
[Present Day]
Remi dengan sekuat tenaga berusaha menjauhkan para undead dari Rendi dan Katherine. Ia sedikit kesulitan karena undead iti terus berdatangan.
Perlahan, Remi mulai merasa lelah. Pasokan Mana-nya mulai merosot dan nafasnya mulai terengah-engah. Ia sendiri tidak terlalu yakin bisa sampai kapan ia bertahan.
Sementara Katherine dan Rendi masih kepanikan. Mereka mencoba membantu Remi, tapi tak menemukan cara.
Katherine coba mengulurkan tangannya, tapi jaraknya terlalu jauh. Tangannya tidak sampai.
"Rendi, apa kau benar-benar tidak bisa menggunakan mantra itu lagi?" Tanya Katherine sambil menoleh kepadanya.
Rendi menggeleng. "Tidak bisa. Aku sudah tidak kuat. Lagipula, jika aku bisa membuat jalan, itu malah akan membuat para undead bisa mengejar kita."
Katherine jadi gusar. Ia melihat Remi yang bertarung sendirian. Selama ini Remi sudah seperti adiknya sendiri, dan juga ia menyayanginya.
"Katherine," Rendi tiba-tiba menyentuh pundaknya. "Remi meminta ku untuk menjaga mu. Kita harus keluar dari sini."
Katherine dengan paksa melepas lengan Rendi. "Pergilah sendiri, aku takkan meninggalkan Remi!"
Katherine hendak melompat ke bawah, namun tiba-tiba atap gedung hancur dan seseorang muncul di tengah-tengah mereka.
Tatapan mereka langsung terarah padanya.
"Kau--" Remi menoleh dengan mata syok. "Raja Iblis, bagaimana ia bisa tahu tempat ini?"
.
.
.
Beberapa Menit Kemudian...
Setelah susah payah berjalan, Darren akhirnya tiba di lokasi Remi dan Rendi berada. Ia melihat Raja Iblis itu menuju ke sini, ia pasti berada tidak jauh.
Tapi ia harus memastikan keadaan Remi dan yang lainnya dulu. Ia berharap mereka baik-baik saja.
Kakinya masih belum baikan, dan juga Mana-nya tinggal sedikit. Seharusnya ia sudah pingsan dari tadi, tapi ia menolak untuk pingsan dan terus menjaga kesadarannya.
"Remi, Rendi!" Teriak Darren saat tiba di depan pintu gedung.
Suasananya sangat sepi. Ia menoleh ke kiri kanan dan hanya melihat tumpukan tulang yang menggunung di mana-mana.
"Apa terjadi pertempuran di sini?" Gumam Darren khawatir. Ia juga melihat beberapa benda hangus terbakar di sekujur jalan.
"Apa Remi yang melakukan ini?" Darren segera mempercepat langkahnya dan masuk ke gedung. "Remi, Rendi, apa kalian baik-baik saja--"
Tubuh Darren tidak bisa bergerak. Nafasnya hampir berhenti dan seketika pikirannya jadi kacau. Matanya menatap ke sebuah mayat yang hangus di lantai, dengan seorang pria bertopeng berdiri di sampingnya.
"R-Remi--" Darren menghempaskan tubuhnya ke tanah hingga lututnya menhantam tanah. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Tak jauh dari situ, Rendi dan Katherine tergeletak tak sadarkan diri dengan beberapa luka bakar di tubuh mereka. Tapi mereka masih bernafas.
Darren menggenggam telapak tangannya hingga luka. Ia menghadap ke atas menatap pria itu dengan mata penuh kebencian.
"Akan ku bunuh kau!" Teriak Darren.
Ia seketika bergerak dengan cepat tanpa membuka mulutnya sedikitpun. Hal itu membuat pria tersebut sedikit terkejut.
"Mati!" Darren mengeluarkan pedang hijaunya dan mengayunkannya secepat kilat ke arah pria itu.
Tapi pria itu meresponnya dengan cepat. Ia mengeluarkan pedang hitamnya dan menangkis serangan Darren.
"Cepat sekali!" Ucap pria itu.
Darren mundur mengambil momentum, dan kembali bergerak maju dengan cepat.
"B-Bagaimana bisa? Padahal kakinya sedang pincang," Batin Pria itu.
Darren terus menebaskan pedangnya berulang kali. Ia mundur dan mengambil momentum, dan kembali menerjang dengan kecepatan tinggi. Ia mengulangi cara ini terus menerus.
Ia memanfaatkan arena pertarungan yang sempit dengan efisien dan terus memojokkan musuh yang hanya bisa bertahan di tengah arena.
Pria itu terus terpojok. Ia hanya bisa menggunakan pedangnya untuk bertahan. Jika ia keluar dari posisi bertahannya, ia mungkin akan menerima luka beruntun.
