Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Tulang Belulang di Tanah


__ADS_3

"Michael, larilah!" Terdengar suara yang tak asing bagi Michael. Seperti suara seseorang yang pernah dilupakannya. Suara yang terasa dekat, namun juga terasa jauh.


Untuk sesaat, tatapan Michael tertuju pada anak iblis itu. Melihat marabahaya yang hendak menjemputnya. Mendadak, perasaan aneh langsung mengalir dalam tubuhnya.


Tanpa disadarinya, tangannya bergerak sendiri. Ia membuang satu tongkatnya dan langsung mengulurkan tangannya seraya merapal mantra.


"Fire Elemental: Fire Ball!"


Elemen api berkumpul di ujung telapak tangannya, membentuk bola api yang panas. Panasnya sanggup membuat rintikan air hujan menguap.


Swooshh! Ia meluncurkan bola tersebut, dengan tatapan yang keheran-heranan. Namun ia tidak menahan dirinya lagi.


Bola api itu langsung menyambar mayat hidup tersebut dan membunuhnya sekejap. Bahkan ditengah hujan deras, api tersebut cukup kuat untuk membakar hangus tubuh undead tersebut.


Riana terkejut. Ia pun memalingkan wajahnya menengok ke arah Michael. Wajahnya langsung dihiasi ekspresi kaget sekaligus bersyukur.


"Kau melakukannya," Ucap Riana pelan dengan senyuman bangga diwajahnya.


Tanpa basa-basi, Michael segera merapalkan mantra selanjutnya.


"Fire Elemental: Extermination Flame!" Ucapnya sambil mengangkat tangannya ke atas.


Api yang membara segera menyebar ke segala arah dalam jangkauan luas. Api-api itu pun mengenai zombie-zombie yang mengitari mereka dan membunuhnya dalam sekejap.


Dalam waktu singkat, jumlah para undead langsung berkurang pesat. Bahkan sekarang Ari jadi memiliki lebih banyak ruang untuk menembakkan panahnya.


"Siapa yang melakukannya?" Tanya Ari seraya terus menyerang. Ia pun melirik sedikit. "Apakah dia?"


Setelah sukses meluncurkan sihir apinya, Michael perlahan tumbang dan tersungkur ke tanah. Nampaknya bertumpu pada satu tongkat tidak bisa menahan keseimbangannya.


Ia pun terjatuh. Ia belum pulih sepenuhnya. Mungkin karena ia hanya makan sedikit tadi siang.


Riana langsung menghampirinya. Ia mendekat dan mencoba membantunya berdiri.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Riana.


Tapi Michael menjawab dengan pertanyaan lain. "Anak itu. Apa dia baik-baik saja?"


Riana tersenyum kecil sambil memegang telapak tangannya. "Ya, dia baik-baik saja. Itu berkat mu, Mas Ksatria."


"Michael," Sahut Michael, memberitahukan namanya.


Riana merasa senang. Michael telah sedikit berubah sejak pertama kali mereka bertemu.


"Terimakasih, Michael-san," Ucap Riana lagi.


Michael duduk di atas tanah yang basah. Ia pun berkata, "Jangan buang-buang waktu. Bawa warga ke tempat yang aman."


"Lalu, kau?"


Michael memandang ke arah Ari. "Aku akan membantu kakak mu. Bagaimanapun, ini masih belum selesai."


Riana mengangguk, kemudian pergi meninggalkan Michael. Ia juga tidak lupa meraih lengan anak tadi dan membawanya pergi dari situ.


"Ayo, kita pergi dari sini."


"Om ksatyia gimana?"


"Dia akan baik-baik saja. Dia orang yang kuat."


Melihat Riana telah pergi, Michael segera meraih tongkatnya yang tadi terjatuh. Ia perlahan kembali bangkit berdiri dan berjalan sempoyongan menuju Ari.


"Kau, pemuda iblis," Panggil Michael dari belakang.


Ari menoleh. Ia melihat sesosok pria dengan tongkat penyangga datang kepadanya.


"Jadi benar. Kau yang melakukannya," Ucap Ari kecil.


Michael maju ke depan Ari. Ia melayangkan pandangan ke arah para kerumunan undead yang masih bergerak menghampiri mereka.


"Sihir mu tadi sangat membantu. Tapi, jumlah mereka masih sangat banyak," Ucap Ari.


"Aku ada rencana. Tapi aku membutuhkan bantuan mu," Ucap Michael dengan wajah serius.


