Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Kakak Beradik yang Unik


__ADS_3

Iblis itu memiliki rambut berwarna biru gelap, dengan dua tanduk kecil terlihat menonjol keluar. Matanya yang biru dan dingin menatap Darren dengan serius.


Tangannya terkepal erat digagang pedangnya dan posisi kuda-kudanya menunjukkan betapa berpengalamannya dalam pertarungan.


Ia tak banyak bicara dan langsung menerjang ke arah Darren secara tiba-tiba.


Gerakannya tidak terlalu cepat, jadi Darren bisa membaca kemana pedang itu akan meluncur.


"Ini mudah," Batin Darren percaya diri. "Jika aku menangkisnya dengan pedang, maka serangan itu takkan berbahaya."


Darren mengambil posisi kuda-kuda dan meluncurkan pedangnya untuk memblokir arah serangan itu.


Gubrakk! Lutut Darren menghantam tanah dan tangannya langsung tegang saat pedang iblis itu menyentuh pedangnya. Iblis itu mendorong Darren hingga terlepas dari kuda-kudanya dan membuatnya terhempas.


Darren sadar bahwa ia terlalu meremehkan lawannya. Ia segera bangkit berdiri. Ketika ia melihat tangannya, ujung pedang yang ia pegang telah patah.


Gerakan iblis itu memang lambat, namun tenaganya sangat kuat. Dan juga, iblis itu sepertinya benar-benar ingin menghancurkan senjata Darren.


"K-Kuat. Aku terlalu menyepelekan pergerakannya," Darren menatap ke arah iblis itu. "Sebenarnya apa yang ia mau? Apa memang negara ini sedang benar-benar ditutup?"


Darren membuang pedangnya yang patah dan mengeluarkan pedang baru lagi. Tapi ia tak bermaksud untuk menyerang. Melainkan, untuk bernegosiasi.


Iblis itu melihat Darren dengan ajaibnya mengeluarkan pedang entah dari mana.


"Pedang itu... bukan pedang biasa, kan?" Ucapnya. "Kau punya bakat yang cukup hebat. Tapi, itu takkan mengubah niat ku."


"Sebelum kita kembali bertarung, aku punya satu pertanyaan," Tanya Darren. "Siapa kau? Dan kenapa kau tiba-tiba menyerang kami?"


Iblis itu menjawab. "Siapa aku, itu tidaklah penting. Namun, aku takkan membiarkan manusia seperti mu menginjak tanah di negeri ini."


"Manusia seperti ku? Apa maksudnya?"


"Manusia yang memperalat monster dan memanfaatkan mereka sesuka hati," Balas iblis itu.


Bahkan sebelum Darren sempat berkutik, iblis itu kembali menyerang. Ia sepertinya bukan tipe orang yang suka mendengarkan penjelasan orang.


Slassh! Iblis itu menebaskan pedangnya dengan sekuat tenaga. Bahkan pedang zamrud Darren tidak bisa menahan kekuatan sebesar itu.


Setelah menyaksikan pedang keduanya hancur lagi, Darren harus memikirkan cara lain untuk bisa lepas dari situasi ini.


"Iblis ini sangat hebat dalam pertarungan pedang dan fisik. Aku takkan bisa mengalahkannya," Pikir Darren. "Aku harus menggunakan sihir."


Setelah menebaskan pedangnya, iblis itu membutuhkan sedikit waktu untuk kembali mengayunkannya. Darren bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerang.


"Aku tidak boleh membunuhnya atau aku malah akan menciptakan pertempuran yang lebih besar dengan negara ini," Batin Darren. "Aku mungkin bisa gunakan sihir yang tidak berbahaya."


Darren merapal mantranya. "Bind!"

__ADS_1


Sebuah aliran sihir tiba-tiba menyelimuti tubuh iblis itu dan memengikatnya. Tapi meskipun begitu, sihir pengikat itu tidak berpengaruh banyak selain membuat pergerakkannya sedikit terkekang.


"Buset. Sebenarnya, seberapa kuatnya sih nih orang?" Ucap Darren terkaget.


Iblis itu sempat menjatuhkan pedangnya. Namun, ia kembali mengambilnya dan mengangkatnya, bersiap untuk mengayunkannya ke arah Darren.


"Manusia lemah. Kau tidak layak menjadi pemimpin monster," Ucapnya sambil mengayunkan pedangnya.


Tiba-tiba...


"Cukup," Tiba-tiba terdengar suara.


Iblis itu pun menghentikan pergerakannya.


Tak lama kemudian, muncul seorang perempuan dari balik pohon. Perempuan itu juga seorang iblis, namun nampaknya ia lebih kalem.


Rambutnya pendek berwarna merah menyala. Postur badannya seperti gadis remaja dan matanya yang berwarna merah gelap benar-benar cocok dengan paras anggunnya.


Iblis itu menoleh ke arah perempuan itu. Ia menunjukkan tatapan yang akrab kepadanya.


