Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Kisah Penutup dari Negeri Api


__ADS_3

Step... step... Suara langkah yang menggaung terdengar cukup keras di lorong yang sepi. Darren melayangkan pandangannya ke lorong kosong di depannya. Matanya sedikit berkedut sambil merasa jengkel karena barusan ia teringat sesuatu.


"Michael... dimana dia?" Gerutunya sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Pendeta itu bilang ia akan meninggalkan tubuh Michael. Seharusnya hari ini ia sudah pergi."


Darren menarik nafas panjang. Ia meregangkan badannya dan mencoba untuk mengatur pernafasannya.


"Huff, kau harus tenang Darren," Ucapnya pada dirinya sendiri. "Jangan terburu-buru. Suatu saat kesempatan itu akan datang sendiri. Jika memang takdir yang menghendaki, maka kau tidak perlu cemas."


Saat ia mencoba menenangkan dirinya sendiri, tiba-tiba sesosok orang muncul dari balik Darren dan menyentuh pundaknya.


"Ciluk ba!" Clara melemparkan jemarinya dengan kuat. Plaakk!


Darren terkejut, namun hanya sebentar. Ia kemudian berbalik dan melihat Clara yang wajahnya tersenyum lebar melihat ekspresi Darren tadi.


"Ha ha, muka mu lucu sekali!" Teriak Clara sambil tertawa tak karuan.


"Kalau mau ngagetin jangan mukul lah. Tenaga mu kuat sekali tau!" Protes Darren sambil memijat pundaknya sendiri. "Dasar. Apa kau lupa kalau kau ini Raja Iblis?"


Clara cengar-cengir minta maaf. "Iya iya. Maaf deh, aku gak bakal ngulangin." Tapi ekspresinya mengatakan ia akan mengulanginya lagi.


Darren menghela nafas. Ia segera menyembunyikan wajah lesunya dan memasang wajah biasanya.


Mereka pun mulai berjalan bersama di tengah lorong yang sepi itu. Saking sepinya, langkah kaki mereka bisa terdengar cukup keras. Sesekali mereka sengaja menyelaraskan langkah mereka hingga membentuk irama yang bernada.


"Ngomong-ngomong, kau mau kemana?" Tanya Clara.


Darren menyahut. "Aku baru saja mau menemui Shiro dan Tora. Tadi mereka habis kusuruh mengemasi barang-barang," Jawabnya. "Kau sendiri mau kemana?"


Clara membalas, "Aku dari ruang rapat. Dyland menggelar rapat dengan para dewan negara. Sepertinya mereka membicarakan tentang kerjasama antar negara."


"Benarkah? Lalu bagaimana situasinya?"


Clara menggeleng-geleng sambil tersenyum kecil, sementara tangannya di lambaikan ke udara. Melihatnya saja Darren sudah tahu bagaimana situasinya.


"Kacau. Para dewan menolak mentah-mentah usulan Dyland," Ucap Clara.


"Begitu ya. Tidak heran sih. Mengingat apa yang terjadi sebelumnya."


"Tapi..." Clara menyambung. "Kau itu sungguh hebat ya, Darren-kun."


"Apa maksudnya?"


"Para dewan langsung menyetujui usulan Dyland setelah mendengar nama mu."


"Lah, bagaimana bisa?" Darren sedikit terkejut sekaligus keheranan.


Clara menyeringai kecil. "Seandainya para petualang tidak menyebarkan reputasi mu sebagai kriminal manusia, mungkin kerja sama ini takkan terjadi," Ucap Clara. "Para dewan telah mendengar sejarah mu dengan Erobernesia dan juga tentang insiden desa manusia hewan itu. Bagi mereka, kau adalah manusia yang cukup menarik untuk diajak kerja sama."


"B-Benarkah?" Darren menggaruk ubun kepalanya.


"Ya. Ketika Dyland menyebut nama mu, wajah para dewan langsung berubah. Seharusnya kau hadir di sana. Mereka pasti akan lebih tercengang lagi, ha ha!"


Darren hanya tertawa kecil. Tapi ia tak pernah menduga kalau berita tentang dirinya bisa tersebar luas hingga melalui kalangan para petualang. Ini sebenarnya bukan berita yang bagus, maupun jelek. Lebih tepatnya seperti pedang bermata dua.


Memang bagus jika kabar dirinya tersebar. Ia bisa menjalin hubungan dengan para iblis menjadi lebih mudah. Namun, akan beda cerita jika berita ini sampai kepada orang yang salah. Contohnya seperti Raja Iblis kegelapan.


