Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Kasih Sayang Seorang Cucu


__ADS_3

Satu persatu orang-orang mulai berlarian keluar. Melihat pertempuran akan terjadi, membuat mereka lari kepanikan.


Hain dan Shiro mencoba mengarahkan para keramaian agar bisa keluar tanpa membuat keadaan jadi kacau. Mereka berdua pun berhasil mengeluarkan orang-orang secara selamat.


"Apa sih yang Esema coba lakukan?" Ucap Hain. Ia bisa melihat Darren berdiri diam di tengah ruangan, sementara Bagus dan Michael berjalan ke arah Darren.


Michael dan Bagus semakin mendekat. Begitu juga dengan Darren. Ia terus berjalan tanpa takut menghampiri mereka berdua.


Tora menjadi gusar dan mencoba mengikuti Darren dari belakang, walau ia sendiri tidak yakin tentang hal ini.


"Darren-sama, mereka semakin mendekat," Ucap Tora. "Sebaiknya kita kabur saja!"


Tapi Darren tidak mempedulikan ucapannya. Matanya telah dibutakan oleh dendam dan kini ia hanya berfokus dengan apa yang ada di depannya.


"Akan ku bunuh dia. Akan ku buat ia membayar apa yang telah ia lakukan," Kepala Darren sudah dipenuhi dengan kata-kata dendam.


"Michael!" Teriak Darren kemudian.


Michael menghentikan langkahnya dan menatap Darren. Kini mata mereka berdua saling bertatapan.


Kesunyian sempat menerpa momen tegang itu. Untuk sesaat, Darren dan Michael tidak melakukan apa-apa selain saling menatap dengan mata tajam.


Tora dan Bagus sempat kebingungan dengan sikap mereka. Begitu juga Hain dan Shiro yang menatap heran keadaan disitu.


Tapi sebelum mereka semua sempat menyadarinya, sebuah bilah pedang telah muncul di tangan Darren. Ia langsung menerjang cepat dan menyerang Michael.


Michael mengangkat pedang besarnya. Dengan pedangnya tersebut ia menahan tebasan Darren.


Kini wajah mereka saling berdekatan dan hanya dipisahkan oleh dua belah pedang yang mengkilap.


Nampak jelas raut kebencian mencuat keluar dari ekspresi mereka berdua.


"Matilah!" Teriak mereka berdua bersamaan.


Mereka pun menarik pedang masing-masing dan kembali meluncurkan berbagai serangan ke arah satu sama lain.


"Mereka bertarung," Ucap Hain menyaksikan pertarungan sengit itu. "Apa yang harus kita lakukan sekarang? Rencana awal kita hanya untuk kabur."


"Hey, lihat itu!" Teriak Shiro tiba-tiba, sambil menunjuk ke suatu tempat di belakang Michael. "Sesuatu muncul."


Ternyata di saat Darren dan Michael bertarung, Bagus menggunakan kekuatan batu kegelapan untuk membuka portal.


Dari portal itu, sepasukan kecil tentara Erobernesia muncul. Ternyata mereka sudah bersiap untuk menangkap Darren.


"Gawat, mereka berdatangan," Ucap Shiro. "Kita harus turun!"


"Baiklah," Hain mengangguk.


Di saat mereka berdua sedang berjalan turun, Bagus masih fokus untuk menciptakan portal kedua untuk mendatangkan lebih banyak pasukan.


"Dark Elemental: Port--" Saat Bagus hendak membuka portal kedua-nya, ia langsung diganggu oleh Tora yang melompat ke arahnya.


Slash! Sebuah pisau-pisau angin terbang ke arah Bagus dan hampir mengenainya. Tapi Bagus berhasil menghindar dan melirik ke arah Tora yang datang kepadanya.


"Bagus-san, hentikan ini!" Ucap Tora dengan tangan yang sudah penuh energi sihir, bersiap untuk melancarkan serangan kedua.


