
Bagus bergerak dengan cepat ke arah Tora. Ia memegang pedangnya dengan kuat dan terus menebas tanpa henti.
"Dark Elemental: Portal," Bagus menciptakan sebuah portal di sisinya.
Ia langsung menarik kembali pedangnya dan menusukannya ke dalam portal itu.
Tora yang sedang fokus ke depan, tidak menyadari bahwa sebuah portal lain muncul di sampingnya. Seketika sebuah pedang muncul dari portal tersebut dan melukai tangan kanannya.
"Sial," Tora langsung melompat menjauh dengan tangan kanannya yang luka. "Jadi sekarang ia bisa menggunakan sihir portal juga ya. Aku harus mengawasi sekitar ku."
Sementara itu, Shiro dan Hain berlari untuk menghampiri Tora. Namun mereka dicegat oleh sekumpulan tentara Erobernesia yang telah muncul dari portal sebelumnya.
"Sial, mereka banyak sekali," Ucap Hain. "Kita tak bisa melewati mereka."
Dengan sigap Shiro langsung mengeluarkan tombaknya. "Kalau begitu, kita paksa mereka untuk minggir," Katanya dengan wajah tegas.
Hain menatap wajahnya. Untuk sesaat, ia merasa terpesona melihat wajah Shiro yang serius.
Tapi ia segera memalingkan wajahnya dan memegang erat pisau belatinya. "Kau benar. Mereka tak bisa menghalangi jalan kita."
Para tentara itu mulai maju menyerbu Shiro dan Hain. Jumlah mereka sekitar puluhan dan semuanya bersenjata.
Namun dengan kerja sama yang terkoordinasi, Shiro dan Hain mulai mengalahkan para pasukan itu satu persatu.
.
.
.
Sebilah pedang hijau menari ditangan seorang yang tenggelam dalam kebencian. Tariannya tidak berirama dan setiap tebasannya terisi dendam yang ingin dibalaskan.
Dihadapannya, sebilah pedang lain yang berukuran besar menari beriringan. Pedang itu berusaha mengimbangi irama tari yang abstrak dan kacau. Kalau tidak, maka celah akan terbuka dan sisi lemah akan terekspos.
Darren terus menunjukkan giginya. Matanya telah dibutakan dan kini yang mengendalikannya hanyalah hati yang kelam. Ia sudah tidak memandang siapa musuhnya lagi.
Michael terus menerima serangan dari Darren. Namun pedangnya masih sanggup menangkis serangan yang datang.
Pedang yang tajam dan keras pun pasti akan tumpul. Pedang dirancang untuk menebas dan membunuh, bukan bertahan dan melindungi.
Jika terus begini, maka yang tersisa hanyalah ketahan pedang mereka masing-masing. Pedang yang hancur duluan, maka ia yang kalah. Ini hanya masalah waktu.
Crack!
Sebuah retakan besar tiba-tiba membelah mata pedang Michael. Pedangnya sekarat. Jika ia terus menggunakannya untuk bertahan, maka ia kalah.
"Pedangku hampir rusak. Jika sampai hancur, maka aku takkan punya senjata untuk melawannya," Gerutu Michael seraya menangkis serangan Darren. "Tapi kenapa aku merasa ia sedikit aneh?"
Ia akhirnya tersadar, bahwa selama ini Darren tidak mengincar dirinya. Melainkan pedangnya.
Darren mengenal pedang besar itu sebagai senjata pembunuh teman-temannya. Pedang itulah yang telah merenggut nyawa Yuzuna dan Rolf.
Memang sedari awal, tujuannya adalah menghancurkan kenangan yang dibawa oleh pedang itu. Dan untuk menghancurkannya, maka pedang itu harus dimusnahkan.
Michael menyadari niat Darren. Maka dari itu, ia segera merapal suatu mantra untuk membuat serangan balik.
"Non-Elemental Spell: Speed!" Dengan mantra itu, Michael mempercepat gerakannya dengan drastis.
Pedang yang tadinya terasa berat, bisa langsung diangkat dan diayunkan dengan cepat.
Swoosh! Swung!
Setiap momentum yang diberikan oleh Michael ke ujung pedangnya, membuat serangannya jadi lebih sulit ditahan. Darren bahkan harus menggunakan dua tangannya untuk memegang gagang pedangnya dan menahan serangan tersebut.
