Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Akhir Latihan


__ADS_3

"Tora! Shiro! Kaburlah!" Teriak Darren.


Darren sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi pada dirinya. Bahkan jika ia akan mati, ia lebih peduli kepada keselamatan dua rekannya itu.


Kepalan tangan Succubus itu hampir mengenai kepala Darren saat tiba-tiba ia berhenti. Wajah Succubus itu langsung pucat dan tatapan matanya menjadi kosong.


Tak lama kemudian, terasa angin lembut nan dingin bertiup di dalam ruangan itu. Padahal mereka sudah sangat jauh dari pintu masuk dungeon.


"A-Apa yang terjadi?" Gumam Darren.


Melihat ada kesempatan, Darren langsung beranjak dan pergi dari posisi berbahaya itu.


"Tora, Shiro, menjauhlah," Ucap Darren seketika ia berdiri. Ia tak mau membuat kedua temannya terlibat dalam bahaya lagi.


Tora dan Shiro segera beranjak dan menjauh. Sementara, Darren masih terus mewaspadai Succubus itu yang terpaku diam.


Tiba-tiba saat Darren sedang memperhatikannya, Succubus itu menoleh. Tatapannya kembali dan ia seakan ingin menyerang Darren lagi, tapi badannya menjadi kaku.


"Apa yang telah kau lakukan?" Ucap Succubus itu dengan geram.


Darren sendiri bingung. Ia tak tahu jelas dengan apa yang terjadi. Tidak sampai tiba-tiba suara lain datang menyahut.


"Bukan dia, tapi aku," Ucap suara itu yang tak lain adalah suara Tomatsu.


Tomatsu ternyata telah merasuki tubuh Succubus itu sehingga membuatnya tak bisa bergerak leluasa. Ia mengubah dirinya menjadi debu es dan masuk ke dalam tubuh Succubus tersebut melalui pernafasan.


Bahkan suara Tomatsu seakan terdengar dari antah berantah.


"Sialan. Siapa kau?" Ucap Succubus itu sambil berusaha bergerak.


"Jangan pura-pura tidak tahu, Serina. Ku kira kita sudah kenal lama," Balas Tomatsu.


Wajah Serina si succubus langsung pucat. Ia akhirnya tahu sedang siapa ia berbicara.


"Tomatsu-sama?" Ucapnya pelan. "Apa itu benar-benar kau?"


Tomatsu akhirnya keluar dari tubuh Serina. Ia muncul dari tumpukan butiran-butiran salju dan menunjukkan fisiknya.


"Ya, ini aku," Ucap Tomatsu. Ia kemudian menunjuk Darren. "Menjauhlah dari pemuda itu."


"Tidak mungkin!" Serina langsung memotong. "Jangan coba-coba untuk mengelabui ku. Tomatsu-sama tidak mungkin datang hanya untuk menyelamatkan manusia ini."


Tomatsu terlihat sedikit kesal, tapi ia mencoba menyembunyikannya demi menjaga citra Raja Iblisnya.


"Jangan buat aku marah, Serina. Atau kau akan tahu akibatnya," Tomatsu jadi lebih serius dari sebelumnya.


"Hajarlah aku. Dengan begitu aku bisa melihat siapa kau sebenarnya," Balas Serina.


Tomatsu langsung mengepalkan tangannya dan, Swoosh... ia bergerak dengan cepat tanpa ancang-ancang.

__ADS_1


Serina terlihat terkejut, tapi ia membalasnya dengan mantra manipulasi ruangannya.


"Dark Elemental: Non-Eucli--" Tapi sebelum ia menyelesaikan rapalannya, Tomatsu sudah terlebih dahulu menghajarnya.


Buaakk! Sebuah tonjokan keras mendarat di perut Serina. Ia syok dengan kecepatan yang dimiliki Tomatsu. Perutnya serasa mau pecah dan ia mengeluarkan darah dari mulutnya.


Darren melihat aksi Tomatsu yang benar-benar luar biasa itu. Ia sekarang jadi tidak heran bagaimana Tomatsu bisa menghancurkan tembok kota yang keras itu.


"Kau telah meremehkan ku, Serina. Maka akan kupastikan kau tidak meremehkan ku lagi lain kali," Ucap Tomatsu sambil menggertakkan telapak tangannya.


Serina bangkit berdiri. Ia merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya. Saat di lihat, perutnya sudah berubah warna jadi ungu karena memar.


Wajahnya terlihat jelas menahan rasa sakit. Ia mungkin ingin mengerang, tapi ia terus berusaha terlihat mengintimidasi walau sebenarnya itu tak ada gunanya.


"Dark Elemental: Non-Eu--" Lagi-lagi sebelum ia mencoba mengucapkan mantranya, Tomatsu sudah kembali bergerak dan tidak memberikannya kesempatan.


"Dia cepat," Serina terpental hingga membuatnya dipastikan lumpuh.


Tomatsu berpaling darinya seakan tidak peduli dan menghampiri Darren.


"Syukurlah kau masih hidup," Ucap Tomatsu.


"Kau mengenalnya?" Sahut Darren dengan mata tertatap kepada Serina yang tergeletak di tanah.


"Hm... ya. Dia teman lama," Jawab Tomatsu.


"Apa memang begini cara memperlakukan teman?" Pikir Darren. "Sebenarnya, apa yang membuatmu berpikir untuk membawa ku ke sini?" Sambung Darren, membicarakan latihannya.


"Lalu, sebenarnya tempat apa ini?" Tanya Darren lagi.


"Ini adalah salah satu dungeon yang dibangun oleh sahabat ku. Ia juga salah satu dari tujuh Raja Iblis Sejati," Jawab Tomatsu.