Mata Ari tertegun sejenak. Ia merasa seperti melihat orang yang berbeda di depannya.


"Hehe, rasanya aneh mendengar mu minta tolong," Ucap Ari sambil menyeringai. "Kalau begitu, katakanlah. Apa yang harus ku lakukan!"


Michael berjalan mendekat. Suara tongkatnya berbunyi layaknya menginjak lumpur.


"Aku ingin kau jadi umpan," Michael menjelaskan rencananya. "Buat mereka berkumpul di satu titik. Kumpulkan mereka sebanyak yang kau bisa."


Ari meneguk salivanya. "U-Umpan?" Ucapnya ragu.


Michael mengangguk. "Apa kau bisa?"


Ari merenung sejenak. Ia sedikit ragu dan takut. Selama ini ia selalu bertarung di barisan belakang dengan panahnya dan tak pernah begitu dekat dengan lawannya.


Plakk! Ari menampar wajahnya sendiri. Ia membuang segala keraguannya. Ia harus melakukan ini, demi keselamatan penduduk.


"Baiklah. Aku akan melakukannya," Ucap Ari.


"Bagus. Lakukan dengan cepat. Begitu kau berhasil mengumpulkan mereka, segera pergi menjauh dari sana secepatnya!"


Ari mulai bergerak. Ia bergerak dengan lihai melewati kerumunan mayat hidup itu. Pengalamannya sebagai pemburu di hutan telah membuat pekerjaan ini jadi lebih mudah.


Sebagai pemburu, Ari memiliki stamina yang luar biasa. Ia telah terbiasa untuk berlari dengan kecepatan tinggi demi mengejar target buruan. Dan kegiatan tersebut telah ia lakukan selama bertahun-tahun.


Usahanya membuahkan hasil. Para zombie mulai teralihkan dan berjalan mengejarnya. Ari pun menggiring mereka ke sebuah lapangan terbuka tidak jauh dari desa.


Setelah yakin bahwa para undead telah berkumpul. Ari segera menjauh dari sana dan berteriak.


"Selesai!"

__ADS_1


Mendengar aba-aba dari Ari, Michael memejamkan matanya dan mulai merapal mantra.


"Light Elemental: Heaven's Light," Ia menyelesaikan mantranya.


Seketika, langit terbuka. Awan-awan yang mengepul segera bergerak menyisakan sebuah lubang di angkasa. Hujan pun terhenti karena awan telah sirna.


Ari menatap langit dengan takjub. "Sihir ini... sihir cahaya tingkat S!"


Cahaya terang turun dari lubang di langit, jatuh dan menyinari kerumunan undead itu. Tak lama setelah cahaya tersebut menyentuh tanah, nampak kilatan cahaya lain yang lebih terang. Sangat terang hingga menyilaukan pandangan mata.


"Apa-apaan ini!? Aku tidak bisa melihat apa-apa," Ari menutupi matanya dengan telapak tangannya.


Tanah bergetar dan kedengaran suara bising dari arah cahaya itu. Kejadian itu berlangsung sekitar tiga puluh detik, sampai akhirnya suasana mulai mereda.


Ari membuka matanya perlahan, seraya pandangannya mulai menjelas.


"I-Ini!?" Matanya seketika melotot kaget. Pemandangan di depannya membuat dirinya tak bisa berkata-kata.


Tanah hancur lebur, membentuk lubang berupa cekungan di atasnya. Beberapa kepulan asap yang tersisa tertiup angin. Sementara tidak nampak satu pun mayat undead yang tersisa.


Ari berbalik menatap Michael. Namun Michael telah jatuh ke tanah. Ari segera lari menghampirinya.


"Hey hey, kau tidak apa?" Tanya Ari seraya berjongkok di sampingnya.


"Mana-ku habis," Jawab Michael singkat.


Ari menggeletakkan tubuhnya dan duduk di samping Michael.


"Kenapa kau melakukan ini?" Tanya-nya.


Michael memberi jeda agak panjang, sambil menatap ke kosongan. Kemudian ia menjawab.


"Manusia, monster, sebenarnya siapa yang menentukannya?" Ucap Michael dengan muram. "Apa perbuatan kalian dimasa ini berhubungan dengan leluhur kalian? Apa kalian tahu dosa apa yang sudah tertanam dalam darah kalian selama beribu-ribu tahun?"


Ari hanya diam. Ia sebenarnya merasa sedikit tersinggung dengan perkataan Michael. Tapi ia sadar bahwa Michael sedang membicarakan hal lain.