"Ha ha, nampaknya kau kewalahan!" Teriak Michael seraya terus mengayunkan pedangnya.
Ia sangat yakin dengan posisinya sekarang. Ia seakan sudah melihat kemenangan di depan matanya.
"Setelah ku hancurkan pedang itu. Akan ku hancurkan juga tengkorak wajah mu," Darren tiba-tiba menatap tajam. "Blazing Chain!"
Dari dalam tanah, keluarlah rantai-rantai api yang berkobar dan menggenggam pedang Michael.
Michael terkejut. Dalam sekejap, pedangnya memerah dan perlahan meleleh. Michael segera melepaskan gagangnya sehingga tangannya tidak terkena logam cair yang menyala-menyala.
Dari jauh, Ryan melihat Darren mengeluarkan rantai api itu. Ia sedikit kaget dan mulai menyaksikan dengan lebih serius.
"Sekarang giliran mu," Sambung Darren. Ia segera mengulurkan tangannya dan melemparkan rantai api ke arah Michael.
Michael menyilangkan tangannya di depan badannya. Ia kira ia bisa menahan serangan rantai api itu. Tapi nyatanya, rantai itu malah membakar tangannya.
Rantai itu mengelilinginya. Dalam hitungan detik, rantai itu melilit Michael dan membakarnya dengan api yang sangat panas.
"Gwaah!" Michael meronta. Tapi ia belum selesai. "Non-Elemental Spell: Canceling!"
Ia membatalkan sihir Darren dan menghapus rantai api yang mengikatnya. Namun itu tak menghindarinya dari luka bakar yang serius
"Tangan ku mati rasa. Kulit ku juga terbakar. Panasnya menembus zirah ku dan memanggangku secara merata," Ia menoleh ke arah Darren. Dilihatnya Darren yang menatapnya tajam dengan mata yang tajam dan kosong.
"D-Dia benar-benar... seorang monster. Dia pasti bukan manusia. Kekuatannya sudah berkembang pesat sejak terakhir kami bertemu."
"Ini terlalu gila. Mustahil ia bisa mendapatkan kekuatan sebesar itu secepat ini."
Michael mencoba berdiri. Namun luka bakar yang menggerogotinya membakar sekujur tubuhnya. Setiap kali ia bergerak, rasa sakit dari gesekan luka dengan zirahnya memberikan rasa sakit yang sangat menusuk.
"Sial. Aku terlalu fokus padanya, sampai lupa dengan kondisi ku sendiri," Batin Michael. "Aku harus merapal mantra penyembuhan."
Tapi saat Michael mencoba menyembuhkan diri, tiba-tiba Darren melangkahkan kakinya perlahan. Ia berjalan menghampiri Michael dan mengangkat pedangnya, bersiap membunuhnya.
"Dadah," Ucap Darren dengan nada dingin. Matanya bahkan tidak memancarkan hawa kemanusiaan lagi. Memberikan perasaan ketakutan yang besar pada Michael.
Bahkan tatapan dingin Darren seakan memancarkan hawa berat bagi sekitarnya. Tora dan Bagus menghentikan pertarungan mereka dan melihat ke arah Darren.
"Darren-sama?" Tora menyaksikan raut Darren yang kosong. Sementara Bagus ikut melihat dengan wajah panik.
Darren tidak ingin berlama-lama. Ia segera menebaskan pedangnya ke arah Michael.
"Dark Elemental: Portal!" Bagus tiba-tiba berteriak.
Sebuah portal muncul di depan Darren. Seketika, portal itu melahap ujung pedang Darren.
Shiro melihat hal itu. Ia tahu bahwa jika satu mulut portal terbuka, maka pasti harus ada satu mulut portal lain sebagai sambungannya.
Dan benar saja. Sebuah portal lain terbuka tepat di sampingnya. Portal itu muncul di depan Hain tepat.
"Hain!" Shiro langsung melompat dan mencoba mendorong Hain.
Namun naas, ia tak sadar bahwa sebuah bilah pedang hijau tiba-tiba muncul dari portal itu.
Hain berhasil didorongnya, namun Shiro gagal menghindari tebasan pedang milik Darren. Pedang itu pun menembus perutnya dan merobeknya.
"Shiro!!!" Hain berteriak. Ia terkejut melihat perut Shiro yang berdarah-darah.
