
Musim gugur adalah musim dimana banyak daun berterbangan, angin bertiup sepoi-sepoi, dan nuansa oranye yang terasa hangat di hati.
Pada musim itu sendiri, pohon-pohon mulai meluruhkan seluruh daunnya. Menciptakan pemandangan hujan daun yang memanjakan mata.
Namun dibalik fenomena tersebut, pohon menggugurkan daunnya bukan tanpa alasan. Mereka melakukan itu sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap datangnya musim dingin.
Meninggalkan kehidupan lama di musim panas, dan memulai hidup baru menyongsong musim dingin. Walau berarti harus membuang daun-daun indah yang selama ini menjadi salah satu bagian dalam hidup mereka.
Hal ini juga berlaku bagi Michael. Jenderal kerajaan Erobernesia yang mencoba membuang kehidupan lamanya, dan memulai hidup baru di tengah-tengah kaum yang selama ini menjadi target pembalasan dendamnya.
Setelah kehilangan kedua kakinya yang disebabkan pengkhianatan oleh rekan kerjanya sendiri. Michael diselamatkan oleh seorang perempuan iblis yang menemukan dirinya tak berdaya.
Setelah diselamatkan, ia dibawa ke desa para iblis dan dirawat di sana. Awalnya ia menolak segala kebaikan yang ditawarkan oleh para iblis. Menganggap mereka tak lebih dari sekedar monster tak berhati.
Namun insiden demi insiden, pemahaman Michael terhadap sudut pandang mereka mulai terbuka. Ia tak lagi buta oleh kebencian. Dan kini, ia mencoba untuk memulai langkah baru sambil hidup berdampingan dengan mereka.
Michael duduk di kursi rodanya. Matanya menatap bayangan siluet Riana di depan jendela dapur dengan tangannya yang lihai memotong buah-buahan.
Memang dirinya tak pernah menduga bahwa suatu hari ia akan tinggal serumah dengan seorang iblis. Tapi apa salahnya jika itu bisa terus membuat senyuman di wajahnya.
Riana mengambil keranjang yang terbuat dari anyaman bambu, dan memasukkan buah-buahan yang sudah dipotong ke dalamnya.
Michael mendorong kursi rodanya mendekat ke wanita itu. "Riana, biar aku yang bawa," Ucapnya.
Riana menyerahkan keranjang buah itu dengan senyuman khas di wajahnya. Begitu menawan serta polos. Raut yang takkan kehilangan keindahannya, walau diterpa duka dan luka.
Michael meletakkan keranjang itu di atas pangkuan pahanya. "Eh, berat," Gumamnya.
Sementara Riana bergerak mendorong kursi rodanya. Berjalan bersama, mereka pergi keluar rumah untuk menuju bukit kecil di pinggir desa.
"Mbak Iyana!" Rio muncul dari balik pintu. Ekspresinya yang kekanak-kanakannya terus mengundang senyuman.
Terkadang Michael lupa bahwa bocah itu telah kehilangan keluarganya. Namun ia tetap tersenyum. Mungkin karena ia masih belum menyadari tentang kekejaman yang dialaminya. Tapi bagaimanapun, ia hanyalah anak malang.
"Eh, Rio. Apa kau baru pulang dari main?" Ucap Riana sambil terus berjalan mendorong Michael.
Rio mulai berlari memutar-mutari mereka berdua. "Iya. Tadi aku lagi main petak umpet. Tapi aku langsung kesini karena liat mbak Iyana jalan-jalan."
"Eh, apa tidak apa pergi tidak bilang-bilang? Nanti teman mu bingung mencari mu loh."
Rio tersenyum lebar. Kelihatan beberapa giginya yang ompong menonjol keluar. "He he, Gapapa kok. Teman-teman ku gak bakal marah."
"Ya... mungkin jangan begitu juga."
Mereka tiba di puncak bukit. Sebuah pohon berdiri disana dengan daun yang mulai luruh satu persatu. Di bawah naungan teduh dedaunan kuning, mereka menggelar tikar dan duduk di tengah hembusan angin musim gugur.
"Silahkan," Satu persatu Riana mengeluarkan makanan dari keranjang.
Melihat banyaknya hidangan yang disediakan, Rio dan Michael hanya terkagum-kagum seolah melihat harta yang dikeluarkan dari petinya.
