
(Sudut Pandang Akbar)
(Rumah Akbar, Palembang)
Rumahku Istanaku sebuah pepatah lama dimana tempat yang paling nyaman di dunia ini adalah di rumah sendiri.
Aku sendiri tahu akan artinya, beberapa hari berlibur dan menginap di tempat Paman dan Mamak seakan rindu dengan rumahku terutama kamarku sendiri.
Hari panjang sampai dengan malam ini setelah acara kelas aku bisa tidur pulas hingga siang, ditambah ayah dan ibu serta adik-adikku pulang besok lusa.
“Sekarang taruh barang, wudhu, lalu tidur” pikirku saat memasukan motor di ruang depan
Selesai menyelesaikan semua, “Brukk” aku lompat terjun ke tempat tidur, tapi karena terlalu banyak berpikir aku lupa berwudhu jadi hanya membasuh wajah, tangan dan kaki.
Barang-barang pun ku letakan di ruang depan entah tas itu akan hilang atau tidak.
“Huuu, kasur sendiri memang nyaman. Tapi…..”
Lagi…lagi… dan lagi perasaan senang yang tak terhingga seperti hamparan samudera dunia, tapi aku takut mengungkapkan nya dia akan mengganggapku aneh jika menjelaskan.
Hingga sekarang perasaan itu masih menghinggapi membuat kepala ku ingin meledak, Perkataan yang tidak akan pernah kulupakan “Aku suka padamu”.
Ketakutan hati karena mereka sudah kuubah dengan perasaan seorang wanita, aku tak tahu ingin menyebutnya apa mungkin suka tapi banyak orang menyebutnya cinta.
Melompat seperti katak menerjang atas tempat tidur Guling langsung kupeluk dan tak lama kesadaran ku mulai menghilang. Rasa kantuk mulai menghinggapi seperti nyamuk mencari korban untuk dihisap darahnya.
Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku menyerah dengan rasa lelah tubuhku, kulirik jam dinding “Pukul 22.00 ternyata”.
Terperingat dengan rasa kantuk aku tidak sadar apa yang terjadi selanjutnya, “Berapa lama aku tidur?” pertanyaan pertama didalam kepalaku setelah bangun dari mimpi indah.
Namun pertanyaan itu hanya melintas sekejap keadaan bahagia sebelumnya aku rasakan kini bertukar tempat dengan ketakutan. Kembali tubuh ku tak bisa bergerak, “Berat…berat…ayo bergerak”
Aku berusaha menggerakan jariku terlebih dahulu tapi tetap saja tidak bisa, bayang-bayang dari remang lampu kamar.
Setengah sadar pikiran ku melayang, terpikir olehku jika aku sudah sering mengalami ini tapi kenapa aku selalu berakhir menyedihkan. Tidak perlu kupikirkan lebih lama sudah pasti jika ulah mereka, setelah semua kesadaran ku kembali aku membaca do’a dan ayat-ayat suci Al-Qur,an.
Mulutku mulai bisa mengeluarkan suara, do’a dan bacaan aku ajikan tapi terasa ada yang berbeda saat itu seketika nafasku mulai merasakan tekanan.
Aku harus mengambil banyak oksigen lebih banyak seperti sedang terengah-engah aku mulai lemas.
“A..yah….ibu….” dengan suara seadanya aku memanggil mereka berdua, kecil sekali bahkan tidak akan tersampaikan kepada semut sekali pun.
Disaat itu aku baru sadar jika semua orang dirumah sedang pergi liburan hanya tinggal aku sendirian.
Disini…dirumah ini… seharusnya aku menginap dirumah Ainur bersama teman-teman, itu tujuanku mala mini karena tahu rumah ini kosong.
Mereka akan menyerangku jika aku lagi sendirian tapi karena kejadian tadi malam terpaksa kembali kerumah ini. Pikiranku mulai kusut tak tahu harus bagaimana, air mata mulai keluar dari mata kanan disusul air mata kiri.
Apakah keputusanku untuk tidak ikut bersama keluarga untuk liburan bersama adalah salah? Apakah bersenang-senang bersama teman-teman saat liburan itu salah?
Harusnya aku ada salah satu tempat itu tapi kenapa gara-gara kejadian itu aku tidak pikir panjang dan malah kembali ke rumahku yang sepi.
Takut…aku takut…disekitar sini tidak ada orang yang akan menolongku. Aku tak kuasa menahan ketakutan disaat seperti itu kembali terlintas perkataan ayah “Kau itu sudah dewasa, masa jadi penakut?”
