Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Pradana Penuh Penyesalan


__ADS_3

"Brankasnya terbobol!?" Dyland terkejut mendengar kabar itu. "Bagaimana bisa? Bukankah para tentara sudah menjaganya? Dan juga, Hain seharusnya sudah mengunci pintu masuknya dengan teknik spirit."


Dyland segera menoleh ke arah Darren. "Maaf, aku harus pergi." Ucapnya sambil melangkahkan kaki.


"Aku ikut," Ucap Darren tiba-tiba.


"Tapi kau masih terluka, dan juga Mana mu habis," Sahut Dyland.


"Tidak masalah. Aku akan tetap ikut," Balas Darren bersikeras. "Lagipula, salah satu teman ku juga berjaga di sana. Aku harus memastikan keadaannya."


Ini bukan saat yang tepat untuk berdebat, jadi Dyland pun membiarkan Darren mengikutinya.


Sekerumunan orang sudah berkumpul memenuhi di area itu. Kebanyakan dari mereka adalah warga biasa yang mengungsi ke sini karena kabur dari para tentara pemerintah.


Terlihat juga beberapa pasukan sedang menggeledah semua yang ada di sana. Tapi perhatian Darren langsung tertuju pada Tora dan Hain yang sedang duduk tidak jauh dari situ. Bagus juga terlihat sedang berbicara kepada pasukan-pasukan sekitar.


"Tora!" Panggil Darren sambil berlari menghampirinya.


Tora menoleh dan berdiri. "Esema, kau datang," Ucapnya dengan nada lemas.


"Ada apa? Apa kau baik-baik saja?"


Tora mengangguk. "Aku tidak apa. Tapi brankasnya..."


"Jadi penyusup itu sudah mulai bergerak ya. Tidak ku sangka kalau ia akan langsung menyerang brankas seperti ini," Sahut Dyland berjalan mendekat.


Hain langsung beranjak berdiri dan menyahut. "Ini salah ku. Teknik spirit ku masih belum sempurna."


"Simpan rasa sesal mu untuk nanti. Sekarang aku butuh saksi kalian," Ucap Dyland. "Apa kalian melihat wajahnya?"


Tora dan Hain menggeleng bersamaan.


"Ia menggunakan semacam kain untuk menutupi wajahnya," Ucap Hain. "Ia menyerang enam pasukan sekaligus, namun ia bisa dengan mudah membunuh semuanya. Aku dan Tora-kun pun ikut bertarung, namun ia berhasil melumpuhkan kami."


"Ya ampun. Ternyata ia kuat, ya," Ucap Dyland melipat tangannya. "Apa kalian ingat warna pakaiannya? Atau hal-hal lain yang menyangkut dirinya?"


Tora dan Hain kembali menggeleng. "Maaf, kami terlalu fokus pada pertarungan. Kami tak memperhatikan pakaiannya," Ucap Hain. "Ia sangat kuat. Kami benar-benar kesulitan melawannya. Andaikan kami tidak diselamatkan Bagus, kami mungkin sudah tewas seperti enam orang lainnya."


Darren langsung terkejut ketika mendengar nama Bagus.


"Bagus?" Ucap Darren.


Hain mengangguk. "Ya. Saat kami hampir pingsan, penyusup itu sudah kembali dari dalam brankas dengan batu sihir di tangannya. Ia kemudian hendak menghabisi kami, namun Bagus datang dan menyelamatkan kami berdua," Ucap Hain.


Darren mengerutkan wajah sambil memegangi dagunya. "Bagus bisa mengalahkan penyusup itu hingga membuatnya mundur. Bahkan Hain yang punya teknik spirit pun tidak bisa melawan. Apa itu berarti Bagus lebih kuat dari yang kubayangkan?" Batin Darren. "Ini semakin meyakinkan ku kalau Bagus datang dari bumi. Ia mempunyai bakat tertentu dan pastinya punya kekuatan unik."


Sementara, terdengar jelas Dyland menarik nafas berat. Wajahnya memperlihatkan ekspresi tidak puas. Seperti seorang polisi yang gagal memecahkan suatu kasus pembunuhan.


"Aku akan coba cari petunjuk di sekitar area brankas." Ucap Dyland. Ia kemudian menoleh pada Hain dan bertanya, "Hain, kau tidak terluka parah kan?"


"Tidak. Aku hanya mengalami luka kecil."


"Baguslah. Pergi dan laporkan pada Simson tentang semua yang kalian saksikan. Ia pasti akan mengambil jalan yang terbaik," Sambung Dyland. Setelah itu ia pergi tanpa sepatah kata.


Hain meregangkan badannya. "Ahh, pinggangku rasanya linu-linu."