"Matilah kau, keparat!" Darren mencengkram pedangnya dengan kedua tangan. Ia mengayunkannya secara horizontal ke arah leher pria itu.
"Cukup," Ucap pria itu sambil menghindarinya. Ia mengepalkan tangannya dan memukul tanah dengan kuat.
Tiba-tiba Darren tertarik dan jatuh ke lantai. Saat ia mencoba berdiri, ia merasa tubuhnya sangat berat. Seperti ada sesuatu yang menariknya ke bawah.
"Itu sia-sia. Kau tidak akan bisa berdiri," Ucap pria itu. Ia kemudian berbalik dan tiba-tiba berjalan menjauh dari arah Darren.
Darren berteriak dengan kencang. "Kemarilah kau bangsat! Akan ku bunuh kau!" Ia terus berteriak-teriak sambil berusaha melepaskan diri. "Akan ku buru kau! Akan ku buat kau membayar apa yang telah kau lakukan!"
Pria itu terus berjalan dan tidak menoleh sedikitpun. Entah kenapa ia seperti ingin cepat-cepat pergi dari situ.
Melihat itu membuat Darren jadi semakin dimakan amarah. Ia takkan melepaskan pembunuh temannya begitu saja. Setidaknya, ia ingin membuatnya menerima yang setimpal.
"Akan ku kejar kau!" Tiba-tiba Darren mulai mengangkat tubuhnya sedikit demi sedikit. Pertama lengannya, dan kemudian disusul bagian tubuhnya yang lain. Ia akhirnya mencapai posisi berdiri walau merasa tubuhnya begitu berat.
Raja Iblis itu seketika berbalik dan menatapnya dengan terkejut.
"B-Bagaimana bisa? Seharusnya tekanan gravitasi itu menahan mu," Ucapnya.
Darren kembali mengeluarkan pedangnya. Ia melompat dan mengayunkan pedangnya seraya melayang di udara.
Pria itu spontan mengeluarkan pedangnya juga. Kini, pedangnya saling beradu dengan pedang Darren.
__ADS_1
"Ku bunuh kau!" Darren menatap pria itu dengan kebencian. Ia mencengkram kuat pedangnya dan tiba-tiba sebuah sihir mengalir di mata pedang tersebut. "Sharpness!"
Slash! Pedang Darren yang bercahaya menebas pedang hitam pria itu hingga patah terbelah. Pria itu hanya menatap dengan tidak percaya dan segera mundur untuk menjaga jarak.
Ia menatap pedangnya yang patah dan mulai bernafas dengan cepat. "Aku tidak ingat kalau kau sekuat itu," Ucapnya sambil melayangkan pandangannya perlahan ke arah Darren.
"Kau akan membayar semuanya," Balas Darren.
Pria itu menyentuh ujung pedang miliknya dan tiba-tiba bagian yang patah kembali utuh. Setelah itu ia kembali menatap Darren.
"Kenapa kau sebegitunya ingin membalaskan dendam kematian iblis itu?" Tanya pria itu sambil menunjuk mayat Remi.
Darren masih menatapnya dengan emosi dan menjawab, "Dia teman ku. Dan aku takkan melepaskan mereka yang telah membunuh teman-teman ku."
"Seperti Michael?" Sambung pria itu.
Darren sedikit tersentak. Ia tak merespon apa-apa selain semakin menatapnya dengan tajam.
Pria itu melanjutkan, "Apa kau akan membalaskan dendam semua teman mu?"
Darren menjawab dengan keras, "Pasti!"
"Bahkan jika kau tahu takdir berkata lain?"
"Apapun takdir itu, pasti akan ku lawan!"
Pria itu menunduk sedikit dan membuang pandangannya dari Darren. "Naif sekali," Ucapnya. "Melawan takdir hanya akan menuntun mu kepada kenyataan yang lebih menyakitkan."
"Bacot!" Darren segera menghunuskan pedangnya ke arah pria itu dengan cepat.
Pria itu kembali menahannya dengan pedangnya, namun Darren mengeluarkan gerakan lain.
Ketika pedangnya tertahan, Darren mengayunkan kakinya ke atas dan menghantam kepala pria itu dengan keras. Pria itu sempat terkejut dan kehilangan keseimbangan untuk beberapa saat.
Darren memanfaatkan kesempatan itu dengan meluncurkan tendangan horizontal ke arah kaki lawan. Pria itu pun terjatuh ke lantai.
Darren segera mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan hendak memenggal kepala lawannya. Tapi dengan cepat pria itu mengeluarkan sihirnya.
Seketika, tubuh Darren terangkat dari permukaan tanah. Ia sadar kalau ternyata ia sedang melayang di udara dan cepat-cepat mengayunkan pedangnya untuk membunuh pria itu, namun meleset.