Bagus melirik ke arahnya. "Diamlah. Kau itu hanya manusia palsu. Kau tidak bisa menghentikan ku untuk kembali!"


"Apa maksud mu palsu? Aku jelas-jelas manusia sungguhan," Balas Tora heran.


"Kau takkan mengerti! Maka dari itu, diamlah!"


Bagus berbalik, menggenggam erat pedangnya dan menerjang ke arah Tora dengan mata yang terpejam.


Ia seakan tak pernah mau melakukan ini. Tangannya tak mau melakukan ini. Namun ia harus melakukannya.


"Demi nenek. Aku akan kembali. Apapun caranya!"


"Bahkan jika harus melawan satu dunia sekalipun!"


.


.


.


Indonesia, 1996-2004...


Bagus Satrio, adalah seorang pemuda delapan belas tahun yang memiliki kehidupan keras sebagai pemuda yang hidup sendirian.


Terletak di Bekasi, Jawab Barat. Bagus hidup sendirian di tengah kerasnya hidup perkotaan. Ia tinggal sendirian, di sebuah kontrakan kecil dengan harga murah.


Kedua orang tuanya telah meninggal sejak ia kecil dan sebelumnya ia dirawat oleh neneknya di Aceh. Selama masa kecilnya, ia hidup bersama neneknya dan melihat neneknya sebagai satu-satunya figur orang tua yang ia miliki.


Namun saat ia mulai duduk di bangku SMP, ia dititipkan kepada pamannya di Bekasi. Ia pun merantau dan pindah ke sana.


Di sana, ia memulai hidup barunya. Hidup yang jauh dari jangkauan neneknya. Meskipun begitu, ia selalu mengingat neneknya yang telah membesarkannya dengan kasih sayang.


Tapi, pamannya ternyata adalah seorang pecandu obat-obatan dan seringkali melampiaskan amarahnya pada Bagus tanpa alasan jelas.


Bagus seringkali menderita berbagai luka memar dan kadang mengalami cidera yang cukup parah.


Karena itu, Bagus kabur dan memilih hidup sendiri. Ia pun mencoba mengimbangi sekolahnya sambil bekerja, demi mendapatkan uang dan ilmu untuk bertahan.


Senaiknya ke bangku SMA, Bagus sempat berpikir untuk tidak melanjutkan sekolah. Namun ia tersadar bahwa neneknya mungkin akan sedih mendengar itu.


Akhirnya, ia pun tetap melanjutkan sekolahnya ke jenjang SMA. Di sana, ia mulai aktif dalam kegiatannya di sekolah. Ia mencoba mengikuti pramuka dan ternyata ia nyaman dengan organisasi itu.


Berdasarkan pengalamannya bersama pamannya yang merupakan seorang pecandu obat-obatan, Bagus mulai berkampanye untuk menyadarkan orang-orang atas bahayanya penyalahgunaan obat-obatan bagi kehidupan orang-orang.


Kampanyenya terdengar luas hingga ke seluruh daerah itu, dan membuat banyak orang mengenalnya.


Di sekolah, ia jadi disegani banyak orang dan karena usaha kerasnya juga ia berhasil mendapatkan jabatan tinggi di organisasi pramuka.


Tapi walaupun ia sibuk dengan kegiatan pramuka-nya itu, Bagus tetap berusaha mengimbangi waktu sekolahnya dengan waktu kerjanya.


Ia bekerja sampingan sebagai kuli di sebuah toko bangunan dan bekerja dengan giat. Walau dengan pekerjaannya itu, Bagus tidak pernah mengeluh dan menikmati kehidupannya yang sulit itu.


Tapi suatu hari, Bagus mulai merasakan kekosongan dalam dirinya. Tiap-tiap hari, ia merasa hanya melakukan hal yang sama berulang-ulang. Rasanya seperti hidupnya mulai monoton.


Saat itulah ia tersadar dengan apa yang terjadi pada dirinya.


