
Beberapa hari setelah kesepakatan tersebut, Darren selalu mengunjungi perpustakaan hampir setiap harinya. Ia menyelidiki tentang 'Si Hijau Zamrud' dengan teliti dari setiap surat kabar yang terdapat disana.
Tapi yang ditemukannya hanya tak lebih dari sekedar jumlah kasus yang berhasil ia pecahkan dengan sempurna. Tak ada info tentang nama aslinya dan seperti apa wajahnya. Hal ini sangat menjengkelkan Darren.
"Sepertinya soal informasi harus kuserahkan pada Tora," Gumam Darren.
Pada waktu senjang juga, Darren banyak melatih Tora dan Shiro. Untuk Tora, Darren mengajarkan beberapa sihir yang mungkin akan berguna untuk meningkatkan performa intel-nya.
"Sneak, Speed, dan Jump Boost. Kau harus bisa menguasai semuanya!" Ucap Darren pada Tora.
Tora hanya menganggukkan kepala dengan semangat. Ia tak mau kehilangan pekerjaan barunya.
"Dan untukmu, Shiro," Sambung Darren. "Sepertinya kau cocok dengan sihir es. Lebih baik kalau kau fokus dengan elemen itu."
"Tapi, aku tak pernah belajar sihir itu sebelumnya," Ucap Shiro dengan ragu.
"Tenang saja. Aku akan selalu membantu mu," Ucap Darren sambil tersenyum.
Wajah Shiro menjadi cerah. Ia kemudian membalasnya dengan senyuman dan sambil mengangguk ia berkata, "Baik! Aku takkan mengecewakan mu, Esema-sama!"
.
.
.
Present Day...
Darren, Shiro, dan Tora sedang berkemah di luar kota. Di dekat hutan dekat pegunungan Erfroren, mereka mendirikan sebuah tenda.
Hari sudah gelap, dan bintang-bintang bertebaran di langit. Darren sedang duduk di dekat api unggun sambil menatap ke langit. Bintang-bintang itu mengingatkannya pada sahabatnya dulu, Yuzuna.
"Yuzuna...-san," Panggilnya dalam hati. Ia berharap mendengar jawaban dari panggilan hatinya itu.
Saat Darren melamun, tiba-tiba Tora muncul dengan mantra Speednya. Ia berdiri tepat di hadapan Darren.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Darren pada Tora.
"Izinkan aku melapor, Esema-sama," Balas Tora. "Para pasukan itu masih terlihat sibuk menyingkirkan sebuah bongkahan es di sebuah tebing. Perjalanan mereka akan terhambat hingga beberapa jam. Jika anda cepat, mungkin akan sempat untuk menyusul mereka."
"Baiklah, terimakasih informasinya," Ucap Darren. "Sekarang temuilah Shiro. Ia sedang memasak makan malam. Istirahatlah dan pulihkan tenaga mu."
Darren kemudian berdiri dari duduknya sambil melebarkan jubahnya.
"Aku titipkan Shiro pada mu," Sambung Darren sambil mengaktifkan mantra Speed, dan kemudian menghilang dengan cepat dari situ.
"Apa yang kau rencanakan, Esema-sama?' Gumam Tora.
Darren bergerak dengan cepat menuju selatan, dimana Pegunungan Erfroren berada. Jika pasukan itu cukup lama untuk memindahkan bongkahan es, maka ia bisa sampai di sana tepat waktu.
" Menunjukkan wajahku di depan pasukan itu bukanlah ide bagus. Untung aku sudah menyiapkan sebuah topeng untuk menutupi identitas ku," Ucap Darren sambil mengenakan sebuah topeng pada wajahnya.
"Pasukan itu berisi tentara Friedlich yang dikirim untuk membantu Erobernesia. Pemimpin pasukan mereka adalah Si Hijau Zamrud."
"Sebenarnya aku tak ada urusan dengan tentara Friedlich, tapi mereka bisa jadi penunjuk jalan yang bagus bagiku untuk bertemu Michael. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini."
"Akhirnya, dendam ku akan terbayarkan di sini. Akan ku bunuh bajingan itu!"