Apakah seorang remaja SMA tidak boleh takut, dewasa… apa itu… disaat seperti ini aku tidak butuh kata-kata itu. Hingga aku menangis didalam ketidaksadaran dan mengerti bahwa semua yang kulakuan saat ini adalah salah.
Dalam beberapa menit itu aku merasa jika sudah banyak berbuat sesuatu…hingga aku teringat jika ada satu orang yang tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang sedang kesulitan.
Aku berdo’a kepada Allah swt agar semua kejadian ini cepat selesai, aku ingin cepat bergerak lalu lari sekuat tenaga keluar mencari bantuan atau pergi kemasjid.
Remang-remang dimata mulai menghilang aku merasa doa ku dikabulkan semakin jelas dan jelas saat aku mengedipkan mata hingga….
Disaat terakhir aku sadar jika di atas tubuhku terdapat seseorang…hitam…besar…mata merah membara…aku tidak cukup yakin tapi ia memiliki bulu diseluruh tubuhnya.
“Sudah cukup!! Lebih baik aku menyerah dan berpura-pura tidak sadarkan diri saja” hatiku mulai merasakan sesuatu yang menakutkan, jantungku semakin berdegub kencang…dag…dig…dag..dig… semakin cepat dan cepat hingga aku menutup mata lagi.
Entah aku berpikir jika dia memperhatikanku, tahu jika aku hanya berpura-pura untuk menghindar bahkan tersenyum dengan kebodohan yang aku lakukan.
”Arrrghhhhh” suara yang tidak asing ditelingaku
“Arrrrgggggghhhh…Arrrgggghhhh” suara auman harimau dari luar rumah tepat di halaman depan
Bukan pertama kali aku mendengar ini mungkin kedua atau ketiga kali sekarang masalah semakin besar, masalah makhluk yang meinindihku saja belum selesai ditambah dengan siluman harimau. Tamat sudah!!!
Dalam pikiranku lebih baik berpura-pura hingga pagi tapi entah kenapa aku ingin membuka mata untuk melihat keadaan disekitar kamar.
Pikirku masalah bertambah namun setelah membuka mata makhluk itu sudah tidak ada, hilang di terpa angin sekejap mata ditelan bumi.
Tubuhku sudah bisa bergerak bebas tanpa pikir lama kukeluarkan jurus andalan “langkah seribu” dan keluar dari rumah.
Aku berlari tanpa sadar hingga akhirnya terhenti di pos ronda, untung disana terlihat ramai langsung saja aku bergabung. Terlihat bapak-bapak yang melihat aku menghampiri mereka sangat terkejut.
“Lho, kenapa kamu disini malam-malam begini, Akbar?” tanya pak Totok
“Ndak apa-apa kok pak, cuma tidak bisa tidur aja”
“Mana mungkin la idak bisa tidur malah jalan-jalan keluar rumah, bahaya. Coba liat jam berapa ini?”
Aku melihat jam dinding yang tergantung di salah satu tiang penyangga pos ronda, “Ha jam 02.45 malam!!!” kupikir masih jam 11 malam tapi ini benar-benar sudah larut
Alasan yang kubuat barusan pasti aneh jika diterima oleh bapak-bapak, tapi beruntung aku masih sempat memakai sandal dan membawa handphone.
“Iya cuma mau kemasjid untuk tahajud sekalian subuh jadi nggak perlu repot-repot lagi” alasan yang aku buat kembali salah karena aku terlalu buru-buru kunci masjid lupa kubawa
Mustahil kembali jika keadaannya seperti ini kuputuskan untuk ikut meronda bersama bapak-bapak hingga subuh nanti.
Tapi tidak masuk akal jika aku langsung bergabung meronda sedangkan alasanku ingin ke masjid.
“Ya sudah kenapa ndak duduk disini dulu saja, subuhan-nya kan masih lama” kata Pak Sobri
Entah kenapa aku merasa jika pak Sobri mengetahui keadaanku saat ini, tanpa basa basi aku langsung duduk di pinggir palang pos ronda.
__ADS_1
“Makasih pak”
“Lain kali jangan sendirian banyak yang ngikutin kamu” kata pak sobri sesaat aku duduk di sampingnya
Mendengar perkataan itu aku menghela nafas ternyata dugaanku benar, pak Sobri mengetahui keadaan sulitku.
Aku hanya menganggukan kepala dan mengatakan, “Iya pak”, aku bersender ke tiang pos ronda menenangkan hati dan pikiran
Tak lama terdengar sautan dari pak Muslim seakan melihat sesuatu dari kegelapan malam.