Michael meneruskan. "Selama ini aku berpikir bahwa kalian para iblis hanyalah monster yang merugikan manusia. Memiliki kekuatan berbahaya dan pemikiran licik. Sebuah ancaman bagi dunia ini," Ucapnya. Ia kemudian menatap telapak tangannya. "Namun nyatanya, kalian hanya makhluk biasa. Yang lemah tidak seperti yang kuat, layaknya manusia. Saat kalian dikejar musibah, kalian menghadapinya layaknya manusia. Bahkan kalian memiliki empati layaknya manusia."


"Apa yang membuat mu menyadarinya?" Sahut Ari.


"Adik mu," Jawab Michael. "Melihat dirinya, membuatku secara tak sadar memandang ke masa lalu yang telah lama ku lupakan. Sebuah kenangan bersama ibu ku, baik itu kenangan indah dan buruk."


Michael meneruskan kalimatnya. "Ia menolong dan memberiku makan dengan tulus. Walau aku sempat keras kepala dan terus menolaknya, namun ia tak menyerah. Saat akhirnya aku memakan makanannya, ia hanya tersenyum lebar tanpa niat jahat apapun."


"Begitulah adikku. Ia terlalu polos. Awalnya aku sedikit khawatir saat ia membawa mu ke rumah. Namun sekarang aku lega kau telah berubah," Sahut Ari.


Ia kemudian membantu Michael berdiri dan memberikan tongkatnya yang jatuh.


Ari berbisik lagi. "Tapi, itu bukan berarti aku akan melepaskan pengawasan ku. Jika kau sampai macam-macam, aku takkan diam saja. Walau aku tahu kau jauh lebih kuat dari ku."


Michael hanya mengangguk. Ia memang sudah tidak berniat melawan mereka lagi.


Tiba-tiba, sesuatu bergerak dari balik pohon. Ari langsung waspada dan bersiaga.


Michael langsung bergumam. "Elder Lich?"


Ari segera menarik anak panahnya dan bersiap menembaknya. "Siapa kau!?" Ari melemparkan pertanyaan pada undead tengkorak itu.


Undead itu menjawab. "Wajib kah aku menjawab mu?"


Namun undead itu langsung memandang Ari dengan tatapan tajam. Rahangnya mulai melengkung, menunjukkan seringai lebar di wajahnya.


"Kau punya Mana yang unik, nak," Ucap undead tersebut sambil jalan mendekat. "Aku sangat beruntung bisa bertemu makanan yang mewah seperti mu."


Tanpa banyak bicara, Ari segera melepaskan benang yang meregang di jarinya. Anak panah pun meluncur di udara dan terbang menuju undead tersebut.


Namun undead itu hanya menjentikkan jarinya. Tiba-tiba anak panah tersebut berubah haluan. Panah itu menikuk tajam ke bawah hingga akhirnya jatuh ke tanah.


"A-Apa tadi itu?" Mata Ari mengeras penuh heran.


"Sihir kegelapan," Sahut Michael. "Sihir manipulasi gravitasi. Ia pasti telah menciptakan area anomali dengan gravitasi lebih kuat disekelilingnya."


Undead itu berhenti dan melirik ke arah Michael yang masih terkapar di tanah.


"Kau manusia. Sangat jarang aku melihat ras kalian bekerja sama dengan iblis" Ucapnya. "Huh, tapi tidak ada yang spesial dari mu. Kau tidak layak mendapatkan perhatian ku."


Undead itu seketika langsung menjentikkan jarinya. Tanah tiba-tiba bergetar dan tekanan berat mulai menyelubungi tubuh Michael dan Ari.


"Sial, ia menggunakan sihirnya pada kita," Gerutu Michael, badannya semakin terbenam ke tanah.


Ari berusaha memperthankan posturnya. Ia menarik panahnya. Namun benangnya tiba-tiba putus karena tarikan gravitasi membuat tangannya menjadi sangat berat.


"Aku... tidak bisa bergerak," Ari pun jatuh ke lututnya.


Undead itu berjalan mendekati mereka. Ie berhenti di depan mereka dan berdiri seakan pengaruh gravitasi itu tidak memengaruhinya sama sekali.


"Kau, iblis putih. Dalam darah mu terdapat kekuatan besar yang mengalir," Ucapnya. "Keturunan albino selalu membuatku takjub. Tidak peduli berapa banyak dari kalian yang ku makan, rasa Mana kalian tidak pernah membuatku bosan."


