INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
BAB VII "AWAL DAN AKHIR...?"


__ADS_3

(Selasa, Rumah Keluarga Pertama, Lr. Bunga xx)


(Sudut Pandang Akbar)


Sore dengan cuaca mendung menemani kami dalam perjalanan ke rumah salah satu korban bunuh diri, berdiri di depan gerbang rumah berwarna merah sambil memberi salam akan kedatangan kami.


“Assalamualaikum, permisi” salamku dengan berteriak


Rumah luas dan besar dengan nuansa tua terasa aura mencekam di dalamnya, di luar terdapat banyak tanaman hias dan satu buah mobil, namun yang mengejutkan lingkungan rumah kotor dan tidak terawat membuat aku takut masuk ke dalam.


“Ada tidak sih orangnya?” tanya Ainur


“Permisi!, Spada!, Ada orang di rumah?!” aku mulai tertelan emosi


Lampu menyala dan kendaraan ada di depan rumah merupakan bukti kuat jika ada seseorang di dalam rumah, itulah pemikiranku tapi kenapa mereka tidak mendengar suaraku yang sudah sangat keras.


“Hahhh” kupaksa membuka kunci gerbang yang untung tidak di gembok


“Sreekkkk…Srekkkk” suara gerbang geser yang aku tarik


“Tok…tok..tok…” suara Cindi mengetuk pintu


Aku sendiri menyadari apakah di rumah ini ada bel, karena di luar tidak ada bel berarti di dalam seharusnya ada. Tapi setelah mencari di sekitar depan rumah tidak kelihatan bel, “Apa guna rumah besar kalau tidak ada bel?” pikirku


“Iya” terdengar suara sambutan dari dalam rumah


“Akhirnya…” syukurku dalam hati


Pintu rumah terbuka, kami bertiga melihat seorang pria paruh baya membuka pintu berdiri menghadap kami, “Maaf adek-adek siapa ya?” tanya Pria itu kepada kami bertiga


“Ah om kami siswa dari SMA xx mau berkunjung ke rumah bapak untuk menanyakan beberapa perihal..."


Sorot pandang mata dari Pria itu berubah setelah aku mengatakan asal sekolah SMA xx, merasa aku melakukan kesalahan segera saja aku menyerang balik, “Bapak orang tuanya dari kak Siti bukan salah satu alumni siswi SMA xx?” tanyaku membuat bapak itu terkejut


“Iya, ada apa ya?” raut muka murung terlihat akan rasa malu dan bersalah


“Kami bertiga ingin menyampaikan pesan dari kak Siti kepada om dan tante” lagi kata-kataku mengejutkan dirinya tapi itu adalah cara masuk terbaik yang kubuat


“Kalau begitu silakan masuk terlebih dahulu” benar saja Bapak itu mengizinkan kami masuk kerumah, sebuah keberhasilan di dapatkan


(Kediaman Pak Ridwan, Orang Tua Korban Siti)


Kami bertiga duduk di sofa empuk di suguhi minuman hangat dan cemilan kecil layak seperti raja saja, pembantu yang menghantarkan persembahan kembali ke dapur meninggalkan kami bertiga tanpa pemilik rumah hadir.


“Ini bapak tadi kemana?” bisikku kepada Ainur dan Cindi


“Tidak tahu”


“Aneh, aku merasakan ada aura jahat di rumah ini” bisik Cindi yang membuat Aku dan Ainur cemas


“Ha, apa maksudnya?”


“Sepertinya di rumah ini ada hantu panggilan, seperti makhluk halus dari dukun”


Aku mencerna perkataan Cindi, jika memang benar sesuatu seperti setan peliharaan pikirku berarti keluarga ini memelihara tuyul atau sejenisnya, ”Sesat”


“Tapi aku merasa jika makhluk itu di pelihara untuk tujuan dendam” sambungan kata dari Cindi memberikan petunjuk lain


“Maksudnya seperti santet!” bisik Ainur


“Mungkin”


Pembicaraan kami bertiga terhenti ketika bapak pemilik rumah keluar dari ruangan bersama sang istri yang di dorongnya menggunakan kursi roda.


Terlihat juga alat infuse di tangan dan hidung menandakan ia sakit parah, pertama kalinya aku melihat orang sakit begitu parahnya membuat aku tidak bisa menatap lama.


“Maaf membuat kalian menunggu” bapak itu menghentikan kursi roda di samping sofa tempat duduknya berada


“Iya pak tidak apa” jawab Ainur


“Perkenalkan saya Kurniawan, ini istri saya Indah, jadi saya ingin tahu apa tujuan adek-adek datang kemari”


“Begini om…” belum aku menjelaskan Cindi memotong pembicaraan, “Kalian tahu apa yang kalian lakukan? Karena kalian Siti masih belum tenang di alam sana” tegas Cindi


Seketika suasana tegang menyelimuti, padahal maksud awal kami yang ingin mengintrogasi tapi aku merasa kami yang tertekan, “Ah nanti dulu Cin” aku menenangkan Cindi


“Apa maksud adek?”