"Wah, mbak Iyana yang buat semuanya?" Mata Rio bercahaya. Ia kemudian mengambil kue kering yang masih hangat.
"Padahal aku sempat membantu mu memasak. Tapi aku tidak tahu kalau makanannya akan sebanyak ini," Ucap Michael.
Riana hanya terkekeh kecil sambil menyodorkan sebuah pie apel. "Ini, Michael-san."
Michael mengambil sepotong pie itu dari tangannya. "Terimakasih."
Tekstur luarnya lumayan lembut. Jika dibandingkan dengan kue-kue mahal di Erobernesia, pie buatan rumah ini mungkin bisa bersaing.
Michael meluncurkan gigitan pertamanya. Seketika mulutnya dibanjiri dengan rasa manis yang terasa meleleh di lidah. Michael terus mengunyah kue itu di mulutnya sambil menikmati setiap gigitan penuh rasa.
"Kau sepertinya menyukainya, ya," Riana nampak senang melihat Michael yang makan dengan lahap. "Tapi jangan cepat-cepat, nanti bisa tersedak."
Gulp... Michael menelan kue yang sudah halus. Ia sebenarnya ingin nambah lagi, tapi ia tak mau membuat dirinya sendiri terlihat serakah.
"Oh ya, apa kakak mu tidak ikut?" Tanya Michael.
"Yah, soal itu..." Riana tersenyum canggung. "Ku rasa lebih baik tak mengajaknya."
"Eh-- Kenapa?"
"Karena ia..."
Tiba-tiba dari kejauhan seseorang berteriak. "Heyy! Kenapa tidak ajak-ajak aku?!"
Serempak mereka bertiga menoleh.
"Tuh kan," Ucap Riana dengan alis yang datar. Seakan sudah menduga ini akan terjadi.
Ari lari dari kejauhan dengan secepat yang ia bisa.
"Dasar, jangan-jangan kau mau merebut adik-ku lagi ya?" Begitu tiba, itulah hal pertama yang ia lontarkan pada Michael.
"Kakak, sudahlah. Kami hanya piknik. Bahkan Rio juga ikut," Riana menghardik suasana. "Terus, bagaimana kau bisa tahu kami di sini?"
__ADS_1
"Tentu saja, karena aku menggunakan bakat observasi ku," Ari merebahkan badannya di samping Riana. "Aku tahu pola keseharian Rio. Jam segini ia biasanya main. Namun aku tidak melihatnya bersama teman-temannya."
"Ehh... kok meyakinkan sekali ya," Riana menyahut. "Kakak tidak mengikuti kami dari awal, kan?"
"S-Soal itu... Lagian, Riana! Kau harus lebih berhati-hati kalau sedang sendirian!" Teriak Ari berusaha mengubah topik.
"Eh, tapi aku bersama Michael-san kok."
"Itulah yang ku maksud. Kau harus mewaspadainya."
"T-Tapi kenapa? Michael-san kan manusia baik. Ia takkan melukai siapapun."
"Kau tidak mengerti ya, wahai adik-ku," Ari mengambil sepotong apel dan memasukkannya ke mulutnya. "Sebagai cowok, aku harus memperingati mu. Laki-laki itu suka ambil-ambil kesempatan."
Seketika wajah Riana kembali datar. "Eh..." Rasanya ia sudah capek menanggapi kakaknya.
Namun Ari masih mempertahankan raut wajahnya. "Maka dari itu. Kau tidak boleh berduaan dengannya lagi. Akan berbahaya jika kalian berdua di tempat sepi, lalu--"
Plak! Riana memukul kakaknya dengan kuat.
"S-Sudah cukup kak! Jangan dilanjutkan!" Ucapnya dengan wajah memerah.
"Kau ini kenapa sih. Aku cuma mau memperingati mu-- Aduh duh duh!"
Kedua kakak adik itu mulai asik dengan pertengkaran kecil mereka. Riana terus-terusan memukul Ari. Namun Ari malah kelihatan menikmatinya.
"Heh heh..." Melihat kelakuan mereka, Michael mulai tertawa kecil. Dengan tangannya, ia berusaha menutupi tawa di mulutnya.