"K-Kau... sialan," Ari menatap tajam. Namun tetap saja itu tidak melepaskannya dari fakta bahwa ia terjebak.


Undead itu menyeringai. "Selamat makan!" Ucapnya sambil membuka rahangnya lebar-lebar.


Ketika mulut undead itu terbuka, nampak sesuatu terjadi. Sebuah aliran aura mengalir keluar dari tubuh Ari. Disaat bersamaan, wajah Ari menjadi semakin pucat dan kehilangan warna.


Ternyata Mana Ari sedang dihisap. Dan sepertinya undead itu tidak berniat menyisakannya sedikitpun. Kalau ini terus berlanjut, maka nyawa Ari bisa dalam ancaman.


Mata Michael terbuka lebar-lebar. Melihat itu, ia tidak ingin diam saja. Walau gravitasi kuat menyulitkannya, ia berusaha mengulurkan tangannya dan mengarahkannya ke undead itu.


"Fire Elemental: Fire Ball!"


Bola api meluncur menuju undead itu. Namun spontan, undead itu langsung melihatnya dan membuka mulutnya ke arah bola api yang datang. Dalam sekejap, bola api itu terhisap ke dalam mulutnya dan menghilang.


"Tidak enak. Tapi cukup sebagai makanan pembuka," Ucap undead itu seraya lanjut menghisap Mana Ari.

__ADS_1


Michael hanya bisa menatap dengan teror saat wajah Ari semakin memucat. Ia mencoba menembakkan sihir sekali lagi, namun tersadar bahwa Mana-nya sendiri sudah habis.


"Ari!" Teriak Michael dengan putus asa.


"Akhirnya aku menemukan mu," Tiba-tiba terdengar suara lain dari belakang Michael. "Non-Elemental Spell: Cancelling!"


Medan gravitasi di sekeliling mereka pun kembali menjadi normal. Sesosok orang pun bergerak secepat kilat. Dengan cepat ia mengeluarkan sebilah pedang dan menebas rahang undead tersebut.


"Mustahil! Bagaimana kau bisa menemukan ku secepat ini?" Undead itu terkejut bukan kepalang.


Orang itu menarik Ari menjauh dari cengkraman undead itu dan mendorongnya menjauh.


"Maaf karena melibatkan kalian dalam pertarungan ini," Ucap orang itu pada Ari dan Michael. "Tidak ku sangka ia akan menemukan desa penuh penduduk di dekat sini."


Michael dan Ari hanya menatap kebingungan. Perlahan, mereka mulai melihat bagaimana perawakan orang itu. Ternyata ia adalah seorang wanita iblis. Ia mengenakan jubah yang menyambung lurus dengan penutup kepalanya. Ia sepertinya seorang petualang yang mengembara.


"Bagaimana kau bisa menemukan ku di sini?" Undead itu melontarkan pertanyaan pada wanita itu. "Seharusnya aku sudah menutupi jejakku dengan sempurna."


"Cahaya dari langit itu yang menuntunku," Jawab wanita tersebut. "Saat melihat awan terbuka dan hujan terhenti di tempat itu, aku segera tahu bahwa sesuatu telah terjadi."


Undead itu menggerutu sebal. "Sialan, manusia itu memang pembawa sial."


"Tidak ada jalan untuk lari, Balung. Kau akan mati di sini," Sambung wanita itu lagi.


"Sialan kau," Undead itu berteriak kencang.


Undead itu, yang ternyata bernama Balung, meluruskan tangannya yang tak berkulit.


"Saksikanlah kekuatan yang diberikan oleh Tuan ku. Tekad kegelapan yang menyelubungi bumi. Gravitational Release!"


Tiba-tiba gravitasi langsung menghilang di sekeliling mereka. Benda-benda di tanah pun mulai melayang-layang di udara.


Wanita tadi menggenggam pedangnya erat-erat. "Seni Berpedang Vertrag: Blessing of Second Chance!"


Pedang di tangannya pun tiba-tiba terbelah di tengah-tengahnya, menciptakan dua pedang yang lebih kecil dan ramping.


Kini kedua tangannya telah memegang pedang masing-masing. Namun di tengah situasi yang tak memiliki pijakan, ia ikut melayang-layang tanpa arah di udara.


Balung tertawa. "Seorang petarung pedang seperti mu cenderung bertumpu pada pergerakan kaki. Jika tidak ada benda yang bisa kau pijak, maka sama saja kau tidak bisa bergerak."