“Gini om, saya Akbar, ini Ainur, dan ini Cindi kami siswa dari SMA xx sekolah tempat almarhum anak om Siti. Saya ingin to the point saja, beberapa hari lalu kami bertemu dengan arwah Siti yang mana ia meminta kami untuk menyampaikan kepada bapak dan ibu, untuk….” Sekali lagi pembicaraanku dipotong kali ini oleh Pak Kurniawan dan istrinya, istrinya terkejut mendengar penjelasanku gemetaran di kursi roda seakan menerima sambaran petir


“Mustahil!...Siti sudah mati!” kami bertiga sangat terkejut mendengar Pak Kurniawan berbicara nada tinggi


“Hehh…Si..ti…si..ti…” bu Indah pun ikut mengumamkan nama Siti yang membuat aku bergidik ngeri melihat keadaannya


“Kalian jangan bohong! Bagaimana bisa ha!” nada perkataan Pak Kurniawan mulai tinggi dan keras


Dari belakang pembantu yang membawakan minuman dan makanan tadi segera ke depan membantu kami dengan menenangkan majikannya. Seram…tapi karena sudah terlanjur aku tetap maju,


“Sabar pak…sabar…maaf dek bisa kalian keluar sekarang” pinta pembantu bernama bu Ayu sambil memegang Pak Kurniawan yang kehilangan kendali


“Kami bertemu dengan Siti…katanya lebih baik bapak dan ibu berhenti saja dan mulai mengikhlaskan kepergiannya!” tegasku


“Selain itu kalian juga telah melakukan hal sesat dengan menggunakan santet, lebih baik kalian taubat” Ainur juga mulai memberontak “Asal kalian tahu karena kalian Siti tidak bisa di alam sana dan malah bergentayangan kalian orang tua tidak tahu malu”


“Tahu apa kalian, ini semua gara-gara anak laki-laki sialan itu, karena bocah itu Siti jadi bunuh diri”


“Bocah?...maksudnya Cecep?”


“Jangan sebut nama anak sialan itu di depanku!”


Pak Kurniawan naik pitam sekarang, perasaan takut dan cemas melanda diri seakan kami akan dibunuh disini


Bu Indah sendiri menagis dan berusaha turun dari kursi rodanya, “Si…ti…!” Bu Indah seperti melihat sesuatu


“Sudah cukup lebih baik kalian bicara sendiri dengan Siti…” Cindi mengatakan sesuatu yang membuatku bingung lagi


Tapi setelah beberapa detik kemudian aku mengerti maksudnya, seketika suasana tegang dan marah berganti dengan kejutan dan ketakutan bagaimana tidak sosok hantu tidak asing bagiku melayang di tengah-tengah kami di atas meja pembicaraan dengan darah di seluruh tubuh dan rambut kusut menutupi wajah membuat kami membisu.


Hantu perempuan berdasi merah atau bisa disebuah arwah gentayangan Siti menampakan diri di depan kami, terlihat wajah cemat dan takut dari semua orang kecuali Cindi seperti ia sudah tahu akan kedatangan Siti


Ainur memeegang tangan kananku dengan erat tidak ingin melepas, “Hiii, apa itu Akbar…takut!, ayo pulang” kata Ainur ketakutan


Aku sendiri terdiam membeku berusaha untuk tenang membantu keadaan, berbeda dengan bu Ayu si pembantu ia langsung lari kucar-kacir melihat kemunculan Siti, “S..Se..setannn!!!” Bu Ayu lari ke belakang rumah


Pak Kurniawan sendiri membeku dan duduk lemas ke lantai sambil melihat hantu anaknya sementara bu Indah berusaha berdiri dari kursi rodanya,


"Braakkk!….Si…ti…” Bu Indah terjatuh dari kursi rodanya merangkak mendekati meja


“Awas bu!” Cindi membatu bu Indah berdiri dan duduk kembali ke kursi roda sambil mendekatkannya ke arwah Siti


“Kami sudah bertemu dengan Siti dan dia sudah ada disini, ia meminta kepada kalian berdua memaafkan semua kesalahannya dan mengikhlaskan kepergiannya, lalu meminta maaf dengan keluarga Cecep” jelas Cindi “Karena kalian Siti menjadi sulit di alam sana kami juga minta maaf karena kedatangan kami tapi kami hanya ingin menyampaikan pesan Siti saja”


Setelah Cindi selesai bicara aku memberanikan diri menambahkan kata-kata, “Nur tidak apa” kataku menenangkan Ainur


“Coba lihatlah” Ainur dengan takut membuka mata melihat hantu perempuan dasi merah


“Hahh!!!” tapi ia masih gemetaran takut akan penampakan Siti


“Si..ti…ma..af…ibu…sa…lah” Bu Indah berbicara kepada Siti dengan terbata-bata, mungkin karena ia mengalami penyakit stroke atau sejenisnya membuat tubuhnya sulit bergerak dan berkomunikasi


