
Darren memainkan pedangnya. Dengan wajah santai ia berbicara pada Clara yang mengalami krisis mental dalam pikirannya.
"Aku memberi mu satu kesempatan, Clara," Ucap Darren. "Beritahu aku semuanya tentang Raja Iblis Sejati dan biarkan kami pergi dengan damai. Dengan begitu, aku takkan perlu menggoreskan pedang ini kepada mu."
Clara menatapnya. "Tidak bisa. Meninggalkan mu hidup-hidup terlalu beresiko. Aku tidak bisa menjamin kalau Raja Iblis Kegelapan tidak akan menangkap mu."
Di saat itu, Darren tersadar akan perkataan Clara. Semua ini ia lakukan hanya untuk mencegah rencana Raja Iblis Kegelapan untuk menangkapnya.
Ia mungkin berusaha melakukan yang terbaik untuk keselamatan dunia nya. Tapi, Darren tidak bisa setuju dengan cara itu. Ia sendiri tidak mau mati sekarang, dan ia tidak mau Bagus mengalami hal serupa.
"Aku paham dengan tekad mu. Tapi, pasti ada cara lain yang lebih baik untuk mengatasi hal tersebut," Ucap Darren. "Aku juga memiliki tujuan yang sama. Yaitu mengalahkan Raja Iblis Kegelapan dan mencari tahu tentang kebenaran dunia ini. Dengan begitu, kita bisa menciptakan dunia yang damai tanpa peperangan."
Clara hanya menatapnya tanpa berkata-kata. Darren pun berusaha meyakinkannya lagi.
"Kita bisa menyelesaikan ini, tanpa harus mengorbankan nyawa seseorang," Ucap Darren.
Clara langsung menyahut. "Jangan naif, Darren-kun," Ucapnya. "Kau pikir kau bisa menyelamatkan nyawa semua orang sambil berusaha mewujudkan impian mu?"
Clara meneruskan dengan nada bicara yang keras. "Jangan pikir kau bisa melakukannya. Untuk melakukan hal yang benar, kita terkadang harus meninggalkan dan mengorbankan sesuatu yang kita cintai. Berhentilah berpikir bahwa kau akan menjadi pahlawan yang bisa menyelamatkan nyawa semua orang. Jika kau terus berpikir begitu, pada akhirnya kau hanya akan ditimpa rasa bersalah karena tidak bisa menyelamatkan orang terdekat mu!"
Darren merasa kaget mendengar perkataan Clara. Ia berusaha meneguhkan pendiriannya. "Tidak, ku yakin pasti ada jalannya. Apapun itu, semua orang harus selamat."
"Sudah ku bilang, berhentilah!" Teriak Clara, mengheningkan seisi ruangan. "Beribu tahun lamanya. Banyak perang telah terjadi di dunia ini. Jika kita tanyakan kenapa alasannya, mereka pasti berpikir bahwa itu adalah perang untuk mewujudkan perdamaian. Tapi nyatanya, mereka hanya membuang-buang nyawa untuk hasil yang tidak pasti."
Clara menyambung. "Dan kau di sini, berpikir untuk menciptakan dunia yang damai sambil percaya bahwa tak ada nyawa yang harus dikorbankan. Omong kosong!"
Clara memasang wajah muak sambil meneruskan perkataannya. "Kau pikir sudah berapa banyak nyawa yang melayang agar kau bisa sampai ke sini? Apa mereka semua bersalah? Tentu saja tidak. Mereka hanyalah orang-orang tidak bersalah yang mati karena keegoisan mu."
Darren menundukkan wajahnya. Ia mulai paham apa maksud Clara dan merasa semua perkataannya masuk akal.
Clara mendengus. Ia menatap Darren dengan kekecewaan dan kemudian melipat tangannya.
"Jika kau memang ingin mewujudkan kedamaian di dunia ini. Maka matilah. Serahkan nyawa mu pada ku. Dengan begitu, perang besar selanjutnya bisa dicegah," Ucap Clara.
Darren sempat merenung sesaat. Wajahnya jadi putus asa dan tatapan matanya kosong.
"Mungkin kau benar, Clara-san," Ucap Darren. "Mungkin semua ucapan mu itu benar."
Darren meneruskan. "Mungkin memang sedari awal aku seharusnya mati. Namun aku malah membiarkan orang-orang mati untuk ku."
