
"Dan saat aku terbangun. Aku sudah terkurung di balik tembok es yang tebal," Ucap Tomatsu sambil menyeruput secangkir teh.
"Sejak kapan?" Tanya Darren sambil menyilangkan tangannya.
"Mungkin... sembilan ratus tahun lalu," Jawab Tomatsu.
"Se-Sembilan ratus? Hmm..." Darren mengelus dagu. "Ternyata udah selama itu ya."
Darren menyenderkan badannya di kursi. "Sesungguhnya, aku terkejut mendengar mu bisa berbahasa manusia," Ucap Darren. "Padahal sebelumnya, bahasa jaw-- iblis mu medok banget."
Tomatsu meletakkan cangkirnya. "Setelah aku lepas, aku telah melihat banyak manusia," Ucapnya. "Mereplika ulang bahasa mereka bukanlah hal sulit."
Tomatsu menatap Darren dengan tatapan tajam. Ia memperhatikan Darren dengan serius dan mulai mencondongkan badannya ke depan.
"Kau, bukan manusia, ya?" Tanya Tomatsu pelan.
Darren kaget. "Eh, t-tentu saja aku ini manusia."
Mendengar itu, Tomatsu langsung menarik kembali tubuhnya dan duduk seperti semula. Ia menyilangkan lengannya sambil menyipitkan mata.
"Tapi kekuatan mu sangat unik. Aku bisa merasakan aura yang agak berbeda dari mu," Ucapnya.
"A-Apa maksud mu?" Tanya Darren.
"Aura mu... bukanlah aura manusia biasa. Aku merasakan sesuatu yang jauh berbeda," Sambung Tomatsu. "Aura yang kuat dan tak terasah. Seperti batu besar yang keras sebelum dipahat menjadi patung indah."
Darren terdiam.
"Seperti wanita di sana," Tomatsu tiba-tiba menujuk ke arah Akira yang sedang berdiri. "Aku merasakan aura yang sedikit kuat darinya. Aura ini menandakan bahwa ia manusia yang spesial."
Kemudian Tomatsu kembali menatap Darren. "Aku sudah banyak melihat aura seperti itu. Tapi aura mu, itu sangat unik."
Keadaan menjadi hening. Tak ada yang menanggapi, termasuk Darren sendiri.
"Tapi, yah mungkin ini cuma perasaan ku saja," Tomatsu merebahkan badannya di kursi. "Terkurung sembilan ratus tahun benar-benar membuatku kehilangan akal."
Darren hanya tertawa kecil dengan canggung.
"Ehem, aku mau tanya satu hal lagi," Ucap Darren sambil berdiri dari kursi. "Kau mengaku bahwa dirimu adalah Raja Iblis sejati, kan?"
Tomatsu mengangguk. "Yup," Jawabnya, "Emangnya kenapa?"
"Sesuai buku yang ku baca. Di dunia ini ada tujuh Raja Iblis Sejati. Mereka merupakan pelopor dari berdirinya status 'Raja Iblis' dan hidup beribu tahun yang lalu. Tapi mereka telah mati di tangan umat manusia," Sambung Darren. "Tapi aku sedikit tidak yakin dengan cerita itu. Sebenarnya, apa yang terjadi kepada Raja Iblis Sejati lainnya?"
Tomatsu membalas dengan santai. "Itu cerita yang lucu. Tak ada satupun dari kami yang mati," Jawabnya. "Walau aku sudah lama tak bertemu dengan teman-temanku, tapi aku yakin kalau mereka masih hidup. Aku bisa merasakannya."
Akira dan Shiro yang berdiri di situ jadi terkejut.
"Jadi maksud mu. Semua Raja Iblis Sejati masihlah hidup?" Tanya Akira spontan.
Tomatsu mengangguk. "Tentu saja. Tapi mungkin, hanya keberadaan mereka saja yang tidak diketahui."
__ADS_1
Akira langsung berdiri tegak. "Kalau begini bahaya!" Ucapnya. "Aku harus melaporkan hal ini kepada Jenderal."
Tapi ia dihentikan oleh Darren. "Sebaiknya jangan dulu," Ucap Darren sambil menghadang. "Selama mereka belum menimbulkan masalah, lebih baik kita menghindarinya."
"Aku tahu sifat Schaff. Dia adalah orang yang tergesa-gesa. Pemikirannya dangkal dan itu bisa berbahaya bagi semua orang. Lebih baik kalau ia tak tahu tentang hal ini."
Akira langsung berhenti. Ia pun berbisik pelan di telinga Darren, "Esema-kun, kau tidak benar-benar percaya dengannya kan?"
"Maksud ku. Dia itu kan Raja Iblis. Ia adalah makhluk yang licik. Tidak seharusnya kita percaya padanya," Sambungnya.
Darren memejamkan mata sambil menggeleng pelan. "Aku sendiri tidak tahu. Tapi, aku akan mencoba menggali informasi sebanyak mungkin darinya. Baik itu bohong atau tidak, pasti ada cara untuk mengetahui kebenarannya."
Akira hanya bisa setuju. "Baiklah, kuserahkan ia kepada mu," Ucapnya sambil melepaskan bisikannya. "Aku akan pergi ke kota untuk mengatur keamanan. Runtuhnya tembok benar-benar membuat kerusuhan di pemukiman."