Cindi pun mengakhiri ketidakjelasan ini, “Siti…” Cindi menatap arwah penuh darah itu dengan tajam


Anehnya sang arwah Siti kulihat seperti menganggukan kepala sedikit tanda ia mengerti, mereka berdua seperti sedang berkomunikasi. Tak lama lampu di ruangan itu mati, “Klakk…Wha…aaa” suara ketakutan dari semua orang di ruangan itu kecuali Cindi dan Bu Indah


“Klakk!” beberapa detik kemudian lampu hidup kembali namun tanpa berpamitan arwah Siti menghilang tanpa jejak dan suara, benar-benar membuat jantung berdegub kencang.


Aliran darahku mengalir kian cepat setiap detik ditambah bulu kuduk yang sedari tadi berdiri, aku melihat keadaan sekitar…Ainur masih berpegangan erat di lengan kananku masih tidak berani membuka mata, Pak Kurniawan diam mematung sambil menatap meja tempat almarhum putrinya menampakan diri, sementara Cindi membenarkan kursi roda Bu Indah.

__ADS_1


“Jadi bagaimana pak, bu apakah kalian sudah percaya sekarang?” tanya Cindi dengan nada kasihan


Aku sendiri menarik nafas dalam-dalam seolah habis tenggelam dari dasar lautan gelap, “Sepertinya aku harus terbiasa dengan kejutan yang di buat Cindi” batinku


Cindi yang menatap tajam tangga di rumah itu mulai menunjukan ekspresi aneh, “Ferdi ikut aku” ajak Cindi yang langsung menuju ruangan lantai 2 rumah Pak Kurniawan


“Ayo Nur” aku juga mengajak Ainur, meski agak kesulitan berjalan tapi kami berhasil berada di depan pintu ruangan


Meski belum lama aku tahu tentang dunia lain tapi aku tahu ada sesuatu yang jahat di balik pintu ruangan itu, membuat jantungku kembali berdegub kencang dan bulu kuduk berdiri, “Cin, ada apa disini?” tanyaku kepadanya namun ia tidak memperhatikan


Cindi mencoba membuka pintu ruangan itu tapi tidak bisa karena terkunci, “Gawat di kunci pula” ketus teman wanita Indigoku itu


Karena firasat buruk mendatangiku dan instingku merasa aku harus membuka pintu itu, segera saja kudobrak pintu ruangan, “Bak…Brakkk” percobaan ketiga kalinya aku berhasil membuka pintu secara paksa


Terdiam sejenak melihat ruangan gelap tanpa pencahayaan itu hanya ada lilin-lilin kecil di suatu meja, setelah aku meneliti lebih jelas tampak sesajen berada di atas meja dengan kendi-kendi di sampingnya.


Setelah cukup lama aku akhirnya sadar jika ruangan itu sangatlah aneh, dinding yang tertutupi oleh kain hitam, tercium aroma menyan menyengat hidung, bunga-bunga 7 rupa sama seperti milik ruangan seorang dukun sesat, jika kusimpulkan itu adalah ruang persugihan.


“Waaa…apa ini?!” Ainur menjerit keras genggamannya semakin erat saja di lenganku


“Gila, apa-apa’an ini?. Sesat!”


Kami bertiga masuk keruangan itu, “Hancurkan semuanya!” perintah Cindi


Tanpa peringatan Cindi menghancurkan semua sesajen di ruangan itu, makanan dan bunga berserakan dimana-mana karena Cindi. Aku sendiri pun melepas kain hitam dari dinding meski Ainur memegangi lengan kananku, sambil berdzikir dan berdo’a aku berharap semua kejadian hari ini cepat selesai dan aku bisa keluar dari rumah ini dengan selamat.


“Prrangk!” suara benda pecah menghentikan gerakan kami


“Apa itu?” tanyaku


Tak di duga seperti terkena peluru pistol aku melihat Pak Kurniawan muncul dari balik pintu dengan wajah seram seakan ingin membunuh kami, “Apa yang kalian lakukan ha, anak-anak brengsek?! Kubunuh kalian!”


Aku sadar akan perbuatan kami yang sudah terlalu jauh dan ikut campur terlalu dalam, bagaimana tidak kami menghancurkan tempat rahasianya…tempat bersekutu ia dengan setan…pasti membuat ia marah. Saat Pak Kurniawan masuk ia mengambil sebuah keris di atas dinding, mengeluarkan keris itu dari baju pegangannya sambil menatap tajam kami.


