INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
SELING 6


__ADS_3

“Jelangkung..jelangkung, datanglah ke pestaku. Datang tak dijemput, pulang tak di antar” demikian bunyi syair yang datang akan mendatangkan roh itu


Namun rupanya, sebenarnya bukan itu mantra ritual jelangkung. Kata-kata yang yang aku dengar waktu itu. Lebih menakutkan. Lebih gelap.


“Hong Hiyang Ilaheng Hen Jagad Alusan Roh Gentayangan Ono'e Jelangkung Jaelengsat siro Wujud'e Ning kene Ono Bolon'e Siro Wangsul Angslupo Yen Siro Teko Gaib Wenehono Tondo Ing Golek Bubrah Hayo Enggalo Teko Pang Rupundango Hayo Ingdang Angslupo Golek Wujud..Wujud..Wujud! ” begitu bunyi mantera itu


Saat itu adalah malam Jum’at, dimana aku habis bermain semalaman bersama teman di masjid dan menuju pulang ke rumah.


Namaku adalah Iis, anak desa yang tidak jauh dari pemukiman kota, mungkin sulit untuk mengatakan kota karena ini terjadi 20 atau 21 tahun yang lalu.


Dimana kota dan desa masih sebuah hutan belantara, hanya sawah dan pohon rindang di tanah yang becek.


Budaya perkotaan masih belum meningkat, masih banyak masyarakat yang percaya pada ilmu gaib dan sebagainya.


Termasuk juga kakek dan tetanggaku, masih terikat dan percaya pada mitos makhluk halus.


“saiki wis teka, arep ngomong apa lan nggawa kurban” suara dari seorang teman kakek


Penampilan seperti seorang dukun dan memiliki kemampuan supranatural, di dekatnya saja sudah seperti ada aura gelap menyelimuti.


Duduk di bawah pohon besar, mereka berdua siap melakukan suatu ritual, menggunakan boneka yang terbuat dari batok kelapa, di gunakan pakaian, dan si persiapkan berbagai macam sesajen.

__ADS_1


Aura mistis itu sangat terasa sampai ke jalanan, aku yang tidak sengaja melihat pun lari tanpa henti.


Namun suara dari pemanggilan itu entah kenapa tidak bisa berhenti berdegung di kepala, dengan bahasa Jawa yang kental seperti teman kakek itu kepala ku pusing saat berlari.


Jalanan saat itu hanya ada tanah yang becek dan berlumpur, sudah pasti sulit untuk dilalui, mau itu berjalan maupun menggunakan kendaraan.


Di pinggir kanan dan kiri hanya ada pepohonan kapas dan kelapa, besar dan tinggi, menutupi sinar bulan menyinari tanah yang aku pijak.


“Srek..srek..srek!”


Suara aneh dari semak dan atas pohon semakin menjadi, aku terus berlari namun tidak pasti, saat sudah hampir sampai ke rumah.


Aku melihat seseorang duduk di atas pipa gas, di sebelah lorang rumah, wajahnya tertutup rambut, tapi aku tidak peduli dan terus lari.


“kowe melu aku?”


Sebuah kata Jawa yang bisa aku mengerti, dengan tegas ku jawab,


“Aku ora melu kowe!”


Sesaat aku langsung sadar, bangun dari tidur, sudah banyak orang mengerumuni ku, dan sadar aku berada di rumah saat pagi hari.

__ADS_1


“Kau dak apo-apo Is?” tanya kakek


“Iyo kek, ini ado apo?”


“Tadi malem kau pingsan di jalan, sukur biso bangun, lain kali ati-ati” nasihat kakek


Teman kakek ku pun mendekat pada nya, seraya menatapku, walau agak ramai tapi aku bisa mendengar nya pelan,


“putumu sing dituruti dedemit”


Aku ingat semua yang terjadi malam itu, dan di dalam hati aku menyalahkan kakek dan temannya yang bermain Jailangkung di saat aku disana.


Tapi itu semua bukan pertama kali kejadian aneh muncul di desa kami, beberapa saat lalu dan sekarang semua berubah.


Dedemit seperti kuntilanak dan pocong sering muncul di pinggiran pohon, seakan menunggu manusia seperti mangsa.


Genderuwo pun menunjukan eksistensinya, banyak orang yang melihat dirinya sering menyebrang jalan dan menganggu orang berkendara.


Lalu tuyul dan babi ngepet pun menjadi topik dan kutukan di masyarakat, dimana mereka sudah sering mencuri uang orang lain.


Perburuan dedemit pun merajalela saat itu, dimana semua orang mencari siapa dalang dari pencurian itu.

__ADS_1


Beruntung kakek ku hanya membuat ilmu kebal dan penjagaan, bukan untuk mencuri tapi hanya melindungi diri. Tapi aku masih terus berpikir apakah itu benar atau salah?


SELING 6....SELESAI


__ADS_2