Pria itu segera berdiri dan hendak pergi. Namun Darren tidak tinggal diam.
"Cancelling!" Setelah merapal mantra itu, Darren segera jatuh terantuk ke tanah. Ia segera kembali bangkit berdiri dan mengejar pria itu.
"Bind!" Darren merapal mantranya, hendak menahan pria itu.
Pria itu pun tak bisa bergerak. Tapi pria itu mengeluarkan mantra balasan lain.
Saat Darren menebaskan pedangnya ke leher pria itu, pedang itu tiba-tiba berubah bentuk. Berubah menjadi air dan mengalir jatuh ke tanah.
"A-Apa?" Batin Darren terkejut melihat pedangnya mencair.
Gubrakk! Darren tersungkur ke tanah dengan wajah dibawah. Ia masih kebingungan dengan apa yang terjadi barusan.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Pedang ku mencair," Gumam Darren sambil mengangkat wajahnya dari tanah. Ia melirik ke arah pria itu yang sedang membenarkan topengnya yang miring.
Pria itu kembali berjalan ke arah Darren. Ia mengarahkan tangannya kepada Darren dan hendak merapal mantra.
"Darren-sama!" Tiba-tiba Shiro muncul dengan Tomatsu yang masih berada di pundaknya. Ia menebaskan tombaknya hingga melukai kaki pria itu.
"Shiro!" Ucap Darren sambil menatapnya.
Tora juga ikut muncul dan menyerang pria itu. "Wind Elemental: Sharp Vortex!"
Serangan dadakan itu berhasil menghempaskan pria tersebut hingga mundur beberapa meter.
"Darren-sama, apa kau tidak apa-apa?" Shiro segera berjongkok dan memeriksa keadaan Darren.
Darren mengangguk. "Aku tidak apa-apa, hanya luka sedikit," Jawabnya. "Dan juga, seharusnya Mana-ku sudah habis."
Mereka melihat pria itu kembali bangkit dan berjalan perlahan ke arah mereka dengan aura yang mengerikan.
"Kita harus pergi dari sini," Ujar Tora.
"Tidak bisa," Sahut Darren. "Aku harus membunuhnya."
Jawaban itu tentu membuat kedua orang tersebut kebingungan. "Apa maksud mu, Darren-sama?"
Darren menundukkan wajahnya. Dengan pelan ia mengatakan, "Remi... sudah mati."
"R-Remi..." Mereka berdua terkejut sekaligus syok. "Jangan-jangan..."
"Ya, ia mati ditangan pria itu. Itulah sebabnya aku harus membunuhnya," Sambung Darren.
"Lalu bagaimana keadaan Rendi dan Katherine?" Tanya Tora.
"Mereka sepertinya menderita luka berat," Balas Darren. "Mereka sedang pingsan cukup jauh dari sini. Tapi kurasa mereka akan baik-baik saja."
Mereka kembali menatap pria itu. Ia semakin dekat dan terlihat mengintimidasi.
"Kalian berdua pergi saja. Aku yang akan membalaskan kematian Remi," Ucap Darren.
Shiro dan Tora menjawab serempak, "Tidak akan."
"Remi adalah teman ku, dan juga aku adalah penyebab semua ini," Sambung Tora. "Andaikan aku tidak kabur ke kota ini, semua ini mungkin takkan terjadi."
Tora menoleh kepada Darren. "Aku ingin menebus kesalahan ku."
Shiro menyambung. "Aku juga takkan meninggalkan mu, Darren-sama. Aku adalah rekan mu, bukan?"
__ADS_1
Darren hanya tersenyum kecil. Ia tidak tahu harus menunjukkan ekspresi apa di saat mendesak ini.
"Baiklah. Ini rencananya," Ucap Darren. Ia pun mulai berdiskusi dengan mereka berdua.
Raja Iblis itu hanya memperhatikan dari jauh. Darren tidak tahu apa yang dipikirkan Raja Iblis itu karena topeng yang ia kenakan membuatnya tidak bisa menebak pikirannya.
Shiro dan Tora maju ke depan, sementara Darren bermeditasi di belakang mereka. Ia perlu mengisi ulang Mana-nya sebelum ikut dalam pertempuran.
"Tora-kun," Shiro memberi aba-aba.
Tora segera merapal mantra anginnya dan menghempaskan debu-debu di tanah sehingga mengganggu penglihatan lawan.
Pria itu segera mengulurkan tangannya dan meniupkan angin untuk menghempaskan debu yang berterbangan. Dengan begitu, ia bisa mengurangi titik buta yang diterimanya.
Woosh! Debu menghilang seketika. Namun saat pandangannya kembali terbuka, ia langsung dikejutkan dengan Shiro yang sudah melompat dari arah depan.
Shiro menusukkan tombaknya tepat ke arah topeng pria itu. Namun, pria itu bisa dengan cepat menangkisnya dengan pedang.