Tanpa disadari, Darren dan Clara berjalan cukup lama. Mereka menyusuri sekujur lorong hingga sampai akhirnya tiba di lantai dua melalui tangga. Mereka berdua pun berhenti di sebuah balkon dengan pemandangan hutan Pulvis di depan mereka.


Nampak dari jauh, pohon-pohon yang rimbun bergoyang tertiup embusan angin seakan menari-nari gemulai. Angin siang hari ini terasa sangat sejuk walau sebenarnya temperatur cuaca cukup panas.


Darren tertegun oleh pemandangan itu. Tatapannya terpaku sesaat, sampai tiba-tiba sesuatu terlintas di benaknya. Ada yang ingin ia tanyakan pada Clara.


"Clara-san," Ucap Darren. Clara pun menoleh.


"Huh, ada apa?"


Darren melanjutkan. "Aku ingin bertanya satu hal," Ucap Darren. "Apa kau dan para Raja Iblis Sejati lainnya masih saling kontak?"


Jeda cukup panjang melintas diantara mereka berdua, sebelum akhirnya Clara menjawab pertanyaan Darren sambil tersenyum.


"Sayangnya tidak," Jawab Clara. "Sudah lama sekali sejak terakhir kali kami bertemu. Banyak hal besar yang terjadi. Mau tidak mau kami harus berpencar."


"Hal besar? Seperti perburuan besar-besaran oleh Gereja Suci?"


"Itu hanya salah satunya," Ucap Clara seraya menyenderkan tubuhnya ke pagar balkon. "Ku rasa tidak masalah jika aku mengatakan ini. Dulunya, kami adalah tangan kanan para dewa."


Darren mengeryitkan alisnya. Apa ia tak salah dengar?


"Tunggu, aku tak salah dengar kan?" Ucap Darren. "Bukannya kalianlah musuh para dewa?"


"Itulah yang mereka percayai. Namun apa yang di depan terkadang tidak sama dengan isinya," Ucap Clara. "Kami dulu bertempur untuk para dewa. Sampai suatu hari, ia datang."


"Dia?"


Clara menggangguk. "Raja Iblis kegelapan," Ucapnya. Ia kemudian menjelaskan tentang pengetahuan yang ia miliki. "Pada zaman dahulu, terdapat tujuh dewa. Setiap dewa mewakili setiap elemen di dunia ini. Es, api, angin, air, tanah, petir dan yang terakhir cahaya."


Clara meneruskan penjelasannya. "Setiap dewa memiliki bawahan yang sesuai dengan elemen yang mereka pegang. Contohnya aku, dulunya melayani Dewa Api."


"Lalu, apa yang terjadi?" Darren semakin penasaran.


"Disinilah semuanya berubah. Di saat Dewa Cahaya menemukan bawahan yang cocok untuk dirinya. Namun karena fakta bahwa elemen cahaya hanya bisa mengalir dalam tubuh manusia, maka Raja Iblis yang melayaninya menguasai elemen yang unik."


"Elemen unik? Jangan-jangan maksud mu..."


"Elemen kegelapan," Sambung Clara. "Elemen yang berbanding terbalik dengan Elemen Cahaya. Kedua elemen yang merupakan pembentukan dari pepatah: Dimana ada cahaya, di situ ada bayangan."


Clara menengadahkan wajahnya ke langit biru, seraya ia meneruskan. Katanya, "Sungguh, waktu pertama kali aku melihatnya. Betapa hebatnya kekuatan itu. Padahal dulunya ia hanya iblis biasa. Walau ia kelihatan seperti iblis yang baik hati, tapi ia menyimpan sesuatu yang besar dalam hatinya. Dan sekarang, isi hatinya keluar. Menimbulkan kekacauan bagi dunia."


"Sehebat itu, ya?"


"Bahkan karenanya, kami para Raja Iblis Sejati harus berpencar. Kami dilarang saling bertemu atau ia akan turun tangan langsung."


"Lalu, apa yang terjadi pada Raja Iblis yang lain?" Tanya Darren.


"Beberapa dari teman-teman ku memilih untuk meninggalkan identitas mereka. Mendalami hidup sebagai makhluk fana dan bersembunyi menghindari ancaman Gereja Suci. Beberapa yang lain mungkin memilih jalan hidup mereka sendiri," Jawab Clara. "Bahkan ada yang mengurung dirinya sendiri dalam es. Ya ampun."


"Tomatsu, kan?" Ucap Darren.


"Eh, kau mengenalnya?" Ucap Clara tak menduganya.


Darren mengangguk. "Aku bertemu dengannya di pegunungan Erfroren. Waktu itu aku yang melepaskannya dari penjara es itu."