Tahu jika ia ingin menyerang aku segera memerintahkan Cindi dan Ainur untuk melarikan diri, “Awas kalian berdua cepat pergi!” kataku sambil berupaya melepas genggaman Ainur


“Nur lepas, cepat lari!” kataku membentak


“Haaa!!!,” teriak Ainur “Nggak! aku takut…Akbar aku takut” Akhirnya air mata Ainur keluar membuat aku merasa bersalah telah melibatkan dirinya dalam rencana kami


“Kalian bocah brengsek berani-beraninya merusak rumahku”


“Pak sabar pak, letakan itu! Kami tahu kami salah tolong maafkan kami pak”


“Ini…ini demi Siti tapi kalian…malah mengacau!” bentak Pak Kurniawan


Tak lama Pak Kurniawan mulai melangkahkan kaku kea rah kami bertiga, tentu kami sudah tepojok dan aku merasa saat itu adalah waktu kematianku. Tapi aku tidak ingin mati begitu saja, “Kalian cepat lari!” perintahku kepada Ainur dan Cindi


Aku mengambil nampan tempat sesajen yang di buang oleh Cindi tadi, dengan mengambil kain hitam sisa di dinding tadi aku maju menghadang Pak Kurniawan.


Aku tahu ini tidak masuk akal, mengalahkan seseorang dengan senjata tajam sementara aku hanya bersenjata mainan. Karena aku pernah latihan bela diri aku merasa aku bisa menghentikannya, datang sebuah keberanian dari takutnya akan kematian.


“Dasar bocah anji** ku bunuh kalian!”


Ku lempar nampan dan kain hitam secara bersamaan menutupi pandangan pak Kurniawan, Ainur dan Cindi yang tahu kesempatan mulai bergerak keluar dari ruangan.


"Anj*** awas kau bocah sialan!” Pak Kurniawan berhasil lepas namun sekali lagi aku mendapat kejutan, Bu Ayu datang dari arah belakang membawa kayu berukuran sedang


“Plakk…Brukkk!” Bu Ayu memukul kepala Pak Kurniawan hingga membuatnya terjatuh


Aku sendiri mengambil guci kecil yang terjatuh di lantai dengan cepat memukul kepala Pak Kurniawan dengan keras.


"Kraakk…” bunyi guci pecah terdengar hingga ke telingaku


Pak Kurniawan terkapar tidak sadar di lantai, kakiku sendiri lemas tak tertahankan membuat aku terduduk di lantai. Ketika aku tersadar telah selamat dari maut, air keluar dari mataku…menangis karena senang masih hidup.


“Hiks…hiks…hiks” serak tangisku di dalam ruangan menyeramkan itu


“Dek lebih baik kalian keluar dari rumah ini sekarang” kata Bu Ayu


Aku yang mendengar Bu Ayu ingin segera melakukannya tapi tak bisa, pikiranku masih kacau tubuhku tidak bisa di gerakkan jadi aku tidak bisa keluar. “Aku ingin segera keluar dari tempat ini” batinku


Aku berusaha sekuat tenaga berdiri…melihat Ainur kewalahan Cindi pun ikut membantuku, aku di bopong oleh kedua wanita itu sambil mengelurkan air mata.


“Kita keluar dulu dari sini” ujar Cindi


“Iya” Ainur menjawab


Kaki kami sampai menuruni tangga teraksir berupaya keluar dari rumah kediaman Almarhum Siti, terlihat di ruang tamu ketika kami ingin ke pintu keluar Bu Indah menatap tajam kepergian kami, tapi dengan gerak-geriknya ia masih menginginkan kami tinggal sini untuk menjelaskan banyak hal, namun kehendak berkata lain kami harus menyelamatkan diri terlebih dahulu.


Semua perlengkapan dari tas sampai sepatu kami bawa keluar rumah, kami bertiga berlari tanpa alas kaki kira-kira sampai 2 meter jauhnya kami berhenti dan mengambil nafas. Terlihat dari kejauhan Bu Ayu sang pembantu Pak Kurniawan keluar dan berteriak minta tolong.


“Tolongg!” teriak Bu Ayu yang mengundang kepanikan para warga sekitar


Aku melihat lampu-lampu di rumah warga hidup dan berbondong-bondong orang datang, baik laki-laki maupun perempuan berkumpul di depan rumah Pak Kurniawan.


Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku berpikir agar tidak terlibat terlalu jauh lagi menyuruh Ainur dan Cindi untuk pergi.


“Ayo kita pulang” ajakku kepada mereka berdua dimana Cindi masih melihati kerumunan di rumah Pak Kurniawan sementara Ainur duduk jongkok mengambil nafas


Hari itu adalah hari gelap yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidup, sebuah kejadian dimana nyawaku hampir hilang karena ikut campur dalam urusan makhluk halus.


Jantung, darah dan keringat tak terhitung lagi bergerak dengan cepat seakan siap untuk mati…batin dan pikiran terombang-ambing meluruskan kejadian itu namun tetap tidak bisa karena sudah menjadi trauma.


Malam setelah kejadian membuat aku tidak bisa tidur…tubuhku tidak bisa bergerak…pikiranku melayang kemana-mana. Takut, cemas dan tegang tercampur menjadi satu pikiranku tidak terlepas dari satu hal, “Setelah kejadian itu apa yang akan terjadi padaku?”


