Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Teman Sekamar


__ADS_3

Darren berjalan memasuki pintu gerbang yang besar, dengan membawa kotak yang berisi barang-barangnya. Sebelum melewati gerbang tadi, ia sempat melihat sebuah papan bertulis "Asrama Pria".


"Ternyata aku harus pindah ke sini, ya."


Kedua tangannya memegang kotak kardus dengan hati-hati. Walau isinya hanya pakaian dan beberapa perlengkapan kecil, Darren tidak mau kalau sampai kotak itu jatuh. Bukan karena takut rusak. Tapi karena ia tidak mau dilihati orang-orang.


"Aku tidak mau hari pertamaku sekolah ambyar. Tapi..." Ia melayangkan pandangan ke gedung di depannya. "Tempat ini luar biasa besar. Mungkin seisi kampung tempatku tinggal dulu bisa pindah ke sini dan masih menyisakan banyak lahan."


Akademi petualang benar-benar tidak bisa diremehkan. Tak heran namanya begitu tersohor ke setiap penjuru dunia.


Serikat Petualang, sebuah organisasi yang entah sejak kapan telah berada di dunia ini. Pendiri yang sebenarnya tak pernah diketahui. Walau banyak spekulasi yang dilontarkan orang-orang, namun tetap tak pernah mampu membongkar siapa sebenarnya di balik sosok tersebut.


Berdiri secara independen tanpa memihak atau terikat suatu negara, serikat petualang merupakan salah satu organisasi terpenting di dunia. Keberadaannya mirip seperti kelompok tentara bayaran, namun tidak hanya condong ke arah pembunuhan.


Karena sifatnya yang fleksibel, banyak orang telah menggunakan jasa para petualang selama beberapa dekade terakhir. Membuatnya organisasi paling berpengaruh dalam masyarakat. Reputasinya menjulang tinggi. Bahkan hampir menyaingi organisasi-organisasi kenegaraan.


Serikat petualang menggunakan sistem peringkat bagi para anggotanya. Peringkat yang tersedia adalah, perunggu, perak, emas, berlian, platinum, dan adamantite, secara berurutan dari terbawah hingga teratas. Untuk bisa naik peringkat, biasanya petualang harus mencapai jumlah angka tertentu dalam menyelesaikan misi, dan misi tersebut harus bisa membuktikan bahwa mereka telah layak untuk meninggalkan pangkat mereka yang sebelumnya.


Tapi itu bukanlah satu-satunya cara yang ada. Di akademi petualang, para petualang bisa mengikuti ujian khusus yang akan disaksikan oleh petualang-petualang veteran. Di sana, kemampuan mereka akan diuji. Dan apabila mereka mampu membuat para veteran terkesan, mereka akan dipromosikan. Tak hanya itu, mereka mungkin akan dirangkul oleh petualang ternama dan diundang untuk bergabung ke party mereka secara khusus— apabila petualang tersebut tertarik.


Setelah mendengar itu semua, beberapa orang mungkin berpikir bahwa seorang petualang wajib bergabung ke dalam akademi petualang. Namun hal tersebut tidak benar. Semua orang bisa bebas menjadi petualang. Akademi hanya berperan sebagai tempat penambah wawasan.


Layaknya seseorang montir yang mendapatkan pengalaman hanya dari belajar mandiri. Mereka mungkin bisa mengerjakan pekerjaan-pekerjaan dasar. Namun mereka akan kalah bila dibandingkan dengan montir yang telah mempelajari setiap seluk-beluknya di sekolah kejuruan.


Dan juga, menempuh pendidikan di akademi petualang akan memberi peluang pekerjaan yang lebih besar. Contohnya seperti bekerja pada petualang veteran yang memiliki reputasi bagus.


Tapi itu semua tidak menarik bagi Darren. Ia bergabung ke akademi karena rencana dadakan Ravenna. Awalnya ia berpikir rencana ini tak ada hubungannya dengan investigasi raja iblis itu. Tapi saat mendengar bahwa ada orang di akademi yang 'mungkin' bisa menyembuhkan penyakit terkutuk itu, ia segera mengubah pikirannya.