"Ehh, aku tak menduga kau yang malah melepaskannya," Ucap Clara sambil tersenyum kecil. "Kalau boleh, bisakah aku titip salam? Jika seandainya kau bertemu dengannya."


Darren membalas sambil tertawa kecil. "Tentu saja. Aku tak sabar melihat reaksinya."


Mereka kembali menikmati pemandangan sejuk itu. Matahari bersinar makin terik, dan awan-awan mulai menghilang dari langit Avon.


"Lihatlah langit-langit itu," Ucap Clara sambil menunjuk ke atas.


Pandangan mereka berdua langsung tertuju ke langit yang sama, langit di atas kepala mereka. Begitu biru dan cerah tanpa awan yang menutupi. Hanya ada matahari yang cahayanya menyambar kedua mata mereka.


Clara melanjutkan kalimatnya. "Aku pernah bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apakah masih ada langit di atas langit?" Ucapnya. "Begitu juga aku bertanya-tanya, apa masih ada makhluk lain yang berada di atas para dewa?"


Darren mengalihkan pandangannya dari langit dan melirik ke wajah Clara yang nampak serius.


"Menurut mu sendiri?" Sahut Darren.


"Kita takkan pernah tahu. Lagipula, aku tak punya waktu untuk memikirkannya. Masih ada urusan yang lebih penting," Kata Clara. "Seperti, melindungi kalian dari dia."


"Darren-kun, aku hanya bisa memperingati mu sekali lagi," Ucap Clara menyambung. "Impian mu itu, adalah hal yang mustahil. Tidak mungkin kedamaian bisa terwujud di dunia yang kacau ini. Tapi, aku tidak akan mencegah mu mengejarnya."


Darren tersenyum. "Artinya kau tidak akan melawan ku, kan?"


"Untuk saat ini tidak," Balas Clara. "Berjanjilah pada ku. Selagi kau berusaha mewujudkan mimpi tidur siang mu itu, jangan sampai tertangkap oleh-Nya. Jika sampai terjadi, maka aku akan mencari dan langsung membunuh mu."


Darren menunduk sedikit. "Baiklah. Aku takkan menganggap itu sebagai ancaman. Tapi aku janji takkan ditangkap."


"Baguslah kalau kau mengerti. Dan satu lagi," Ucap Clara. "Aku akan pergi dari kerajaan ini sambil membawa Bagus."


"Sungguhan?"


"Iya. Aku tak mau mengambil resiko untuk tinggal di sini lagi. Salah satu bawahan Raja Iblis itu telah melihat mu dan Bagus di kerajaan ini. Jadi ia mungkin akan segera ke sini, cepat atau lambat."


"Bawahan Raja Iblis? Siapa maksud mu?"


"Hioni, si Ogre tangan kanan Raja Iblis Kegelapan."


Darren langsung mengenal nama itu. Memang sedari dulu ia sangat penasaran tentang ogre misterius itu. Tapi setelah Clara mengatakannya, sekarang sudah mulai jelas siapa ia.


"Si ogre merah itu?" Ucap Darren.


"Nampaknya kau sudah bertemu dengannya ya," Balas Clara. "Tidak heran. Ia pasti telah memasang mata pada mu untuk waktu lama."


"Tapi ia pernah membantu ku sebelumnya."


"Jangan terkecoh oleh sifat baiknya. Ia pasti melakukan itu untuk menjebak mu."


Darren merenung sejenak. Mungkin yang dikatakan Clara benar, tapi ia sendiri merasa kalau itu salah. Ogre itu telah membantunya dua kali tanpa menunjukkan tanda-tanda kelicikan sedikitpun.


Memang sih ia selalu memancarkan hawa misterius disetiap kehadirannya. Tapi Darren tak pernah menganggapnya sebagai ancaman serius.


"Apa yang ia lakukan selama ini memang hanya semacam trik untuk menjebak ku?" Batin Darren. "Jika iya. Seharusnya ia sudah menangkap ku sejak lama."


"Lalu, kemana kau akan pergi?" Ucap Darren mengubah topik.


"Ke antah berantah. Tempat dimana seorang pun takkan menemukan kami."


Darren mengangguk. "Jika itu keputusan mu, aku tak punya alasan untuk menentangnya. Setidaknya, berjanjilah kau akan menjaga Bagus. Ia adalah orang yang berharga bagi ku."


"Ia akan aman bersama ku. Dan sebaiknya kau perhatikan diri mu sendiri. Jangan sampai lengah dan masuk ke dalam perangkap-Nya."


Darren menghela nafas. Sebenarnya ada satu pertanyaan lagi yang ingin ia tanyakan pada Clara.