Berita beberapa jam tadi sudah berhembus ketelingaku, aku mendengar seseorang melakukan persugihan di rumahnya beruntung sang pembantu meminta bantuan warga. Sang pria yang terduga melakukan persugihan di tangkap oleh polisi saat ia tidak sadarkan di ruangan persugihan. Aku selalu berpikir, “Bagaimana jika aku terlibat dan ditangkap polisi?, bisa mati aku kalau ketahuan ibu dan ayah”


Setelah aku berpikir apa yang telah aku lakukan dengan mengikuti Cindi dalam penelusuran malam…mengikutinya dalam mencampuri urusan orang yang sudah mati…aku sudah melakukan kesalahan dimana seharusnya dari awal aku tidak perlu bertemu dengan Cindi.


Kupikir kejadian ini adalah sebuah pengalaman untukku dalam menolong orang lain, membantu untuk kebaikan tapi hasilnya berbeda dari harapan…gagal dan hancur itulah hasil dari rencana penelusuran pertama kami.


***


(Rumah Ainur, 19.00 WIB)


(Sudut Pandang Ainur)


Di dalam kamar aku berselimut menutupi diri dari ketakutan mendalam, bagaimana tidak setelah mengalami kejadian spiritual seperti itu orang normal pasti tidak akan bisa tenang. Aku sendiri berpikir mengapa aku mengikuti kedua orang bodoh itu, kini aku ikut terlibat dalam masalah orang lain.


Seharusnya aku tidak ikut-ikutan dalam urusan Akbar dan cewek Indigo itu, sekarang sudah terlambat aku tidak tahu apalagi yang akan terjadi.


Hari ini adalah hari suram dan terlelah yang aku dapati…mulai dari menyusun rencana yang tidak masuk akal, bertemu dengan orang-orang aneh, memasuki tempat sesat dimana di dalamnya terdapat barang-barang persugihan, bertemu hantu legenda sekolah perempuan dasi merah sampai terlibat dalam masalah orang lain dimana hasil akhir dapat terlibat dengan pihak polisi.


Senja berganti malam suara kendaraan lalu lalang di depan rumah membuat aku sulit melupakan kejadian hari ini, jika aku ingin menangis pasti aku lakukan tapi hal itu sudah tidak bisa karena air mataku sudah dikalahkan oleh rasa takut.


Aku pun berpikir, “Apa yang akan terjadi padaku kedepannya?” jika memang aku terlibat maka sebuah masalah besar akan datang, aku berharap “Besok semuanya akan selesai”


(Istirahat Pertama, SMA Negeri xx Palembang)


Pagi setelah kejadian menakutkan kemarin malam sudah kuduga perasaan canggung antara aku dan Akbar tercipta. Saat di kelas bukan bertegur sapa dan membicarakan tentang kejadian kemarin kami hanya berpapasan tanpa menatap satu sama lain.


Padahal kemarin hubunganku dan Akbar sudah membaik tapi hancur kembali oleh Cindi, benar…semua karena anak Indigo itu, aku ingin menyalahkan Cindi jika terjadi sesuatu padaku tapi hatiku berkata lain mungkin karena keinginanku berteman dengan orang yang sama denganku memiliki kemampuan istimewa melihat yang tidak terlihat.


Bahkan sampai jam istirahat pun Akbar yang seharusnya selalu ceria dan tegas tampak murung dan lebih memilih menyendiri. Kurasa dampak dari peristiwa kemarin sangatlah besar bagi kami, apalagi terdengar polisi ikut terlibat membuat pikiran tidak tenang.


Sesaat sebelum istirahat pertama selesai aku mencoba untuk mendekati Akbar, ingin membicarakan masalah kemarin.


“Bar” panggilku


Akbar berhenti membaca buku setelah mendengar panggilanku, hanya menolehkan kepala saja membuat aku gugup bukan kepalang. Topik apa yang harus ku mulai, tindakan apa yang yang harus kulakukan melihat keadaan kacau seperti ini.


“Bar, eemmm”


“Iya aku tahu” Akbar memotong pembicaraanku


“Aku minta maaf atas kejadian kemarin” Akbar berdiri dari tempat duduknya berjalan keluar kelas

__ADS_1


Aku mengikutinya dari belakang seperti anak buah mengikuti pimpinan, “Tidak aku juga minta maaf atas kejadian kemarin” kataku


“Seharusnya aku tidak melibatkan Ainur dalam masalah ini, aku sendiri tidak menyangka masalah ini dapat menjadi besar seperti ini. Haaah, Ainur tahu tadi malam aku tidak bisa tidur memikirkan masalah ini” Akbar bersender di dinding kelas


“Sama aku juga…” aku menundukan kepala karena teringat kejadian kemarin dimana aku tidak bisa melakukan apa-apa selain merepotkan Akbar


“Sekarang kita harus bagaimana, kudengar masalah ini sudah melibatkan pihak berwajib”


“Hanya satu yang bisa kita lakukan sekarang, diam sampai masalah ini selesai. Aku tahu jika pilihan ini adalah cara terbaik untuk kita, karena kita sudah terlalu jauh melangkah…” Akbar berhenti bicara setelah melihat ke depan lorong


Aku melihat Cindi datang sambil membawa tas , mengundang pertanyaan bagiku, “Mau kemana dia?”


