
Gulp... gulp... sesuatu mengalir di tenggorokan Darren. Rasanya adem dan lembut, tapi sedikit hambar. Air? Sepertinya bukan.
"Woah! Apa ini!?" Darren langsung bangun dan melompat di kasur.
"Tenang Darren, ini hanya potion," Ucap Ravenna di sampingnya. "Aku menuangnya ke mulut mu karena aku pikir kau dalam masa kritis."
Ravenna pun beranjak berdiri dan mengambil segelas air untuk di berikan kepada Darren yang baru sadar.
"Kau kehabisan banyak Mana. Jadi kau pingsan," Ravenna menyodorkannya gelas di tangannya.
"Oh, jadi begitu. Sudah berapa lama aku pingsan?" Darren meminum air di gelas itu dengan perlahan.
"Mungkin sekitar tiga minggu," Ucap Ravenna sambil cekikikan.
"Prftt!!! T-tiga minggu!?" Darren kembali menyemburkan air yang ia minum.
"Bwahaha... Tidak-tidak, aku hanya bercanda," Ravenna tertawa.
"Huff... Lagi-lagi sifat iseng mu kumat," Ucap Darren sambil kembali meminum airnya.
"Maaf... maaf, aku tak bisa menahannya," Ravenna mengusap air matanya sendiri dan kembali ke topik. "Oke, baiklah. Kali ini aku serius. Kau pingsan sekitar tiga hari."
"T-tiga... hari?"
"Mana mu habis total, dan salah satu petualang bilang kalau kau dalam keadaan kritis," Ucap Ravenna. "Selama tiga hari itu, aku selalu memberi mu potion tapi kau masih saja tetap tidak sadarkan diri."
Darren merunduk sedikit. "Tiga hari aku pingsan, dan Ravenna terus berada di samping ku. Kebaikannya harus ku bayar."
"Terimakasih ya, Ravenna. Karena kau sudah merawat ku," Ucap Darren sambil tersenyum.
"Ya, sama-sama. Lagipula aku tak sendirian," Balas Ravenna. "Ada seorang Lizardmen perempuan yang juga ikut merawat mu. Ia beserta adiknya seringkali datang dan membantu pekerjaan ku."
"Lizardmen perempuan... oh, itu pasti Riuku. Dan adiknya, Takara."
"Oh, kau kenal juga ya," Ravenna pun berdiri dan mengambil gelas Darren. Sambil mengisi gelas itu dengan air, dengan rasa kagum ia berkata, "Sesungguhnya, aku kagum dengan mu, Darren. Kau bisa berteman dengan siapapun, baik itu manusia ataupun monster."
"Tidak usah berlebihan. Aku bukanlah orang yang cocok untuk dikagumi," Darren merendah.
"Tapi kenapa? Kau bahkan merusak reputasi mu sendiri hanya untuk berteman dengan monster?"
Darren menoleh ke arah Ravenna yang sedang menatapnya dengan beberapa butir air mata di pipinya.
"Ravenna..."
"Kau membantu monster, mengorbankan diri demi keselamatan mereka, dan kau... sekarang kau menjadi buronan. Apa sebenarnya tujuan mu?" Tanya Ravenna lagi dengan nyaring.
"Ravenna, hentikan."
"Manusia mana yang mau merusak reputasinya sendiri demi hal semacam ini. Setidaknya, katakanlah pada ku, bahwa kau punya rencana!"
"Hentikan, Ravenna."
"Rencana yang bisa mengembalikan kehormatan mu sebagai manusia! Aku yakin kau punya kan? Iya, kan? Kau punya rencana tersembunyi, kan?"
"CUKUP, RAVENNA!" Darren berteriak kencang.
__ADS_1
Ravenna langsung terpaku diam sambil memegang gelas dengan tangannya yang gemetaran.
Darren kembali menenangkan dirinya. Ia menarik nafas dengan perlahan melalui hidunya, dan kembali melanjutkan pembicaraan dengan santai.
"Tidak ada," Ucapnya.
"Tidak ada?" Ravenna mengulangi. "Apa maksudmu tidak ada? Apa kau sudah tidak mau menjadi manusia lagi?"
"Sedari lahir, aku adalah manusia. Kau juga manusia. Sedangkan mereka, yang hidup dalam norma-norma busuk yang ditetapkan oleh pemerintah. Mereka tak layak disebut manusia," Ucap Darren.
"Apa maksud mu?"
Darren beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan perlahan mendekati Ravenna.
"Apa yang membuatmu menjadi manusia?" Tanya Darren.
Ravenna hanya diam, dengan sedikit menggeleng tanpa maksud.
"Semua manusia pastinya pernah lahir, kan? Mereka lahir, tumbuh, dan hidup dengan hak dan kewajiban yang ikut tumbuh bersama mereka," Sambung Darren. "Begitu juga para monster. Mereka lahir, tumbuh, dan hidup. Mereka juga punya kewajiban, dan pastinya juga punya hak yang muncul bersama mereka."
Darren pun meletakkan telapak tangannya di atas pundak Ravenna. Ia menatapnya dengan tajam dan serius. Hal itu membuat Ravenna merasa ngeri.
"Katakanlah, Ravenna. Bagaimana rasanya saat kau tahu bahwa hidup adik mu terancam?"
Ekspresi Ravenna langsung mengeras. "D-Darren, kenapa kau malah membicarakan itu?"
Darren menarik nafas. "Jawab saja pertanyaan itu!"
Ravenna menjawab. "T-tentu saja aku takut."
Darren membalikkan badannya dan mulai berjalan ke dekat jendela. Di luar, terlihat banyak anak-anak dari Lizardmen dan manusia hewan yang bermain bersama.
"Kau lihat mereka?" Tanya Darren sambil menunjuk keluar jendela.
