Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Di Hadapan yang Tinggi


__ADS_3

Hari yang cerah, dengan suasana sejuk khas Friedlich. Langit yang kosong dan cahaya matahari menerpa butiran-butiran embun di rerumputan.


Sebuah pasukan dengan beberapa kereta kuda yang mewah, telah datang di tempat kediaman Darren. Mereka adalah utusan Jenderal Friedlich.


Tora keluar dari tenda untuk menyambut mereka. Turunlah Akira dari salah satu kereta.


"Dimana Esema-kun?" Akira langsung menanyakan, karena Darren tidak ada disitu.


Tora menjawab sambil membungkuk hormat, "Ia sedang bersiap. Mohon untuk menunggu sebentar lagi."


Sementara itu, di dalam tenda...


"Esema-sama! Bangunlah Esema-sama!" Shiro mendorong-dorong tubuh Darren yang sedang tertidur pulas. "Mereka sudah tiba."


Darren menggerutu sambil setengah sadar. "Agh... ada apa sih, ma?" Ia mengucapkan itu tanpa sadar sambil berguling membalik dari Shiro. "Hari ini aku gak sekolah."


"Eh? M-mama?" Shiro terkejut.


Darren membuka matanya perlahan. Ia mulai duduk dan menatapi sekitar. Akhirnya ia sadar.


"Oh, Shiro. Ada apa?" Ia bertanya seakan tak terjadi apa-apa.


Shiro tersipu, tapi ia mencoba menjaga perilakunya di hadapan Tuannya, "Eh, anu! Um... Para, anu... eh... Akira-san," Ia jadi terbata-bata.


Tapi untungnya Darren mengerti. "Oh, Akira. Tolong bilang padanya aku sedang bersiap."


"B-baiklah, Esema-sama," Shiro pun pergi meninggalkan Darren.


Setelah sendirian, Darren menghela nafas. Ia memegangi kepalanya sendiri sambil memikirkan apa yang barusan terjadi.


"Agh, kenapa aku tiba-tiba memikirkan mereka?" Ucapnya pada dirinya sendiri, "Ayah, ibu..."


.


.


.


Darren keluar dari tendanya. Terlihat Shiro, Tora, dan Akira sudah menunggunya.


"Akhirnya kau muncul juga," Ucap Akira. "Apa yang membuatmu lama sekali, sih?"


Darren cengar-cengir sambil menggaruk kepala. "Ehe, maaf ya. Aku tadi ketiduran."


"Ya ampun," Balas Akira. "Sudahlah, ayo cepat kita berangkat. Jenderal pasti sudah menunggu juga."


Darren pun masuk ke kereta, disusul oleh Akira dari belakang sebagai utusan. Sedangkan Shiro dan Tora berada di kereta yang lain karena setiap kereta hanya muat dua orang.


Perjalanan pun di mulai. Mereka berangkat waktu pagi, dan saat hari sudah agak siang, mereka sudah melewati kota terluar Friedlich, Veronheim. Dan sekarang mereka hampir tiba di pusat kerajaan.


"Apa yang harus ku lakukan saat bertemu Jenderal?" Tanya Darren sambil gugup.


"Ya cukup ucapkan salam," Balas Akira sambil melepas topengnya. "Emangnya kau belum pernah mengikuti pertemuan semacam ini?"


"Belum," Jawab Darren pelan.


"Hmph... tak kuduga orang sekuat dirimu belum pernah mengikuti pertemuan kerajaan sebelumnya. Padahal orang kuat selalu dicari-cari oleh pemerintah."


Darren nyengir. "Yah gimana lagi. Di tempat asal ku, sangat sulit untuk bertemu presiden."


"Presiden? Apa itu semacam pemimpin di tempat asal mu?"

__ADS_1


"Um... ya bisa dibilang begitu."


Akira melayangkan pandangannya ke luar jendela. "Sebenarnya dari mana sih kau ini?" Tanya nya. "Itulah yang ingin ku tanyakan dari kemarin."