Ia berjalan tanpa memperhatikan sekitar, namun saat berpapasan dengan kami berdua ia seakan tidak melihat kami atau bisa kusebut dia sudah menjauhi aku dan Akbar. Mata kami berdua saling menatap saat berpapasan, aku melihat Akbar hanya membuang muka setelah Cindi mendekat, sepertinya Akbar tidak ingin terlibat dengan Cindi lagi.


"Akbar…Cindi itu…?” aku masih bingung apa yang harus kulakukan


“Biarkan saja dia, yang penting kita urus urusan kita sendiri dulu” Akbar duduk di lantai koridor kelas sembari menatap birunya langit


Aku ikut duduk disampingnya, diam tak ada percakapan setelah itu siswa lain yang melihat pun tidak berani mengganggu sampai terasa jika kami hanya berdua disana. Perasaan tenang dan nyaman kudapat…sebuah rasa yang hilang beberapa saat ketika aku menjauh dari Akbar.


“Kau tahu kupikir aku menikmati petualangan dengan Cindi..” Akbar membuka pembicaraan


“Saat aku pertama kali bertemu dengannya kau takut dan berpikir agar tidak berurusan dengannya, namun lama-kelamaan aku malah mendekatinya karena sebuah alasan dia adalah orang yang berbeda dari orang lain. Hari itu aku bicara dengannya, dan dugaanku benar…dia sangat hebat…tapi lagi lama-kelamaan aku tertelan oleh Cindi. Saat masuk ke sekolah malam hari waktu itu aku melihat kehebatannya, di bawah kami bertemu dengan mereka bahkan di kelas kita pun kami bertemu dengan mereka…sebuah pengalaman yang luar biasa”


Aku mendengarkan Akbar bercerita sambil memikirkan apa yang akan aku katakan nantinya,


“Tapi setelah kejadian kemarin aku berpikir…dengan kemampuan yang hebatnya dia membuat aku takut. Kurasa kau juga pasti berpikiran sama denganku, jika yang pantas untuk disalahkan dalam hal ini adalah Cindi karena dia kita terlibat masalah yang besar. Seharusnya sejak awal aku tidak mendekatinya, tapi karena kebodohanku aku malah berteman dengannya”


Saat itu aku benar-benar kagum pada Akbar karena mampu menebak semua yang aku alami dari kemarin hingga sekarang, bisa kubilang dia adalah seorang pembaca pikiran professional. Perasaan senang bercampur tegang kurasakan saat ia membicarakan masalah kemarin.


“Aku tidak peduli!”


“Eh” aku terkejut karena bingung


“Dia dijauhi karena itu, bahkan seseorang berpikir ia harus lebih mendekatkan diri kepada orang lain tapi dia tahu jika ia harus menghindari orang lain karena tidak mau orang lain terluka karenanya. Kita berdua adalah orang itu, orang dekat Cindi salah satu temannya, jika orang yang tidak dekat dengannya sudah takut apakah kita juga harus takut?”


Pembicaraan Akbar mulai melenceng dari topic membuat aku bingung tujuh keliling, “Lalu?”


“Kita harus menyelesaikan masalah ini” tegasnya


“Tapi katamu tadi kita hanya punya satu pilihan yaitu diam sampai masalah selesai”


“Benar, tapi masalah ini tidak akan selesai jika kita hanya berdiam diri, maksudku lebih baik kita mengawasi masalah ini dulu untuk mengambil tindakan selanjutnya. Dan untuk itu kita butuh dia…Si anak Indigo” kata Akbar sambil tersenyum


Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang tapi melihat Akbar percaya diri sudah pasti keteguhan hati tidak akan tergoyah…jika aku harus memilih untuk diam atau mengikuti Akbar maka akan kupilih rencana Akbar sebab aku sudah terlibat cukup besar.


“Begitu ya, aku juga berpikir seperti itu jika aku hanya diam sampai keadaan ini selesai aku tidak bisa tidur dengan tenang. Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?”


“Pertama ayo kita susul Cindi dan kita saling minta maaf” Akbar berdiri dengan senyum di bibir, semangat berkobar membuat aku melihat dirinya seperti dulu


“Baiklah”


(Suara pengeras suara Sekolah)


“Kepada siswa yang bernama Akbar, Ainur dari kelas X IPS 2 dan Cindi dari kelas X IPA 2 harap ke ruang guru sekarang”


Panggilan yang membuat kami saling bertatapan, dimana aku tahu sebuah jawaban untuk panggilan ini, “masalah pun datang”


***


(Istirahat Pertama, Ruang Kepala Sekolah)


Ruang guru yang seharusnya kami datangi namun belum masuk ke dalam kami berdua di giring menuju ruang kepala sekolah. Sungguh hari buruk bagiku karena terlibat masalah besar ini, tapi hal itu tidak kupikirkan lagi…segera saja kuhapus dan kuterima dengan lapang dada.