Darren menatapnya. "Kau tidak akan memberitahu hal ini kepada jenderal kan?"
Akira menggeleng sambil tersenyum. "Tenang saja. Aku akan tetap tutup mulut."
Setelah Akira pergi bersama Fak, Darren kembali mengarahkan pandangannya kepada Tomatsu. Tiba-tiba, Tomatsu sudah tidak ada di kursinya. Ia Terlihat sedang memojokkan Shiro di dinding.
"Kau..." Tomatsu menyentuh Shiro dengan perlahan. "Kau manusia hewan."
"I-iya, aku manusia hewan," Jawab Shiro sambil ketakutan.
Darren langsung menghampiri mereka, diikuti oleh Tora yang terlihat waspada.
"Hey, hey, ada apa ini?" Darren menarik Shiro dari Tomatsu. "Apa yang kau lakukan kepadanya?"
"Dewa aneh?" Tanya Darren.
"Ya. Dulu aku sempat bertemu dengan dewa yang aneh," Jawab Tomatsu. "Ia suka sekali warna putih. Apa-apa serba putih, mulai dari pakaian, rambut, hingga kulitnya."
Tora langsung menyahut. "Apa jangan-jangan, yang dimaksud adalah Dewa..."
"Albino," Potong Darren.
"Ah iya, Albino. Aku hampir lupa nama itu," Sambung Tomatsu.
Darren sebenarnya agak terkejut dengan semua ini. Tentang Raja Iblis dan Dewa-dewa. Semua ini pasti punya sejarah. Tapi, apa ia sanggup mempelajari semua sejarah itu?
Ditambah lagi, Shiro ternyata seorang dengan darah Albino. Ia baru menyadarinya sekarang walau ia selalu melihat wajah dan rambut putih Shiro setiap hari.
Tapi, dari apa yang ia dapat hari ini. Darren dapat menyimpulkan bahwa Tomatsu tidak berbohong tentang statusnya sebagai Raja Iblis Sejati.
"Kurasa yang tadi bukanlah tebakan. Ia pasti memang bisa merasakan aura ku dan menemukan sesuatu yang janggal."
"Raja Iblis Sejati... apa aku bisa menjadi seperti mereka...?"
Lamunan Darren berhenti saat Shiro tiba-tiba menggenggam bajunya.
"Esema-sama," Wajahnya terlihat gelisah. "Apa wanita ini tidak apa-apa?"
__ADS_1
Darren tersenyum dan membalasnya. "Tenang saja. Jika ia berbuat macam-macam, aku akan menghentikannya."
Shiro membalasnya dengan hela nafas. Ia menjadi sedikit lebih tenang dan melepaskan genggamannya perlahan.
"Jadi, Tomatsu, apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Darren sambil menatapnya.
"Aku ingin mencari pihak yang bertanggung jawab atas kehancuran kerajaan ku!" Balas Tomatsu dengan keras.
Darren terengah. "Tapi, apa kau punya petunjuk?"
Tomatsu langsung terlihat linglung.
"Sudah ku duga. Walau kau pintar, tapi kau itu bodoh," Ucap Darren sambil menarik nafas.
Tomatsu hanya cengar-cengir sambil menatap Darren.
"Aku punya penawaran," Darren tiba-tiba menghampiri Tomatsu.
Tomatsu awalnya bingung. Tapi saat ia melihat tatapan mata Darren, ia merasakan sesuatu yang berbeda dari pemuda ini.
"Pemuda ini ingin membuat kesepakatan? Kesepakatan dengan Raja Iblis? Berani juga dia."
Tomatsu pun menanggapinya. "Penawaran apa?"
"Setelah melihat cara bertarung mu tadi, aku sadar bahwa aku masihlah jauh dibawah. Jadi, jika kau bersedia mengajarkan ku beberapa teknik mu, maka aku akan membalasnya dengan sesuatu," Jawab Darren.
"Dengan apa?" Tomatsu tertarik.
Darren menyeringai. "Aku akan membantu mu mencari pihak yang bertanggung jawab."
Mata Tomatsu langsung terbuka.
Dalam pikirannya, apa yang ditawarkan Darren mungkin akan menguntungkan. Setelah terkurung sembilan ratus tahun, dunia sudah benar-benar berubah dari apa yang ia ingat.
Mencari sesuatu tanpa petunjuk sendirian juga tidak efisien dan hanya melelahkan. Tapi, walau dengan bantuan manusia, mungkin masalah ini akan cepat selesai.
"Lagipula, aku hanya perlu melatihnya. Itu bukan masalah besar," Pikir Tomatsu.
"Baiklah kalau begitu," Ucap Tomatsu.
Darren terlihat puas dengan itu. "Bagus. Ngomong-ngomong, aku belum memperkenalkan diri secara resmi," Ucap Darren. "Kau boleh memanggil ku Esema."
"Baiklah, Esema--kun."
"Dan... kau, Tomatsu-sensei," Sambung Darren. "Tolong kerjasamanya."
.
.
.
__ADS_1
"Aku tahu rencana mu, Esema-sama. Kau hanya mencoba untuk mengendalikan Raja Iblis itu," - Tora