Selama ini, ia merasa sendirian. Walau ia dihormati dan dikelilingi banyak orang, ia tak pernah benar-benar merasa ada seseorang yang menunggunya.


Di sekolah, banyak orang yang menghormatinya karena kontribusi yang telah ia berikan pada sekolah dan organisasi.


Di tempat kerjanya, ia disukai banyak orang karena hasil kerjanya yang sempurna dan kepribadiannya yang membuat banyak orang nyaman bersamanya.


Di situlah ia tersadar. Bahwa ia mulai merindukan rasa kasih sayang lagi. Ia ingin kembali menemui neneknya di Aceh dan tinggal di sana bersamanya.


24 Desember 2004...


Natal hampir tiba dan sekolah sudah mulai libur. Bagus berpikir ini akan jadi waktu yang tepat untuk mengunjungi neneknya di Aceh.


Setelah menabung sangat lama, Bagus akhirnya memiliki uang yang cukup untuk melakukan penerbangan menuju Aceh.


Berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta, hanya butuh waktu 3 jam untuk tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh. Ia pun tiba dengan selamat.


Sesampainya di tanah Aceh, Bagus segera memesan kendaraan umun untuk pergi ke rumah lamanya. Dimana kemungkinan neneknya masih tinggal di sana.


Selama perjalanan naik angkot, Bagus terus berharap agar ia bisa bertemu neneknya secepatnya.


Angkot melaju dengan cepat. Dalam beberapa menit, Bagus sudah tiba di kampung tempat rumah lamanya berada.


Ia segera mencari rumahnya dan menemukan bahwa rumah itu masih sama cantiknya di ingatan yang telah ia tinggalkan enam tahun lalu.


Tok... tok... Bagus dengan ragu mengetuk pintu rumah itu. Berharap neneknya akan membukanya. Tapi di saat yang bersamaan, ia merasa ingin menangis karena tak kuasa menahan rindu akan masa kecilnya.


Tak lama kemudian, pintu pun terbuka dan seorang wanita tua muncul dengan wajah yang familiar. Ya, itu adalah neneknya.


Tanpa disadarinya, air mata telah menitis di pipi Bagus.


"N-Nenek," Ucap Bagus dengan air mata yang terus menetes.


Wanita tua itu mengencangkan kaca matanya. Ia menatap Bagus untuk beberapa saat dengan bingung, hingga pada akhirnya ia ikut terkejut.


"B-Bagus," Nenek itu pun ikut meneteskan air mata.

__ADS_1


Bagus langsung tersenyum bahagia dan memeluk neneknya itu. Neneknya pun membalas dengan memeluknya erat sambil menangis haru.


"Kau sudah tumbuh besar, nak. Nenek rindu pada mu," Ucap nenek itu.


Bagus membalasnya dengan isak tangis. "Aku juga, nek. Aku juga," Ucapnya.


Ini adalah momen paling bahagia bagi Bagus. Setelah enam tahun hidup dalam kesendirian, akhirnya ia bisa kembali bertemu dengan orang yang menyanyanginya.


Orang yang akan selalu menunggunya pulang. Dan orang yang akan selalu mendengarkan seluruh keluh kesahnya. Sekarang ia merasa beban di hatinya serasa hilang begitu saja.


"Aku bahagia sekali."


.


.


.


Dua hari kemudian...


Aceh, 26 Desember 2004.


Pagi-pagi sekali, Bagus berjalan keluar kamarnya. Berjalan menuju dapur dan melihat neneknya sedang memasak sarapan.


"Oh, Nak Bagus. Sudah bangun ya?" Ucap neneknya melirik, sementara kedua tangannya masih dengan lihai mengolah bahan makanan di depannya.


Bagus tersenyum. "Iya. Aku sudah bangun," Balas Bagus. "Nenek sedang masak apa?"


"Oh, nenek sedang masak makanan favorit mu dulu."


Bagus melirik ke atas kompor.