"Tempat asal ku, ya?" Ulang Darren. "Agak sulit menjelaskannya."


Akira menoleh ke Darren sebentar, tapi ia kembali membalikkan kepalanya. Seakan ia paham kesulitan yang Darren alami.


"Baiklah. Kau bisa jelaskan nanti di depan Jenderal," Ucapnya sambil lanjut memandang keluar.


.


.


.


Setelah agak lama, mereka tiba di pintu gerbang kastil.


"Woah! Besar sekali!" Darren melongo kegirangan saat melihat kastil besar itu.


Melihat kelakuan Darren, Akira menarik nafas, "Huff... ternyata memang benar ini pertama kalinya, ya."


Setelah masuk agak dalam, Darren diturunkan dekat pintu masuk bangunan kastil. Disana Akira akan menjadi pemandu Darren untuk menuju ruangan pertemuan.


"Kalian semua, ikuti aku!" Akira mulai memimpin jalan.


Darren berjalan sejajar dengan Tora dan Shiro. Melihat ekspresi dua bawahannya, Darren menyimpulkan bahwa ini juga pertama kalinya mereka masuk ke bangunan semewah dan sebesar ini.


Grabb! Darren menggenggam tangan mereka berdua.


"Esema-sama, ada apa?" Shiro kaget.


"Apa anda merasa ada sesuatu yang janggal?" Tora langsung waspada.


"Tetaplah berada di dekat ku, ya!" Sambung Darren pada mereka berdua.


Akira menunjuk sebuah pintu. Pintu yang sangat lebar dan mengilap. Di lihat dengan mata saja, pintu ini pasti selalu dibersihkan setiap hari. Kilauannya bahkan terlihat seperti logam.


"Masuklah. Jenderal sudah menunggu mu di dalam," Ucap Akira sambil membuka pintu tersebut.


Saat masuk, Darren melihat seseorang sedang duduk di sana. Beberapa tentara juga terlihat berdiri di sampingnya, mungkin sebagai penjaga.


"Anda pasti Esema. Silahkan duduk," Ucap jenderal itu.


Darren mengambil kursi yang agak jauh dan duduk. Sementara Tora dan Shiro berdiri di sampingnya.


"Tora, Shiro, duduklah," Darren menyuruh mereka berdua.


"Tapi, Esema-sama..." Shiro hendak menolak tapi langsung dipotong.


"Sudahlah, duduk saja," Darren menyela.


Shiro dan Tora pun duduk di kursi, bersampingan dengan Darren. Hal itu disaksikan oleh sang Jenderal, tapi nampaknya ia tak peduli. Malahan, para tentara di sampingnya yang terlihat kesal.


"Hey, kau!" Ucap salah satu tentara, menunjuk Shiro. "Kau manusia hewan, tak layak duduk di situ. Beranjaklah!"


Shiro sempat menurutinya, tapi langsung di cegah oleh Darren.


"Tidak, Shiro. Duduklah," Ucap Darren pelan.


"Tapi, Esema-sama..."

__ADS_1


"Sudahlah. Duduk saja. Itu perintah dariku!"


Shiro kembali duduk, dan itu membuat tentara semakin kesal.


"Kau...!" Tentara itu hendak mengusirnya tapi juga langsung dihentikan oleh sang Jenderal.


"Hentikan. Jangan buat keributan disini," Ucapnya, dan tentara itu pun kembali ke posisi semula.


"Perkenalkan, nama ku Schlaff. Jenderal kerajaan Friedlich," Sambung jenderal memperkenalkan diri.


Darren langsung berdiri dan membungkuk, layaknya adegan di film-film. "Perkenalan, nama ku Da-- Aswan. Senang bertemu dengan mu, Schlaff-sama."


"Panggil saja aku Schlaff-dono. Karena kita mungkin akan bekerja sama ke depannya."


Darren menarik kembali tubuhnya dan duduk.