Hain segera menangkap tubuh Shiro yang lemas. Ia merasa bersalah pada dirinya sendiri karena membiarkan Shiro melindunginya. "Bertahanlah!"
Darren mendengar teriakan Hain. Ia memang sudah melihat portal di depannya menelan ujung pedang miliknya, namun ia tak pernah mengira kalau pedangnya akan menusuk orang lain.
__ADS_1
Ia segera menoleh dan melihat tubuh Shiro yang berdarah-darah dalam dekapan Hain.
"P-Pedang ku..." Darren nampak syok. Ia menyadari bahwa pedangnya sendiri yang telah melukai Shiro. Dalam seketika, tekadnya langsung pudar.
Shiro mulai batuk darah. Perutnya robek dan lukanya cukup lebar. Darah perlahan mengalir dan membasahi tangan Hain yang memegang erat tubuhnya.
Melihat musuh mereka jatuh, para tentara Erobernesia memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang. Mereka langsung bergerak menghampiri Shiro dan Hain.
"Shiro! Hain!" Teriak Tora, melihat para tentara itu menghampiri dua kawannya.
Namun itu membuka celah pada dirinya sendiri, dan celah tersebut dimanfaatkan oleh Bagus untuk melancarkan serangan padanya.
Buakk! Bagus menghantam wajah Tora dengan kepalan tangannya hingga membuatnya tergeletak jatuh.
Melihat itu semua, membuat Darren memalingkan niatnya untuk membunuh Michael. Ia ingin menyelamatkan teman-temannya.
Namun saat ia membuang wajahnya dari Michael, ternyata jendral itu sudah berdiri dan melompat ke arahnya. Ia mencondongkan kakinya dan menendang Darren tepat di wajah.
Darren terjatuh dan pedangnya terlempar. Saat ia mencoba kembali bangkit, Bagus dan Michael menahannya dengan menodongkan pedang di lehernya.
Para tentara itu menangkap teman-teman Darren yang lain dan mengikat mereka dengan tali.
Namun Shiro nampaknya dalam kondisi yang kritis.
"Shiro... Shiro!" Darren terus berteriak memanggil nama Shiro. Namun tatapan Shiro sudah nampak kosong. Darah pun sudah mengalir dari sekujur tubuhnya.
Para tentara tidak peduli dengan kondisi Shiro. Mereka bahkan tak mengikatnya dan menganggapnya sudah tidak dapat diselamatkan.
"Ku mohon, setidaknya selamatkanlah Shiro!" Teriak Darren pada para tentara itu. Ia hanya ingin Shiro selamat.
"Cih, aku tidak sudi menyentuh makhluk kotor itu," Kata salah satu tentara sambil membuang ludahnya.
Darren berteriak semakin histeris. "Shiro!" Teriaknya. "Lepaskan aku! Biarkan aku menyembuhkannya!"
"Tidak akan," Ucap Michael yang tangannya telah diobati. Ia pun melirik ke arah Shiro. "Oh, bukankah ia manusia hewan dari ras yang sama dengan waktu itu?"
Michael kemudian tertawa. Ia tertawa dengan kencang dan tak henti. Ia sangat puas melihat Shiro sekarat dan ia tak menunjukan belas kasihan sedikitpun.
"Michael," Bagus menatap ke arahnya. "Kau tidak perlu tertawa sekeras itu."
Michael menghentikan tawanya dan menoleh. "Kenapa? Ini adalah hari kemenangan ku. Aku bisa tertawa sepuasku dong."
"Tapi, tertawa atas kematian orang..." Bagus mengepalkan tangannya. "Itu bukanlah sesuatu yang layak ditertawakan!"
"Huh?" Michael mengeryitkan alisnya. "Kenapa kau sangat marah? Lagipula dia itu hanya manusia hewan. Mereka memang pantas diperlakukan seperti itu."
Bagus tiba-tiba menjatuhkan pedangnya. Telapak tangannya bergetar dan wajahnya keliahatan aneh.
"Aku tidak mau lagi," Ucap Bagus dengan wajah mengeras. Ia kemudian menatapi telapak tangannya sendiri. "Aku sudah tidak tahan. Aku sudah mengotori tangan ku dengan darah."
"Hey, itu tidak benar. Bukan kau yang menghunuskan pedang di perutnya," Ucap Michael.
"T-Tapi, aku lah yang membuatnya terbunuh."