Setelah memasuki gedung asrama, Darren meneruskan membawa kotaknya sambil mencari kamar yang telah disiapkan. Ia menduga tempat itu akan penuh orang. Namun nyatanya, tempat itu lebih sepi dari yang ia kira.


"Mungkin kebanyakan siswa memilih tinggal di penginapan kota yang mewah."


Darren berhenti di depan sebuah pintu. Matanya melirik ke arah angka yang tertera di depannya. Kemudian matanya berpaling lagu ke kertas yang dipegangnya dengan dua jari.


"Ah, ini seharusnya kamarku."


Dengan satu tangan, ia meraih gagang pintu. Suara engsel yang lembut berbunyi seraya pintu bergerak masuk. Sambil berhati-hati ia membawa kotaknya masuk.


"Eh?" Ia terdiam, menghentikan langkah.


Berdiri pula seseorang di balik pintu— menunjukkan ekspresi yang sama.


"Eh?" Orang tersebut adalah Ronald. Ia sedang berdiri di atap— dengan posisi terbalik.


Keadaan hening sesaat seraya mereka berdua saling bertukar pandang. Sampai akhirnya Darren perlahan melangkah mundur dan menutup pintu.


"Sepertinya aku salah kamar." Ia pun menutup pintu.

__ADS_1


Seutt! Sebuah buku terbang di udara, dan mencegah pintu tertutup.


Darren terkejut saat pintunya tak mau bergerak. Ia baru tersadar saat melihat sebuah buku terjepit di antara celah pintu.


"Jangan pikir aku akan melepaskanmu begitu saja," ucap Ronald. Ia pun terjun dari langit-langit dan menghampiri Darren.


Mata mereka kembali saling menatap. Darren mengira Ronald telah marah karena masuk tanpa mengetuk. Ia mulai menyesal dan berpikir sebaiknya ia meminta maaf.


Ia ingin mengeluarkan kata-katanya, namun tiba-tiba dipotong oleh Ronald.


"Akhirnya!" teriaknya histeris.


Darren tersentak kaget. Ia sempat kebingungan dengan perubahan suasana hati yang dipancarkan Ronald.


"Akhirnya aku punya teman sekamar!" teriaknya lagi. Di sudut matanya, kelihatan sebutir air mata menggumpal.


"Kau tidak apa?" Tanya Darren, terperanjat dengan sikap anehnya.


"Kau tidak tahu betapa aku mendambakan tibanya hari ini," ujar Ronald masih dengan wajah dramatisnya. "Sudah sekian lamanya aku tinggal sendirian. Tidak ada yang hendak menjadi sobat sekamarku. Ahh, sungguh nasib yang mengenaskan."


Ia mulai berpose dramatis, seolah ia sedang memainkan drama dan memerankan tokoh yang hidupnya dirundung ketidakberuntungan.


"Tapi takdir telah melepaskanku dari kutukan ini sekarang. Aku takkan lagi sendirian!" Ia masih meneruskan dramanya.


Darren bisa langsung menebak kenapa tak ada yang mau sekamar dengannya. Tapi karena itu, ia jadi mulai memikirkan nasibnya sendiri tinggal bersama orang ini.


Ronald merangkul Darren. Lalu dengan bangga ia membawanya masuk dan menunjukkan ruangan kamarnya.


"Silahkan, silahkan. Anggap saja rumah sendiri."


Tapi memang tidak salah lagi, ini adalah kamar yang diberikan Oki. Kamar itu tidak terlalu besar, namun cukup untuk ditinggali dua orang. Di sana juga ada kasur tingkat, dengan tangga kecil yang menghubungkan keduanya.


Darren meletakkan kotaknya dan mulai membereskan barang-barang bawaannya. Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya, karena Darren tidak membawa begitu banyak barang.


