
Malam itu cukup gelap. Rembulan memang bersinar terang, namun pemandangan malam di dalam hutan tak pernah lebih terang dari ini. Melihat ke langit, mata hanya akan disuguhi pemandangan dersik daun yang bercahaya tertimpa cahaya bulan.
"Menurut laporan, seharusnya ada di sekitar sini," Ucap Darren seraya mempersenyap langkahnya di tengah lantai dedaunan kering yang bisa membongkar keberadaan mereka kapan saja.
Mereka pun berhenti di balik sebuah batu besar. Tidak begitu aman, namun cukup sebagai penghalang penglihatan. Selagi mereka bersembunyi sejenak, mereka pun mengatur strategi untuk mengantisipasi pertarungan yang mungkin terjadi.
"Lawan mungkin sangat kuat. Bahkan lebih kuat dari kita berlima. Jadi lebih baik kita menyelesaikan ini secepat mungkin. Jangan berikan ia waktu untuk menyerang balik," Ucap Darren.
Darren menunjuk Hain. "Hain, saat aku memberi aba-aba, segera gunakan teknik spiritmu untuk menahan gerakan lawan."
Ia berbalik pada Shiro. "Shiro, ketika aku gunakan sihir air padanya, segera bekukan ia. Pastikan ia tak bisa menggerakkan sejentik pun bagian tubuhnya."
Lalu ia menoleh pada Tora. "Tora. Saat musuh benar-benar tidak bisa bergerak, cepat gunakan mantra untuk melumpuhkannya. Jika bisa jangan sampai membunuhnya. Mungkin ia menyimpan beberapa informasi."
Ketika Darren hampir selesai menjelaskan, tiba-tiba Akira menarik pundak Darren. Darren menoleh dan melihat wajah Akira yang di balik topeng, namun seolah mampu menunjukkan wajah cemberut.
"Lalu aku harus apa?" Tanya Akira. Ia juga ingin mengambil bagian dalam misi ini.
Darren berpikir sejenak. Seingatnya, hampir semua jurus Akira adalah jurus yang mematikan. Ia tak ingin membunub lawan. Tapi jika musuh memang terlalu kuat dan memungkinkan akan mengancam kota, maka takkan ada pilihan lain.
Darren menghela nafas. "Aku ingin kau bersembunyi," Ucapnya.
"Eh-- Bersembunyi?! Tugas menyedihkan macam apa itu?"
"Sudahlah. Turuti saja aku. Jika musuh berhasil lepas dari tangan kami, maka aku akan menyerahkan sepenuhnya padamu."
Ketika Darren sibuk menjelaskan, tiba-tiba--
"Darren-sama, lihat ke sana!" Tora menunjuk ke arah pohon dengan batang yang miring melengkung. Di pucuknya, nampak sesuatu seperti sedang duduk bersemayam dalam gelap.
Tatapan mereka semua langsung menajam. Musuh telah tiba dan nampaknya ia belum sadar bahwa pasukan Darren telah mengintai. Ia hanya duduk di sana dengan tenang.
Darren segera memberi kode untuk berpencar. Bergerak mengelilingi musuh dari berbagai arah. Sementara Akira pergi untuk bersembunyi.
"Sepertinya kesaksian tim patroli benar. Hawa mencekam ini... begitu berat. Namun rasanya aku familiar dengan perasaan ini," Batin Darren seraya mengendap-endap.
Semua orang telah siap di posisi masing-masing. Darren pun terdiam sejenak menatap seorang perempuan yang duduk menyilang di atas kayu. Penampilannya bertubuh kecil dengan ekor tipis yang memiliki ujung lancip bagai anak panah. Wujud perempuan itu membangkitkan kembali beberapa ingatan masa lalu dalam diri Darren. Namun ia tak memikirkannya lebih jauh.
Tanpa menunggu lama, ia segera memulai serangan. "Hain!" Teriaknya memberi aba-aba.
Dari balik pohon, Hain menyeringai. "Laksanakan!" Ia pun mengaktifkan teknik spiritnya.
__ADS_1
Perempuan itu terkejut saat mendengar teriakan yang mendadak. Ia langsung paham bahwa dirinya sedang diserang secara tiba-tiba dan memutuskan untuk beranjak dari tempatnya bersemayam. Namun terlambat. Kakinya telah menyatu dengan batang pohon dan tak mampu bergerak.
Dari balik bayangan, Darren melesat dengan sihirnya. "Hydro Mimic!"
Muncul salinan-salinan air yang mengambil rupa Darren. Jumlahnya dua buah, dan langsung meluncur ke arah perempuan yang berdiri kaku.
"Shiro, bersiaplah!" Darren melanjutkan komandonya.
"Siap!" Shiro berlari dan melemparkan mantra es-nya.
Hydro Mimic tersebut segera memeluk erat perempuan itu, dan di saat bersamaan es milik Shiro menyentuhnya. Dalam seketika, gumpalan beku yang dingin melahap tubuh bagian atas perempuan itu.
"Tora!" Perintah ketiga dilaksanakan.
"Serahkan padaku!" Tora mengangkat kedua tangannya dan mengarahkannya pada lawan yang tak berkutik. "Non-elemental Spell: Sleep!"
"Eh, Tora! Apa yang kau lakukan?!" Tiba-tiba Hain berteriak.
