
"Hentikan dia!" Teriak orang-orang di belakangnya.
Mereka beranggotakan empat orang pria dewasa dan mereka menggunakan pakaian yang sama. Apa mereka memang sebuah komplotan?
Darren langsung berasumsi bahwa pemuda yang dikejar itu mungkin seorang pencuri atau semacamnya. Jadi, ia langsung memperkirakan kemana pemuda itu akan lewat dan bersiap untuk mencegatnya.
Srreett... Darren mengulurkan kakinya, tepat saat pemuda itu melintas di sampingnya. Pemuda itu terkejut dan tak sempat mengerem kakinya.
Gubrakk! Sekarang pemuda itu tersandung dan tersungkur menghantam tanah tepat di wajah.
Para pria itu langsung datang menghampiri. Tiga dari mereka menahan pemuda itu dan salah satunya mendekat kepada Darren.
"Terimakasih ya, telah menolong kami," Ucapnya.
Darren hanya mengangguk sambil tersenyum kecil. "Ya, tidak masalah," Balasnya. "Ngomong-ngomong, apa yang sudah pemuda ini lakukan?"
Pria itu membalas. "Maaf, tapi ini bukan urusan anda," Balasnya. "Kami ucapkan terimakasih sekali lagi."
Pemuda itu tiba-tiba berteriak. Ia menatap ke arah Darren dengan tatapan putus asa. "Tolong aku! Aku tidak mau kemb--"
Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, salah satu pria yang menahannya langsung menonjok wajahnya.
"Diam kau brengsek!" Ucap mereka.
Para pria itu menyeret pemuda itu kembali. Tapi ada sesuatu yang mengganggu Darren. Untuk sesaat itu, pikirannya untuk mencari Tora langsung teralihkan oleh hal itu.
Ia berjalan sambil menghentak kaki menghampiri mereka dan mencegat mereka.
"Apa tidak lebih baik kalau kita coba ke pihak berwenang?" Darren menyentuh salah satu pundak pria itu.
Mereka berempat terkejut, bahkan pemuda itu juga.
"Maaf ya, tapi anda tidak punya hak untuk memerintah kami," Balas pria itu. "Lagipula, anda tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini. Enyahlah!"
Darren merasa jengkel. Ia berpikir kalau pemuda ini bisa saja adalah korban dari para pria ini. Mungkin pria-pria ini adalah komplotan preman yang mencoba memeras pemuda malang itu.
"Ku mohon, aku hanya ingin pemuda ini mendapat keadilan," Sambung Darren. "Jika ia memang salah, maka seharusnya polisi tahu apa yang harus mereka lakukan."
Wajah tak senang langsung terpampang di wajah pria-pria itu. Mereka memandang Darren seakan merasa terganggu dan menatapnya dengan ketus.
Salah satu pria yang lain datang mendekat. Ia menunjuk Darren tepat di wajah dan mulai berbicara dengan nada kasar.
"Kau itu hanya orang asing. Berhentilah mengganggu kami!" Ucapnya sambil mendorong Darren. "Jika kau tidak mau babak belur, enyahlah sekarang juga!"
Darren menyeringai. Tentu saja ia tahu kemana ini akan tertuju.
"Apa kalian penyamun?" Ucap Darren tiba-tiba.
Mereka langsung terkejut mendengarnya. Bahkan salah satu dari mereka langsung menghampiri Darren dan menarik kerah bajunya.
"Hey, bangsat. Emangnya kami terlihat seperti penyamun? Jangan asal bicara ya! Itu sama saja seperti merendahkan kami," Ucapnya dengan keras. "Dasar anak jaman sekarang. Tidak tahu diri! Harus diberi pelajaran!"
Pria itu mengangkat tangannya dan meluncurkannya ke wajah Darren.
"Thunder Elemental: Cover Me in--" Darren hendak merapal mantra sampai tiba-tiba...
__ADS_1
Gubrakk!!! Pria itu tiba-tiba terbang ke udara-- Tidak, lebih tepatnya terlempar ke udara. Sementara terlihat telapak tangan lain sudah berada di depannya.
"Tidak usah membuang-buang Mana," Ternyata Tomatsu lah pelaku dari hal itu. "Ingat Esema-kun, tujuan kita ke sini adalah untuk mencari Tora-kun."
Para pria lain yang menyaksikan hal itu langsung kaget. Badan mereka langsung gemeteran setelah melihat Tomatsu menghajar temannya.
"Kalian!" Tomatsu langsung menoleh kepada mereka. "Jika masih ingin hidup, cepat enyahlah dari hadapan ku. Aku sudah muak melihat wajah kalian."
Para pria itu langsung lari pontang panting, meninggalkan pemuda iti tergeletak di tanah. Mereka bahkan tak menoleh sedikitpun ke belakang.
Darren segera menghampiri pemuda itu dan menanyakan kondisinya. Ia juga berencana menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa kau baik-baik saja?" Darren mengulurkan tangannya dan menarik ia berdiri. Tapi ia sadar kalau tangan pemuda itu sedikit berbeda.
"Jari mu?" Darren melihat kuku-kukunya yang runcing. "Apa jangan-jangan..."
Pemuda itu menunduk. "Ya, aku seorang iblis," Ucapnya sambil membuka masker yang menutupi wajahnya.
Kalau dilihat-lihat, wajah pemuda itu tak jauh berbeda dari wajah manusia biasa. Hanya saja, ia tak mempunya tanduk di kepalanya. Apa ia punya bakat memanipulasi fisiknya seperti Tomatsu?
"Lalu tanduk mu?" Ucap Darren.
