Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Tragedi Ego Tinggi


__ADS_3

Ari menatap tajam Michael. Sementara Michael mengacungkan pedangnya di atas kursi roda.


"Michael, akan ku peringatkan kau. Walau kau duduk di kursi roda, aku takkan menahan diri," Ucap Ari.


Michael menyeringai. "Coba saja. Ku jamin, kau takkan sanggup menyentuhku."


"Tch, songong sekali."


Michael pun mengangkat pedangnya sambil menatap Ari. "Silahkan maju!"


Ari tak membuang-buang waktu. Ia segera maju menerjang Michael yang tak bergerak. Dengan satu tangan, ia menebaskan pedangnya secara menyerong.


Cklakk! Kedua pedang mereka saling bertemu. Bahkan dalam kondisinya saat ini, Michael masih bisa menangkis serangan Ari dengan mudahnya.


"Michael-san sungguh hebat. Kursi roda itu tak mempengaruhi kecepatan refleknya," Riana menyaksikan pertarungan mereka berdua. "Bahkan kakak sudah mengerahkan serangan terbaiknya. Namun masih tidak cukup."


Ari pantang mundur. Walau ia bisa melihat jarak antara kemampuan mereka berdua, tapi ia tak berniat untuk mengalah sama sekali.


"Gerakan mu terlalu mudah dibaca, Ari. Kalau kau terus-terusan begini, maka kau takkan menang," Ucap Michael.


Ari tak menghiraukannya. Ia segera bergerak ke belakang Michael dengan cepat, membelakangi posisi duduknya. Dengan itu, ia berharap bisa menyerangnya dari sisi buta.


"Ia tak mungkin bisa membalikkan badannya dan menangkis serangan ini. Aku pasti bisa mengenainya!" Batin Ari.


Ketika Ari hendak mengayunkan pedangnya, Michael langsung menggerakkan pedangnya tanpa menoleh sedikitpun.


Cklakk!


Ari terkejut. Ia benar-benar tak menyangka Michael bisa membaca pergerakannya tanpa melihat arah serangannya.


"Dasar naif. Kau kira jika aku tak menoleh maka aku tak melihat?" Ucap Michael. "Kau terlalu meremehkan kemampuan seorang jenderal, Ari!"


Dengan posisi membelakangi lawan, Michael mengubah haluan pedangnya. Ia meluncurkan dua tebasan berturut-turut dan berhasil menghantam Ari hingga membuatnya terpental.


"Kakak!" Riana berteriak khawatir.


Michael memutar kursinya dan melirik ke arah Ari. "Sudah hampir satu menit, dan kau bahkan belum mendaratkan satu pukulan pun kepada ku."


Ari merintih kesakitan. "Sial. Dia tidak main-main. Latihan ini benar-benar di luar level ku," Gerutunya. "Ditambah lagi, apa-apaan gerakan tadi itu? Bahkan tanpa memasang mata pada lawan, ia bisa mendeteksi arah serangannya."


Ari mengangkat tubuhnya berdiri perlahan. Ia kemudian kembali mengacungkan pedangnya.


"Ini sia-sia. Mau sekuat apapun aku mencoba, aku tak bisa melampaui kemampuannya. Aku memang benci mengakuinya, tapi ini kenyataannya," Batin Ari lagi. "Tapi pasti ia juga punya celah. Yang ku butuhkan hanya mencarinya!"


Ari menajamkan penglihatannya. Ia pun menggunakan teknik yang selama ini ia simpan.


"Dalam pengalaman berburu ku selama bertahun-tahun. Aku telah menyempurnakan teknik khusus yang telah ku asah sejak aku kecil," Mata Ari semakin tajam. "Kunamai teknik itu: Pengamatan dan Presisi!"


Pengamatan, pada dasarnya ini adalah teknik yang simpel. Yang perlu dilakukan hanya mengamati pergerakan lawan hingga mereka mulai menunjukkan pola tertentu dalam pergerakan mereka.


Hal ini begitu berguna dalam kegiatan berburu. Dengan mempelajari sifat dan gerakan hewan buruan, maka para pemburu akan dengan mudah meluncurkan serangan antisipasi apabila mereka kabur atau melawan.


Namun yang spesial dari teknik milik Ari adalah ia tak sekedar mengamati lawan dan mempersiapkan serangan antisipasi. Melainkan meningkatkan kemungkinan serangan tersebut akan berhasil.


"Semua ada pada mata ku. Mata yang melihat tajam hingga menembus berbagai rintangan."


"Jarak, kecepatan, kekuatan tiupan angin, dan ukuran lawan. Selama aku bisa memperhitungkan semuanya, kemungkinan kena semakin besar."


"Dan dengan satu koordinasi yang akurat antara mata dan tangan, maka tak ada yang tak bisa ku tembak."

__ADS_1


Michael tiba-tiba berteriak pada Ari. "Apa kau menyerah?" Ucapnya. "Berdiri lama-lama begitu takkan membuat mu terlihat mengintimidasi. Kau seakan sedang berlagak memikirkan rencana, kan?"