"Hey, Michael. Jangan tertawa! Kau pikir aku main-main-- Aduh duh."
Riana terus meluncurkan pukulan ke arah kakaknya tanpa mempedulikan apapun di sekitarnya.
"Kakak bodoh!"
Semilir angin meniup dedaunan ke arah mereka. Suara gesekan pohon di belakang mereka pun menambah ketenangan, terlepas dari ributnya suara Ari dan Riana.
Michael tersenyum lebar. Selebar lebarnya. Seperti ini adalah pertama kalinya ia tersenyum tulus telah sekian lama.
Dedaunan pun terbang melewati pandangan matanya. Untuk sesekali, melihat tiga iblis di hadapannya, membuat dirinya kembali ke masa lalu. Masa yang jauh sebelum segalanya terjadi.
"Ibu... Ayah..."
Bayangan dimatanya seolah melihat seorang anak kecil yang duduk di bawah pohon, bersama kedua orang tuanya. Menikmati musim gugur, dengan pie apel di tangannya. Mereka berbincang dan bersenda gurau, dengan penuh gelak tawa dan kehangatan.
"Om Ksatyia. Om gapapa?" Tiba-tiba Rio menarik lengan Michael.
Michael mengusap kelopak matanya yang mulai basah. Di wajahnya terpampang ekspresi yang begitu bersyukur.
"Om...? Apa mata Om sakit?"
"Ah tidak. Cuma kemasukan serangga kecil," Ucapnya sambil perlahan mengelus kepala Rio.
"Kalo Om butuh bantuan, panggil saja Rio. Nanti Rio bakal nolongin Om," Ucap bocah itu dengan polosnya. Membuat senyuman Michael semakin lebar.
"Iya. Om pasti akan memanggil mu kalau sedang kesusahan."
Mata Michael menatap ke desa yang ukurannya mengecil dalam pandangan mata. Dengan latar belakang hutan luas dan awan yang tersapu di angkasa. Dalam benaknya, ia pun berkata pada dirinya sendiri.
"Michael, inilah rumah mu sekarang."
.
.
.
[Empat Bulan Kemudian...]
Langit begitu cerah hari ini. Namun udara terasa sedikit dingin dibanding musim-musim sebelumnya. Bahkan dedaunan di pepohonan pun sudah rontok seutuhnya. Hanya menyisakan pemandangan hutan coklat yang kosong.
Di tengah cuaca dingin itu, Michael sedang duduk di teras rumahnya. Di depan hidungnya, nampak sebuah embun yang keluar setiap kali ia bernafas.
"Cuacanya agak dingin," Michael bergumam. "Ku harap musim dingin ini tidak mempengaruhi ekonomi di desa."
Tak lama kemudian, terdengar suara riuh dari dalam rumah. Suara langkah kaki yang bergetar, disusul sebuah teriakan seorang wanita.
Brakk! Rio melompat keluar dari pintu. Sementara Riana berlari menyusulnya.
"Rio, jangan lupa pakai syal mu!" Nampak Riana yang membawa sehelai kain di lengannya. "Nanti kau kedinginan."
Rio menggeleng. Sepertinya ia tak mau menggunakan syal. Memang anak kecil terkadang suka keras kepala.
"Aku tidak mau. Pake syal waktu main bola bikin susah. Kadang suka nutupin muka," Tanpa menghiraukan Riana, Rio pun langsung cabut pergi.
"Rio!
__ADS_1
Riana menghela nafas. " Dasar anak itu. Nanti dia biaa masuk angin."
Michael tertawa kecil. "Biarkan saja. Anak seumuran dia kadang memang harus merasakan konsekuensinya sendiri."
"Tapi kan..."
"Sudahlah. Tak ada gunanya mengejarnya. Bisa-bisa malah ribut di lapangan nanti."
Riana hanya mengangguk dengan wajah seakan mengatakan bahwa dirinya menyerah. Ia kemudian menghampiri Michael yang sedang menggosokkan kedua telapak tangannya.
"Kalau begitu, ini buat mu saja," Ucap Riana seraya melilitkan syal tersebut ke leher Michael.
Ukurannya memang agak kekecilan, karena dari awal sengaja dirajut untuk Rio. Namun cukup untuk membuat Michael merasa sedikit lebih hangat.