Perkataan Akbar benar jika aku harus membantu Cindi padahal aku tahu bagaimana rasanya sendirian…kesepian tanpa seseorang di belakang untuk membantu. Kini aku mengerti jika aku sudah diselamatkan Akbar maka aku harus menyelamatkan Cindi.


“Silakan masuk kedalam dulu” kata Pak Yitno membukakan pintu ruang kepala sekolah


Betapa terkejutnya kami ketika melihat orang di dalam ruangan itu, kepala sekolah dan Pak Taslim duduk bersama Bu Indah dan pembantunya Bu Ayu, sedangkan Cindi berdiri dekat pintu kami berdua pun ikut berdiri di sampingnnya.


Sebuah kedatangan tiba-tiba karena kejadian kemarin malam membuat jantungku berdebar kencang seakan ingin lepas.


“Maaf pak ada apa ya kami dipanggil kesini?” tanya Akbar seakan tidak tahu masalah yang dihadapi


“Ini ibu Indah dan disebelahnya ibu Ayu, beliau ingin bertemu dengan kalian bertiga. Bapak sudah mendengar semua ceritanya dari bu Ayu” ketika kepala sekolah mengatakan itu jantungku berdetak lebih cepat dan cepat seakan aku ingin mengakui semuanya


Aku sendiri sudah menahan emosi dan siap untuk mengeluarkan air mata, jika memang aku bersalah maka aku siap untuk dihukum, pikirku sampai sebuah perkataan membuat aku terdiam,


“Iya, saya sebagai perwakilan bu Indah mengucapkan terima kasih kepada kalian”


“Ha?!” kami bertiga sangat terkejut dan bingung bahkan kami bertiga sampai menatap satu sama lain karena tidak percaya


“Te…terima kasih untuk apa ya bu?”


“Mungkin kalian sangat takut dan trauma karena kejadian kemarin malam, tapi setelah kalian pergi ibu sudah menelpon polisi di bantu warga untuk menangkap pak Kurniawan. Memang sejak dulu ibu sudah tahu kalau Pak Kurniawan itu melakukan persugihan sesat tapi ibu tidak berani melawan karena takut. Alasan Pak Kurniawan melakukan persugihan adalah karena kepergian non Siti, Pak Kurniawan ingin membalas keluarga den Cecep dengan ilmu hitam tapi sampai sekarang tidak berhasil. Kepergian non Siti membuat Bapak dan Ibu tertekan, ibu sendiri mengalami stroke karena kehilangan non Siti sampai sekarang kesehatannya terus menurun. Tapi bapak berbeda karena dendam bapak mendatangi dukun tujuan pertamanya adalah keluarga den Cecep tapi lama-kelamaan tujuan bapak berbeda dia mengumpulkan kekayaan dari perbuatan sesat”


Semua orang di ruangan itu hanya diam mendengar tidak berani memotong cerita bu Ayu terutama kami bertiga sang tersangka lebih baik berdiam diri. Tapi aku tahu Akbar akan bergerak dan bertanya maka aku melirik ia sebentar,


“Hemm” tak diduga Akbar sadar aku melihatinya dan berbalik melihatku


“Ada apa Nur?” bisik Akbar kepadaku tapi aku langsung membuang muka kearah lain, “Tidak ada apa-apa”


Meski begitu cerita masih terus berlanjut, “Tepat kemarin saya benar-benar beruntung karena kedatangan kalian bertiga ke rumah, karena kalian ibu bisa menangkap dan menghentikan pak Kurniawan. Meski ada beberapa yang membuat ibu takut seperti penampakan non Siti tapi setelah tahu niat kalian untuk membantu ibu pun berpikir untuk berterima kasih kepada kalian dan tentunya meminta maaf atas kejadian kemarin” Bu Ayu menundukan kepala


Bu Indah pun di kursi rodanya bergerak mengejutkan semua orang di ruangan seperti ingin menyampaikan sesuatu, “Te…rima ka..sih” kata Bu Indah terbata-bata


“Sekarang bu Indah akan saya pertemukan dengan keluarga den Cecep untuk menyelesaikan masalah 10 tahun yang lalu dan seterusnya saya yang akan merawat beliau. Sekali lagi saya perwakilan dari bu Indah mengucapkan terima kasih jika ada sesuatu untuk menembus jasa kalian pasti akan saya lakukan” Bu Ayu memelas


“Tidak apa-apa kok bu, justru kami senang sekarang karena masalahnya sudah selesai. Dan kalau untuk banyak berterima kasih ibu bisa sampaikan ke mereka berdua karena sudah banyak menolong” Akbar mulai memberikan tanggapan