"Ehh?!"
Wushh! Gubrakk! Hain tiba-tiba terjatuh ke tanah sambil mendengkur pulas. Di depannya berdiri Tora dengan wajah kebingungan. Darren dan Shiro menunjukkan wajah serupa. Sebenarnya apa yang terjadi? Padahal beberapa detik lalu Tora sedang mengarahkannya tangannya ke perempuan itu.
Darren langsung mengambil sikap siaga seraya mengamati lawan yang perlahan melepaskan diri dari gumpalan es tersebut dan mulai berjalan di bawah cahaya rembulan. Sekarang Darren baru sadar siapa sebenarnya lawan yang ia hadapi dari tadi.
"Kau..." Darren nampak terkejut, "S-Serina!"
Shiro dan Tora ikut terkejut mendengar nama itu. Nama yang hampir membunuh mereka dalam latihan mematikan di Tayushsneg, the dungeon of death.
"Nampaknya si Raja Iblis Es itu tidak bersamamu," Sambung Serina sambil meregangkan sekujur tubuhnya. "Jika ada dia, aku bisa hancur dibuatnya."
Semuanya segera berkumpul mendekati Darren. Mereka sadar kalau lawan yang mereka lawan ini sangat berbahaya. Kekuatan melipat ruangnya sangat merepotkan, terlebih dikombinasikan dengan kekuatan tempurnya yang mampu memaksimalkan kegunaannya dalam pertarungan.
"Beberapa detik lalu, ia pasti menggunakan sihirnya untuk memindahkan Tora. Sangat cerdik."
Darren mengeluarkan pedangnya dan mengacungkannya ke arah wanita itu. Kemudian bertanya, "Apa Raja Iblis itu yang mengutusmu?"
Serina berhenti melangkah, menyisakan jarak beberapa meter saja dari mereka. Kemudian ia menjawab, "Kau pikir siapa lagi? Kau pasti sudah tahu kan betapa ia menginginkan dirimu."
Jawaban itu membuat Darren semakin gusar. Kalau ia sampai kalah dan tertangkap, maka ia takkan tahu bagaimana nasibnya nanti. Apalagi mengingat teman-temanya di sampingnya.
"Sial. Dari sekian banyak lawan, kenapa harus ia yang muncul sih?"
__ADS_1
Serina tiba-tiba langsung bergerak gesit. Pergerakannya bahkan hampir tak diduga oleh Darren yang lengah. Satu tendangan diluncurkannya tepat ke wajah pemuda itu.
"G-Gawat. Ia datang!" Darren mencoba menggerakkan pedangnya, namun gerakan Serina jauh lebih cepat.
Tendangan mutlak pun menghantam wajah Darren. Ia terlempar beberapa meter hingga akhirnya tergeletak menabrak batu. Shiro dan Tora tak diam saja. Mereka berdua mencoba mengirimkan serangan balasan. Namun level Serina masih berada jauh di atas mereka.
Berbarengan, Shiro dan Tora menyelaraskan serangan beruntun. Tapi hal tersebut bukanlah masalah besar bagi Serina.
"Dark Elemental: Non-Eucledian."
Dengan cepat ia melipat ruang di antara mereka. Ia menghubungkan titik tersebut ke titik lain yang mendadak muncul di belakang mereka berdua. Alhasil, serangan bertubi itu hanya berakhir mengenai diri mereka sendiri.
"Gahh!" Mereka berdua tersungkur jatuh dengan darah yang mencuat.
"Shiro... Tora..." Darren berusaha membuka matanya. Namun rasa sakit yang dideritanya membuat kesadarannya setengah pudar.
Dengan tubuh mungilnya, Serina berjalan mendekat ke arah Darren. Ia kemudian mengangkat tubuhnya dengan satu tangan bagai mengangkat karung beras.
"Gawat, dia akan membawaku," Darren mencoba untuk bergerak, namun sekali lagi hampir sekujur tubuhnya telah lumpuh.
Padahal tubuhnya dua kali lipat lebih besar daru tubuh Serina, namun succubus itu tidak nampak kesulitan menggendongnya. Dengan mata yang hampir tertutup, Darren melihat dirinya menjauh dari teman-temannya.
"A-Aku... tak boleh... kalah," Suara yang keluar dari mulutnya pun begitu kecil.
Serina tak mempedulikan apa yang di belakangnya. Ia terus berjalan sambil memegang kaki Darren yang menggantung di pundaknya. Tatapannya serius dan penuh keyakinan.
"Tak secepat itu," Sebuah teriakan menggema, diikuti sebuah kristal-kristal hijau yang mencuat dari dalam tanah.
Mata Serina langsung berubah, dipenuhi dengan keterkejutan. Ia menghentakkan kakinya ke tanah. Cukup kuat hingga melemparkan dirinya sendiri tinggi ke udara. Dengan efisien ia menghindari tusukan duri kristal itu.
Ia kembali mendarat dengan kakinya yang kecil. "Tch, merepotkan. Sepertinya ia sudah di sini ya."
Ia melayangkan pandangannya, dan melihat sesosok bertopeng dengan pakaian yang dominan warna hijau, berdiri di atas ranting pohon sambil meletakkan tangannya di pinggang.
"Si Hijau Zamrud... Akira!"
.
.
.
__ADS_1