"Tangan kanan ku juga terkilir," Sahut Tora.


"Tora-kun, sebaiknya kau pergi ke ruang pengobatan. Istirahatlah dan pulihkan keadaan mu," Ucap Hain. "Di sana juga ada dokter yang akan memulihkan mu."


"Lalu kau? Kau juga terluka, kan?"

__ADS_1


"Aku harus segera melapor pada Simson. Luka kecil ini takkan menghambat ku," Jawab Hain dengan senyuman di wajahnya.


"Apa kau tidak mau di antar?" Tanya Darren.


"Ah, tidak perlu. Aku bisa sendiri. Kalian rawat saja Tora-kun. Ia menerima banyak sekali pukulan tadi." Setelah itu, Hain pun melangkahkan kaki pergi dari situ.


Darren akhirnya bisa kembali berkumpul dengan kedua temannya. Ia mencoba mengobati Tora, namun tidak bisa menyeluruh karena Mana-nya yang menipis akibat pertarungannya sebelumnya dengan Clara.


"Sudah, Esema-sama. Tidak perlu memaksakan dirimu," Ucap Tora. "Aku akan ke ruang perawatan saja."


Tora berjalan meninggalkan Darren dengan langkah sempoyongan.


"Esema-sama, aku akan pergi menemani Tora-kun," Shiro berbisik di telinga Darren.


"Ya, baiklah. Aku akan tinggal di sini sebentar. Aku mau melihat-lihat," Balas Darren.


Shiro segera berlari menyusul Tora dan membantunya berjalan dengan menolongnya di pundaknya.


Darren menoleh dan melihat Bagus yang berjalan ke arahnya.


"Oh, Esema. Lama tak bertemu," Ucap Bagus sambil melambaikan tangan.


Darren membalas dengan senyuman simpul. "Bagaimana keadaannya?"


Bagus menggaruk kepala dan wajahnya terlihat lelah. "Agh, sangat buruk. Kami benar-benar tak menyangka kalau penyusup itu akan menyerang brankas secara tiba-tiba," Ucapnya.


"Ku dengar kau sempat melawannya, ya?" Tanya Darren.


"Ya. Kami sempat berhadapan. Tapi aku tidak bisa menghentikannya mengambil batu itu," Jawab Bagus. "Ia sangat kuat. Sudah termasuk beruntung aku bisa menyelamatkan Hain dan Tora. Sayangnya aku tak bisa menyelamatkan yang lainnya."


"Itu bukan salah mu," Ucap Darren. "Setidaknya kau berhasil menyelamatkan dua orang."


"Benar," Ucap Bagus dengan wajah lesu. "Ngomong-ngomong, kemana Hain dan Tora? Bukannya tadi mereka di sini?"


"Ku harap mereka berdua tidak mengalami luka berat," Ucap Bagus lagi. "Lalu, kau mau kemana?"


Darren menjawab. "Aku mau melihat-lihat sebentar. Aku mungkin bisa menemukan petunjuk."


Tiba-tiba seorang wanita muncul di hadapan mereka. Darren ingat kalau ia pernah melihat wajah itu di pertemuan sebelumnya.


Tiba-tiba wanita itu langsung menyambar perkataan Darren dengan nada keras. "Ha? Melihat-lihat?" Ucapnya dengan keras, seakan ingin semua orang mendengarnya.


Darren terdiam, begitu juga Bagus. Semua orang di sana langsung menoleh dan memperhatikan Marvin yang sedang menatap Darren dengan tatapan jijik.


"Tidak usah berpura-pura. Palingan juga itu hanya alasan mu untuk menutup jejak mu saja kan?" Ucap wanita itu lagi.


Orang-orang mulai berbisik satu sama lain.


"Hey, bukankah manusia itu orang yang baru datang kemarin, kan?"


"Iya benar. Ku dengar ada yang bilang untuk menjaga jarak dengannya."


"Eeh, kenapa?"


"Ia bisa mengendalikan pikiran orang-orang."


"Sungguhan?"


"Orang-orang bilang begitu. Buktinya, tuannya si manusia hewan sangat menurut padanya. Ia pasti sudah dikuasai sihir manusia itu."


Bagus langsung maju dan menghadapi wanita itu. "Rosemary," Ia menatap wanita iblis itu dengan tajam.

__ADS_1


"Huh? Mau apa kau?" Balas Rosemary dengan seringai di wajahnya. "Apa kau mau membela pengkhianat ini? Ah, aku paham. Atau jangan-jangan, kau juga sudah dicuci otak olehnya."


"Hentikan omong kosong mu," Bagus mengacungkan tangan. "Bukankah Simson sudah bilang untuk tidak memperkeruh keadaan? Tapi kau malah terang-terangan membuat keributan."