__ADS_1
Lama-lama, udara mulai dingin. Dinginnya sampai bisa membuat paru-paru Darren beku. Tapi ia menggunakan mantra Frost Protection-nya yang baru ia pelajari beberapa hari lalu di perpustakaan, sehingga ia bisa bernafas normal kembali.
Tak lama, Darren mulai mendengar beberapa suara tak jauh dari keberadaannya sekarang. Ia segera melambatkan langkah kakinya dan mengaktifkan mantra Sneak.
"Es ini besar sekali. Kita takkan bisa memindahkannya," Ternyata itu adalah para tentara Friedlich.
"Apa gak bisa dihancurkan?" Tanya seorang yang tak lain adalah Pria Bertopeng.
"Tidak bisa. Es ini terlalu tebal," Balas tentara tadi. "Tanpa pengguna sihir api, kita tak bisa melelehkan es ini. Kita harus mengambil jalan memutar."
"Tapi jalan memutar itu sangat jauh. Bisa-bisa kita sampai di Erobernesia dua minggu lagi!" Protes pria bertopeng. "Apa disini tak ada satupun pengguna sihir api?"
Semua pasukan itu menggeleng.
"Agh... jenderal itu sangat bodoh. Bisa-bisanya ia mengirim pasukan tanpa memperhitungkan kemungkinan terlebih dahulu," Gerutu Pria Bertopeng. "Dasar merepotkan."
Darren yang mendengarkan mereka dibalik sebuah batu, merasa kalau ini akan sangat merepotkan. Bagaimanapun, satu-satunya orang yang bisa menuntun ia pada Michael hanyal mereka. Dengan terblokirnya jalan mereka ke Erobernesia, maka tujuannya juga akan terhalangi.
"Apa aku harus membantu mereka?" Pikir Darren. "Aku bisa saja melelahkan es itu dengan sihir api ku secara diam-diam. Tapi hal itu malah akan membuat mereka berpikir kalau mereka sedang di serang. Pertemuan mereka bisa-bisa malah akan dibatalkan."
"Apakah aku harus menunjukkan diri ku, dan bilang bahwa aku datang untuk membantu mereka?"
"Itu sepertinya pilihan bagus. Untuk menutupi identitas ku, aku bisa mengaku kalau aku utusan dari Erobernesia. Semoga saja mereka percaya."
Darren segera melepas mantra Sneak-nya dan melompat dari balik batu. Ia mendarat tepat dibelakang pasukan, membuat para pasukan itu kaget dan langsung menodongkan senjata mereka.
"Ey.. ey... tenanglah," Ucap Darren, "Aku kesini bukan untuk mencari masalah."
"Siapa kau?" Tanya salah satu tentara.
Pria bertopeng langsung berjalan menghampiri Darren. Darren berusaha untuk tetap tenang. Pria bertopeng itu pastinya adalah seorang yang teliti dan penuh waspada. Darren harus lebih berhati-hati saat berhadapan dengannya.
"Bisa tolong beritahu aku namamu?" Tanya pria bertopeng itu.
"Esema," Jawab Darren.
"Hmm... aura Mana-mu mengingatkan ku pada seseorang," Ucap pria bertopeng setelah memperhatikan Darren cukup lama.
Darren sempat terkejut. Ia lupa kalau orang ini mempunyai bakat merasakan aliran sihir.
"Sial, aku lupa."
Tapi tak lama terdengar suara tawa dari balik topeng tersebut. "Yah... sepertinya kau tak mengerti dengan apa yang ku katakan."
"Ehe... iya, ya?" Balas Darren canggung.
"Baiklah kalau begitu. Sesama sebagai utusan, aku harus memperkenalkan diri ku juga," Sambung pria itu. "Nama ku Akira, kapten pasukan Friedlich. Mohon kerjasamanya."
Darren dan Akirapun berjabat tangan.
"Sekarang, biarkan aku melelehkan es ini," Ucap Darren.
Para tentara mulai mundur beberapa langkah menjauh dari es tersebut, sementara Darren mengumpulkan energi sihirnya.