__ADS_1


"Sebenarnya Raja Iblis itu punya nama gak sih?" Ucap Darren. "Dari tadi kau memanggilnya dengan sebutan 'Dia' melulu."


Clara terdiam sejenak, kemudian membalas. "Mungkin tidak apa jika aku memberitahu mu," Katanya. "Namanya... adalah--"


Tiba-tiba suasana diantara mereka menjadi hening. Clara terdiam tanpa alasan jelas dan wajahnya melongo tanpa ekspresi. Darren menatapnya heran sambil sedikit ketakutan.


"C-Clara-san?"


Clara mengangkat tangannya dan mulai menyibak rambut merahnya dengan agresif. Wajahnya berkeringat dan mukanya nampak panik.


"K-Kenapa? Kenapa aku lupa?" Ucap Clara dengan nada terlongong. "Seharusnya aku ingat. Namanya adalah--"


Melihat kondisi Clara yang tiba-tiba begitu, Darren langsung teringat bahwa kejadian serupa juga terjadi sebelum. Sama persis seperti kondisi Tomatsu waktu itu.


"Clara-san, tenanglah. Kau tidak perlu mengatakannya," Darren berusaha menenangkan Clara.


"Kenapa bisa begini? Rasanya ingatan itu rabun. Aku tahu nama itu ada di kepala ku, tapi aku tidak bisa menemukannya."


"Tenanglah. Jangan memaksakan diri. Tarik nafas perlahan."


Clara mengatur nafasnya. Ia kembali tenang walau wajahnya mengatakan ia masih merasa terganggu karena hal tadi.


"Maaf, Darren-kun. Tak kusangka perjanjian kami ribuan tahun lalu masih berlaku hingga sekarang," Ucap Clara sambil menyeka keringat dari dahinya. "Karenanya, kami para Raja Iblis dilarang menyebut namanya."


"Iya, aku paham. Tomatsu juga mengalami hal yang sama."


Darren memperhatikan Clara dengan pertanyaan di benaknya. "Sebenarnya ada perjanjian macam apa diantara mereka? Bahkan sampai mengekang para Raja Iblis untuk menyebut namanya."


Darren merasa jika pertanyaan ini mungkin akan membantunya menemukan tujuan utamanya, yaitu mencari kebenaran dunia. Tapi selama tak bisa dijawab, maka itu takkan berarti apa-apa selain pertanyaan yang membingungkan.


.


.


.


"Shiro-sama, di sini sudah beres," Tora menutup tasnya dan berpaling ke arah Shiro.


"Baiklah. Taruh saja tasnya di atas kursi," Balas Shiro sembari menyusun barang-barangnya. "Aku masih harus menyusun beberapa barang milik Darren-sama."


"Butuh bantuan?"


"Tidak perlu. Hanya sedikit kok."


Tora menyerah dan hanya diam menatapnya. Ia duduk di lantai sambil melirik mata Shiro yang pucat. Mata penuh perasaan yang terpendam dan ingin segera meluapkannya.


Wajah Shiro juga nampak murung. Tangannya memang bekerja dengan baik memasukkan barang-barang ke tas, tapi pikirannya kelihatan jelas sedang berada di tempat lain.


"Shiro-sama?" Tora mencoba memanggilnya. Namun seperti dugaannya, Shiro tetap bekerja tanpa menghiraukan sekitarnya. Pikirannya benar-benar sedang melayang-layang.


"Shiro-sama," Kali ini Tora menghampirinya dan memegang pundaknya. Kali ini Shiro baru menanggapinya. Itupun dengan wajah terkejut seperti habis bangun tidur.


"E-Eh, Tora-kun? Ada apa?" Shiro menyahut dengan nada yang terbelalak.


Tora menghela nafas. Ia khawatir dengan kondisi tuannya yang sedari tadi membuatnya cemas.


"Shiro-sama, kau masih memikirkannya ya?"


Shiro terdiam sejenak. Kemudian senyuman kecil terlintas di wajahnya.


"Ya, aku terus kepikiran," Jawabnya dengan nada cemas. "Aku tak pernah menyangka kalau Darren-sama datang dari dunia lain. Dunia yang berbeda dengan dunia kita."


Tora melepaskan tangannya. "Jadi kau memikirkan itu ya," Ucap Tora. "Aku juga cukup terkejut sih. Aku tak pernah menduganya selama ini."


"Kira-kira bagaimana rasanya ya?" Sambung Shiro. "Harus meninggalkan keluarga karena terkirim ke dunia lain, yang bahkan tidak jelas alasannya."


"Pasti berat, ya," Sahut Tora.