"Bagus, kau harus mengendalikan emosi mu. Jika tidak, maka batu itu bisa melukai mu," Ucap Michael. Ia kemudian berbalik dan berjalan. "Tolong jaga Darren. Jangan biarkan dia lepas. Aku ingin mengecek keadaan tentara yang lain."
Darren pun kembali diikat menggunakan rantai khusus dan ditahan dibawah pengawasan Bagus. Namun Bagus nampak lesu.
Darren menatap Bagus. Ia paham apa yang terjadi pada nya. Nampaknya, Bagus merasa bersalah karena membuat Shiro terluka.
Bagus terus menatapi tangannya dengan wajah penuh rasa bersalah. Ia memang tak pernah menginginkan ini, namun ia harus melakukannya.
Ia hanyalah anak sekolah yang dikendalikan. Ia tak pernah menginginkan semua ini untuk terjadi. Namun takdir menuntunnya pada jalan yang yang tidak pernah ia ingin tempuh.
Di hatinya hanya ada keputusasaan. Ia tak diberi pilihan. Tidak ada jalan lain lagi baginya. Tapi harapan palsu datang padanya dan memanfaatkannya untuk memegang pedang.
Di saat itulah Darren teringat bahwa Hain pernah berkata kalau Bagus sering menyebut neneknya disaat ia sedang sendiri.
Darren yakin bahwa ada kejadian besar yang terjadi pada Bagus sebelum ia terkirim ke sini. Mungkin suatu musibah atau bencana, tebaknya.
"Bagus, ini masih belum terlambat," Ucap Darren. "Semua penyesalan mu di masa lalu masih bisa ditebus."
Bagus menatapnya. "Apa maksud mu?"
"Aku paham perasaan mu. Aku juga meninggalkan seseorang yang berharga di sana," Sambung Darren. "Bagiku, itu adalah ibu dan ayahku. Aku merasa tidak berguna karena mati sia-sia tanpa bisa sempat membanggakan mereka."
Bagus membalas. "Kenapa kau menceritakan ini semua?"
"Karena aku tahu, kau juga pasti meninggalkan seseorang, kan?"
Bagus terdiam sejenak. Air matanya mulai menetes. Awalnya ia tak mau membicarakan ini namun ia berpikir apa salahnya memberitahu masa lalunya.
Lagipula sudah lama ia ingin membicarakan hal ini dengan seseorang. Namun tak ada seorang pun yang memahaminya.
"Nenek ku. Aku meninggalkannya sendirian, di Aceh," Ucap Bagus.
"Aceh, ya," Balas Darren. "Apa kau ingat sesuatu?"
"Aku tidak ingat banyak waktu kepergian ku ke dunia ini. Tapi aku ingat satu hal," Kata Bagus. "Aku melihat air."
"Air?" Darren sempat kebingungan. Ia tak mengerti apa maksud "Air" itu. Apa itu mimpi atau semacamnya?
"Ya. Air yang sangat banyak. Air itu menghempaskan semuanya. Rumah, pohon, dan bangunan."
Darren berpikir sejenak. Ia merasa semua ini ada hubungannya dengan air itu. Bagus mendeskripsikannya sebagai "Air yang sangat banyak."
"Aceh. Air yang banyak. Mungkinkah..." Darren terdiam sejenak. Kedua kata itu membentuk satu bayangan dalam pikirannya, dan ia terkejut dengan apa yang dibayangkannya.
Darren meneruskan. "Bagus, apa kau ingat tanggal berapa semua itu terjadi?"
Bagus menyingkap air matanya. "Dua puluh enam Desember."
Hentakan kuat terasa di hati Darren. Tentunya ia pernah mendengar tanggal itu di salah satu buku sekolah yang ia baca dulu. Namun ia ingin memastikan semuanya dengan benar.
"A-Apa kau ingat tahun berapa?" Tanya Darren dengan nada terbata.
Bagus menjawab perlahan, "Dua ribu empat."
Mata Darren langsung melotot setelah mendengar itu. Ia tahu betul apa yang terjadi di waktu itu. Bahkan hampir semua orang di negara asalnya tahu tentang tanggal kelam itu.
Karena dahsyatnya musibah yang terjadi di hari itu dan seluruh orang di Indonesia meratapinya sebagai bencana besar yang masih membekas di ingatan semua orang.
