ainur saat berjalan melewatinya
Ainur hanya menganggukan kepala seraya kembali ke tempat duduknya, aku memasukan coklat pemberian Fadil ke kantong celana dan kembali ke belakang kelas untuk melanjutkan pertempuran.
“Sampai mana tadi?” tanyaku kepada Raihan rivalku saat bermain catur di SMA
“Kau yang jalan sekarang, aku menggerakan benteng” tunjuk Raihan
Suatu kesalahan ketika aku menggerakan sang ratu untuk menyelesaikan permainan tetapi di ganggu oleh orang luar membuat aku harus menunggu dan berpikir ulang. Beberapa laki-laki memperhatikan permainan catur kami seperti melihat sebuah perlombaan menegangkan.
Mungkin bagi banyak orang catur adalah permainan membosankan tapi di saat itu aku sangat terpengaruh oleh setiap bidak bahkan tidur pun aku bermimpi menjalankan mereka.
Meski aku tidak sehebat Raihan dan Abdul sebagai rival permainan otak ini, aku terus berusaha meningkatkan kemampuan karena saat bermain catur adalah bermain strategi kehidupan di saat aku salah meletakan bidak konsekuensinya tidak hanya dimakan tapi aku bisa mengalami kekalahan.
Oleh karena itu aku menjadikan catur sebagai pola kehidupanku, kapan aku harus mengerakan bidak ini?...dan dimana aku harus meletakan bidak ini?...serta apakah aku bisa menang di kehidupan ini?
“Yes aku menang lagi…” teriak Raihan
“Whaaa kalah lagi!” kali ini adalah kekalahan telak bagiku untuk hari ini, dalam 5 kali permainan 4 kali kalah 1 kali menang
***
(Pojok Baca, SMA Negeri xx Palembang)
(Sudut Pandang Ainur)
Bel pulang berbunyi tapi kelasku sudah keluar kelas terlebih dahulu jika dilihat seperti orang yang bebas dari penjara saja. Aku dan Akbar duduk di kursi batu pojok baca menunggu kedatangan Cindi, hal ini untuk membahas rencana selajutnya tentang tragedi bunuh diri di sekolah.
Akbar yang terlihat tenang sambil membaca buku tahunan berisi identitas para korban mengeluarkan coklat dari kantong celananya.
“Lho sepertinya itu coklat pemberian Fadil waktu itu” aku melirik Akbar yang membuka bungkus coklat
Akbar seperti memiliki radar langsung melihatku seakan tahu aku sedang memperhatikan dia,
“Mau?” tawarnya kepadaku
“Tidak ah” tolakku
“Nggak apa-apa kok ini aku di kasih Fadil jadi ini punyaku, nih” ia membelah coklat itu dan memberikan setengahnya kepadaku
Kuambil dengan tangan kanan, “Makasih” aku terlalu malu dan gugup padahal aku sendiri tidak mau menerima coklat dari Shata. Aku berpikir,
"Apakah jika aku memakan coklat ini aku menerima Shata karena ini adalah coklat darinya, atau kenapa aku menerima coklat ini ketika Akbar yang memberikannya?”
“Hmm enak juga walau kacangnya agak nyangkut di gigi” Akbar menikmati saat memakan coklat membuatku merasa ingin mencobanya
Disaat kami berduaan Cindi datang dari belakang mengejutkan akan kedatangan tanpa permisi,
“Hah Cindi?” kataku terkejut dan menjaga jarak dengan Akbar
“Kalian berdua sudah berkumpul, cepat sekali?” Cindi duduk di sisi lain meja pojok baca
“Guru kami tidak masuk kelas karena ada urusan”
“Begitu, kalau begitu kita langsung bahas tindakan kita selanjutnya” Cindi mulai menampakan wajah serius
“Ini” aku menunjukan buku tahunan siswa yang berisi data korban bunuh diri kepada Cindi
Bahasan kami mulai mendalam serasa berdiskusi dengan para petinggi Negara, serius dan tidak bertele-tele. Aku sendiri takut apakah keberadaanku di tim ini membantu, sepertinya mereka berdua tampak serius menanggapi kejadian 10 tahun lalu.
“Baiklah kalau begitu hari Sabtu apakah kita ke rumah para keluarga korban?”
“Ah, kalau hari Sabtu dan Minggu aku tidak bisa karena aku ada perlombaan PMR di SMA xx” jelas Akbar
“Bagaimana dengan besok?” saranku
“Boleh juga kalau besok, mungkin setelah sepulang sekolah” Akbar mengatakan kebisaannya
Kami berdua menunggu tanggapan dari Cindi,
“Baiklah boleh, lebih cepat lebih baik” Cindi pun setuju dengan saranku
__ADS_1
“Nah kalau begitu untuk besok….”
BAB VI "AKHIR CERITA...?"....SELESAI