"Sekarang, Tora-kun!" Shiro berteriak.
"Baik!" Tora kemudian merapal mantranya. "Wind Elemental: Wind Control!"
Disaat bersamaan, Shiro melemparkan tombaknya ke udara. Pria itu melepaskan pandangannya dari Shiro dan memperhatikan arah kemana tombak itu dilemparkan.
Disaat itulah, Shiro mengayunkan kakinya tepat ke kaki Raja Iblis itu dengan kuat. Membuatnya hampir terjatuh dan pandangannya kembali kepada Shiro.
"Wind Elemental: Swirl Pressure!" Tora merapal mantranya.
Ia memberikan tekanan pada tombak yang terbang dan mendorongnya dengan kuat ke arah Raja Iblis itu.
Raja Iblis itu segera mengubah tombak itu menjadi air. Sama seperti yang ia lakukan sebelumnya pada pedang Darren.
Byurr! Air berjatuhan membasahi tubuh pria itu.
"J-Jadi... air!?" Tora menganga melihat hal itu.
Pria itu pun kembali berjalan mendekat. Tapi kali ini ada yang berbeda. Darren tidak lagi berada di tempatnya.
"Kerja bagus, Tora, Shiro," Darren tiba-tiba muncul dari balik tembok di belakang pria tersebut.
Sebelumnya, ia memanfaatkan debu yang berterbangan untuk mengubah posisinya. Dan pertarungan Shiro dan Tora melawan pria itu sudah ia rencanakan dengan sungguh-sungguh.
Di saat Shiro menyerang, Raja Iblis itu pasti akan menangkisnya. Jadi ia menyuruh Shiro untuk segera melemparkan tombaknya ke udara.
Saat berada di udara, Tora akan membuat tombak itu tetap terbang untuk sementara waktu dengan sihir anginnya. Dan ketika Raja Iblis itu lengah, ia akan mengirimkan tekanan angin yang kuat pada tombak itu untuk menyerang.
Tapi Darren tahu kalau pria itu akan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan sebelumnya pada pedangnya, jadi ia sudah menyiapkan kejutan kecil.
"Ice Elemental: Freze!" Darren melepaskan sihir es pada pria itu.
Seketika, tubuh pria itu membeku karena air yang ada padanya berubah jadi es. Ia tak bisa bergerak dan hanya terpaku diam.
"Bagus, ini kesempatan ku!" Batin Darren. Ia mengeluarkan pedang hijaunya dan mengayunkannya untuk menebas leher pria itu.
"Kau menyedihkan, Darren," Ucap pria itu tiba-tiba. "Tak peduli seberapa keras kau mencoba, aku akan selalu satu langkah di depan mu."
Darren tak mempedulikannya. Ia tetap mengayunkan pedangnya dan berhasil menebas pria itu. Seketika, butiran-butiran es berserakan di tanah karena tebasan pedang Darren.
"Lambat," Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Darren.
Darren segera menoleh dan ia terkejut. Pria itu sudah muncul di belakangnya.
"S-Sihir teleportasi! Aku lupa tentang itu," Batin Darren dengan wajah mengeras.
Jadi sebenarnya yang ia tebas tadi hanyalah tumpukan es-nya saja. Dan ia sudah benar-benar merasa puas.
"A-Apa yang terjadi? Aku tidak sempat melihatnya," Tora terus mengedipkan mata karena saking tidak percayanya.
Sementara Shiro langsung berlari dengan tangan kosong dan menyerang Raja Iblis itu.
"Darren-sama, awas!" Teriak Shiro seraya berlari menerjang ke arah pria itu.
Swoosh! Pukulan Shiro langsung dihindari dan pria itu menarik tangannya. Pria itu memutar tangannya hingga terdengar suara tulang yang patah.
"Agh!" Desah Shiro kesakitan.
Pria itu segera menahannya dan mencekik leher Shiro.
"Shiro!" Darren segera kembali menebaskan pedangnya untuk menyerang pria itu.
"Sebelum kau menyerang ku, sebaiknya kau lihat teman mu yang satunya," Ucap pria itu tiba-tiba.
Darren langsung menoleh dan melihat ke arah Tora.
"D-Darren-sama..." Ucap Tora terpatah-patah. Di belakangnya terlihat sebuah makhluk aneh sedang menodongkan pisau di lehernya.
"Tora!" Darren jadi kebingungan. Kedua temannya sedang di pertaruhkan.
Tunggu, apa kejadian serupa akan terulang? Apakah insiden di desa Manusia Hewan akan terjadi lagi? Apa Darren akan mengalami pengalaman yang kelam lagi dalam hidupnya?
Apa semua orang yang berharga baginya akan terus direnggut?
.
.
.
Tunggu ya, di episode selanjutnya...
__ADS_1