"Woah, gulai!" Ucapnya senang.


Neneknya tersenyum. "Nenek merasa senang melihat mu bahagia, Nak Bagus."


Bagus tersenyum. "Terimakasih ya, Nek."


"Iya, sama-sama."


Tiba-tiba... Tuarr! Sesuatu jatuh dari sebuah rak dan pecah. Bagus terkejut dan segera melihat ke arah suara itu berasal. Di sana, ia melihat neneknya yang sedang menatap ke lantai tanpa berkata-kata.


"Apa tadi, Nek?" Bagus bertanya.


Nenek itu pun membungkuk dan melihat ke lantai. Terlihat pecahan kaca dari wadah ketumbar telah berceceran di lantai.


"Ketumbarnya... jatuh," Ucap neneknya.


Bagus menatap ke arah neneknya. "Ha, ha, nenek harus lebih hati-hati. Kalau mau mengambil sesuatu, jangan segan minta tolong aku."


Neneknya mengangkat kepalanya dan menatap Bagus. "Sebenarnya itu tadi jatuh sendiri," Ucap neneknya pelan. "Ah, tapi yang lebih penting. Nenek butuh ketumbar itu untuk gulainya."


Bagus langsung menghampiri. "Biar aku saja yang beli. Nenek tunggu saja di sini."


Bagus pun pergi menuju warung.


Sesampainya di sana, ia segera membeli apa yang neneknya pinta kepadanya. Ia membeli ketumbar dan membayarnya.


Ia berbalik dan melihat sekilas pemandangan desanya yang indah. Untuk sesaat, ia bisa merasakan kesejukan yang sudah lama tidak ia rasakan. Rasanya seperti nostalgia.


"Aku rindu tempat ini," Ucap Bagus sambil menghirup nafas. "Aku harap aku bisa di sini selamanya." Ia kemudian berbalik dan hendak pulang.


Namun begitu ia melangkahkan kakinya, sesuatu mengalihkan perhatiannya untuk sesaat. Ia merasa bulu kuduknya berdiri tanpa alasan jelas.


Tapi, sebelum ia menyadarinya. Ia melihat sesuatu datang ke arahnya dengan kecepatan tinggi.


Benda itu menjulang tinggi dan menyapu semuanya yang ada di jalannya. Rumah-rumah, bangunan, hingga pepohonan besar, mulai bertumbangan.


Ketika Bagus sadar, ia langsung syok. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Sebuah tsunami besar menerjang ke arahnya. Tsunami itu bergerak dengan kecepatan tinggi dan menghancurkan segalanya.


Bagus menatap air bah itu dengan mata yang melotot syok. Ia masih tak bisa mempercayai apa yang ada di depan matanya.


Bagus pun menjatuhkan kantung kresek di tangannya.


Spontan ia menutupi wajahnya dengan kedua lengannya saat air bah itu hampir menabraknya.


Tapi saat ia siap menerima semua rasa sakit, tiba-tiba ia merasa pusing berat dan singkapan matanya menghitam tepat sebelum tsunami itu menghancurkan tubuhnya.


"Ada apa ini? Apa aku mati?" Ucap Bagus dalam hati. Ia mencoba melihat sekelilingnya, namun semuanya nampak buram dan gelap. Ia tak bisa melihat apa-apa.


Saat akhirnya ia bisa membuka matanya kembali, ia telah berada di tempat lain. Ia tergeletak di depan pintu bangunan besar yang berbentuk seperti istana megah.


Bagus menoleh ke sana-sini tanpa mengerti apa yang telah terjadi. Ia tak bisa memproses apapun di otaknya. Yang tersisa hanyalah wajah penuh bingung di wajah Bagus.


"Dimana ini? Apa yang terjadi?" Ucapnya sambil beranjak berdiri.


Tiba-tiba, pintu dimana ia tergeletak terbuka dan muncullah seorang pria yang agak tua dari balik pintu. Bagus terkejut melihatnya, begitu juga pria tua itu.