"Maka dari itu..." Shiro menyambung. "Aku tidak mau Darren-sama mengalami hal serupa lagi. Aku ingin menjadi keluarganya di sini. Menjadi tempat untuk berbagai suka dan duka. Dan menjadi tempat untuk pulang."


Senyuman tulus melintas di wajah Shiro. Ia paham betul apa yang ia katakan. Membuat Tora hanya bisa diam tertegun melihatnya.


Tora ikut tersenyum. Ia menundukkan wajahnya dan tanpa sadar air mata telah menitis di pipinya.


"Eh, aku menangis?" Batinnya dalam hati.


Shiro meliriknya dan melihat setitik air mata menggumpal di ujung dagunya.


"Tora-kun?" Panggilnya. "Kau tak apa?"


"Heh, sepertinya ucapan mu tadi mengingatkan ku akan ibu ku," Ucap Tora. "Rasanya aku bisa merasakan yang dirasakan Darren-sama. Diambil oleh seseorang secara paksa dari pelukan keluarga mu. Aku juga pernah mengalaminya."


"Tora-kun..."


Tora menyeka matanya. "Tapi ini bukan sesuatu yang patut ditangisi," Ucapnya. "Lagipula, sekarang aku sudah punya keluarga baru."


Tora beranjak, mengambil semua barang-barang, dan memasukannya ke tas. Shiro hanya diam menatapnya, sampai Tora berbalik dan tersenyum.


"Shiro-sama, jangan khawatir. Aku akan membantu mu menjadi keluarga yang baik bagi Darren-sama."


.


.


.


Matahari mulai bergerak ke ufuk barat. Langit mulai memerah dengan sedikit sibakan warna biru yang bercampur. Awan-awan pun tersapu hingga menutupi sebagian cahaya mentari.


Darren dan kedua kawannya berdiri di depan pintu kastil. Di depannya, Dyland dan Hain ikut hadir. Sementara Dyland berdiri sambil menghentakkan kaki secara berirama, seperti sedang menunggu seseorang.


"Lama sekali mereka," Ucap Dyland.


"Emangnya ada apa?" Tanya Darren.


"Keadaannya sedikit sulit," Balas Dyland. "Waktu rapat tadi, para dewan meminta agar Bagus dihukum mati. Namun Clara meminta ku untuk tidak melakukannya. Jadi aku berusaha untuk menyelundupkannya keluar tanpa ketahuan oleh para tetua."


"Lalu di mana Clara-san?"


Dyland kembali menghentakkan kakinya. Ia menyambung, "Ia lah yang bertugas untuk menyelundupkan Bagus keluar. Tapi saking lamanya aku jadi cemas."


Tak lama kemudian, sebuah semak-semak bergerak. Dari balik semak itu muncul seseorang berambut merah.


"Maaf lama," Ucap Clara seraya menggeret Bagus dari balik ranting belukar.


Dyland menghela nafas panjang. Ia nampak lega. "Apa yang membuat mu lama sekali?"


"Ya maaf sih. Banyak sekali penjaga yang berpatroli. Aku jadi gak punya pilihan lain."


Wajah Dyland sedikit memucat. "Hey, kau tidak membunuh mereka, kan?"


"Ha ha, tentu saja tidak. Aku hanya melumpuhkan beberapa dari mereka saja."


"Baguslah."


"Dengan mematahkan kaki mereka dan memastikan mereka tidak bisa bicara lagi," Sambung Clara.


"Hey, kau tidak serius kan!?"


"Ha ha, hanya bercanda kok," Clara tertawa terbahak-bahak. "Lihatlah wajah panik mu. Ini pemandangan yang langka untuk bisa melihat Yang Mulia Dyland ketakutan."


"Tidak usah banyak bercanda," Dyland langsung memukul ubun kepala Clara.


"I-Iya, ampun."


Darren berjalan mendekati mereka. Ia menghampiri Bagus dan membantunya membersihkan diri karena ternyata sedari tadi ia digeret oleh Clara.


"Darren," Ucap Bagus begitu melihatnya.


Darren mentahutinya dengan senyuman singkat.


"Jadi, kau akan membawanya pergi?" Tanya Dyland pada Clara.


"Ya, tidak ada pilihan lain," Ucap Clara. "Keberadaan Outlander di suatu tempat hanya akan membawa kehancuran ke tempat itu. Kau tentunya tidak mau negara ini hancur, kan?"


"Kau benar-benar langsung ke poin terburuknya, ya," Balas Dyland sambil melipat tangan.


"Ya habis, Raja Iblis Kegelapan takkan berhenti memburu para Outlander. Jika Bagus tinggal di sini, maka dia pasti akan datang. Dan kedatangannya hanya akan membawa duka."


"Aku sudah cukup mendengarnya."