Ravenna mengangguk.
"Mereka adalah anak-anak yang polos. Di pikiran mereka hanya ada kebahagiaan," Ucap Darren. "Bayangkan jika kau menjadi salah satu anak itu. Kau sedang bermain bersama teman mu, dan tiba-tiba sekelompok manusia datang dengan hasrat membunuh."
Ravenna menelan ludahnya. Ia mulai tahu kemana arah pembicaraan ini akan berlangsung.
"Mungkin para manusia takkan membunuh anak-anak monster, karena mereka tidak memberi cukup banyak level. Tapi..." Ucap Darren. "Bagaimana rasanya saat mereka tahu bahwa orang tua mereka telah tiada?"
Ravenna langsung melotot syok. Sesuai dugaannya, Darren benar-benar punya topik yang sensitif untuk dibicarakan. Tapi, ia juga bisa merasakan bagaimana perasaan yang ada di dalam perkataan Darren.
"Pikiran polos mereka akan berubah," Darren meneruskan. "Dendam dan kebencian akan mulai muncul. Menyebabkan mereka tumbuh dengan pikiran bahwa manusia adalah jahat dan berbahaya. Mereka akan mulai membunuh manusia dan menjadikan kita sebagai musuh mereka."
"Di sisi lain, setiap manusia yang terbunuh, akan membuat reputasi monster semakin memburuk. Manusia akan semakin berpikir bahwa monster itu jahat dan mereka harus di musnahkan."
"Dan pada akhirnya, kebencian antar dua ras ini semakin membesar. Membuat peperangan panjang tak berakhir."
Ravenna mulai mengangguk-angguk. Ia paham maksud Darren.
"Jadi sebenarnya, yang kita butuhkan hanyalah kesempatan untuk memahami satu sama lain," Ucap Ravenna sambil merengutkan dagunya.
"Baguslah kau mengerti," Darren tersenyum.
__ADS_1
Ravenna kembali melontarkan pertanyaan. "Jadi, apa itu alasan mu melakukan semua ini?"
Darren mengangguk. "Ya," Jawabnya singkat.
"Tapi kenapa kau sampai tega mengorbankan diri mu sendiri?"
Darren menarik nafas. "Duniaku-- Ehem... kampung halaman ku dulu telah mengalami hal serupa," Ucapnya. "Kebencian, manipulasi pemerintahan, dan juga perbedaan ras. Seringkali hal-hal itu membawa bencana."
Ravenna langsung kaget. Ia telah mengatakan sesuatu yang sepertinya menyinggung masa lalu Darren.
"Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau masa kecil mu berat," Ucap Ravenna.
"Tidak-tidak, itu tak ada hubungannya," Balas Darren. "Aku hanya tak ingin dunia ini mengalami hal yang sama seperti di kampung halaman ku."
Darren menyenderkan badannya ke jendela. Sambil memandangi pemandangan indah dengan ditemani angin sepoi-sepoi yang sejuk, ia melanjutkan kata-katanya.
"Perbedaan bukanlah sesuatu yang harus di benci, melainkan sesuatu yang harus kita syukuri. Karena perbedaan itu lah yang membuat dunia menjadi lebih indah," Ucapnya. "Kita jadi bisa belajar mengerti satu sama lain, belajar kebudayaan yang beragam, dan belajar bertukar pendapat sesuai perspektif masing-masing."
"Lihatlah Ravenna," Darren kembali menunjuk ke arah anak-anak tadi. "Mereka berasal dari dua ras yang berbeda, tapi mereka bisa bermain bersama dan tetap akur. Seandainya jika seluruh dunia begitu, maka peperangan dan kebencian hanya akan jadi cerita mitos di masa depan mendatang."
Ravenna menunduk.
"Dan adik ku...-- ia pasti senang jika bisa hidup di dunia yang seperti itu," Ucapnya.
Darren tersenyum. Ia mengangguk pelan sambil terus menatap keluar.
Darren mulai merasa kalau dirinya sudah berubah semenjak kedatangannya di dunia ini. Setiap hari, selalu ada saja hal-hal yang mengubah dirinya, walaupun itu hal sepele.
"Apa aku sudah berubah, ya? Apa aku berubah jadi lebih baik? Tidak-- Apa bahkan jadi lebih buruk?"
Darren melihat pergelangan tangannya.
"Tangan ini...-- Tangan ini sudah ternoda. Noda darah yang dingin, dan tak bisa dicuci. Dan aku tak tahu sampai kapan aku akan menggunakannya."
"Perlu berapa banyak nyawa lagi yang harus ku renggut untuk mewujudkan dunia yang damai?"
Darren terus melamun sampai tiba-tiba Kanrei membuka pintu ruangan.
"Permisi, Rave-- Woah, Darren. Kau sudah bangun."
Darren pun mengangkat tangan kanannya hingga setinggi bahu. "Yo!"
"Baguslah. Aku memang ke sini untuk mengecek keadaan mu," Ucap Kanrei.
"Ada apa?" Tanya Darren menurunkan tangannya.
"Kaido dan raja goblin ingin bertemu dengan mu," Balas Kanrei sambil memainkan pintu. "Sebaiknya kau cepat kesana. Ada yang mereka ingin bicarakan dengan mu."
"B-baiklah, aku akan kesana secepatnya."
"Oke," Kanrei pun meninggalkan ruangan.
Darren dan Ravenna tinggal berdua di ruangan itu. Awalnya semua santai-santai saja, tapi tiba-tiba wajah Darren terlihat gusar.
"Kenapa, Darren? Apa kau masih tak enak badan?" Tanya Ravenna.
__ADS_1
"Bukan. Aku hanya teringat sesuatu," Jawab Darren. "Shiro dan Tora, aku lupa dengan mereka."