Terbesit dibenak Darren tentang masa lalunya.
"Yuzuna, Rolf, Hayate, Remi, dan yang lainnya. Mungkin memang akulah yang seharusnya mati, bukan mereka. Andaikan aku tidak datang ke sini, mereka pasti sedang hidup damai sekarang."
Darren berdiri dan berjalan mendekati Clara. Clara pun menatapnya dengan wajah tersenyum lebar.
"Kau membuat keputusan yang benar. Mati untuk orang lain bukanlah kematian yang memalukan. Tapi itu adalah kematian yang terhormat," Ucap Clara sambil menarik sabitnya. "Akan kupastikan nama mu terukir dalam sejarah."
Tiba-tiba, Shiro berteriak dari balik api yang berkobar.
"Darren-sama, hentikan semua ini!" Teriaknya. "Apa yang kau katakan itu salah!"
Darren menoleh. Ia melihat wajah Shiro dari kejauhan. Pandangannya emang sedikit rabun, namun entah kenapa wajah Shiro seakan bercahaya dalam penglihatannya.
Shiro melanjutkan teriakannya. "Apa kau benar-benar berpikir kalau keberadaan mu hanyalah bencana? Itu salah! Jika kau tidak datang, aku pun tidak mungkin akan berada di sini sekarang."
Tora ikut maju. Ia menegakkan badannya. "Itu benar, Darren-sama. Kau juga lah yang telah menyelamatkan ku waktu itu," Ucap Tora. "Jika kau tidak datang. Mungkin aku masih disiksa mati-matian di tempat busuk itu."
Mata Darren yang kosong perlahan kembali bersinar. "Teman-teman..."
"Darren-kun, jangan dengarkan mereka!" Clara tiba-tiba berteriak.
Namun tiba-tiba Bagus berteriak membalas. "Darren, apa kau tega membiarkan keluarga mu bersedih jika mereka kehilangan mu?" Ucap Bagus, ditengah posisinya yang terjebak.
"Kau pernah bilang, kan. Bahwa kau telah merelakan mereka yang di sana dan ingin tinggal bersama keluarga mu yang sekarang," Terusnya.
Darren menunduk lesu. "Tapi, aku tidak punya keluarga di sini."
"Siapa bilang?" Balas Shiro menyambung. "Aku dengan senang hati akan menjadi keluarga mu! Tidak peduli dari mana asalmu. Aku hanya ingin berada di samping mu selamanya, Darren-sama!"
Tora yang berdiri di sampingnya tersenyum kecil. "Ya, Darren-sama. Aku pun akan setia berdiri disamping mu, apapun yang terjadi."
Seketika itu juga, mata Darren langsung cerah. Wajahnya seakan dipenuhi cahaya.
"Shiro..., Tora..." Ucap Darren pelan. Matanya kini bersinar dipenuhi tekad.
Ia berbalik menghadap Clara dan berkata. "Tidak peduli apa yang terjadi. Bahkan jika dunia kiamat sekalipun. Aku akan melindungi keluarga ku."
"Kau!" Balas Clara sambil segera mengayunkan sabitnya.
Namun Darren langsung menangkisnya dengan pedang dan memberikan serangan balasan. Ia menebas Clara dan berhasil melukai tangannya.
"Ada apa dengan pergerakannya ini? Ia menjadi lebih cepat," Ucap Clara panik.
Clara melompat mundur seraya melemparkan bola api. tapi saat ia melihat ke depannya, Darren sudah tidak ada di situ.
"Gawat, ia menghilang lagi," Ucap Clara dengan mata melotot. Ia melebarkan pandangannya, berusaha mencari kemana Darren berpindah.
"Ia tidak ada di mana-mana," Ucap Clara lagi. Ia menjadi semakin cemas. "Apa yang kau rencakan kali ini, Darren-kun?"
"Boulder Smash!" Sebuah bongkahan batu di bawah Clara berpijak menjulang keluar.
Clara terkejut. Dengan sigap ia menebaskan sabitnya dan membelah batu itu menjadi dua.
"Dia tidak ada di sini," Clara menduga Darren berada di balik batu itu, tapi nyatanya tidak ada.
"Boulder Smash!" Suara Darren kembali terdengar. Namun kali ini, tanah bergetar hebat.