Mata Bagus langsung tertuju pada cara berpakaian pria itu yang nampak nyentrik. Ia mengenakan pakaian putih bersih yang megah dan sebuah tongkat di tangannya.


Pria itu menatap Bagus dengan penuh heran, "Bagaimana kau bisa sampai di sini? Siapa kau?" Tanya Pria itu.


Bagus mencoba menjawab dengan sopan, untuk menghindari masalah. "Maaf, tapi aku pun tidak tahu," Jawab Bagus, yang dimana membuat pria itu mengerutkan kening mendengarnya.


"Kalau boleh tahu, ini di mana ya?" Bagus bergantian bertanya.


Pria itu semakin heran dengan pertanyaan Bagus. Ia pun menjawab, "Kau tidak tahu ini dimana?"


Bagus menggeleng.


"Ini adalah Kastil Pusat Gereja Suci," Sambung pria itu.


Bagus menoleh sekeliling. "Woah, jadi ini kastil? Itu menjelaskan kenapa banyak sekali tembok raksasa yang mengelilingi tempat ini."


"Itu juga yang membuat ku heran, bagaimana caranya kau melewati tembok-tembok itu? Padahal semua pintu masuknya dijaga ketat oleh tentara."


Bagus menggaruk kepalanya. "Sebenarnya, aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba aku sudah ada di sini."


Pria itu mengernyitkan alis. "Apa kau menggunakan sihir teleportasi?"


Bagus membalas dengan bingung. "Sihir? Apa-apaan itu?" Ucap Bagus. "Tidak usah bercanda ya. Yang namanya sihir itu tidak nyata."


Awalnya pria itu hanya menatap Bagus dengan kesan bingung dan misterius. Semua yang Bagus katakan padanya tidak masuk akal dengan prinsip dunia ini.


Dari situlah pria itu baru sadar. Ia mengerti kenapa pemuda di depannya itu nampak kebingungan dan tak tahu apa-apa saat mendengar apa yang dikatakannya.


"Mungkinkah, dia adalah orang yang diramalkan itu?"


Pria itu mendekat kepada Bagus. "Apa mungkin, kau datang dari dunia lain?" Tanya-nya.


Bagus mengangkat alisnya. "Dunia lain? Benar juga, tempat ini nampak sangat berbeda dengan Indonesia," Jawab Bagus. "Tapi mungkinkah dunia ini berbeda dengan dunia ku sebelumnya?"


"Aku tak pernah mendengar nama Indonesia sebelumnya. Dan juga, sekarang kau sedang menginjakkan kaki di negara Aergium," Ucap Pria itu. "Ku rasa kau memang dari dunia lain."


"Ah, begitu-- Tunggu, jadi apa ini berarti aku sungguhan sedang berada di dunia lain?" Wajah Bagus langsung mengeras.


"Hey, ada apa, anak muda?"


Bagus mulai panik. "Nenek ku. Aku harus kembali dan menemui nenek ku!" Kata Bagus. "Apa aku bisa kembali lagi?"


Pria itu hendak menjawab dengan sesuatu, namun ia nampak menahannya. Kelihatan kalau ia merubah pikirannya dan mengatakan hal yang berbeda dengan apa yang ia pikirkan tadi.


"Ahh, nampaknya itu akan sulit," Ucap pria itu dengan nada pasrah.


Bagus jadi semakin tertekan mendengarnya. Ia ingin memastikan kalau neneknya baik-baik saja.


"Tapi, bukan berarti itu mustahil," Pria itu menyambung. Seketika Bagus langsung menatapnya.


Pria itu meneruskan, "Aku bisa mengirim mu kembali."


Cahaya harapan bersinar di wajah Bagus. "Benarkah? Syukurlah," Ucap Bagus menghela nafas.


"Tapi dengan satu syarat," Pria itu menyambung, yang dimana membuat Bagus sedikit kaget.