Bagus berdiri sambil menyapu bagian belakang celananya dengan tangannya. "Aku sungguh bingung sekarang ini," Ucapnya. "Semuanya terjadi sangat cepat. Clara adalah Raja Iblis Sejati. Dyland adalah Raja. Dan Darren ternyata datang dari dunia lain, sama seperti ku. Apa-apaan kegilaan ini?"


"Dunia ini memang selalu gila, Bagus-kun. Jadi terbiasalah," Balas Clara. "Tapi tenang saja. Walau aku Raja Iblis, aku takkan membunuh mu. Aku tidak sama dengan Raja Iblis Kegelapan itu."


"Iya. Ucap orang yang hampir membunuh kami berdua kemarin," Sahut Darren.


Plakk! "Yang sudah berlalu biarlah berlalu, Darren-kun," Clara menepuk pundak Darren sambil menyeringai.


"Lagian, kau mau membawa ku kemana?" Tanya Bagus pada Clara. "Dan juga, apa Darren tidak ikut?"


"Darren tidak ikut. Tapi aku sudah menyiapkan lokasi yang bagus untuk kita berdua," Sahut Clara.


"Kenapa kau mengatakannya seperti kita mau piknik?"


Bagus memalingkan wajahnya. Ia nampak bimbang. Yah bagaimana tidak, ia pasti sangat ketakutan saat ini.


"Jangan khawatir, Bagus," Ucap Dyland menghampirinya. "Clara memang agak bodoh, tapi ia adalah Raja Iblis. Kekuatannya akan menutupi kebodohannya."


"Y-Ya..." Balas Bagus pelan.


"Ish, kakak. Kau ini tidak peka loh," Clara menyahut. "Karena aku kuat dan bodoh, ia takut kalau aku tidak sengaja membunuhnya."


"T-Tidak. Aku cuma ragu saja," Sambung Bagus. "Apa aku bisa kembali? Kembali ke tempat asal ku."

__ADS_1


Mereka terdiam. Namun tiba-tiba Hain maju mendapatinya.


"Jangan pesimis dulu!" Ucapnya, seraya Bagus menoleh ke arahnya. "Kau pasti bisa pulang. Pasti ada cara."


"Hain..."


"Aku tidak bisa menjamin, tapi pasti ada cara. Jika bisa datang maka pasti bisa pergi."


Darren menghampiri mereka berdua. "Hain mungkin benar, kita tidak boleh pesimis. Tapi sejujurnya, aku berpikiran lain," Ucap Darren. "Secara teknis, aku dan Bagus telah mati di dunia sana. Aku mati tertabrak kereta, sementara Bagus mati terhantam tsunami. Jika kita bisa kembali pun, bagaimana kelanjutannya?"


Hain menggertakan gigi.


"Tapi, ada kemungkinan lain," Bagus tiba-tiba memotong. "Sepertinya ada yang harus ku cerita kan pada mu, Darren."


"Eh, apa itu?"


Bagus menunjukkan pakaian yang ia pakai. Baju yang sedikit kumuh dengan beberapa sayatan kecil di beberapa lokasi. Walau baju itu bersih, tapi bekas jahitan yang banyak menempel bisa langsung menceritakan sejarah pakaian itu.


"Apa menurut mu baju yang kupakai ini dibuat di dunia ini?" Ucap Bagus sambil menarik bagian bawah bajunya ke depan.


Darren memperhatikannya baik-baik. "Sepertinya tidak?"


"Tepat sekali. Begitu juga dengan mu. Kau tidak mungkin terkirim ke sini tanpa pakaian, kan?"


Mata Darren langsung terbuka lebar seakan ia menyadari sesuatu. Sementara Bagus melanjutkan perkataannya.


"Dan satu lagi. Saat aku terkirim, bukan hanya pakaian ku saja yang ikut terbawa. Melainkan plastik belanjaan ku juga terbawa."


"Ah, aku paham sekarang," Sahut Darren sambil megelus dagunya. "Jadi maksud mu, belum tentu kita mati, kan?"


Bagus mengangguk. "Hanya kemungkinan."


"Aku sebenarnya cukup penasaran dengan itu. Ditambah lagi, waktu kedatangan kita sangat tidak masuk akal. Kau datang dari tahun 2004, jauh lebih lama dari waktu asal ku. Tapi aku tiba lebih dulu daripada mu."


"Emangnya sudah berapa lama kau di sini?"


"Mungkin tiga bulan lebih. Memang tidak jauh, tapi secara teknis aku lebih dulu. Ini membuat satu pertanyaan baru," Jelas Darren. "Sebenarnya bagaimana konsep kedatangan kita? Dan juga, konsep waktu seperti apa yang berlaku dalam pemanggilan kita ke sini?"