Clara berusaha menjaga keseimbangannya. Namun saat ia berhasil berdiri tegak, ia tersadar bahwa ia telah jatuh ke dalam perangkap Darren.
Puluhan bongkahan batu yang besar mengelilingi Clara dari berbagai arah. Mengitarinya dan bersiap menghantam Clara secara bersamaan.
Boom! Terdengar hentakan kuat. Tak lama kemudian, batu-batu itu melayang tepat ke arah Clara.
Clara dengan reflek menyiapkan posisinya, bersiap untuk menghancurkan semuanya yang datang.
Ia melebarkan pandangannya lebih lebar lagi agar bisa melihat segalanya yang datang kepadanya.
Ketika batu-batu itu meluncur ke arahnya, ia pun sudah bersiaga dan siap untuk mempertahankan dirinya.
Satu persatu, batu yang melontar ke arahnya dihancurkannya. Dengan koordinasi antara serangan sabit dan serangan tangan kosongnya, ia berhasil menghancurkan semuanya hingga tak ada yang tersisa.
Batu yang terakhir pun melayang ke arahnya. Dengan kekuatan penuh, Clara menghujamkan tangannya ke arah batu itu.
Seketika, batu itu hancur. Namun, Darren tiba-tiba muncul dari dalam batu itu tanpa peringatan. Membuat Clara terkejut karena tak menduganya.
Darren muncul dengan pedang yang teracung ke depan. Tak perlu banyak tenaga, Darren berhasil mengenai sisi kanan perut Clara dengan mudahnya.
Itu membuat Clara terluka cukup parah. Walau dengan regenerasi tingkat tingginya, luka tersebut tetap akan membutuhkan beberapa waktu untuk sembuh.
"Aghh," Rintih Clara. Ia kemudian mendapati Darren berdiri di depannya dengan pedang teracung ke lehernya.
"Menyerahlah, Clara-san," Ucap Darren.
Clara langsung membalasnya. "Cepat, hunuskan pedang mu kepada ku," Katanya.
__ADS_1
"Aku tidak mau membunuhmu," Balas Darren.
Clara menunjukkan wajah jengkel. Bukan karena ia kalah, namun karena Darren lagi-lagi menunjukkan sifatnya itu.
"Bunuhlah aku sekarang. Aku benci melihat sifat naif mu itu," Ucap Clara. "Aku tidak butuh rasa kasihan mu. Aku juga tidak mau hidup dengan membawa hutang budi."
"Jangan salah sangka dulu," Balas Darren. "Ini bukan dari rasa kasihan. Tapi aku punya alasan lain untuk membiarkan mu hidup."
Clara mengangkat alisnya. "Lalu apa itu? Ku harap kau tidak mengatakan alasan yang sama-sama naifnya."
Darren melanjutkan. "Setelah mendengar penjelasan mu tentang Raja Iblis Kegelapan, dan perang besar yang kemungkinan terjadi. Aku jadi sadar betapa berbahayanya keberadaan ku, hingga bisa menimbulkan terjadinya perang secara tidak langsung."
"Jadi, apa kau berniat mau mati?"
"Tidak, bukan itu. Aku tidak ada niatan sama sekali untuk mati," Balas Darren dengan nada gurau.
"Sayang sekali. Padahal ini kesempatan yang bagus," Ucap Clara sambil tertawa kecil, seraya memegangi perutnya. "Lalu, apa mau mu?"
"Aku pikir, kita bisa membentuk aliansi," Jawab Darren.
"Aliansi?"
"Ya. Kita bisa menggabungkan kekuatan. Semakin banyak tenaga, maka semakin besar peluang kita mengalahkan Raja Iblis itu. Aku akan mengajak beberapa kerajaan manusia untuk bergabung juga!"
Clara menarik nafas. "Darren-kun, kau paham apa yang kau bicarakan, kan?" Ucap Clara. "Walau ribuan tahun telah berlalu, namun hingga saat ini, masih tetap saja mustahil bagi manusia dan monster untuk bersatu. Kau akan membutuhkan orang yang memiliki pengaruh sangat besar layaknya Dewa untuk mewujudkan itu."
Darren merenung sejenak. "Tidak bisa kah kedua kubu membicarakan ini lagi?"