"Apa?" Ucap iblis tersebut. " Bukankah kau seharusnya ada di markas? Kenapa kau ke sini?"


Perempuan iblis itu menjawab. "Ahh, aku bosan di sana. Jadi aku memutuskan untuk membuntuti mu," Ia kemudian menghampiri dengan wajah ceria. "Untungnya aku datang. Kalau tidak, mungkin kau sudah membunuh orang-orang ini."


Darren dan teman-temannya hanya waspada terhadap kehadiran perempuan iblis itu. Darren segera menggengam erat pedangnya.


"Siapa kau?" Ucap Darren dengan pedang masih mengacung.


Perempuan iblis itu pun memperkenalkan dirinya. "Nama-Ku Clara. Dan dia adalah kakak angkat ku, Dyland."


"Hey, Clara. Apa kau bodoh?" Ucap Dyland sambil melipat lengannya. "Memperkenalkan diri kita kepada orang asing yang mungkin saja musuh. Apa kau mau membahayakan semua orang?"


Clara membalas. "Tenang saja, kak. Aku yakin kalau mereka tidak berbahaya," Ucapnya.


"Apa yang membuatmu seyakin itu?"


"Sepertinya kau melewatkan sesuatu," Balas Clara sambil menunjuk kalung yang berada di leher Tora. "Kalung budak itu, terhubung dengan sihir milik manusia hewan itu. Perempuan itu adalah majikannya."


"Benarkah?" Ucap Dyland terkejut namun wajahnya tetap terlihat datar.


Clara mengangguk.


Dyland langsung menghadap kepada Darren dan membungkuk rendah. "Maafkan aku karena telah menuduh mu," Ucapnya. Ia kemudian mengahadap ke arah Shiro dan meminta maaf juga. "Maaf karena sambutan kasar ini."


Shiro dan Darren hanya tersenyum canggung sambil sedang memproses apa yang terjadi di sini.


"Oh, ya. Lalu apa yang kalian lakukan di sini?" Tanya Clara pada Darren. "Jika kalian ingin berwisata ke negara ini, sayang sekali kalian berada di saat yang tidak tepat. Sebaiknya kalian kembali dan berkunjung lagi lain waktu."

__ADS_1


Darren membalas dengan akting mulusnya. "Sebenarnya, kami kemari untuk mengunjungi orang tua dari majikan kami."


"Di saat-saat seperti ini? Apa kalian tidak tahu kalau negara ini sedang kacau?" Ucap Clara, sementara Dyland terlihat sedang menoleh kesana kemari.


"Y-Ya, kami tahu. Namun ini adalah urusan mendesak," Balas Darren.


Clara mengelus dagunya. "Sebenarnya, sangat berbahaya bagi orang asing seperti kalian untuk berkeliaran di saat seperti ini. Orang-orang akan mengira kalian penyusup."


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?"


"Yah, ini susah dijelaskan. Kalian tidak akan mau mendengarkannya," Balas Clara. "Pokoknya urusan soal pemerintahan."


Tiba-tiba Dyland berbicara dengan nada perlahan. "Clara, ada sesuatu menuju kemari," Ucapnya pelan. "Segerombolan pasukan."


Clara langsung membalasnya. "Jumlahnya?"


"Banyak. Sekitar dua puluh empat orang."


Clara menghela nafas berat. "Huff, tidak ku sangka mereka akan muncul di tempat seperti ini," Gerutu Clara. "Seharusnya aku tadi gak usah ikut ke sini."


Ia kemudian kembali berbicara kepada Darren dan teman-temannya. "Kalian sebaiknya cepat pergi dari sini. Khususnya kalian para manusia," Ucapnya sambil menatap Tora dan Darren. "Para tentara itu takkan senang melihat kalian."


Kemudian Clara dan Dyland hendak pergi, namun Darren menghentikan mereka.


"Hey, hey, ada apa?" Tanya Clara sembari bersiap kabur.


"Apa kami boleh ikut?" Tanya Darren.


"Haah?" Balas Clara dengan nada heran. "Kenapa kau berpikir mau ikut kami?"


"Yah, kami tidak tahu tempat ini. Dan juga, nampaknya masalah di sini lebih parah dari yang kami bayangkan," Balas Darren. "Setidaknya, kami merasa lebih aman bila bersama orang yang bisa diandalkan."


Clara menoleh ke arah Dyland. "Bagaimana?" Tanya-nya meminta pendapat.


Dyland hanya menunjukkan wajah datar yang dingin seperti tadi. Ia juga mengangkat bahunya, memberi tanda bahwa ia menerima keputusan apa saja.


"Baiklah," Clara kembali menoleh kepada Darren. "Tapi, kali ini saja. Setelah itu, kalian harus pergi sejauh-jauhnya dari kami."


Darren mengangguk paham. Ia dan teman-temannya pun pergi mengikuti dua kakak beradik itu dan menghilang ke semak-semak.


.


.


.


"Tentara? Pemerintahan? Apa kami sedang melawan hukum di sini?"

__ADS_1


__ADS_2