Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Kantuk


__ADS_3

Malam itu, Darren terus mengajak Accel berbicara. Ia banyak membicarakan hal-hal tak penting, seperti matematika, fakta unik pohon, dan beberapa hal tentang paus, yang dimana hal itu adalah hal baru di dunia ini.


"Asal kau tahu," Ucap Darren saat subuh merekah, "Pohon menyerap Karbon Dioksida dan melepas oksigen karena ia menggunakan karbon tersebut untuk membentuk lapisan kayu."


Accel hanya berusaha tak menghiraukannya, tapi Darren terus berbicara dan itu membuatnya terganggu.


"Omong kosong apa lagi yang kau bicarakan?" Ucap Accel dengan kesal, sembari berusaha menutup matanya untuk tidur.


"Apa sekolah mu tak mengajarkan itu?"


"Sekolah ku adalah sekolah ternama. Tak ada gunanya mereka mengajarkan hal sepele semacam itu," Balas Accel.


Darren hanya tertawa sedikit, ia mencoba membuat Accel terus terbawa pembicaraan.


"Lalu, apa kau tahu tentang Pythagoras?" Tanya Darren lagi.


"Shhh! Diamlah! Apa kau tak capek bicara seperti itu sepanjang malam?" Teriak Accel. "Tidur sana!"


Darren hanya tertawa sambil terus melontarkan banyak fakta-fakta unik dari dunianya.


Setelah malam penuh bicara itu berlalu, matahari mulai terbit. Cahaya mentari mulai masuk melalui celah-celah jeruji dan memberitahu Darren bahwa hari sudah pagi.


"Accel! Accel!" Teriak Darren, "Lihat, ini sudah pagi."


Accel tersentak bangun dari usahanya untuk tidur. Ia membuka matanya perlahan, tapi terasa sangat berat.


"Diamlah, aku berusaha tidur disini," Ucap Accel tak peduli.


"Bukankah kau bilang akan membawa ku ke kerajaan hari ini?" Ucap Darren. "Jadi ini kelakuan sebenarnya seorang petinggi Erobernesia. Bermalas-malasan saat jam kerja."


Accel langsung membuka matanya karena kesal. Ia menghantam meja dan langsung berjalan ke arah jeruji.


"Dengar ya, aku tidak sama seperti para koruptor-koruptor sampah itu, yang hanya bisa bersantai dan menunggu hasil tanpa kerja," Ucap Accel dengan keras. "Akan ku bawa kau ke hadapan raja dan memastikan kau akan dihukum karena menghina petinggi Kerajaan!"


Darren hanya tersenyum kecil dengan sedikit wajah canggung. "Y-ya, maaf kalau gitu. Aku tak bermaksud menghina," Ucapnya. "Kau takkan melaporkan itu kan?"


"Huahh..." Accel menguap. "Sudahlah. Tak usah bicarakan itu disini. Ayo cepat, kau harus kembali ke kereta."


Darren dikeluarkan dari penjara dan dituntun masuk ke dalam kereta, yang dimana ia kembali bertemu orang kemarin.


"Wasap, men!" Ucap Darren sok akrab.


Tentara itu hanya diam dengan tatapan dingin. Terus mengawasi Darren dengan serius dan tak pernah melepaskan pandangannya pada Darren.


"Kau mengerikan," Ucap Darren.


Perjalanan kembali berlanjut.


Sementara Darren berada di dalam kereta, Accel berada di barisan depan memimpin jalan.


"Accel-sama, apa kau tidak apa-apa?" Tanya seorang tentara disampingnya.


"Hwahh... aku tak... apa," Balas Accel dengan sayup-sayup.


"Anda tidak terlihat sehat. Apa buronan itu melakukan sesuatu pada anda?"


"Hwah... tidak. Dia hanya berbicara terus semalaman. Itu membuatku tak bisa tidur."


Accel terus-menerus menguap. Dalam benaknya, ia mulai khawatir dengan keadaan ini.