“Eh tidak juga yang banyak menolong itu Cindi…karena dia kami membantu orang lain demi kebaikan” kataku menambahkan


Cindi yang dari tadi terus menunduk mulai menegakkan kepala meski wajahnya masih terlihat pucat,


“Bapak juga sudah dengar kebenaran dari cerita legenda bunuh diri siswa sekolah kita ini dari bu Ayu, dan juga tentang kejadian kemarin sore di rumah beliau. Pokoknya itulah alasan kalian di panggil kesini tapi bapak minta satu hal kepada kalian jangan sampai berita ini terdengar ke siswa lain” kata kepala sekolah yang ingin menyembunyikan kejadian ini dalam-dalam dari semua orang


Seketika aku terpikir mungkin inilah yang dirasakan oleh kedua korban bunuh diri, Cecep dan Siti dengan pihak sekolah menutupi rapat-rapat mengenai masalah pelecehan oleh seorang guru menyebabkan kedua siswa itu mengakhiri hidup mereka. Namun aku tahu dengan kejadian ini kami bertiga berpikir agar tidak melakukan hal salah seperti itu jika sudah ada contoh di depan mata.


Pertemuan tegang itu berakhir baik, ketakutan dan ketegangan menghilang seakan beban di punggung sudah tidak ada lagi. “Hahh akhirnya selesai juga” lega Akbar


“Iya beruntung sekali, kupikir kita akan kena masalah besar nantinya…tapi sekarang kita berhasil”


“Yah dan itu tidak lain dan tidak bukan karena…” Akbar memanjangkan nada bicaranya agar aku mengerti maksudnya


“Cindi!” sebut aku dan Akbar serentak


kemudian tertawa bersama-sama


Aku pun memeluk Cindi sebagai pelampiasan rasa senang dan malu, tapi kini aku mengerti perasaan Akbar dalam membantu baik itu Aku atau Cindi. Di dalam beberapa menit kesenangan itu muncul lagi kejutan tak terduga, hal itu pengumuman dari Cindi kalau dia akan pergi.


“Aku…merasa senang bertemu dengan kalian” Cindi mulai mengeluarkan air mata “Aku tidak akan melupakan kalian…maupun sekolah ini tapi aku harus pergi” pernyataannya barusan membuat kami berdua hanya diam melihat


“Aku akan pindah sekolah minggu depan…kembali bersama keluargaku. Jadi meski hanya sebentar aku sangat senang dan berterima kasih kepada kalian Ferdi…Ainur” air matanya sudah tidak bisa terbendung dan kali pertama inilah aku melihat Cindi menangis atau melihat anak dengan muka dingin dan seram menangis


Aku yang memeluknya ikut merasakan kesedihan Cindi hingga aku memeluknya lebih erat, “Kenapa mendadak? Padahal kita belum bersenang-senang” kataku sambil menahan tangis


“Aku tidak ingin merepotkan kalian lagi…tapi kalian adalah teman terbaikku. Terima kasih”


Tanpa ada yang melihat di luar pelajaran dan di perpustakaan aku dan Cindi menangis tersedu-sedu sementara Akbar masih menangis dingin sambil mengusap air mata yang keluar. Hari itu adalah lembar hari baru yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidup, meski baru beberapa hari mengenal aku sudah mengalami suka dan duka bahkan pengalaman luar biasa.


Dan benar saja keesokan harinya sampai seterusnya Cindi tidak masuk sekolah, bahkan keesokan harinya sudah terdengar jika dia pindah sekolah dan berpamitan dengan teman-teman sekelasnya.


Akbar yang menghampiri rumahnya pun tidak melihat ada Cindi ataupun keluarganya lagi, suatu hal yang tidak dapat di percaya. Tapi aku dan Akbar mengerti perasaan akan pengambilan keputusan oleh Cindi hingga lama kelamaan kami berdua sepakat agar tidak menghalangi Cindi.


Meski begitu hari-hari singkat itu tidak akan pernah kami lupakan, berawal dari sebuah pertemuan tak terduga di perpusatakaan, melihat makhluk-makhluk halus, mencoba melakukan penelusuran bahkan menyelesaikan misteri tragedy bunuh diri siswa sekolah dan hampir kehilangan nyawa karena menolong orang yang sudah mati.


Tapi aku tahu pertemuan itu adalah takdir dimana bagiku adalah kesempatan namun bagi Akbar itu adalah petualangan, bahkan aku sendiri setuju jika awalnya menyebut hari itu adalah petualangan…dimana pertama kami menganggap petualangan pertama kami sudah gagal di awal tapi Tuhan menghendaki dengan kebaikan hingga kami berhasil di akhir walau dengan sedikit keberuntungan. Bisa kupikir bagiku tentang petualangan ini adalah “bukan awal dan akhir”

__ADS_1


BAB VII "AWAL DAN AKHIR...?".... SELESAI


__ADS_2