“Wah ada wanita lewat tadi” katanya
“Mana mang Mus” mang cunong yang lebih muda dari bapak-bapak lainnya bertanya kepada Muslim
“Kayaknya kamu memang sedang di ikuti, tapi om tidak menyangka akan sebanyak ini” diliputi ketakutan diwajahnya aku sudah tahu keberadaanku sangat berbahaya jika berlama-lama di pos ronda
“Bagaimana ini om, tiba-tiba saja aku bisa melihat mereka. Semakin hari semakin banyak saja yang mengikutiku”
“ Ini bukan kebetulan pasti ada yang mengirim mereka kepada kau, pasti…sudah pasti ada yang tidak senang denganmu”
“Siapa?... Siapa yang melakukan itu, mustahil jika ada orang main guna-guna karena tidak suka padaku”
“Bukan orang...” perkataan pak sobri seketika mengkagetkanku,
“Kalau begitu…”
“Ya mereka”
***
“Allahu akbar…Allahu akbar” suara azan berkumandang, aku yang tinggal berdua bersama mang cunong selesai memainkan catur segera melangkahkan kaki ke masjid
Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat beruntung aku diperbolehkan tinggal lebih lama di pos ronda.
Tapi meski begitu aku masih bisa merasakan kehadiran mereka, seperti ada sengatan listrik di tubuhku dan kepalaku mulai pusing menandakan mereka masih berkeliaran.
Didalam hati aku selalu berpikir kenapa aku harus takut, aku harus berani, melawan mereka maju dan menantang agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.
Namun khayalan berbeda dengan realita rasa takut mengalahkanku lagi, bukan hanya sekali tapi berkali-kali.
(Musholla Hibatulullah, 04.50 WIB)
Air wudhu di pagi hari membuat hati tenang dan bersih, meski dingin tapi menyejukan. Rasa kantuk tidak lagi menyerang meski siap menghinggapi lagi.
Imam mulai menuju ke depan, aku yang masih di depan pintu masjid segera masuk dan mengambil shaf di barisan pertama.
Setengah jam tak terasa shalat sudah ditunaikan para jamaah mulai berduyun pulang maklum setelah hari minggu hari kerja kembali dimulai.
”Hari ini aku akan masuk kedalam rumah saja kali ini pasti aku menang melawan jin-jin sialan itu” batin ku mulai memberanikan diri
Sesaat keberanianku muncul pak Muslim memberhentikanku seakan sudah tahu maksud dan tujuanku sebenarnya.
“Lebih baik kau diam dulu di rumah bapak,masih bahaya kalau sendirian. Bapak juga ingin bincang-bincang denganmu sebentar”
Kesempatan bagus bagiku untuk menunggu waktu siang tiba, “Baik pak” singkat saja kubalas perkataannya
(Rumah Pak Muslim, 06.30 WIB)
Pagi datang menghampiri, mentari sudah lama terbit kini aku duduk di kursi jati milik Pak Muslim seorang tokoh masyarakat terkenal karena kebaikan hatinya.
Pak Muslim sendiri bekerja sebagai buruh lepas, tetapi ia memiliki banyak usaha untuk mengahsilkan uang. Sawah sekitar ½ hektar miliknya menghasilkan banyak bibit padi, memiliki toko bangunan kecil dan usaha gas 3 kg semua itu ia dapatkan sendiri dengan kerja kerasnya.
Meski begitu rumahnya sangat sederhana, di samping kanan rumah ia memelihara unggas peterlur, seperti ayam dan bebek sementara di samping kirinya ia menanam banyak tanaman pangan seperti cabai, bawang dan tomat.
Menurutku keluarganya pasti hidup makmur tanpa kekurangan apapun, tanpa kusadari lamunanku terlalu jauh anak perempuan Pak Muslim Mina namanya sudah meletakkan secangkir kopi hitam dan teh hangat di atas meja tamu.
“Silakan kak” sapa Mina
“Iya makasih Mina” sebelum Mina pergi dan aku kesepian lagi menunggu Pak Muslim selesai dengan urusannya kumulai jurus basa-basi
“Mina bagaimana sekolah di SMA 4? Pasti banyak tugas?” tanya ku
Harapanku terkabul Mina ingin membalas pertanyaanku dan dimulailah percakapan panjang.
"Iya kak banyak sekali tugas padahal baru kelas 1 apalagi banyak ulangan harian lagi”
“Iya lah namanya sekolah unggulan, semester kemarin peringkat berapa?” memulai topik baru
“Kemarin peringkat 3 kak, kalah sama anak laki-laki di kelas. Memang sih orangnya pintar”
Aku hanya menganggukan kepala sambil meminum teh buatannya membiarkan ia terus berbicara.