"Sial, bagaimana ia bisa tahu?" Ari tersentak. Ia kemudian menyahut, "Aku belum menyerah. Aku akan mengalahkan mu di sini, dan memberi mu pelajaran!"


Dengan kecepatan penuh, Ari melesat dengan pedangnya siap menggores Michael.


Michael menarik pedangnya dan saling beradu dengab pedang Ari. Pertarungan menjadi lebih sengit dari biasanya.


"Kau belum belajar sama sekali, ya?" Ucap Michael. "Serangan mu masih sangat mudah diprediksi. Dengan mata terpejam pun aku bisa melihatnya. Kau masih terlalu lemah!"


Ari terus mengayunkan pedang kayunya. "Mulut sombong mu itu, aku sangat membencinya," Ucapnya. "Apa gunanya kehormatan seorang ksatria bila mulutnya seperti ember!"


"Ini bukan ejekan, tapi kenyataan. Kau sangat payah dalam pertarungan. Bahkan pengetahuan umum yang paling mendasar pun tak kau ketahui."


"Tch, jangan menilai kami sesuai standar mu!" Ari meluncurkan tebasan terakhir dengan kuat.


Cklakk! Tebasannya cukup kuat hingga membuat dirinya terdorong mundur beberapa langkah, memberikan jarak di antara mereka.


Ari mengatur pernafasannya, sembari melanjutkan kalimatnya. "Sifat mu barusan, membuatku muak tahu!" Teriaknya. "Aku tahu kau seorang jenderal. Tapi kami bukanlah pasukan mu!"


Michael membalas dengan tegas. "Kau hanya mencari-cari alasan. Aku tahu kau malu karena tidak tahu menahu tentang dasar-dasar ilmu bertarung. Kau adalah seorang gagal," Ucapnya. "Pasukan ku takkan selemah ini. Dalam sehari, mereka sudah diwajibkan untuk mengayunkan pedang seribu kali."


"Sudah kubilang jangan samakan kami!" Balas Ari. "Setiap orang berbeda-beda. Dan kau tak punya hak untuk memaksa mereka berubah sesuai yang kau inginkan!"


"Dalam kemiliteran, hal itu sangat penting. Mereka yang tak sanggup mengangkat pedang, hanya akan menemukan kematian. Begitu juga dengan mu."


"Tch, persetan dengan kemiliteran. Aku hidup bukan untuk itu. Dan juga..." Ari menarik pedangnya ke belakang, siap untuk menerjang. "Mungkin kau tidak ingat, jadi aku akan mengingatkan. Aku bukanlah pengguna pedang, tapi busur!"


Ari segera mengayunkan tebasan ke atas. Dengan tangan kanannya ia meluncurkan serangan tersebut ke arah Michael.


Namun Michael segera mengantisipasinya dengan serangan balasan. Ia mengayunkan pedangnya dua kali berturut-turut hingga membuat pedang Ari terlempar ke udara.


"S-Sial, jemari ku kendor!" Nampak wajah Ari berubah.


Swooshh! Namun kali ini, Ari menghindarinya.


"D-Dia menghindarinya!?" Michael terkejut.


Ari menyeringai. "Jangan remehkan seorang pemburu. Kami bahkan dapat membaca pola pikir hewan. Membaca pola gerakan mu seperti membaca buku," Ucapnya. "Setelah mengamati pergerakan mu. Aku menyadari sesuatu setiap kali kau menebaskan pedang kecil mu itu."


Ari mengacungkan telunjuknya. "Kau selalu menyerang dengan dua tebasan berurutan. Dan itu menguak kelemahan terbesar mu!"


Michael menatapnya. "Hah, kau pikir hanya dengan itu kau akan mengalahkan ku?" Balasnya. "Menguak pola serangan kecil ku itu takkan mengubah situasi!"


Ari menyeringai. "Heh heh, kalau kau berpikir begitu, kau salah besar," Sambungnya.


"A-Apa?"


"Tebasan dua kali berturut-turut itu bukanlah tanpa alasan. Itu karena kau belum beradaptasi dengan pedang yang kau gunakan," Terus Ari. "Kau sebelumnya bilang bahwa kau adalah pengguna pedang besar. Itu menjelaskan bagaimana kau tidak terbiasa dengan bobot pedang kecil yang jauh lebih ringan dibandingkan senjata andalan mu."


Ari meneruskan kesimpulannya. "Karena itu, kau selalu mengayunkan pedang mu lebih cepat karena tenaga yang kau keluarkan tidak selaras dengan berat pedang itu. Sehingga kau selalu meleset di tebasan pertama dan menyusul dengan tebasan kedua."


Bibir Michael menyeringai. Ia pun tertawa kecil setelah mendengar penjelasan Ari.