Pemuda itu mulai merintih tanpa sebab. Ia langsung memegangi kepalanya dan terlihat frustasi.
"Tanduk ku... sudah tidak ada," Jawabnya.
Darren kaget. Apa yang ia maksud sudah tidak ada? Apa sebelumnya ia punya tanduk dan sekarang sudah menghilang?
Darren melanjutkan pertanyaannya. "Apa maksud mu tidak ada?"
Darren terkejut mendengar jawaban itu.
"D-Di potong?" Darren mengulang.
Pemuda itu mengangguk pelan. Ia terlihat sedih.
"Siapa yang melakukan itu?" Tomatsu tiba-tiba menyambar. "Jangan bilang kalau manusia-manusia itu yang melakukannya."
Pemuda itu mengangguk lagi. "Mereka adalah anak buah majikan ku. Mereka mencoba membawaku kembali," Ucapnya. "Aku sedang dalam perjalanan untuk kabur. Aku tidak mau kembali ke sana lagi."
Tomatsu menggertakkan gigi. Ia mulai berbicara pelan.
"Awas saja. Berani-beraninya mereka menyakiti rakyatku," Tomatsu terlihat geram. "Darren, sebaiknya kita bunuh mereka terlebih dahulu!"
Darren membalas. "Hey, hey, bukankah kau tadi yang bilang untuk memprioritaskan Tora?"
Pemuda itu menoleh. "Darren? Jangan-jangan kau adalah buronan itu?" Ucapnya. "Buronan yang membantai pasukan Erobernesia untuk menyelamatkan manusia hewan?"
Darren tersentak. Ia langsung menoleh ke pemuda itu dengan tatapan waspada. "Apa? Dia tahu tentang ku?" Batinnya.
"Ah, sepertinya kau sal--" Darren mencoba menyangkal.
"Aku sangat bersyukur bertemu dengan mu, Darren-sama!" Pemuda itu langsung berlutut di hadapan Darren.
Wajah Darren langsung kaget sekaligus bingung. Ia tak tahu harus apa.
__ADS_1
"Eh? Eh?" Darren plonga-plongo. "Be-Bersyukur? Apa gak sebaliknya?"
Pemuda itu mengangkat kepalanya dan melanjutkan. "Bagi kami para budak yang selalu diperlukan buruk, anda adalah pahlawan," Ucapnya dengan mata berbinar. "Setelah mendengar berita bahwa anda melindungi desa manusia hewan dari tangan Erobernesia yang hendak memperbudak mereka, itu membangkitkan harapan kami."
"Tapi bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Darren.
"Kami para budak selalu mendengar desas-desus yang dibicarakan oleh majikan kami. Dan tak sengaja mendengar tentang itu," Sambung Pemuda itu. "Tak disangka aku akan bertemu dengan anda secara langsung disini. Aku sangat bersyukur!"
Darren hanya tersenyum canggung. Apa ia memang sepopuler itu di kalangan para budak?
"Dan kalau tidak salah, anda menyebut nama Tora, kan?" Ucap pemuda itu lagi. "Aku mengenalnya."
Perhatian Darren langsung tertuju padanya.
"Aku dan Tora-san adalah budak dari tuan yang sama. Sampai beberapa waktu lalu, kami mendengar kabar bahwa ia akan dihukum. Tapi ia kabur dan menghilang," Ucap pemuda itu. "Aku bersyukur bahwa ia bertemu dengan anda."
"Yah, tapi masalahnya sekarang..." Darren menggaruk kepala. "Tora menghilang dan kami sedang mencarinya."
Darren menghela nafas. Ia tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan Tora. Setahunya, Tora bukanlah orang yang penakut. Atau mungkin ancaman Raja Iblis itu memang sudah membuat rasa takutnya meluap.
"Tomatsu, apa kau masih bisa merasakan aura Tora?" Ucap Darren pada Tomatsu.
"Sayangnya sudah tidak bisa," Tomatsu menggeleng. "Aura itu sudah semakin samar. Aku sudah tidak bisa merasakannya lagi."
"Anu..." Pemuda itu tiba-tiba bangkit berdiri. "Jika boleh, aku bisa membantu."
Tomatsu dan Darren langsung menoleh bersamaan.
"Ha?" Ucap Darren. "Kau yakin? Itu sama saja kau kembali ke sana lagi, loh."
Pemuda itu mengangguk dengan wajah serius. "Sebuah kehormatan bagi ku untuk menolong anda, Darren-sama."
Sebenarnya bantuan pemuda itu bisa sangat berguna karena Darren tidak familiar dengan kerajaan itu. Ditambah lagi, kemungkinan besar kalau polisi kerajaan juga memburu Darren, jadi ia harus benar-benar hati-hati dalam mengambil jalan.
"Bagaimana menurut mu, Tomatsu?" Tanya Darren.
"Aku sih oke saja. Lagian, aku ingin sekali menghajar manusia-manusia brengsek itu," Balas Tomatsu.
Darren kembali menghadap pemuda itu. "Jika boleh tahu, siapa nama mu?"
"Nama ku Remi," Balasnya.
"Aku Darren, dia Tomatsu dan dia Shiro," Ucap Darren memperkenalkan kedua rekannya. "Senang berkenalan dengan mu."
"Ayo cepat, kita sudah tidak punya banyak waktu lagi," Tomatsu langsung berjalan tiba-tiba.
"Hey, tunggu kami."
Kini mereka memasuki Kerajaan Vertrag tanpa harus resah lagi, karena mereka sudah memiliki pemandu jalan.
.
.
.
__ADS_1
"Tunggu kami, Tora!"