INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB IX AKHIR BARU !!!


__ADS_3

(SMA N xx Palembang, 09.00 WIB)


(Sudut Pandang Akbar)


Satu minggu berlalu setelah lomba melelahkan itu, hari Senin setelah lomba saat pengumuman upacara bendera kemenangan besar PMR dikumandangkan. Para siswa dan guru akhirnya melihat dan melirik kami sebagai ekstrakulikuler yang berhasil, bahkan lebih baik setelah tahun lalu mengalami banyak masalah.


Setelah upacara itu kami kembali diberikan waktu bebas untuk beristirahat, tentu semua teman-temanku pergi ke kantin dan UKS sebagai tempat berkumpul. Di pagi hari kami berfoto bersama piala kemenangan dan banyak mendapatkan ucapan selamat, sedangkan di siang hari kami di traktir oleh Pelatih kak Gunawan karena bangga anak didiknya berhasil.


Rice book (sejenis makanan kantin) gratis, makanan yang dijual sendiri di kedainya kini di bagikan tanpa bayaran kepada kami semua cocok untuk mengisi perut disaat jam makan siang.


Meski kami tidak membayar aku tahu kalau kak Gun tidak akan memberikan barang dagangannya begitu saja, tapi aku diberitahu oleh istrinya jika Bu Septi Pembina PMR telah membayar semua makanan untuk anak-anak didiknya karena berhasil mejadi Juara Umum.


Di saat kami mendapat waktu free seperti ini aku berdiri di tangga perpustakaan teringat kembali saat bertemu dengan Cindi.


“Ya waktu itu aku habis lomba juga, langsung kesini dan melihat kehadiran besar ditempat sempit seperti ini” batinku sambil melihat pintu perpustakaan


Kenangan seperti dahulu tidak akan pernah kembali namun aku pasti terus mengingatnya, sebuah perasaan tak terlupakan meski hanya beberapa hari tapi itu sudah cukup untukku. Bukan waktu untuk merenung, jalan telah terlihat aku harus melangkahkan kaki ke tempat seharusnya aku berada. Berharap tujuan akhirku sama seperti mimpiku, menjadi orang normal.


***


( SMA N xx Palembang, Hari H Ujian Akhir Semester)


(Sudut Pandang Akbar)


Keseharian disekolah telah berhenti untuk beberapa hari karena ujian telah menanti, semenjak sesudah lomba aku lebih banyak menghabiskan waktu belajar. Bagaimana tidak, seminggu setelah lomba berat itu sekarang aku harus menghadapi ujian Tengah Semester.

__ADS_1


Meski ulangan harianku memuaskan tapi rasa percaya diri masih menghantui diri, terlebih aku sendiri tahu jika di kelasku terdapat beberapa orang yang kuwaspadai. Ainur, Anna, Agustina, Agus dan Osama.


Satu minggu ujian itu berlangsung aku pun merasakan otak dan tubuhku sudah tidak berfungsi semestinya. Bahkan jika kulanjutkan membaca mungkin aku akan muntah karena melihat huruf dan angka.


Di tambah aku sendiri semakin merasakan jika mata batinku terus terbuka sedikit-demi sedikit, tanpa bantuan cermin pemberian Cindi aku bisa melihat keberadaan mereka dengan jelas.


Masalahnya adalah saat itu aku sedang menghadapi ujian, mereka mengangguku dengan penampakan mereka, entah itu kuntilanak, tuyul, hantu berleher panjang, bayang-bayang hitam dan putih seperti keberadaan makhluk hidup biasa seperti manusia.


Hingga aku tersadar sejak kapan aku mulai seberani ini, bahkan dengan kepergian Cindi mungkin aku sudah berkembang, benar, menjadi laki-laki pemberani.


“Bismillahirahmanirahim” do’a ku sebelum menuliskan jawaban di kertas jawaban


***


(Sudut Pandang Ainur)


Seminggu lebih berlalu, ujian selesai dengan menyisakan ketidakpuasan mendalam bagaimana tidak banyak sekali soal sulit keluar di ujian kali ini. Namun bagiku itu sangat mudah karena aku sudah mempelajarinya, terlepas dari benar atau salahnya.


Tapi itu tidak penting karena semua telah berlalu dan tidak bisa di ulang kembali, sekarang aku hanya harus banyak berdo’a dan berwakal akan hasil maksimal untuk nilai ujian.


Aku…tidak ingin kalah lagi dari Akbar, sejak SMP aku selalu mendapatkan juara pertama tapi melihat Akbar selalu hebat dalam ujian harian aku berpikir jika di langit masih berdiri langit yang lebih tinggi.


Bahkan ketika ia mendapatkan kemenangan bersama PMR aku merasa dia sudah satu langkah mendahuluiku. Meski aku telah dikenal di dalam sekolah tapi tidak ada artinya jika tidak terkenal diluar, benar…inilah keinginan egoisku sejak dulu…ingin menjadi nomor satu.


“Baik anak-anak tolong tunggu di luar biar orang tua kalian yang masuk”

__ADS_1


"Baik bu” jawab serentak para murid


Aku sendiri berdiri di depan pintu kelas, berbincang bersama Dedek supaya teralihkan dari rasa tegang. Terdengar kecil suara dari wali kelas menyebutkan nama-nama anak berprestasi di bidang akademik.


“Baik bapak-ibu, saya akan memberitahu siapa-siapa saja anak-anak kita yang meraih rangking 1-3” kata Pak Sumardi wali kelas kami


Seketika suasana sunyi bercampur tegang, padahal barusan banyak tawa canda terdengar. Ketika pak Sumardi menyebutkan daftar rangking teman-teman sekelas bergerombol menguping di balik jendela dan pintu.


Aku sedikit melirik Akbar, ternyata ia tidak berkutik dari tempat semula. Duduk di lantai tanpa alas, sedang berbincang senang bersama Abdul dan Rehan.


“Baik untuk peringkat pertama Ainur, peringkat kedua Akbar, peringkat ketiga Anna Nur. Kepada orang tua yang disebutkan nama-nama tadi harap maju ke depan” Pak Sumardi langsung menyebutkan nama-nama itu tanpa ada spasi untuk membuat kami tegang


Namun begitu, aku bersyukur karena mampu mengambil tempat di peringkat pertama. Aku belum kalah, tapi masih terus melangkah menyusul Akbar.


Ia sendiri berada di peringkat kedua, rasa puasku terhadap kemenangan kalah dengan rasa takut akan kehilangan posisi itu. Karenanya aku tidak akan kalah dan berusaha menjadi nomor satu.


***


(Sudut Pandang Akbar)


Ketika mendengar pengumuman itu, rasa tegang tidak berhenti mengalir seraya tidak percaya aku hanya menempati posisi kedua. “Tidak kusangka ternyata Ainur itu benar-benar wanita yang cerdas” puji diriku kepada Ainur


Setelah selesai acara pembagian rapot semua ekspresi orang tua dapat di tebak. Aku sendiri sudah puas dan langsung menghampiri ibu mengajaknya pulang kerumah.


Yah tidak perlu di pikirkan toh aku juga sudah tahu hasilnya, memang beda peringkat pertama dari SMP. Tapi hal itu tidak penting karena yang pikirkan….setelah selesai ujian….waktunya liburan. “Yeeee…libur…main sepuasnya” teriak batinku

__ADS_1


__ADS_2