"Kau sungguh hebat, Ari. Mungkin aku memang terlalu meremehkan mu," Ucapnya sambil tersenyum lebar. "Namun, apa arti semua itu bila kau tak lagi bisa menyerang ku? Kau kehilangan senjata mu, yang berarti kau sudah kalah."


"Tidak tidak, kau salah Michael. Aku tidak kehilangan senjata ku," Ucap Ari.


"Hah?"

__ADS_1


Ari mengangkat jarinya ke langit. "Di sinilah bakat presisi ku beraksi. Serangan dadakan dari langit!"


Michael mengangkat wajahnya dan melihat sebuah pedang jatuh ke arahnya dengan kecepatan tinggi.


"B-Bagaimana bisa!?" Michael terkejut. Ia kemudian teringat ketika Ari kehilangan pedangnya. "Jadi begitu! Dari awal ia memang sengaja melemparkan senjata, dan berlagak kalau ia melakukan kesalahan. Padahal sebenarnya ia hendak menyerangku saat lengah."


"Tapi... bagaimana? Pedang itu menuju tepat ke arah ku. Seperti anak panah yang ditembakkan dari busur."


Ari tiba-tiba memotong lamunan Michael. "Kau pasti keheranan kan? Bagaimana aku bisa melempar pedang itu dengan akurat?" Ucapnya. "Ini karena bakat ku! Bakat presisi yang dapat mengenai setiap target tanpa meleset. Bakat istimewa yang menyempurnakan teknik memanah ku!"


Pedang tersebut semakin mendekat ke arah Michael.


"Pedang itu mendekat!" Michael menyiapkan pedangnya. "Hah, tapi ini bukan masalah. Selama aku bisa menggerakkan pedang ku, aku bisa memblokirnya dan mengubah arah haluannya."


Ketika Michael mulai percaya diri, ia segera menengadah untuk melihat pedang itu datang. Namun, terangnya cahaya langit segera masuk dan menyengat matanya.


"S-Sial, aku tak bisa melihat dengan jelas," Michael menutupi sebagian matanya dengan tangannya. Berusaha mengurangi cahaya yang menerobos masuk ke penglihatannya.


Karena silaunya langit, bayangan dari pedang tersebut seakan mengganda dan membias. Menyulitkan Michael untuk memfokuskan pandangannya.


"Gawat, aku tak bisa memperkirakan jarak pedang itu. Cahaya yang menerpa mencegah ku untuk melihat fokus," Resahnya. "Mungkinkah..."


"Benar sekali!" Ari berteriak antusias. "Aku tahu kau pasti akan dengan mudah mengenai pedang ku untuk menghentikannya. Jadi aku memanfaatkan silaunya langit untuk menghalangi penglihatan mu. Terlebih, melihat benda pipih yang kecil di tengah udara akan membuatmu kesulitan memperkirakan jaraknya."


"Sial, dia memang sudah merencanakannya. Ditambah, kelihatannya benda itu cukup berbahaya jika sampai menghantam wajah ku," Batin Michael. "Aku harus melindungi diri!"


Michael mengangkat tangannya ke langit. "Non-Elemental Spell: Protection!"


Melihat Michael merapal mantra, Ari segera menanggapinya.


"Takkan ku biarkan kau curang!" Teriaknya. "Non-Elemental Spell: Channeling, Power!"


Tensi di antara mereka berdua menjadi begitu tegang. Terlebih sesi latihan ini mulai berbahaya karena mereka mulai menggunakan sihir.


Riana menjadi panik. "P-Protection... C-Channeling... jika keduanya bertabrakan, akan melepaskan gelombang momentum yang kuat," Gumamnya. "Itu bisa melukai mereka dan sekitarnya."


Wajah Ari semakin berkobar-kobar melihat kemenangan di depan matanya. Begitu ia mengalahkan Michael, ia bisa menyuruhnya untuk menjauh dari adiknya.


Begitu juga Michael. Wajahnya tak menunjukkan tekad untuk kalah, karena pribadi tegasnya bangkit dalam sesi militer ini.


"Makan itu, dasar Jendral pencuri adik!" Ari berteriak sekuat tenaga.


"Hyaaa!" Michael memperkuat lapisan protection-nya.


"Heh, kalian sedang apa?" Tiba-tiba Rio muncul di antara mereka.


Seketika mata mereka bertiga langsung terpelotot kaget. Mereka terlalu fokus dalam pertarungan hingga tak menyadari Rio masuk ke dalam arena pelatihan.


"Rio, menyingkir dari situ!" Riana mencoba memperingatkan.


Namun terlambat. Pedang tersebut sudah hampir menyentuh lapisan protection Michael. Jika sampai mengenainya, maka ledakan momentum takkan terhindarkan.


Rio mungkin akan terluka parah, mengingat ia masih kecil dan fisiknya tak mampu menahan kekuatan sebesar itu.


"Rio!!!" Ari dan Riana berteriak bersamaan.


.


.

__ADS_1


.


To be continued...


__ADS_2