"S-Syarat?"

__ADS_1


"Ya. Satu syarat saja," Ucap pria itu. "Aku ingin kau membantu ku terlebih dahulu."


"Membantu apa?"


Pria itu tersenyum. "Aku ingin kau melakukan sesuatu terlebih dahulu."


Bagus meneguk ludahnya. Awalnya ia ragu dan tak mau mempercayai pria yang baru saja ia temui. Namun ia sadar bahwa ia tak punya banyak pilihan.


"Baiklah. Aku akan mencobanya," Balas bagus.


Pria itu tersenyum. "Bagus. Aku janji akan membantu mu kembali ke dunia asal mu."


Bagus mengangkat alisnya. "Darimana kau tahu nama ku?"


"Ha? Kau bicara apa?"


"Tadi kau baru saja memanggil nama ku. Apa itu juga kekuatan sihir?"


"Aku? Aku tidak memanggil nama mu," Pria itu mulai bingung.


"Tadi kau memanggil ku 'Bagus', begitu," Ucap Bagus.


Pria itu sempat kebingungan dengan apa yang yang Bagus katakan. Tapi perlahan ia mulai paham dengan maksud Bagus.


"Tunggu, jangan-jangan nama mu memang Bagus?" Ucap pria itu, disusul sebuah anggukan dari Bagus.


"Ha ha ha, pantas saja. Ku rasa ada kesalahpahaman tadi," Sambung pria itu sambil tertawa terbahak-bahak. "Ngomong-ngomong, nama ku adalah Deus Benedicat. Aku adalah pemimpin Gereja Suci Timur, seorang Pendeta Suci."


Bagus ikut memperkenalkan dirinya. "Nama ku Bagus Satrio, biasa dipanggil Bagus. Aku hanya seorang pelajar SMA."


Setelah berkenalan, Deus pun mengajak Bagus berkeliling-keliling gereja.


Di sana, Bagus pun diajari cara menggunakan sihir. Karena Deus tahu, bahwa seorang Outlander mempunya potensi sihir yang sangat hebat.


Apalagi, Deus mempunya pengetahuan yang tidak diketahui banyak orang. Dirinya sendiri menyebut pengetahuan itu sebagai Berkat Sang Dewa, yang dimana hanya ia yang mengetahui itu seorang.


Mengejutkannya, Bagus ternyata memiliki kemampuan untuk memanipulasi ingatan seseorang menggunakan sihir cahaya.


Deus sendiri yakin bahwa seorang Outlander, pasti akan membawa sifatnya dari dunia lamanya. Dan sifat itu akan dimanifestasikan ke bentuk bakat ataupun kemampuan sihir yang luar biasa.


Setelah dua bulan berada di dunia lain, Bagus pun mampu menggunakan kekuatan sihirnya dengan mantap. Ia mampu menambahkan ingatan seseorang dengan memori palsu.


Ia menamakan sihir itu dengan sebutan, "False Memory."


Dengan sihir itu, ia bisa memanipulasi orang-orang dan membuat pemikiran orang tersebut berubah sesuai keinginannya.


Sihir ini memang nampak overpower, namun sihir ini juga punya kelemahan.


Pertama, sihir ini hanya bisa diterapkan apabila korban sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri, seperti tertidur, pingsan, ataupun koma.


Kedua, sihir ini takkan mempan kepada lawan yang suka mengintropeksi diri sendiri. Saat korban menyadari bahwa pikirannya sedang kacau, maka sihir tersebut perlahan akan pudar.


Namun, ditangan seorang Bagus yang mampu menarik hati seseorang, ia dapat memanfaatkan sihir ini dengan efisien.


Setelah pembelajaran sihirnya selesai, Bagus pun mendapat tugas pertamanya dari Deus. Ia diperintahkan untuk memanipulasi pikiran Raja Iblis Avon.