"Terimakasih," Ucap Michael.
Mereka berdua pun memandangi suasana desa yang sunyi. Kebanyakan penduduk lebih memilih untuk diam di rumah ditengah kondisi dingin yang tak begitu ramah.
Namun keheningan tersebut membawa nuansa tersendiri bagi Michael. Seakan dunia ini menunjukkan betapa damainya kehidupan ditengah dunia yang kacau balau.
"Sudah hampir empat bulan, ya," Riana berucap tiba-tiba. "Semenjak insiden berdarah itu, Rio mulai tinggal bersama kita. Rumah jadi ramai, tidak seperti dulu sewaktu aku hanya berdua dengan kakak."
Michael tersenyum. Tatapan matanya tak lepas sama sekali dari pemandangan di depannya. "Ya. Kau benar. Hidupku juga terasa lebih ramai sejak itu."
"Tapi, apa kita bisa selamanya seperti ini?" Michael meneruskan. Lantas membuat Riana menoleh padanya.
"Tentu saja bisa. Aku takkan mengusir mu dari sini, Michael-san. Warga desa juga tidak mungkin melakukannya," Sahut Riana.
"Tidak. Bukan itu. Bagaimana jika bukan kalian yang mengusir ku. Tapi..." Michael menunduk. "Bagaimana jika aku yang memang harus pergi?"
"Kenapa kau bicara seperti itu? Jika kau pergi sekalipun, aku pasti akan menemani mu."
"Hah? Kenapa kau mau ikut?"
"Ya habisnya. Bagaimana cara mu bergerak nanti? Kan aku harus mendorong mu."
Lagi-lagi sifat polos Riana membuat Michael cekikikan dalam hati. Tapi walau begitu, entah kenapa ia mulai berpikir seperti itu. Seolah, ia merasa bahwa kehidupan yang ia tinggalkan, takkan semudah itu meninggalkannya.
"Riana, sebenarnya..." Michael hendak berbicara, namun...
"Semuanya, cepat masuk ke dalam dan kunci rumah kalian!" Tiba-tiba Ari berteriak di tengah jalan.
Melihat Ari yang nampak panik, membuat Michael dan Riana terkejut.
"Kakak, ada apa?" Riana segera berdiri.
Ari menghampiri mereka dengan wajah terengah-engah. Ia pun memegang pundak Riana.
"Riana, cepat bawa Michael dan Rio pergi! Kita-- Kita diserang," Ucapnya.
"Tunggu. Oleh siapa? Apa undead itu lagi?" Michael menyahut.
Ari menatap Michael dengan mata yang serius. Seakan ia tak mau Michael mengetahui ini.
"Para manusia," Jawab Ari. "Mereka muncul begitu saja. Jumlah mereka tak begitu banyak, namun mereka sangat kuat. Seperti pasukan dari Kerajaan."
"Kerajaan?" Michael mencoba memastikan.
"Ya. Pemimpin mereka adalah seorang wanita, lengkap dengan zirah dan kuda. Mereka datang secara tiba-tiba dan menyandera salah satu penduduk."
"Hanya menyandera? Apa ia meminta mu melakukan sesuatu?"
Ari perlahan mengangguk. "Ya. Ia bilang: Katakan pada Michael, bahwa Sonya menjemputnya. Tunjukkan diri mu! Atau aku akan menghancurkan desa ini."
Sontak, dada Michael seakan berdegup kencang. Matanya melotot penuh ketidakpercayaan. Mendengar apa yang Ari jelaskan, ia hanya bisa menyimpulkan satu hal.
"Sonya..." Michael menggumam dengan keringat yang mengucur di wajahnya.
"Michael-san, apa kau mengenalnya?" Tanya Riana.
"Bukan kenal lagi. Ia adalah junior ku di pasukan," Jawab Michael.
"Lalu kenapa dia bisa di sini? Apa kalian punya masalah?"
"Tidak. Tapi mungkin saja..." Tatapan Michael semakin mengeras. "Ia datang untuk membawa ku kembali."
.
.
.
[Note from Author]
Halo teman-teman, terimakasih telah membaca chapter kali ini. Sekedar memberitahu, bahwa Author sudah merilis komik Isekai no Gakusei loh. Jangan lupa di cek ya!
__ADS_1