"Fire Elemental: Fire Ball!"
Bola api Darren meluncur hingga menabrak es itu. Darren mengulangi trik yang sama hingga beberapa kali sampai es itu meleleh tuntas.
__ADS_1
"Bagus. Sekarang, ayo kita lanjutkan perjalanan kita," Ucap Akira pada pasukannya.
Mereka pun mulai kembali bergerak, begitu juga Darren yang mengikuti mereka dengan penyamarannya.
"Apa menggunakan topeng juga sedang ngetren di Erobernesia?" Tanya Akira tiba-tiba.
"Ah, tidak juga. Aku menggunakannya hanya untuk bersenang-senang," Jawab Darren.
Akira tiba-tiba mulai menyipitkan matanya. Ia memandangi seluruh tubuh Darren dengan serius. "Aku jujur belum pernah melihatmu sebelumnya. Tapi aliran Mana-mu terasa familiar," Ucapnya.
"Mungkin kau salah orang," Balas Darren berusaha berbaur.
"Benar juga. Kebetulan seperti itu tidak mungkin terjadi," Ucap Akira sambil melepas nafasnya. "Akhir-akhir ini kepala ku sangat kacau. Aku jadi sering lalai dalam melakukan tugasku."
"Kacau?"
"Ah, maaf. Aku tak seharusnya membicarakan ini kepadamu. Tolong lupakan perkataan ku," Ucap Akira lagi.
Darren hanya mengangguk-angguk.
"Aku sempat mendengar perkataan mu tentang Jenderal Friedlich," Ucap Darren tiba-tiba. "Apa kau punya masalah dengannya?"
"Eh? Kau mendengar nya, ya?" Balas Akira. "Tolong jangan beritahu siapa-siapa. Sebenarnya, aku berpikir kalau Jenderal Friedlich sangat tidak berpengalaman."
Darren mulai memfokuskan telinganya. Ini mungkin akan jadi informasi yang bagus untuk kedepannya.
"Apa maksud mu dia tak becus?" Tanya Darren.
"Ya, tepat sekali," Balas Akira. "Aku cukup yakin kalau kau sudah pernah mendengar namanya."
"Eh... t-tentu saja sudah," Jawab Darren. "Kampret, aku gak tahu namanya."
"Dia diangkat menjadi jenderal bukan karena pencapaiannya, tapi karena ia menantu raja," Jelas Akira. "Dengan minimnya pengetahuan militer yang ia miliki, aku yakin kalau militer Kerajaan bakal tumbang gak lama lagi."
Darren kembali mengangguk-angguk. Ia merengutkan dagunya. "Berbanding terbalik dengan Jenderal Kerajaan Erobernesia," Ucap Darren. "Jenderal Erobernesia sangat berpengalaman. Aku bahkan sempat kesulitan untuk mengimbangi gaya bertarungnya."
"Walau dia hebat, tapi ada seseorang yang pernah mengalahkannya loh," Sahut Akira.
"Taiji?"
"Ya, Taiji-san juga pernah. Tapi ada seorang lagi," Ucap Akira. "Seorang petualang perunggu. Namanya Darren."
Darren tersentak.
"Ah, dia," Ucap Darren berusaha tetap tenang dan berbaur dengan keadaan.
"Ya, kau pasti sudah tahu sih," Sambung Akira. "Sebenarnya seberapa kuat ya dia itu?"
"Entahlah. Jika ia bisa mengalahkan Michael, pastinya ia bukan orang biasa," Balas Darren.
"Menyanjung diri sendiri rasanya aneh bagiku. Tapi aku harus berakting semaksimal mungkin."
"Satu-satunya yang melindungi ku saat ini hanyalah topeng ini. Jika aku ceroboh sedikit saja, mereka akan langsung mencurigai ku."
Darren pun terus berjalan melewati pegunungan Erfroren yang dingin, bersama pasukan Friedlich yang tidak tahu tentang rencananya.
Apakah akhirnya Darren akan bertemu Michael? Apakah dendamnya akan terbayarkan disini? Tunggu perjalanan selanjutnya.
__ADS_1