Clara menggeleng. "Kami para monster memiliki alasan kenapa kami dibenci. Dan itu merupakan kehendak dewa. Sekarang, sudah tidak ada cara untuk mengembalikan reputasi kami."
Darren menggaruk kepalanya sambil bertanya-tanya. "Dewa? Jadi kau juga menyembah Dewa?"
Clara langsung menutup mulutnya. Ia nampaknya tak mau membicarakan ini. Darren menyadarinya dan mencoba mengganti topik.
"Lagipula, aku tidak percaya pada Dewa di sini. Meski melawan takdir Dewa sekalipun, aku akan tetap berontak," Ucap Darren. "Aku punya keluarga sekarang. Dan aku akan melindungi mereka."
Clara tertawa cekikik. "Ha ha, kau lagi-lagi menunjukkan sifat mu itu. Aku benar-benar muak," Ucap Clara sambil tersenyum. "Yah, aku mengaku kalah sekarang."
Clara pun memadamkan api miliknya. Lautan api yang mengitari mereka padam, dan rantai yang mengikat Bagus terlepas.
Melihat Darren baik-baik saja, Shiro dan Tora langsung berlari menghampirinya. Sementara Hain berjalan perlahan menuju sisa-sisa pakaian Simson yang telah hangus terbakar.
"Darren-sama," Panggil Shiro seraya berjalan mendekat. Sementara Tora hanya mengikutinya dari belakang.
Shiro melompat ke dalam lengan Darren. Ia memeluknya dan hampir menangis di saat momen tersebut.
"Darren-sama, janjilah padaku jangan mengulangi itu lagi," Ucap Shiro dengan nada yang terisak.
Darren membalas pelukannya. Ia membalas dengan lembut. "Iya, aku janji. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu," Ucap Darren. "Lagipula kita adalah keluarga sekarang. Aku juga tidak mau membuat keluarga ku bersedih karena kepergian ku."
Clara menghela nafas. Sungguh sebuah pemandangan yang langka baginya bisa melihat kedua ras yang berbeda saling memahami satu sama lain.
Darren kemudian berpaling pada Clara. "Begitu juga dengan mu, Clara," Ucapnya. "Jagalah nyawa mu sendiri. Dyland-san mungkin akan sedih jika kau mati. Sekalipun kau tidak menganggapnya sebagai kakak mu, ia akan tetap menganggap mu sebagai adiknya."
Clara tersenyum sambil menggeleng kecil.
"Tidak. Aku benar-benar menganggapnya sebagai kakak ku," Balas Clara. "Aku menghormatinya. Sejak hari dimana ia menyelamatkan ku dari beruang-- Tidak, tapi dari para pasukan Gereja."
Clara meneruskan. "Ia benar-benar menjaga ku dan memperlakukan dengan baik. Walau kadang sifatnya dingin, tapi sifatnya itulah yang selalu meredam api yang meluap-luap dalam diriku."
"Dia sangat menyayangi mu, ya. Dan kau juga sepertinya sangat menyayanginya," Ucap Darren.
Clara tersenyum lebar. "Yah. Sudah selayaknya sesama saudara untuk saling menyayangi. Tapi aku merasa bersalah karena tak pernah memberitahunya bahwa aku adalah Raja Iblis."
Tiba-tiba, terdengar suara dari arah lain.
Clara terkejut. "Dyland... kau sudah bangun."
Clara berusaha berdiri, namun kesulitan karena luka perutnya. Disitulah Darren mengulurkan tangannya dan membantunya berdiri.
Secepat mungkin Clara berjalan menuju Dyland. Dia mendekati kakaknya itu dan langsung mendekapnya.
"Kakak," Ucap Clara dengan nada rindu. Untuk sesaat, aura nya sebagai Raja Iblis seakan menghilang.
Awalnya ia nampak mengerikan dan berbahaya, namun sekarang ia hanyalah seorang adik yang sangat rindu pada kakaknya.
Dyland membalas dekapan Clara. Dengan wajah tersenyum ia mengatakan, "Ya ampun. Kau masih saja memanggil ku kakak. Padahal kau sendiri lebih tua seribu tahun dari ku."
Darren kemudian mengobati Dyland dan memberitahunya semuanya.