"Clara, apa kau tahu sesuatu?" Tanya Darren menoleh pada Clara.


Clara menyahut. "Walau aku Raja Iblis Sejati, tapi aku tidak tahu apa-apa tentang apa yang kalian bicarakan. Ku kira kedatangan kalian cuma suatu kebetulan yang simpel."


Darren mendengus, "Huff, memang gak ada harapan bertanya pada Clara."


"Heh, kenapa malah jadi salah ku!?"


Perbincangan mereka berlangsung agak lama. Setidaknya sampai matahari mulai tenggelam.


Suasana sore di kota avon terasa sangat hangat. Selain langit yang berwarna oranye gelap, matahari pun seakan memancarkan cahaya hangatnya untuk yang terakhir kali sebelum malam merekah.


"Jadi, kita berpisah sekarang, ya," Ucap Clara sambil menatap cahaya matahari yang mulai redup.


"Ya. Tapi jangan khawatir, kita pasti akan bertemu lagi," Sahut Darren.


"Lalu, kemana kau akan pergi, Darren-kun?"


Darren melirik ke arah Shiro dan Tora yang berdiri di belakangnya.


"Aku ingin membawa dua rekan ku ke suatu tempat," Ucapnya.


Shiro dan Tora hanya diam penasaran. Sebenarnya tempat apa yang akan dituju oleh mereka nanti.


"Darren," Hain tiba-tiba memanggilnya. "Izinkan aku ikut dengan mu."


"Eh? Kenapa?" Sahut Darren.


"Aku juga ingin memecahkan misteri ini. Aku mau Bagus bisa pulang," Sambung Hain. "Walau kedengarannya akan sulit bagi iblis biasa seperti ku. Tapi aku merasa jika aku ikut bersamamu, maka aku akan bisa memecahkannya."


Darren membalasnya, "Kau paham kondisinya, kan?" Ucapnya. "Raja Iblis Kegelapan sedang mengejar ku. Ia bisa muncul dan menyerang kapan saja. Aku sendiri tidak bisa memastikan diriku aman."


Hain mengangguk. "Aku paham. Karena itu, aku ingin membantu memecahkan masalah ini. Kita akan cari jalan pulang untuk mu, dan juga untuk para Outlander yang mungkin masih ada di luar sana."


Darren terdiam sejenak, sampai kemudian ia melontarkan satu pertanyaan lagi.


"Kenapa kau sangat peduli dengan mereka?"


"Karena aku merasa, kalian tidak seharusnya terlibat dengan dunia ini. Kami adalah penghuni dunia ini, namun kalian hanyalah korban dari alasan yang tidak diketahui," Balas Hain. "Aku juga berpikir. Jika seandainya aku terkirim ke dunia lain yang tak ku kenali. Aku pasti berharap ada orang yang bisa membantu ku juga."


Darren tak menjawab. Ia sendiri merasa bimbang untuk mengambil keputusan. Untuk sekilas, kalimat yang pernah diucapkan Clara terngiang dibenaknya.


"Berapa banyak nyawa yang melayang agar kau bisa sampai ke sini?"


Mendengar kalimat itu saja membuat bulu kuduk Darren berdiri. Walau ia sekarang mengenal Clara sebagai orang yang blo'on dan ceroboh, tapi perkataan yang ia ucapkan itu benar-benar membuat Darren menjadi bimbang.


Tiba-tiba Dyland menyahut. "Ah, sayang sekali. Padahal tadinya aku mau mempromosikan mu jadi jenderal," Ucapnya sambil menepuk pundak Hain. "Tapi jika kau mau ikut, aku takkan melarang."


"Kapten-- Tidak, Yang Mulia."


"Panggil saja Kapten," Terusnya. "Selain itu. Hain, kau tahu apa yang sudah menunggu mu jika kau ikut Darren, kan?"


"Iya, aku sudah tahu betul."


"Apa kau takut?"


Hain memberi jeda agak lama, namun ia segera menjawab. "Tidak. Aku tidak takut."


"Bagus kalau begitu," Hain kemudian berbalik menghadap Darren. "Darren, ajaklah dia. Aku tidak tahu apa dia akan banyak membantu, tapi ia bisa belajar."


"T-Tunggu, kau serius? Tadi kau bilang mau mempromosikannya, kan?"


"Hain bukanlah orang yang peduli pada pangkat dan jabatan," Balas Dyland. "Sama seperti mu, dia hanyalah iblis yang berpikir bahwa dunia bisa jadi tempat yang lebih baik. Hanya saja ia tidak diberkati dengan kekuatan lebih. Ia pasti bisa belajar banyak dari mu juga."


