INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”

INDIGO “SANG TAK KASAT MATA”
RUMAH TUA 8


__ADS_3

(Rumah Tua, Hutan Pagar Alam)


Cindi tidak tahu ada makhluk berbahaya seperti itu di rumah tua, aku melihat mata nya terpejam seakan tidak ingin melihat sekeliling.


Bahkan aku yang penakut harus memaksakan diri untuk bergerak, lalu apa jadinya harapan yang aku pegang sekarang tidak berguna.


Akhir dari semua ini akan sama jika kami hanya lari dan bersembunyi, tapi melawan tidak mungkin, seorang dukun pun pasti akan lari dari makhluk seperti itu.


“Pegi! Pegi!Pegi!”


Suara menggema di seluruh rumah dan telinga ku berdengung kencang, kata yang ia ucapkan mengartikan bahwa kami harus pergi. Seharusnya kami tidak masuk ke dalam wilayah makhluk ini, jadi ada yang aku pikirkan sejak awal.


“Kenapa kami terjebak disini?”


Seakan ada yang menjebak, jika bukan siluman ular itu lalu siapa, makhluk apa yang mengincar kami. Malam ini sangat mengerikan, aku sudah tidak bisa berpikir lebih jauh. Yang terjadi biarlah terjadi, aku akan terus berlari hingga akhir bersama Cindi.


“Hei, kita, kita harus pergi dari sini!”


Cindi yang kehabisan nafas berteriak padaku,


“Aku tahu itu! Tapi mau lari kemana?”


Cindi melepaskan tangan nya dari ku, ia mengeluarkan sebuah boneka jerami dan pisau kecil dari jaket. Aku mundur sedikit karena pasti ia akan melakukan sesuatu yang gila, tapi aku juga ingin melihatnya.


“Aku tahu jika kau memiliki kemampuan baru, Ferdi. Jadi aku juga sama, aku tidak akan kalah”


Kemampuan baru? Apa maksudnya? Apa dia membahas tentang Paku Bumi dan do’a yang aku pelajari dari Pakde Sobri. Aku juga baru ingat memiliki kemampuan itu, meski kecil kemungkinan bisa selamat. Dan tidak ingin kalah, apa yang sebenarnya dia bicarakan, padahal dia lebih hebat dariku.


“Dari mana kau tahu?”


“Aku selalu mengawasi mu, Ferdi”


Mengawasi? Setiap hari bahkan di waktu pribadi, pikiran ku melayang setelah mendengar ia mengatakan sesuatu seperti stalker. Cukup menakutkan bahwa dia memperhatikan dari kejauhan, dan dia menggunakan teman nya untuk menguntit.


“Aku tidak tahu kau seorang stalker”

__ADS_1


“Lebih baik begitu daripada aku kehilangan teman yang sama”


Teman, benar juga kalau aku menggunakan kemampuan ini untuk melindungi diri, dan berakhir untuk tidak ikut campur dalam masalah supranatural lagi.


Takdir mungkin tidak bisa disalahkan, begitu aku mempelajari sedikit tentang mereka, aku menjadi tenggelam terlalu dalam.


“Haa, kenapa aku selalu terlibat dengan masalah begini terus?”


Cindi menatap ku dan tersenyum,


“Mungkin karena kau menarik…”


Jawaban yang tidak kusangka dari Cindi, sepertinya ia berubah menjadi sedikir berbeda. Padahal dulu ia selalu dingin padaku dan sedikit bicara,


“Begitukah?”


“Ya, jadi aku yakin kita sama. Kuharap pikiran kita saat ini juga sama”


Berhenti berpikir negative, dengan berbicara sebentar saja ketakutan ku hilang. Mencoba mengingat kembali kemampuan ku yang tidak biasa dan juga Cindi yang masih bisa menjadi bantuan.


“Kau ingin aku menghadapi mahkluk itu, bukan?”


(Ainur, Rumah Paman Ferdi)


“Paman, aku ingin bertanya sesuatu”


“Siapa adek?”


Paman dan Bibi Ferdi mendekatiku, ibu Ferdi yang tidak berhenti menangis masih ditenangkan oleh mama. Ayah duduk di luar sambil meminum kopi, sedangkan ayah Ferdi berusaha untuk menemukan Ferdi di dalam hutan.


“Saya Ainur, saya teman Ferdi”


“Kalau tidak salah, adek yang jalan sama Ferdi lewan hutan kan?”


Aku ingin informasi yang banyak dan valid, jadi aku juga harus jujur dalam keadaan sekarang. Ferdi pernah membantuku, jadi aku bisa membantunya jika menemukan sebuah petunjuk.

__ADS_1


“Iya, saya dan Ferdi lewat sana tadi”


“Lalu apa adek melihat Ferdi lari kemana? Atau dia mengatakan ingin pergi kemana?”


“Tidak, sejujurnya saya tidak ingat kenapa ini bisa terjadi. Namun sebelum itu saya sadar bahwa Ferdi lari ketika melihat sesuatu, dia kembali ke jalan masuk tapi setelah itu saya kehilangan kesadaran. Saat sadar saya sudah sampai ke tempat mama”


Paman dan Bibi Ferdi saling menatap,


“Apa kalian melewati rumah tua di dalan hutan?” tanya Bibi Ferdi


“Iya, kami lewat sana”


“Apa disana kalian mendengar suara orang memanggil?”


“Suara orang? Tidak, saya tidak mendengarnya. Memangnya kenapa, bibi”


“Sebenarnya, ada sesuatu di rumah tua itu”


Bibi akhirnya ingin bercerita, aku langsung mengambil posisi siap mendengarkan.


“Apa itu bibi?”


“Di dalam rumah itu ada penunggu, katanya dulu bekas penjajahan Belanda, sekarang jadi ditinggalkan. Katanya banyak orang yang melihat sosok ular raksasa disana, ada juga yang melihat noni belanda selalu berdiri di depan pintu rumah tua”


“Jadi suara orang yang memanggil itu adalah ulah makhluk itu? Apa mereka berdua itu sama?”


“Untuk itu bibi tidak tahu, namun ada yang lebih penting dari dua penampakan itu”


“Penting?”


“Bukan penting saja, tapi yang berbahaya, lebih berbahaya dari penunggu yang ada di rumah tua itu”


Ada yang lainnya? Apa makhluk itu yang menyebabkan semua ini. Lalu kenapa hanya Ferdi yang hilang dan aku bisa selamat, bukan sebuah kebetulan jika aku memiliki pengawal.


“Lebih, bahaya?”

__ADS_1


“Iya, nenek turun gunung. Mbah Jago!”


BERSAMBUNG…..


__ADS_2