Siapa yang tidak tahu Tsunami Aceh? Sebuah bencana pada tahun 2004 yang menimbulkan korban jiwa sebanyak dua ratus ribu orang dan mengakibatkan kerusakan yang menimbulkan kerugian higga miliyaran rupiah.
Tsunami tersebut disebabkan oleh gempa bawah laut berkekuatan 9 magnitudo yang menimbulkan gelombang air pasang setinggi 30 meter.
Gempa tersebut terjadi di dasar laut Samudera Hindia di kedalaman 30 Kilometer. Lokasi pusat titik gempa berjarak 160 Kilometer di utara pulau Simeulue, lepas pantai barat Sumatra Utara.
Dampak dari gempa itu bahkan dirasakan oleh empat belas negara. Namun Indonesia lah yang merasakan dampak paling parah selain Sri Lanka, India, dan Thailand.
Bagus melihat Darren yang terdiam tanpa kata. "Ada apa Esema? Apa kau tahu sesuatu?"
Sangat berat bagi Darren untuk memberitahu semuanya. "Aku rasa, nenek mu sudah tiada," Ucap Darren perlahan.
Bagus terdiam sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin. Nenek pasti baik-baik saja. Lagian, apa yang membuatmu berkata seperti itu!?"
__ADS_1
Darren pun mencoba menjelaskan sambil menahan emosinya. "Dua puluh enam Desember, dua ribu empat lalu. Sebuah gempa tektonik dasar laut di Samudra Hindia menimbulkan gelombang Tsunami yang sangat besar," Ucap Darren.
Bagus mulai merubah rautnya. Ia mendengarkan cerita Darren dengan hati yang berdegup.
Darren meneruskan. "Tsunaminya setinggi tiga puluh meter, dan menyapu habis area pesisir. Korban yang ditimbulkan sekitar dua ratus ribu jiwa, dan aku rasa..."
"Nenek ku termasuk diantaranya?" Sambung Bagus pelan.
Darren melirik ke arah Bagus. Wajah sedih segera menyelubungi wajah Bagus dan air mata mulai menitis di pipinya.
"Maafkan aku," Ucap Darren sambil menundukkan wajahnya.
Bagus terus mengusap air matanya, namun air matanya terus menetes tanpa heti. Ia tak bisa menghentikan tangisnya.
Baginya, berita ini menghancurkan semua usahanya. Ia telah berjuang keras agar bisa kembali ke dunia asalnya, hanya untuk menemui neneknya.
Namun semuanya menjadi sia-sia karena orang yang ingin ia temui, ternyata telah tiada.
"Nenek... Nenek!" Bagus mulai berteriak. Sebuah cahaya aneh pun menyelimutinya.
Darren terkejut. Ia pun melihat bahwa pedang yang Bagus pegang tiba-tiba mulai bercahaya terang. Namun cahaya yang dipancarkan sangat aneh. Terlihat terang, namun juga gelap.
Michael melihat cahaya itu melewati matanya. "Cahaya hitam!?" Michael langsung sadar dengan apa yang terjadi. "Gawat, ia telah kehilangan kendalinya atas batu itu."
Nampak Bagus mulai berteriak kesakitan. Muncul garis-garis hitam di sekujur tubuhnya dan garis itu memancarkan cahaya yang sama.
"Bagus!" Darren mencoba mendekati Bagus dengan tangannya yang terikat. Namun saat ia mendekatinya, ia tiba-tiba terpental.
"Gahh! Aku tak bisa menyentuhnya. Seakan ada energi aneh yang membungkus tubuhnya."
Michael langsung memerintahkan para pasukannya untuk mencoba merapal mantra Canceling pada Bagus. Namun tidak membuat perbedaan sama sekali. Semuanya sia-sia.
"Sial. Ini percuma saja. Tak ada yang bisa kita lakukan. Ia akan mati dan hancur oleh kekuatan kegelapan," Ucap Michael.
Bagus mulai kejang-kejang. Kekuatan batu itu nampaknya sudah meracuni Mana dalam tubuhnya dan itu membuat fisiknya perlahan hancur.
"Nenek..." Ucap Bagus dalam hatinya. Ia tahu kalau kondisinya sedang dalam bahaya. Ia merasakan tubuhnya mulai hancur perlahan. "Apa aku akan menyusul mu sekarang?"
"Aku sedih karena kita tidak bisa bertemu kembali di rumah kita yang lama. Tapi, aku senang aku bisa menemuimu sebentar lagi."