"Hey, Esema. Kau akan tidur di kasur bawah ya. Kasur atas milikku," ujar Ronald.


Darren hanya mengangguk-angguk. Ia sebisa mungkin tidak mau berurusan terlalu dalam dengan orang ini. Bagaimanapun, keberadaannya di sini hanya sementara. Setelah ia selesai dengan tujuan awalnya ke negeri ini, ia akan pergi.


"Benar. Aku harus fokus dengan tujuanku. Jangan sampai sekitarku membuatku terlena. Ingat! Aku harus cepat cari orang yang dimaksud Ravenna."


"Esema, apa kau tidak membawa senjata?" tanya Ronald tiba-tiba.


Darren melirik. Sepertinya Ronald terus memperhatikannya saat tadi dirinya membereskan barang-barang. Tapi apakah hal seperti itu patut diperhatikan? Bagi orang biasa mungkin tidak. Tapi bagi orang yang pertama kali memiliki teman sekamar setelah bertahun-tahun... mungkin iya.


"Tidak. Aku tidak membutuhkannya," jawab Darren.


"Kau sombong juga ya," balas Ronald dengan alis mendatar. "Banyak petualang yang menantang bahaya dengan tangan kosong. Hampir semuanya berakhir tragis. Apa kau jadi salah satu dari--"

__ADS_1


Sringg!


"Woy! Woy! Muncul dari mana itu?!" Ronald melompat ke kasur atas sambil melekatkan pandangan ke pedang hijau di tangan Darren.


Darren terkekeh kecil dengan ekspresi puas.


"Aku bisa menggunakan pedang ini kapanpun dan dimanapun. Aku tidak butuh senjata biasa."


Darren menyingkirkan pedangnya dan melipat tangan dengan wajah bangga, berharap mendapatkan pujian murah dari Ronald. Tapi yang ia dapatkan hanya keheningan. Ketika ia melirik ke arah Ronald, ia nampak sibuk sendiri dengan buku catatannya.


"Kemampuan merakit pedang. Hebat! Hebat! Tokoh utamaku bisa memakai ini." Ia menggerakkan penanya.


Harapan mendapat pujian tumpas dari benak Darren. "Kau akan memasukkan itu ke novel?"


Ronald mengangguk tanpa berhenti menulis. "Kekuatan semacam itu sangat jarang. Orang-orang pasti akan suka dengan hal yang langka seperti itu."


Darren hanya tersenyum canggung tanpa tahu pasti harus berbuat apa. "Maaf, Akira. Kumohon jangan tuntut novel orang ini dengan alasan hak cipta."


"Oh iya. Menurutku, sebaiknya kau tetap membeli pedang baru," sambung Ronald tiba-tiba.


"Kenapa begitu?"


Ronald menutup bukunya dan bersender di pembatas tepi kasur. "Menciptakan pedang seperti itu butuh Mana, kan?" ujarnya. "Bukankah itu kurang efisien jika digunakan dalam pertarungan? Lebih baik gunakan pedang biasa dan hemat Mana-mu."


Perkataan Ronald ada benarnya. Lagipula, tidak seharusnya ia menunjukkan kemampuan langka ini di depan orang-orang. Lebih baik ia menyamar seperti petualang amatir lainnya.


"Kurasa kau ada benarnya," balas Darren.


Mendengar respon positif dari Darren membuat Ronald tersenyum. Ia pun beranjak turun dari kasur.


"Oke. Kalau begitu, ikut aku." Ronald melangkah menuju pintu.


"Ke mana?"


"Ada banyak penempa pedang di Haufig. Tapi aku tahu satu yang terbaik dari yang terbaik."


Nada bicaranya cukup meyakinkan. Ia telah lama tinggal di kota ini. Jadi, ia pasti tahu seluk-beluk tiap sudut kota. Mungkin Darren sebaiknya ikut, sekalian mempelajari denah kota yang rumit ini.


"Baiklah."


Mereka pun berangkat dan pergi ke pusat kota.


.


.


.

__ADS_1



__ADS_2