Darren mengangguk-angguk. "Tidak heran kalau dia punya bawahan sekuat ini."


Tak lama kemudian, Serina bangkit berdiri. Dengan terhuyung-huyung, ia berjalan perlahan menghampiri mereka berdua.


Saat tiba di hadapan mereka berdua, Serina langsung merebahkan tubuhnya ke tanah dan berlutut.


"Maafkan aku, Tomatsu-sama. Aku telah meragukanmu," Ucapnya dengan wajah menunduk.


Tomatsu membalasnya dengan tanggapan dingin. "Terserah. Aku awalnya berpikir untuk membunuhmu sekalian."


Serina kemudian menoleh ke arah Darren. "Maafkan aku. Aku tak mengira bahwa kau adalah bawahan Tomatsu-sama."


Darren tersenyum canggung sambil menggaruk kepala. "Y-Yah, kalo dibilang bawahan sepertinya kurang tepat sih. Tapi yasudah."


"Kau sudah membuat kesalahan besar, Serina. Kau harus menerima hukuman," Ucap Tomatsu sambil melipat tangan. Ia sekarang terlihat berwibawa dengan gaya seperti itu.


"Baik, Tomatsu-sama. Perintah mu juga merupakan keinginan bagiku," Jawab Serina. Ia bahkan tidak terlihat melawan sama sekali.

__ADS_1


Tomatsu menyeringai. "Tulang di perut mu itu sudah patah," Ia menunjuk ke arah perut Serina yang memar. "Sisa waktu mu hanya seminggu lagi. Setelah itu, maka kau akan mati karena organ dalammu akan robek karena pecahan tulang itu."


Darren tersentak saat melihat Serina hanya terus menunduk tanpa terlihat keberatan sama sekali.


Memang luka memar di perut itu sangat parah. Dengan mata telanjang saja, warna ungu dari memar itu terlihat tidak biasa. Jika manusia biasa yang menderita luka seperti itu, ia pasti tidak akan bertahan sampai setengah jam.


"Aku mengerti, Tomatsu-sama. Aku pantas mendapatkan ini," Ucap Serina pelan.


Setelah itu, Tomatsu pergi dari tempat itu tanpa berkata-kata. Ia membawa Darren dan dua temannya keluar dari dungeon tersebut.


Serina terus memegangi perutnya. Karena saking sakitnya, perlahan air mata keluar dari matanya tanpa sadar.


"Sakit s-sekali..." Rintihnya.


Ia segera pergi ke sebuah ruangan di dekatnya. Di sana ia duduk di sebuah kursi tua, menatap langit-langit yang berdebu sambil terus memegangi perutnya. Rasa sakit itu membuatnya merintih terus-menerus. Mati dengan cara seperti ini pasti sangat menyakitkan.


"Aku ingin bertemu dengannya, sebelum aku mati," Ucapnya pasrah. "Setidaknya aku bisa izin terlebih dahulu sebelum pergi."


Di atas kursi, ia meringkuk. Membenamkan wajahnya di antara kedua lengan sambil menahan rasa sakit yang luar biasa.


Untuk sesaat, terpikirkan olehnya untuk bunuh diri. Ia tahu pada akhirnya ia akan mati. Menunggu ajal untuk menjemput dalam kematian yang menyakitkan, ia tak bisa menahan itu.


Ia perlahan mengangkat kedua tangannya. Mengarahkannya ke wajahnya sendiri dan merapal sebuah mantra.


"Non-Elemental Spell: Wit--" Tapi tiba-tiba tangannya terasa berat. "Apa ini?" Gumamnya.


Tiba-tiba...


"Apa kau seorang penakut?" Ternyata itu Darren. Ia mencengkram tangan Serina dan berhasil membatalkan niatnya untuk bunuh diri. "Padahal kau kuat. Tapi ternyata kau lebih lemah dari apa yang ku bayangkan."


Serina menatapnya. Sebuah mata coklat yang berkilau dan unik baginya.


"Kau pikir Tuan mu akan senang dengan keputusan mu ini?" Sambung Darren dengan tatapan serius.


Serina masih menahan sakit. Ia tak ingin menunjukkannya karena baginya itu mungkin akan merusak reputasinya.


"Sudahlah. Sepertinya pemikiran mu terlalu dangkal," Darren tiba-tiba berjongkok. Ia meraba perut Serina dan merapal mantra, "Non-Elemental Spell: Ultra Heal."


Perasaan sakit itu langsung mereda. Serina bahkan merasa tubuhnya menjadi ringan. Tak pernah ia rasakan tubuhnya seringan ini sebelumnya.


Ia terkejut. Patah tulang separah itu bisa sembuh tuntas. Tapi yang membuatnya lebih terkejut lagi adalah niat Darren yang mau membantunya.


"Kenapa kau melakukan ini?" Tanya Serina. "Kau tidak bermaksud untuk membuat ku merasa berhutang budi, kan?"


Darren tertawa. "Tentu saja tidak," Balasnya. "Kau masih ingin bertemu Tuan mu, kan?"


Darren beranjak dan berdiri di depan Serina. "Aku bisa bayangkan betapa sedihnya Tuan mu bila ia kehilangan seseorang yang kuat baginya."


Tatapan Serina menjadi fokus pada gerak-gerik mulut Darren. Seakan ia pernah mendengar kata-kata ini sebelumnya.

__ADS_1


"Intinya, aku tak mau mencari masalah dengan Tuan mu. Jadi, aku titip salam, ya," Darren pun pergi tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Ia segera menyusul Tomatsu dan yang lainnya keluar dungeon.


Sementara, Serina masih tertegun melihat kelakuan manusia yang sangat unik itu.


__ADS_2