Dengan begitu, Gereja Suci bisa dengan aman masuk ke wilayah Avon dengan tenang.


"Sebenarnya, kenapa kau ingin sekali pergi ke Avon?" Tanya Bagus pada Deus.


"Aku memiliki tugas-- Tidak. Ada hikmat yang telah diberikan oleh sang Dewa hanya khusus kepada ku," Jawab Deus.


Bagus mengangkat alisnya dengan penasaran.


Deus melanjutkan. "Aku harus mengeliminasi semua musuh. Dan akan ku mulai dari Avon," Sambung Deus. "Jika kau bertanya-tanya siapa musuhnya? Aku akan dengan senang hati menjawabnya."


Bagus mendengarkan dengan seksama.


"Raja Iblis Sejati. Mereka ada tujuh, dan tersebar ke seluruh penjuru dunia. Mereka semua sekarang sedang bersembunyi, memulihkan kekuatan mereka, dan bersiap mengambil alih seluruh tatanan dunia dari dalam kegelapan."


Bagus hanya mengangguk dengan wajah yang sedikit pucat. Ia tak tahu kalau urusannya akan menyangkut Raja Iblis Sejati segala. Namun demi bisa pulang, ia akan melakukan segalanya.


"B-Baiklah. Aku hanya perlu mengendalikan Raja Iblis kroco yang memimpin itu, kan? Aku akan melakukannya dengan cepat," Ucap Bagus tanpa ingin mendengar lebih jauh.


Di Avon, Bagus pun mulai melakukan misi solonya. Ia bergerak diam-diam dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak terdeteksi tentara pemerintah.


Setelah menemukan lokasi istana kerajaan, Bagus pun memulai aksi selanjutnya.


Ia menyamar sebagai budak manusia dan bekerja di kastil, dimana Raja Iblis juga tinggal. Di sinilah kesempatan lebar terbuka baginya.


Bagus menunggu hari yang tenang dan sunyi untuk melanjutkan aksinya. Karena menurutnya di hari tenang dan santai, musuh akan lebih mudah terlena dan membuat lebih banyak celah.


Waktu itu sedang cuaca cerah dan angin sejuk bertiup sepoi-sepoi melalui jendela. Raja Ryan sedang duduk di singgasananya dan dihadapannya, Bagus berdiri dengan wajah yang menatap lantai.


"Jadi, apa tujuan mu datang ke sini?" Tanya Ryan sambil menopang kepalanya dengan tangan kanannya. "Apa gaji mu kurang?"


"Benar, Tuan ku," Jawab Bagus. "Uang yang hamba dapat masih belum cukup untuk menghidupi keluarga hamba. Jadi bila Yang Mulia tidak keberatan, bolehkah hamba meminta kenaikan gaji?"


Ryan mengangkat kepalanya. "Kau itu manusia di tanah asing. Masih untung kau bisa hidup berkecukupan di kastil ku ini," Ucap Ryan. "Aku bahkan baru tahu bahwa kau punya keluarga. Aku tidak suka bila kau menyembunyikan sesuatu lagi."


"Maafkan aku Tuan ku. Hamba hanya berusaha menghidupi keluarga hamba," Ucap Bagus merendah. Ia masih menunggu saat yang tepat untuk melancarkan aksinya.


Ryan menggaruk-garuk kepalanya dengan merasa terganggu. "Lagipula, ada berapa anggota keluarga mu itu? Aku tak mau jika kau hanya berpura-pura dan malah menggunakan semua uangnya hanya untuk dirimu sendiri."


"Aku punya seorang nenek. Dan ia tinggal di Aceh," Jawab Bagus.


"Aceh? Aku tak pernah mendengar tempat itu sebelumnya."


"Tidak heran jika Tuan ku tidak tahu. Karena tempat itu sangat jauh," Ucap Bagus sambil perlahan-lahan berdiri. "Tapi, walau tempat itu sangat jauh. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku pasti akan kembali."