"Tapi... aku tidak yakin," Ucap Darren. "Sudah beberapa bulan sejak kedatangan ku ke sini. Dan aku sudah menyebabkan banyak nyawa melayang sia-sia. Aku tidak mau Hain jadi salah satunya."


Dyland menghela nafas. "Orang hidup... orang mati. Sekuat apapun seseorang, mereka tak mungkin bisa kabur dari ajal. Sekarang coba pikirkan, berapa banyak orang di luar sana yang mati bukan karena mu?"


Darren terdiam. Ia mulai memahami maksud perkataan Dyland.


"Masih banyak orang di luar sana yang menderita. Dan tidak semuanya adalah salah mu," Sambung Dyland. "Kau hanya berniat melakukan hal baik. Tapi untuk melakukan hal baik, kadang butuh pengorbanan. Seperti yang dilakukan Simson."


Hain menyahut. "Karena itu, aku ingin melindungi Bagus. Aku tidak mau nyawa yang sudah dipercayakan oleh Simson dibuang sia-sia."


Darren melipat tangannya. "Baiklah," Ucapnya dengan berat. "Kau boleh ikut. Tapi aku tidak bisa janji untuk menjamin keselamatan mu."


Hain tersenyum lebar dengan ekspresi antusiasnya. "Terimakasih banyak, Darren!"


Mereka berjalan hingga ke depan gerbang kastil yang sepi. Di penghujung jalan, mereka dipisahkan oleh pertigaan yang dimana akan menjadi pertemuan terakhir mereka.


"Kita berpisah, ya," Ucap Clara sambil tersenyum kecil.


"Ya. Tolong jaga Bagus," Sahut Darren.


Hain menghampiri Bagus yang berdiri di samping Clara. Ia memegang pundaknya dan menatapnya dengan penuh serius.


"Bagus, aku janji sekali lagi. Aku pasti akan temukan jalan!"


Bagus tersenyum kecil. "Terimakasih, Hain. Walau aku sudah jahat pada mu, tapi kau masih memperlakukan ku dengan baik. Andaikan kita bisa menjadi teman biasa tanpa latar belakang menyedihkan ini."


"Sekarang pun kita adalah teman!"


Disaat Hain dan Bagus berbincang, Clara menghampiri Darren. Mereka saling bertatapan dan untuk sesaat, keheningan sunyi menyelubungi mereka.


Tiba-tiba...


Grabb! Clara mendekap Darren. Darren hanya terdiam dengan wajah yang sedikit tersipu.


"Apa-apaan sih, Clara-san," Ucap Darren. "Kau pasti mau iseng lagi."


"Terimakasih, Darren-kun," Ucap Clara. "Terimakasih telah menyelamatkan Avon. Memang, para pasukan pemberontak juga membantu. Tapi aku hanya ingin berterimakasih secara pribadi."


"A-Ah..."


"Walau aku Raja Iblis, tapi aku tidak punya banyak. Aku hanya bisa membalas mu dengan berjanji akan melindungi Bagus. Dan juga, pelukan kecil ini."


Darren perlahan menggerakkan lengannya. Ia menyentuh punggung Clara dan membalas pelukannya.


Regu Darren pun berpisah dengan regu Clara, dengan Hain yang bergabung dengan mereka. Kelompok Clara mengambil belokan ke kiri, sementara Darren mengambil yang kanan.


Sesaat sebelum pandangan antara mereka menghilang dimakan bayangan, Darren sempat melambaikan tangan yang kemudian dibalas dengan sebuah acungan jempol dari Clara.


"Darren-sama, kemana kita akan pergi sekarang?" Tanya Shiro.


Darren tersenyum kecil. Ia sudah memikirkan tentang tujuan mereka selanjutnya sejak lama.


"Aku ingin membawa kalian bertiga ke suatu tempat," Ucap Darren pada teman-temannya.


"Hoo, kemana?" Sahut Hain penasaran.


Darren menghentikan langkahnya. Ia pun membuka portal dengan tangannya. Jurus yang baru saja ia pelajari dari pertempuran tempo hari.


"Akan lama kalau kita jalan kaki. Lebih baik kita lewat portal saja," Ucap Darren. "Aku sudah tidak sabar membawa kalian ke sana."


.


.


.


"Kita akan pergi berpiknik, Bagus-kun!"


"Jangan mengatakannya dengan nada senang dong, Clara-san. Apa kau lupa kalau ada Raja Iblis yang mengejar kita?"


"Eh iya lupa. Tapi kita juga harus senang-senang lah!"

__ADS_1


"Ya ampun."


__ADS_2