"Jadi begitu. Banyak sekali yang terjadi tiba-tiba ya," Ucap Dyland. Tapi ia menghadapi semuanya dengan wajah dingin seperti biasanya. "Tak ku sangka kalau Darren dan Bagus adalah manusia dari dunia lain, Clara adalah Raja Iblis, dan ternyata Simson sudah tiada."
Semua orang mengangguk.
"Soal Simson... Itu adalah salah ku," Ucap Bagus. "Ia mengorbankan nyawa nya demi ku."
"Tidak. Simson tidak sebodoh itu untuk menyelamatkan seorang musuh. Ia pasti sudah menganggap mu sebagai kawannya," Ucap Dyland. "Tolong. Jagalah nyawa yang telah ia berikan pada mu. Jangan sia-sia kan."
Bagus tersenyum berat sambil mengangguk. "Baik."
"Tapi ada satu hal lagi yang ingin ku tanyakan pada mu, Bagus," Sambung Dyland.
"Apa itu?"
"Ini terkait masa lalu ku dulu," Sambung Dyland.
Dyland kemudian menceritakan masa lalunya, tentang kejadian aneh pada ayahnya. Dimana ayahnya seakan dipengaruhi pikirannya dan berakhir bertarung dengan rekannya sendiri.
"Apa kau terlibat dalam kejadian itu?" Tanya Dyland, mengingat bagaimana Bagus bisa mempengaruhi ingatan orang-orang.
"Aku tidak tahu tentang itu," Balas Bagus. Wajahnya juga tidak nampak menyembunyikan kebohongan. "Aku baru tiba di dunia ini sejak dua bulan lalu."
"Begitu ya. Kalau begitu terimakasih sudah menjawabnya. Aku tidak bermaksud menuduh mu," Ucap Dyland.
Tapi perhatian Darren malah tertuju pada jawaban Bagus tersebut. "Tunggu. Jadi Bagus baru dua bulan di sini?" Pikirnya dalam hati. "Tapi dia kan berasal dari tahun dua ribu empat. Bukankah seharusnya ia tiba beberapa puluh tahun lebih cepat?"
Clara melihat Darren yang melamun. "Darren-kun, ada apa?" Tanya Clara. "Apa kau takut kalau kami akan membocorkan informasi tentang asal mu dari dunia lain?"
Darren terbangun dari lamunannya. "A-Ah, soal itu juga."
Clara meneruskan. "Jangan khawatir. Aku akan merahasiakannya. Akan kupastikan tidak ada orang lain lagi yang mengetahuinya," Katanya. "Lagipula aku juga tidak mau keberadaan ku sebagai Raja Iblis ketahuan."
Dyland menyahut. "Kalau orang-orang tahu bisa kacau. Memang sebaiknya kita tutup mulut soal kejadian ini," Ucapnya.
"Lalu, akan kita apakan Jenderal itu?" Sambung Dyland, menunjuk ke arah Michael yang nampak lemas dengan kaki yang masih terjebak.
Melihatnya, Darren langsung mengeluarkan pedangnya.
"Bolehkah aku membunuhnya?" Tanya Darren. Namun langsung dilarang oleh Clara.
"Sebaiknya jangan," Ucap Clara sembari menenangkan Darren. "Aku tahu kau mungkin punya sejarah yang panjang dengannya. Tapi tolong ditahan dulu untuk sekarang."
"Mungkin kita bisa menggali beberapa informasi tentang Gereja Suci," Sambung Clara.
Walau ia sendiri merasa geram hanya karena melihat wajah Michael, namun Darren berpikir kalau alasan Clara cukup logis.
__ADS_1
Lagian, Darren juga cukup tertarik akan alasan Gereja Suci di balik ini semua.
Darren mengangkat pedangnya dan berjalan menghampiri Michael. Ia pun menodongkan senjatanya dengan wajah siap membunuh Michael kapan saja.
"Beritahu kami semuanya tentang rencana Gereja Suci itu," Darren memulai interogasinya. "Cepat jawab sekarang atau akan ku gorok leher mu itu."
Darren sebenarnya tidak mengharapkan jawaban dari Michael. Yang benar-benar ia tunggu hanyalah mencari kesempatan untuk membunuhnya.
Lagipula, ia sendiri percaya kalau Michael tidak akan mengatakan apapun. Jadi ia hanya perlu menunggu saatnya untuk menghunuskan pedangnya.
