
(Sudut Pandang Akbar)
(Rumah Ainur, Palembang)
Pempek, Tekwan dan sirup Marjan rasa Melon terpampang di depanku, rasa lapar karena ketegangan dan ketakutan melanda. Sebagai orang Palembang sudah sepatutnya ngiler akan makanan khas kota Pempek.
“Makasih ya Nur malah ngerepotin” aku selesai menyantap tekwan satu bungkus
Masih tersisa beragam pempek di depan mata, dengan cuka di sampingnya aku hanya harus menahan diri sebentar saja agar tidak terlihat rakus. Makluk embel-embel orang Palembang makan dua mengaku satu, habis makan sisakan satu.
“Alhamdulillah kenyang, untung sudah shalat kalau tidak malas gerak jadinya” kataku
“Iya, untung aku juga sudah”
“Ngomong-ngomong untuk persiapan nanti malam sudah ada semua kan? Arang, tempat panggangan, bahan makanannya?” tanyaku kepada Ainur
“Nah tidak tahu juga, semuanyakan di Bobi di yang handle”
Langsung saja aku menjadi pesimis mendengar nama Bobi, “Bobi yang handle?”
“Iya, untuk bahannya nanti di beli. Tunggu uang sokongan semua terkumpul”
“Sebagai salah satu teman yang duduk sebangku dengan Bobi, kalo Bobi yang handle tahu kan bagaimana jadinya?”
“Iya sih aku juga sudah mikir hal itu”
“Hemm…itu!” tegas ku
Jarum jam menunjuk kearah jam satu siang, aku membuka handphone untuk melihat kabar bagaimana persiapan di grup kelas. Belum selesai baca, Ainur sudah mengatakan masalah di grup kelas.
“Nah baru di omongi, nggak ada yang siapi arang, bensin sama bahan sampingan”
“Bensin?” aku bertanya pada diri sendiri “Mau bakar rumah apa?”
“Nggak tahu nih si Bobi”
Kipas angin di depan ruangan ku besarkan supaya terasa lebih sejuk, hal ini menandakan hari mulai panas.
“Kalau beli arang dimana ya?”
“Kalo arang, kakekku banyak sih di rumahnya, mau aku ambil?” tanyaku kepada Ainur
“Beneran? Kalau begitu tolong ya”
“Oke tenang, tapi agak sore saja biasanya siang-siang begini kakek dan nenekku sering tidur. Tapi untuk bahan sampingan itu maksudnya apa?"
“Itu…nih” Ainur memperlihatkan foto yang dikirimkan oleh Bunga di grup Whats*** kelas
Bahan dan bumbu-bumbu yang kurang lebih banyak dari yang kuduga, walau memakai uang pribadi tidak akan mencukupi.
Aku sendiri tidak ingin menambahi atau merugikan diri sendiri untuk membeli berbagai perlengkapan yang kurang.
“Kalo ini mah bisa di siapin” Ainur menjawabnya dengan enteng
__ADS_1
Tak tahu harga mentega, minyak, gula, dan telur berapa, aku sendiri tersentak.
“Wah banyak sekali Nur, nggak cukup nomboki mereka” kataku menghentikan Ainur
“Enggak, kan Papa sama Mama punya toko di depan tinggal ambil saja sedikit disana. Kalo uang sokongan sudah terkumpul semua baru di bayar”
Ternyata toko di depan adalah milik orang tua Ainur, kalau begitu tidak ada masalah untuk hal kedepan.
Tapi rasa tidak enak tetap menganjal hati, sudah merepotkan tempat ditambah dengan mengambil barang dagangan orang.
“Memang nya boleh sama Tante sama Om?”
“Makanya kita tanya dulu” Ainur keluar menuju ke depan toko, melihat ia pergi tentu saja aku mengikuti
Sehabis keluar dari rumah Ainur, terlihat jelas jalan raya ditengah pasar Plaj* sementara di pinggir jalan terdapat berbagai warung dan pedagang kaki lima berjualan.
Di depan toko, tante Siti duduk di kursi anyaman besar menunggu pembeli bersama teman-temannya.
“Ma” Ainur mendekati seraya merayu tante Siti untuk meluluhkan hati
“Iya Mbak”
“Ma bolehkan mbak ambil barang di toko untuk nanti malam, kalau sudah nanti di bayar kok. Tinggal hitung saja” kata Ainur memelas
“Iya boleh, jangan lupa di catat” tante Siti menyetujui dengan cepat, saat melihatku aku merasa tidak enak
Benar saja, ketika aku datang tante Siti memberikan sebuah tanggung jawab kepada kami berdua.