Ryan menatap Bagus yang mulai bersikap aneh. "Kenapa gaya bicara mu berubah?" Ucapnya kecil.


Setelah berdiri tegak, Bagus tiba-tiba langsung berlari dan menjulurkan tangannya ke wajah Ryan.


"Sleep!" Teriak Bagus.


Ryan terkejut dan hendak membalas balik, namun Bagus bergerak dengan tiba-tiba dan ia tak sempat melakukannya. Ia akhirnya mulai kehilangan kesadaran dan jatuh tergeletak dalam keadaan tidur.


"Bagus, semuanya akan jadi mudah sekarang," Ucap Bagus sambil berdiri di depan Ryan yang tergeletak.


Ia meletakkan tangannya di atas kepala Ryan dan mulai merapal beberapa mantra. Sebuah cahaya pun muncul dari telapak tangannya.


"Mulai sekarang kau dan Gereja Suci Timur akan saling menolong. Kami akan memberimu bantuan tenaga militer, dan kau akan membalas kebaikan kami dengan uang yang banyak," Bagus mulai menambahkan ingatan palsu pada Ryan. "Kau telah bersumpah untuk tidak akan mencampuri urusan Gereja Suci, walaupun itu akan merugikan negara mu sendiri. Sebaliknya, kau akan melakukan apapun demi mempertahankan kerja sama ini."


Demikian Bagus menambahkan ingatan palsu yang ia ingin berikan pada Ryan. Dengan begini, sekarang Gereja Suci Timur bisa masuk dengan mudah.


"Tugas ku di sini telah selesai," Ucap Bagus pada dirinya sendiri. "Sekarang, aku hanya perlu pergi tanpa ketahuan."


Beberapa hari kemudian, Raja Ryan mengumumkan kerja samanya dengan Gereja Suci Timur. Masyarakat hanya bisa menerima karena Ryan telah menambahkan, bahwa siapapun yang menentang kerja sama ini akan diadili.


Gereja Suci dari Aergium mengirimkan tenaga militer yang cukup banyak. Sementara Avon akan terus membayar mereka.


Hari demi hari, Ryan mulai menyadari bahwa pasokan sumber daya mereka mulai habis. Mereka pun mulai kesulitan untuk membayar Gereja Suci.


Dari situlah, Ryan berinisiatif untuk menaikkan pajak dan membuat rakyat membayar lebih. Sehingga kebutuhan pembayaran dapat terpenuhi.


Hal ini menimbulkan penolakan dari masyarakat. Mereka pun mulai terang-terangan meminta agar kerjasama antara Avon dan Gereja Suci dihentikan.


Namun Ryan, yang pikirannya sedang dimanipulasi, tidak terima akan hal itu. Ia pun mengirim semua orang yang menentang kebijakan itu sebagai buruh dan dipaksa bekerja pada sebuah tambanh tanpa henti.


Rakyat semakin menderita. Banyak dari mereka yang kehabisan uang dan makanan, sehingga harus menjual segala kepunyaan mereka. Dan bahkan sampai menimbulkan korban.


Disisi lain, Ada sekelompok masyarakat yang masih terus menentang tirani ini. Mereka pun membangun sebuah organisasi pemberontak, yang dikepalai oleh Simson.


Semenjak berdirinya kelompok pemberontak, ketegangan memenuhi seluruh area Avon. Perang saudara pun terjadi, dan menyebabkan Avon harus menutup diri dari dunia luar.


Karena ketegangan antara pemerintah dan pemberontak, Bagus memanfaatkan keadaan ini dan bergabung dengan pasukan pemberontak.


Ia bermaksud menyamar jadi orang baik dan mengawasi semuanya dari balik bayangan. Dan berharap ia bisa menemukan Raja Iblis Sejati yang dicari-cari oleh Deus selama ini.


.


.


.


"Aku pasti pulang. Aku akan bertemu nenek ku lagi!"

__ADS_1


__ADS_2