__ADS_1


Ia dalam kondisi tak fit, dan seorang buronan sedang dalam pengawasannya. Akan bahaya jika Darren kabur hanya karena rasa kantuknya.


"Sepertinya tidak masalah," Pikir Accel. "Semalaman ia tak tertidur. Ia juga pasti cukup lelah dan tak mungkin ia akan melarikan diri dalam kondisi seperti itu."


"Aku sendiri tahu bagaimana rasanya menahan kantuk. Jadi, ia juga pasti merasakan hal yang sama."


Darren hanya duduk di kursi kereta sambil saling bertatap-tatapan dengan tentara itu dengan canggung. Ia heran kenapa tentara ini bisa diam di situ dengan tegap tanpa lelah sama sekali.


"Hey, kau ini apa sih?" Ucap Darren. "Apa kau patung, ya?"


Perjalanan masih berlangsung, dan ini sudah tengah hari. Keberadaan mereka juga sudah sangat jauh dari kota. Tempat ini sepi. Jika orang biasa yang lewat sini, perampok pasti akan datang menyerang.


"Aku ingin buang air kecil," Ucap Darren pada tentara di depannya.


Tentara itu tak menjawab, tapi ia berdiri dan menongolkan kepalanya keluar jendela. Ia berteriak. "Orang ini ingin kencing!"


Darren pun dituntun ke semak-semak. Disana, ia diawasi oleh tiga penjaga, sementara Accel sedang beristirahat di kuda-nya.


Karena terik matahari yang cukup menyengat, banyak tentara yang mulai lengah juga.


"Ini kesempatan yang bagus," Pikir Darren.


Darren berpaling kepada tiga tentara itu.


Para tentara mulai memperingatinya, "Hey, cepat kencingnya! Kita sudah tak punya banyak waktu."


Tapi Darren hanya tertawa kecil. Ia tiba-tiba meletakkan tangannya di pinggang dan mengeluarkan sebuah pedang berwarna hijau.


"D-dia punya pedang!?"


Slash! Darren menebas tiga tentara itu.


Mereka bertiga langsung tewas seketika tanpa perlawanan.


Dari kejauhan, seorang tentara memperhatikan Darren dari jauh.


"Eh? Ada apa disana?" Gumamnya. Tapi saat ia menyipitkan matanya, ia sadar bahwa ada sebuah pedang di tangan Darren.


"Accel-sama, buronan itu ingin melarikan diri!" Teriak tentara itu.


Accel langsung membuka matanya. Ia menengok dan benar, ia melihat Darren berdiri dengan pedangnya.


"Pedang!? Darimana ia dapatkan itu!?"


Accel langsung turun dari kudanya. Ia hendak mengejar Darren, tapi ia mengurungkan niatnya saat sadar bahwa Darren tak mencoba kabur. Ia malah menghampiri Accel.


"Darimana kau dapatkan pedang itu!?" Teriak Accel pada Darren.


Darren tersenyum. "Apa kau tidak tahu kalau aku bisa meniru jurus seseorang?" Ucap Darren.


Accel teringat tentang cerita Michael tentang bagaimana ia meniru jurus cahayanya. Tapi apa itu ada hubungannya dengan pedang itu?


Darren melanjutkan perkataannya, "Aku meniru jurus Akira. Aku melihatnya mengeluarkan sebuah pedang secara ajaib, tapi sebenarnya itu adalah salah satu sihir spesialnya."


"Aku membentuk pedang ini dengan zamrud. Sama seperti yang Akira lakukan sebelumnya."


Accel terkesima dengan kecerdasan Darren. Ia tak ingat kalau setiap pertarungan yang Darren lalui, maka semakin hebat juga sihir yang ia pelajari.


"Sial. Aku tak menduga ini," Gerutu Accel.

__ADS_1


Darren mulai mendekat ke arah pasukan. Para pasukan pun mulai bersiap. Mereka memasang posisi tempur dimana pemanah bersiap dibelakang dan petarung jarak dekat berada dibarisan depan.