Bagus memejamkan matanya. Ia hampir menerima nasibnya dan merelakan segalanya. Tapi dalam benaknya, tiba-tiba sebuah suara menyahut.
"Bagus, cucuku," Ucap suara itu.
Bagus segera membuka matanya. Di depannya, nampak sebuah kilatan bayangan yang terlihat seperti wajah yang ia kenal.
"N-Nenek?" Bagus mulai kembali terisak.
Neneknya tersenyum kepadanya. "Apa kau sudah mau menyerah sekarang?"
"Iya, Nek. Sudah tidak ada yang bisa ku lakukan lagi."
"Apa kau yakin?" Neneknya tersenyum.
Bagus terdiam. Ia pun melirik ke belakang dan melihat Shiro yang tergeletak yang sudah hampir kehabisan darah.
"Shiro..."
"Ya, benar. Kau merasa bersalah kan?" Ucap Neneknya. "Kau telah melakukan banyak kesalahan, cucuku."
Bagus mengangguk sambil menunduk. "Ya, kau benar Nek. Aku telah memilih pihak yang salah. Aku telah membuat kekacauan. Aku telah mengadu domba satu negara. Dan sekarang, aku telah merenggut nyawa seseorang."
Neneknya tersenyum. "Tapi ini masih belum terlambat. Kau masih punya kesempatan untuk memperbaikinya," Katanya. "Wanita itu, masih bisa diselamatkan."
Bagus menatap ke mata neneknya. Di mata neneknya itu, ia melihat sebuah pantulan bayangan. Ia melihat dirinya sendiri.
Bagus terdiam sejenak. Setelah jeda agak lama, ia kemudian tersenyum.
"Terimakasih, Nek. Walau aku tidak yakin perbuatanku akan dimaafkan, tapi aku ingin melakukan hal yang benar untuk terakhir kalinya."
"Itu baru cucuku. Kau tak pernah mengecewakan nenek."
Bagus memalingkan wajahnya dari neneknya. Dengan kondisinya yang sekarat, Bagus melirik ke arah Darren. Ia menatapnya dan tersenyum kecil.
"Esema, terimakasih," Ucapnya.
Itu sontak membuat Darren kebingungan sekaligus panik. "Bagus..."
Bagus kembali tersenyum, namun kali ini ia mencoba melawan kekuatan batu itu dan menggerakkan pedangnya.
"Berkat mu, aku sekarang tahu kemana tujuanku selanjutnya," Ucap Bagus.
Dengan segenap tenaganya, Bagus memfokuskan Mana di ujung pedangnya. Ia bisa merasakan tubuhnya tercabik-cabik, tapi ia tetap meneruskannya.
"Bagus! Apa yang kau lakukan!?" Darren panik. Sementara semua orang di sana menyaksikan hal itu.
Bagus memejamkan matanya. Tenaganya kini telah habis. Tapi setidaknya, ia melakukan apa yang menurutnya benar di saat-saat terakhir.
Sebuah laser hitam meluncur ke arah lengan Darren. Laser itu mengenai rantai yang mengikat Darren dan menghancurkannya.
Darren terkejut. Namun Bagus segera berkata, "Cepat sembuhkan Shiro! Ia masih bernafas."
"Bagus... kau..." Darren menatapnya sejenak.
Bagus menunjukkan wajah yang bahagia. "Tenang saja. Aku hanya akan kembali kepada nenek ku."
Darren merasa terharu atas apa yang Bagus lakukan. Ia tak mau menyia-nyiakan pengorbanannya. Ia pun segera berlari ke arah Shiro dan mengobatinya.
"Terimakasih, Bagus."
Bagus kini merasakan dekapan hangat neneknya. Walau hanya sebatas bayangan, namun neneknya masih bisa memberinya kasih sayang yang sama seperti dulu.
"Kau telah membuatku bangga, cucuku," Ucap nenek.
Namun tiba-tiba Neneknya melepas dekapannya. Bagus agak terkejut dan melihat neneknya menyentuh hidungnya.
"Tapi kau masih belum boleh ikut. Perjalanan mu belum selesai."
Dan tiba-tiba, neneknya menghilang.
.
.
.
"Kami telah datang!" Ucap tiga orang bersamaan.
.
.
.
(Ilustrasi Shiro)
__ADS_1