“Nah kalau begitu bolehkan mbak jaga tokonya sebentar, Mama ada urusan sebentar. Akbar juga boleh bantu ya” aku yang sudah merasakan nikmat dan juga kebaikan dari keluarga Ainur tidak mungkin menolak
“Iya tante”
***
(Sudut Pandang Ainur)
(Rumah Ainur, Palembang)
Duduk berdua di depan toko seperti sepasang suami-istri sedang bersantai, malu tentu kurasakan apalagi bersama Akbar.
Padahal selama ini aku tidak suka dengan laki-laki yang mendekati aku, tapi meski begitu aku merasa nyaman berdekatan dengan Akbar.
Tidak ingin riasan wajah luntur aku kembali member bedak pada wajah, “Hemm” di depan kaca kecil itu aku melirik Akbar
Akbar mengipasi diri dengan kipas rajutan dari daun kelapa, tentu karena udara panas dan uap dari kendaraan lalu lalang di depan jalan.
“Lama sekali beriasnya, udah cantik juga” kata Akbar tanpa ada rasa malu
Aku sendiri terkejut mendengarnya, dan berhenti membedaki wajah. Tidak kusangka laki-laki pendiam seperti ia dapat berkata seperti itu tanpa merasakan apa-apa.
Kulihat ia, tapi ia kembali mengipasi diri. Apa Akbar mengatakan itu dengan perasaan tulus kepadaku sebagai seorang wanita atau hanya kebetulan saja.
“Ting..ting…” suara notifikasi handphone berbunyi
__ADS_1
Kulihat dan kubaca, rupanya dari grup kelas.
“Bar siapkan saja bahan-bahan untuk acara nanti malam, taruh ke dalam rumah dulu saja”
“Oh oke” Akbar berdiri mengikutiku masuk ke toko
Tepung terigu, minyak, gula dan mentega ku ambil dari tempatnya. Cukup sulit untuk mencari mentega karena banyak tertutup oleh kardus.
“Ini kardusnya di pindahin saja ya”
“Iya Bar boleh minta tolong tidak, kardusnya ditumpuk saja jadi satu. Taruh di belakang saja”
“Siap bu bos” ujar Akbar sambil tertawa kecil
Setelah semua bahan kuambil kutaruh ke dalam rumah dengan ke hati-hatian, meninggalkan Akbar membereskan toko.
Aku berpikir entah apa yang akan terjadi selanjutnya, di sela waktu itu pikiran aneh hinggap di kepala.
“Kenapa aku harus suka dengan laki-laki seperti Akbar, aku lebih hebat daripada dia” terlintas sejenak pikiran seperti itu, hal itu tidak sepadan dengan kelanjutannya dimana mataku melihat bayangan hitam melintas di depan persis seperti sosok di tempat parkir dan kamar
Bulu kudukku merinding cepat padahal hari siang bolong, takut tak pandang waktu dan tempat.
Memang benar kurasakan kehadiran, akan lebih baik segera keluar sebelum ada kejadian menyeramkan datang.
“Ha..ha..ha” nafasku habis karena berlari dari dapur sampai ke depan toko
Akbar yang sebelumnya menyusun kardus telah selesai dan menyapu lantai toko yang penuh dengan debu dan tepung.
Sungguh laki-laki baik dan pengertian, entah kenapa rasa bersalah aku berpikir Akbar sama dengan laki-laki lainnya.
“Lho kenapa Nur?”
“Nggak apa-apa kok” aku kembali duduk
Akbar selesai menyapu, kotorannya masih berada di serok sampah belum di buangnya ke tempat sampah.
“Mang, es puter nya dua” teriak Akbar kepada Mang Ujang salah satu tetanggaku yang berjualan es puter di depan toko
“Oke” Mang Ujang langsung menyiapkan pesanan Akbar
Akbar menghampiri Mang Ujang untuk menunggu pesanannya, hanya beberapa menit ia kembali lagi. Tapi saat ia kembali, es yang dibawa hanya satu cangkir.
“Nah, duluan saja” Akbar memberikan es puter pertama kepadaku
“Eh jangan kan kau beli jadi silakan yang pertama” ujar ku
“Nggak usah silahkan, nanti aku ambil lagi”
Akbar mengambil serokan sampah dan membuang sampah bekas sapuannya ke kotak sampah di depan.
Seraya habis membuang sampah ia juga mengambil es pesanannya di Mang Ujang,
“Dasar…” batinku
__ADS_1
BAB XIX PERSIAPAN.... SELESAI