"Kau akan melawan kami? Sebaiknya kau pikir dulu," Ucap Accel. "Kami adalah pasukan besar, sementara kau hanyalah seorang diri. Kau juga tak punya zirah dan senjata mu hanya pedang. Tak mungkin kau bisa mengalahkan kami."


Darren mebalas, "Tapi apa gunanya sebuah pasukan besar jika pemimpin mereka mengantuk."


Accel mulai menyadari bahwa pembicaraan tadi malam buka semata-mata hanya untuk mengganggu. Tapi itu adalah salah satu rencananya.


"Jadi dia sudah merencanakan semua ini," Ucap Accel dalam hati dengan nada kesal.


Accel langsung mengacungkan tangannya ke arah Darren. Dengan emosi yang membara-bara, ia memerintah semua pasukan untuk menghujaninya dengan panah.


"Tapi Accel-sama. Bukankah kita harusnya menangkap ia hidup-hidup?" Peringat salah satu tentara.


"Masa bodo dengan itu. Ia telah mempermalukan ku disini," Balas Accel sambil emosi. Ia sudah termakan amarah dan ego. Sudah tak ada yang bisa menghentikannya.


"Hwahh... t-tembak!"


Anak panah berterbangan di langit. Tapi bukannya panik, Darren malah tersenyum.


Cringg!!! Sebuah zirah hijau terbentuk di sekujur tubuhnya.


Bagi zirah zamrud Darren, anak-anak panah itu hanya terasa seperti bulu. Tak terasa sakit sama sekali.


"Tak mungkin!" Teriak mereka terkejut.


"Sialan kau!" Ucap Accel dengan marah.


Ia langsung turun tangan dan menembakkan sihir dengan terus menerus.


"Water Shot!"


Pew! Pew! Pew! Walau ia mengeluarkan serangan bertubi-tubi seperti itu, tak ada satupun yang berhasil mengenai Darren. Padahal Darren hanya diam tanpa menghindar sedikitpun.


"Mataku berkunang-kunang. Aku terlalu lelah untuk ini," Ucap Accel dalam hati. "Mana ku juga sudah menipis. Jika terus begini, aku akan pingsan dan ia bisa saja membunuhku."


Accel semakin waspada, tapi rasa kantuknya sangat mengekang.


"Sudahlah, akan ku akhiri semua ini," Ucap Darren.


Darren menancapkan pedangnya ke tanah. Ia kemudian merapal sihir yang sama seperti milik Akira. Yaitu sihir yang digunakan saat melawan Tomatsu sebelumnya.


"Saatnya menguji coba sihir ini," Ucap Darren bersemangat. "Emerald Touch!"


Jeb!!! Formasi pasukan langsung kacau saat duri-duri hijau muncul dari tanah dan mulai menancap ke tubuh mereka.


Tempat itu pun langsung dipenuhi teriakan kesakitan. Para tentara mulai membatu dan berubah jadi kristal.


"Accel-sama, t-tolong aku..!" Teriak pasukan.


Accel yang masih tersisa, yang memang sengaja dibiarkan hidup oleh Darren, merasa frustasi. Sepertiga tentara Erobernesia yang dipimpinnya mati dan ia lah yang bertanggung jawab.


Ia mulai tersungkur ke tanah.


"Apa yang akan ku katakan pada raja?" Tanya Accel pada dirinya. "Akan ku taruh dimana muka ku saat bertemu dengannya?"


Darren mengibaskan pedangnya dan pedang itu menghilang begitu saja. Ia menatap Accel dengan tatapan yang seakan mengatakan: "Menyedihkan sekali."


Tanpa banyak bicara ia mulai merapal mantra baru miliknya, yang ia sempat baca di perpustakaan.

__ADS_1


"Recall," Ucapnya.


Ia pun menghilang dengan sekejap mata dari tempat itu, dan meninggalkan Accel sendirian tanpa menyentuhnya sama sekali.


__ADS_2