"Aku tidak begitu. Aku hanya ingin semua orang tahu siapa pengkhianatnya," Sambung Rosemary.


"Apa buktinya?"


"Buktinya? Aku tidak perlu susah-susah membuktikannya. Buktinya sudah ada di depan mata kita," Jawabnya lagi. "Semenjak mereka bertiga datang ke sini, keadaan mulai jadi kacau dan banyak sekali kejadian-kejadian yang seharusnya tidak terjadi."


"Apa hanya itu bukti mu?" Bagus membalas. "Bagaimana kalau ternyata pengkhianat itu memang sudah menyiapkan ini semua? Bisa saja pengkhianat itu bukan dia dan ada diantara kita semua? Bisa saja itu Marvin. Bisa saja Dyland. Bisa saja kau sendiri. Atau bahkan aku."


Rosemary terdiam mendengar balasan Bagus yang tidak terduga.


"Kandidatnya banyak. Tapi kau memilih untuk terus menyalahkan Esema. Apa Marvin yang membujuk mu?" Sambung Bagus. "Ah, sekarang aku sedikit mengerti. Apa jangan-jangan kau memang si pengkhianat?"


"Jaga mulut mu!" Rosemary berteriak. "Aku tidak mungkin berkhianat. Simson sudah mempercayai ku posisi ini di pasukan. Tidak mungkin aku mengkhianati kepercayaannya."


Bagus tidak menjawab selain menyeringai dengan wajah meledek.


"Hmph... kita tunggu saja hasilnya," Rosemary berpaling dan berjalan pergi."


Kerumunan orang-orang yang ribut segera dibubarkan oleh Bagus dan menyuruh mereka kembali ke tempat mereka masing-masing.


"Terimakasih, Bagus-san," Ucap Darren. "Sejujurnya aku sendiri tidak tahu harus apa tadi."


"Ya. Tidak masalah. Kalau melihat mu seperti tadi, itu mengingatkan ku pada junior ku di sekolah dulu," Bagus menengadah. "Ia sering di rundung oleh orang-orang. Namun ia hanya diam dan menerimanya. Aku kadang cuma bisa menghiburnya agar ia riang kembali."


"Sekolah?"


"Ya. Dulu di kampung halaman ku, ada sebuah organisasi kecil di sekolah. Aku adalah salah satu pemimpinnya," Sambung Bagus. "Kau mungkin tidak akan mengerti, tapi aku dulu adalah seorang Pradana."


"P-Pradana?" Ucap Darren. "Pradana!? Bukankah itu--"


"Haha, kau pasti tidak mengerti, ya? Yah tidak heran sih. Kau kan tak pernah mendengarnya," Ucap Bagus.


Bagus mulai tersenyum, namun itu bukanlah senyuman senang ataupun riang. Itu adalah senyuman rindu.


"Bagus?" Darren melihat setetes air mengalir dari mata Bagus. "Kau tidak apa?"


Bagus langsung menyeka wajahnya dan berpaling. "Maaf. Aku hanya terbawa suasana." Ia mengucapkan itu dengan nada terisak pelan. "Aku akan pergi ke Simson untuk melaporkan ini. Kau tidak usah ikuti aku."


Bagus berjalan pergi meninggalkan Darren sendiri. Ia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang dan ia tak menunjukan wajahnya sama sekali.


Darren mengerti kenapa Bagus begitu sedih. Karena Bagus baru saja memberitahunya fakta yang terus dicari-carinya.


"Pradana," Darren memegangi dagunya. Wajahnya menjadi serius. "Aku paham sekarang. Ia adalah anggota Pramuka. Yang berarti, ia datang dari dunia yang sama seperti ku."


"Pasti berat baginya untuk mengalami ini semua. Walau kelihatannya ia sedikit lebih tua dan dewasa dariku."


"Tapi, aku hanyalah anak nolep yang tidak punya teman di semasa hidupku. Jadi, aku tak membawa penyesalan sama sekali setelah mati."


"Namun ia. Ia adalah orang yang penting. Ia dikelilingi teman-teman, dan orang-orang percaya padanya. Ia mati dalam penyesalan karena telah meninggalkan mereka."


"Huff, tapi mati adalah mati. Kau mati, kau meninggalkan semuanya. Seseorang mati, orang itu meninggalkan mu."


"Menyedihkan sekaligus mengecewakan."


.


.

__ADS_1


.


Note from Author: Gaes, sorry ya updatenya lama. Seminggu ini lagi ada ujian sekolah, jadi kadang gk sempet nulis. Makasih ya karena udah sabar nungguin cerita ku. Maaf karena udah merusak pengalaman membaca kalian. 🙏


__ADS_2