“Kalau kakak sendiri semester kemarin peringkat berapa?” kaget mendengar pertanyaan Mina hidungku hampir kemasukan teh
"Hhehe, cuma peringkat dua sih Min, Peringkat satunya susah digeser jadi cuma nyangkut di dua sama tiga” jelasku dengan sedikit nada sombong
“Ohhh, ia pasti karena kak Ainur ya. Memang sih waktu SMP ia selalu peringkat pertama terus, apalagi sering berorganisasi”
“Ya bener sih, tapi dengan itu dia bisa jadi sukses” aku kembali meminum teh
“Tapi kakak kasihan nggak sih?” terperingat dengan pertanyaan aneh itu pikiranku seakan terbang kelangit
“Kenapa kasihan?” kutanya dengan raut alis kebawah menatap serius Mina
“Ya bagaimana ya, sejak kecil waktunya habis untuk belajar dan berorganisasi, waktu luang dirumah dihabiskan untuk pergi les bimbel"
"Nggak ada waktu main yang pas, kalau diajak pun pasti nggak punya waktu meski aslinya mau. Teman dekat pasti cuma beberapa itu pun tidak bisa membantu pekerjaan dia sejak dulu dia selalu melakukan pekerjaannya sendiri”
“Dia memang sifatnya individualisme. Susah kalau diajak bicara pasti ujung-ujungnya debat”
ujar ku
__ADS_1
“Tapi beda saat didekat kakak, debatnya paling panas siswa lain pun ingin ikut debat juga”
“Mungkin bencinya sudah melewati batas” aku hanya mencari-cari seribu alasan agar peristiwa aku dan ainur kemarin malam tidak diketahui orang lain
“Waktu SMP kak Ainur punya seorang pacar tapi hubungannya cuma bertahan seminggu lalu putus. Setelah itu banyak cowok yang dekati kak Ainur tapi semuanya ditolak seakan-akan ia sudah benci dengan cowok"
"Hingga sekarang ia selalu seperti itu, hingga saat aku bertemu kak Akbar dan ka Ainur berdebat panjang Mina yakin hati kak Ainur sudah kembali terbuka” lanjut nya
Entah kenapa aku merasa kalau aku baru saja diberi nasihat oleh adik kelas mengenai masalah takdir cinta seseorang.
Kesempatan ku memang ada untuk menyatakan cinta pada wanita cerewet itu, tapi ada masalah serius pada diriku sehingga aku menahan terlebih dahulu perasaan dan mementingkan keselamatan orang terdekat.
“Kakak nggak tertarik sama cinta-cintaan, belajar dulu supaya pintar kalau sudah sukses baru cinta-cintaan”
“Iya sih kalau kak Akbar sudah ketebak pasti sudah punya pacar, kan kakak pintar, tegas, pandai dalam berorganisasi, apalagi hebat dalam olahraga. Tapi kalau boleh kak tolong jaga Kak Ainur jangan sampai sendirian terus”
“Memangnya kenapa?” tanya ku
“Dulu waktu SMP kak Ainur pernah kesurupan, dua kali lagi. Makhluk yang masuk kayaknya sama, laki-laki gitu terus dia nyuruh supaya cowok-cowok jangan mendekati Ainur”
Mendengar perkataan Mina aku sangat terkejut hingga tersadar satu hal
(FLASH BACK)
“Kau tidak tahu kalau aku sakit hati sejak dulu kan, aku susah dapet teman apalagi pacar. Jangan sok tahu, kalau saja tidak ada yang jaga pasti aku sudah bebas”
“Sakit hati?, gawat…. Maaf nur …kalau ada omongan aku yang bikin sakit hati kamu…mohon maaf” sambil memberi hormat Jepang
Ainur hanya diam dan terus menatapku seperti orang yang menjijikan, aku mulai mengangkat kepalaku melihat wajahnya. Rupa manis seperti bidadari tersenyum dan tertawa kecil, aku saat itu belum sadar hingga air mata mengalir keluar.
“Lah kok malah nangis nur, maaf ya”
(FLASH BACK END)
Jadi ucapanya saat itu adalah kebenaran dan aku sekarang meyadari ucapan itu jika ada makhuk gaib yang menjaga Ainur.
Jika kusimpulkan dari pemikiran dan kejadianku selama ini, Makhluk hitam yang menyerangku kemarin malam adalah makhluk penjaga Ainur tidak suka aku mendekati inangnya, kemungkinan makhluk itu sudah menyukai Ainur sejak lama dan sulit untuk melepasnya.
Percakapanku dan Mina berakhir setelah Pak Muslim datang dari belakang rumah, dengan memakai sarung shalat dan kaos kutang ia duduk di kursi sebelahku.