Wanita itu menyeringai. "Kau pikir begitu?" Ucapnya. "Earth Elemental: Boulder Smash!"


Ia pun melemparkan salah satu pedangnya dengan sekuat tenaga ke tanah. Ketika pedang itu menujam tanah, seketika permukaannya hancur. Serpihan batu-batu yang besar pun berterbangan ke udara.


"Rasakan ini!" Ucap wanita itu seraya melemparkan beberapa batu ke arah Balung.


"Heh, kau kira serangan lemah seperti itu bisa melukai ku?" Balung mengepalkan tangannya dan memukul setiap batu yang datang hingga hancur.


Saat ia menghancurkan batu yang terakhir, tiba-tiba wanita itu sudah muncul di depannya. Ia terkejut.


"B-Bagaimana bisa!?" Matanya melotot kaget.


Ia pun melihat beberapa batu yang masih melayang di tempat wanita tadi berdiri.


"Jadi begitu. Ia tidak berencana menggunakan semua batu-batu tadi untuk menyerang ku. Melainkan mengalihkan pemikiran ku agar tidak menyadari bahwa sebenarnya ia menggunakannya sebagai pijakan.'


Wanita itu mengacungkan pedang tipisnya. "Seni Berpedang Vertrag: Dance of Stoneslasher."


Dengan serangan bertubi-tubi, sekujur tubuh Balung ditebas tanpa henti. Ia bisa merasakan tulang belulangnya satu persatu hancur dan rontok.


Wanita itu tidak memberinya kesempatan sedikitpun untuk bernafas, walau secara harfiah ia tak memiliki paru-paru. Namun wanita itu sendiri seakan tidak bernafas dan terus mengayunkan pedangnya tanpa henti.


Balung mulai lemah dan tidak lagi bisa menggerakkan tubuhnya.


Kruakk! Tuang belulang bertebaran ke tanah, sementara tengkorak Balung masih disisakannya.


Ia pun berteriak. "Sialan! Siapa kau sebenarnya?"


"Diamlah, aku punya pertanyaan sendiri," Balas wanita itu sambil menodongkan pedangnya. "Apa yang kalian rencanakan di Steinfen?"


"Steinfen? Bagaimana kau bisa tahu?" Balung terkejut mendengarnya.


"Kau salah satu bawahan Raja Iblis Kegelapan kan? Tidak usah menyangkalnya. Aku telah mengamati pergerakan kalian beberapa hari terakhir."


"Mengamati kami? Untuk apa kau melakukannya sampai sejauh itu? Tuan ku adalah Raja Iblis yang akan menguasai dunia ini. Jika saatnya tiba, maka nasib kalian para iblis akan terselamatkan. Kenapa kau malah melawan kami?"


"Aku punya alasan tersendiri," Jawab wanita itu. "Ia telah membunuh teman ku tanpa rasa ampun. Aku ingin ia merasakan hal yang sama sepertinya."


"Pfftt, kau kira kau bisa membunuh Tuan-ku?" Balung tertawa. "Jangan harap! Berdiri di depannya saja akan membuat lutut mu gemetar. Keagungannya sungguh mempesona hingga membuat semua orang tertegun saat melihatnya."


"Aku tahu aku bukan selevel dengannya. Aku tidak mungkin bertarung satu lawan satu. Namun aku bisa melakukan hal kecil yang bisa merepotkannya," Balas wanita itu. "Contohnya, merusak rencananya. Mengacaukan semua yang telah disiapkannya. Dan membunuh bawahannya satu persatu."


"K-Kau--"


"Selamat tinggal."


Slasshh! Wanita itu mengayunkan pedangnya. Ia pun membelah tengkorak itu hingga akhirnya membunuh Balung.


"Dua telah tumbang," Ucap wanita itu pelan.


Ia pun berjalan mengambil pedangnya yang lain di tanah. Kedua pedang itu ia tempelkan dan kemudian menyatu kembali layaknya satu pedang utuh.


Michael dan Ari hanya menatap perempuan itu sambil terpangah. Wanita itu berjalan kepada mereka dan membuat mereka kembali dari lamunan mereka.


"Maaf karena merepotkan kalian. Karena ku, para undead itu jadi datang kemari," Ucap wanita itu. "Oh iya, izinkan aku memperkenalkan diri. Nama ku Katherine, seorang pengembara."


.


.


.


To be Continued...

__ADS_1


__ADS_2