"Ini semua karena mu, dasar kriminal," Itulah hal pertama yang Michael katakan.
"Apa-apaan maksud mu?" Balas Darren.
"Kau... kau menyusup ke dunia kami. Kau membunuh pasukan kamu. Dan karena mu, Raja Iblis itu menghancurkan kerajaan kami."
Ah, Darren paham sekarang. Nampaknya Michael mendengar percakapan mereka tadi. Dan karena nama Raja Iblis Kegelapan muncul, ia mengira kalau Darren lah yang memancing Raja Iblis itu untuk menghancurkan Erobernesia.
Michael melanjutkan. "Kenapa kau tidak mati saja sana. Karena mu juga Taiji mati."
Darren menjadi jengkel karena sikapnya. Tangannya mulai tegang karena tak kuasa menahan diri untuk langsung menyerang leher Michael.
"Clara-san, tidak ada informasi apa-apa lagi yang bisa kita dapat darinya," Ucap Darren pada Clara. "Biarkan aku membunuhnya sekarang juga."
Clara menghela nafas. Ia kira Michael bisa memberikan informasi yang lebih penting, namun ekspetasinya hancur saat itu juga.
"Baiklah. Bunuh saja dia. Ia sudah tidak berguna," Ucap Clara.
Seringai lebar langsung terlintas di wajah Darren. Ia menunjukkan senyum kejamnya pada Michael, berharap mengintimidasinya sebelum mati.
"Benar kan apa ku bilang," Ucap Darren sambil mengangkat pedangnya. "Akan ku cari kau sampai ketemu. Dan sekarang, kau di depan ku tanpa senjata layaknya hewan yang siap disembelih."
Tiba-tiba, Hain berteriak dari jauh.
"Semuanya!" Teriaknya, yang dimana mengejutkan semua orang.
"Ada apa, Hain?" Sahut Clara.
"Lihatlah!"
Hain menunjukkan jarinya ke arah mayat Pendeta Suci berada.
"A-Apaan itu?" Ucap Darren yang ikut menoleh, dikejutkan dengan apa yang ada di depannya.
Mayat Pendeta itu bergerak dengan kepala yang sudah hancur. Pergerakannya memang tidak membahayakan, namun ini cukup aneh karena Pendeta itu seharusnya sudah mati dari tadi.
"Apa itu zombie?" Itulah kesan pertama yang Darren pikirkan.
Mayat itu mulai bergerak membabi buta di tempat, layaknya orang yang kejang-kejang. Tangannya dan kakinya bergerak paksa mematahkan sendi yang tak seharusnya bergerak.
Mendadak sebuah siluet buram muncul keluar dari mayat itu. Silut itu hanya bertahan beberapa detik sampai akhirnya menghilang tanpa alasan.
"Apaan itu tadi?" Ucap Hain.
Sementara kebanyakan ekspresi orang-orang lebih ke arah terkejut, di situ ekspresi Clara lah yang menunjukkan hal berbeda.
"Gawat, cepat jaga diri kalian masing-masing!" Teriak Clara.
Semua orang tidak terlalu paham dengan apa yang terjadi. Apa ini sebuah serangan balik? Atau hanyalah sebuah senjata bunuh diri yang dilancarkan mayat itu?
"Clara-san, apa yang terjadi?" Tanya Darren tanpa meninggalkan kewaspadaannya.
"Pendeta itu, mencari tubuh baru," Balas Clara. "Saat tubuh fisiknya mati. Ia akan melepaskan jiwa-nya sendiri dan berterbangan mencari rumah baru. Ia akan merasuki fisik seseorang dan mengambil alihnya. Setiap ia mengalami kematian, ia akan membuang tubuhnya dan mencari yang baru. Dengan begini, ia bisa hidup untuk waktu yang sangat lama. Bahkan bisa dibilang abadi."
Darren langsung paham akan situasinya. Ia segera memerintahkan Shiro dan Hain untuk saling waspada dan memperhatikan perubahan yang muncul.
"Semuanya jangan berisik! Jadi kita bisa melihat tubuh siapa yang dirasuki," Ucap Clara.
Semua orang langsung menutup mulut mereka. Seketika, ruangan tersebut langsung sunyi. Saking heningnya, mereka bisa mendengar suara angin yang bertiup.