Mina sadar dan langsung pamit kembali ke belakang untuk meletakkan nampan “Mina kebelakang dulu ya kak”
“Iya makasih ya untuk minumannya Mina”
"Maaf lama bar, baru selesai member makan ayam sama bebek”
“Dak apa kok pak, tapi ada apa ya bapak membawa saya kerumah”
“Saya langsung ke intinya saja, kamu sekarang ini sedang di ikuti oleh banyak makhluk halus tadi malam sesampai kamu datang ke pos ronda disekitar pos di penuhi banyak sekali dedemit”
Bulu kudukku langsung berdiri semua mendengar perkataan Pak Muslim tanpa panjang lebar ia membuat hati tenangku kembali merasakan getaran tidak enak.
Yah aku tahu kalau ada yang mengikutiku tapi kata “banyak” Pak Muslim membuatku takut.
“Maksudnya banyak pak?”
“Kamu pasti bisa lihat merekakan?”
Aku tahu pembicaraan yang dimaksud oleh Pak Muslim, pikirku sekarang lebih baik kuceritakan semua peristiwa yang kualami sekarang kepada tokoh masayarakat mungkin masalahku sedikit berkurang.
“Iya pak sebenarnya sejak dulu saya bisa lihat mereka, tapi hanya sebatas bayangan hitam atau putih. Tapi beberapa bulan ini penglihatanku semakin jelas, melihat mereka pun sekarang sudah membuat saya takut"
“Sudah bapak duga , mata batin akbar terbuka sendiri”
“Mata batin?”
“Iya mata yang bisa melihat makhluk halus mapun dunia lain”
Aku sudah sadar sejak dulu tapi aku selalu mencari-cari alasan agar tidak terlibat dalam hal-hal mistis tapi sekarang harus maju kedepan untuk menyelesaikan masalah ini.
“Berarti benar semua hal yang saya lihat adalah makhluk halus” kepalaku serasa ingin pecah menerima kenyataan ini
“Apa bapak juga bisa melihat mereka?”
“Iya tapi mata batin bapak di buka paksa saat bermain kuda lumping dulu. Tapi yang aneh bapak lihat mata batin akbar baru terbuka beberapa bulan tapi kenapa banyak makhluk yang mengikuti kamu”
“Itu yang Akbar bingung, seakan mereka ada maksud menganggu”
“Kalau masalah itu bapak tidak bisa bantu, coba tanya dengan pak Sobri dia kan bisa melihat sama mengusir makhlus halus”
Pak sobri, atau pak de Sobri memang benar dapat mengusir jin-jin jahat, sudah banyak warga ditolong olehnya.
Dua tahun lalu ia menolong seorang anak remaja kesurupan, tubuhnya kejang-kejang seperti tersengat listrik. Ia dibawa ke masjid terdekat untuk di ruqyah supaya makhluk halus yang masuk ketubuhnya dikeluarkan.
Pak de Sobri adalah orang yang mengeluarkan jin itu, meski aku tidak melihat secara langsung mendengar cerita dari orang-orang pun aku sudah percaya.
Tetangga atau kerabat sebelah rumah memiliki sifat tegas kepada keluarga dan terlihat berwibawa jika bercakap dengan orang lain, aku juga pernah mendengar cerita heroik Pak de Sobri dari ibu setahun lalu.
Rada bingung sekaligus takut, “Mungkin Akbar harus minta tolong Pak de Sobri deh” melihat jam dinding kayu Pak Muslim menunjukan pukul 07.15 WIB aku ingin pamit pulang kerumah
“Ya sudah kalau begitu Akbar pulang dulu pak sekalian mau Tanya dengan Pak de Sobri” aku menghabiskan teh panas buatan Mila dan langsung beranjak dari kursi jati itu
“Kalau ada apa-apa ke rumah bapak saja, kamu juga keluarga kamu liburan jauh kamu tidak ikut”
Aneh… setelah semua hal aku lihat Pak Muslim seperti sudah tahu semua mengenai masalahku, tapi setelah mengetahui jika dia juga punya kelebihan mata batin sepertiku seharusnya aku bisa percaya padanya.
“Iya olehnya Akbar sudah punya rencana untuk main kerumah teman eh tapi malah batal. Makanya ini sedikit kecewa” dalam hatiku sendiri rasa kecewa bercampur dengan bahagia dan ketakutan menjadi satu kesatuan
"Ya sudah Pak Akbar pulang dulu ya, terima kasih. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
__ADS_1
BAB XXIII PENGIKUT.... SELESAI