Mata mereka juga terbuka lebar seraya melayangkan pandangan kepada satu sama lain. Satu pergerakan yang mencurigakan, maka bisa jadi orang tersebut sudah dirasuki.
Momen hening itu terjadi cukup lama. Hingga beberapa menit akhirnya berlalu, dan tidak ada tanda-tanda kerasukan di antara mereka.
"Bagus? Clara?" Darren mencoba memastikan teman-temannya. "Dyland? Shiro? Tora?"
Semua orang mengangguk kecil sebagai respon. Itu meyakinkan mereka kalau jiwa Pendeta itu tak ada diantara mereka.
"Lalu, siapa kira-kira?" Tanya Clara.
"Dasar bodoh. Ha ha ha!" Tiba-tiba Michael tertawa. "Kalian pikir kalian bisa membunuhku secepat itu?"
Semua orang langsung berbalik menatapnya dan pikiran mereka menjadi satu. Ya, Michael pasti telah dirasuki jiwa Pendeta itu.
Dengan kaki yang masih menyatu dengan tanah, Michael tidak akan bisa bergerak. Itu cukup menenangkan bagi Darren dan kawan-kawan, karena itu berarti jiwa si Pendeta tidak bisa kemana-mana.
"Hey pak tua. Sebaiknya kau sadar diri," Ucap Darren. "Kaki tubuh baru mu itu sedang diikat oleh Teknik Spirit. Kau tidak bisa kemana-mana."
Michael menyeringai. "Kau pikir itu cukup untuk menahan ku?" Ucapnya.
Michael mengangkat tangannya ke atas secara perlahan. Bentuk tangannya tidak seperti mengarahkan sebuah mantra.
Dengan jari-jarinya, ia pun menjentikkan jarinya. Dan disaat itu pula, Hain tiba-tiba ambruk dari posisi berdirinya.
Semua orang terkejut. Tatapan mereka langsung tertuju pada Hain yang pingsan.
"Hain!" Teriak Tora seraya berlari ke arahnya.
Mata Darren masih memproses apa yang terjadi. Ia pun berbalik kepada Michael dan melihat ia sudah keluar dengan kaki yang terbebas.
"Kau--" Ucap Darren syok. "Bagaimana ia bisa terlepas? Bukankah seharusnya teknik spiritnya tetap aktif walau penggunanya tumbang?"
"Kau tidak tahu?" Ucap Michael, seakan ia membaca pikiran Darren. "Jurus yang ku pakai ini adalah jurus untuk menghancurkan jiwa suatu individu. Jadi, walau teknik spirit umumnya takkan patah walau penggunanya tidur atau pingsan, dengan sihir ini aku bisa menghancurkan spirit itu sendiri."
"T-Tunggu, kau menghancurkan jiwa Hain?" Balas Darren.
"Tidak. Dengan tubuh Michael yang lemah ini, aku tidak bisa melakukannya. Aku hanya bisa melumpuhkan jiwa nyanya saja. Sungguh merepotkan."
"Sialan," Darren langsung menggenggam pedangnya dan menyerang Michael.
Tapi Michael melakukan hal yang sama. Kali ini ia menjentikkan jarinya lagi dan melumpuhkan jiwa Darren.
Bupp! Dentuman keras terasa di tubuh Darren. Ia merasakannya dengan jelas dan semakin kesulitan menggerakkan tubuhnya.
"Sial, aku terkena sihirnya," Gerutu Darren dalam hati.
Ia pun menoleh ke arah teman-temannya dan melihat semua orang tergeletak di tanah. Kecuali Clara. Ia nampak berdiri diam tanpa melakukan apapun dengan wajah ketakutan.
Michael berpaling dari dirinya. Ia pun melangkah keluar dari ruangan tersebut. Namun sebelum keluar, ia sempat menoleh pada Darren sedikit.
"Nampaknya kau ingin membunuh pemuda ini ya," Ucap Michael sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri. "Tenang saja. Ia sepenuhnya milik mu. Aku akan pergi dari tubuh ini besok. Jadi jika kau ingin membunuhnya, aku takkan menghalangi."
Tatapan Darren langsung padam saat itu juga. Ia kehilangan kesadaran dan merasa pikirannya kacau karena sihir itu. Ia pun tergeletak dan pingsan bersama teman-temannya.
.
__ADS_1
.
.