Dengan percaya diri Schlaff melanjutkan, "Jika anda berkenan, maukah anda menjalin kerjasama dengan kerajaan Friedlich?"


Darren terkejut. Bukan terkejut karena tawaran tersebut, tapi karena bagaimana jenderal itu bertindak.


"Kau? Menawari ku hubungan?" Ucap Darren dengan nada tinggi. "Jenderal macam apa kau ini."


Jenderal itu sempat tersentak, bahkan semua orang disana juga. Dua tentara tadi langsung berteriak. "Dasar tamu tak tahu diri. Jenderal sudah dengan baik hati menawari mu kerjasama. Tapi kau membalasnya dengan ejekan!?"


Tapi Schlaff terlihat kembali tenang. "Kenapa anda mengejek saya?" Tanya nya santai.


Darren menjawab. "Seorang jenderal yang hebat takkan menawarkan hal semacam itu dengan mudahnya kepada orang asing," Jawab Darren. "Semisal kalau ternyata aku orang jahat, yang ingin menghancurkan kerajaan ini dari dalam. Dan kau mempekerjakan ku lalu terjadi kekacauan. Apa kau akan bertanggungjawab?"


Schlaff merengut. Apa yang Darren ucapkan memang ada benarnya.


"Mungkin anda benar, Esema-dono. Aku harus lebih berhati-hati," Balasnya. "Tapi aku yakin kalau anda adalah orang baik."


"Ya memang sih aku tidak ada maksud apapun. Tapi aku hanya memperingatkan, agar kau tak mengulangi hal yang sama kedepannya."


Schlaff tersenyum. "Ternyata anda perhatian juga ya, Esema-dono," Ucapnya. "Saya jadi semakin yakin kalau anda adalah orang yang cocok untuk diajak bekerjasama."


Darren menunjukkan ekspresi datar. "Orang ini... benar-benar payah dalam hal ini."


Darren menghela nafas berat. "Lalu, sebenarnya apa yang membuatmu begitu tertarik dengan ku?"


"Bakat mu," Jawab Schlaff. "Anda memiliki bakat yang langka dimana hanya satu dari lima ratus juta orang yang memilikinya."


"Jadi, kau hanya butuh kekuatan ku?" Sambung Darren. "Kalian tak ada maksud untuk mencuri bakat ku atau semacamnya, kan?"


"Mencuri bakat? Baru pertama kali ku dengar yang semacam itu," Balas Schlaff.


"Sepertinya mereka baik. Hanya aku saja yang terlalu parno. Lebih baik kalau aku tidak terlalu waspada." Pikir Darren.


"Baiklah, aku akan bergabung," Darren akhirnya mensetujui. Ia bersyukur karena jenderal di hadapannya ini sangat bodoh. Jika tidak, ia mungkin sudah diinterogasi dan ditanyai banyak hal. Seperti darimana asal-usulnya, dan kenapa ia bisa menjadi buronan.


"Baguslah," Balas Schlaff. "Mulai sekarang, kau bisa tinggal di kastil ini. Dan aku akan memberitahu raja tentang berita bagus ini. Biarkan ia yang memutuskan langkah selanjutnya."


Darren berdiri dari kursinya, dan ia menghentak meja dengan tegas, "Tapi, ada satu hal yang ingin aku beritahu," Darren menatap Schlaff dengan serius. "Bawahan ku, Shiro dan Tora. Perlakukan mereka layaknya kalian memperlakukan ku."


Salah satu tentara membalas dengan tiba-tiba. "Tidak bisa. Manusia hewan tak sepantasnya tinggal di kastil bersih ini!"


Darren kesal. Ia pun langsung mengancam, "Jika kalian tidak mau, maka aku juga tidak mau bersekutu dengan kalian."


Schlaff langsung tegang. Ia pun buru-buru memerintahkan tentaranya untuk tenang.


"Jangan khawatir, Esema-dono. Akan kupastikan anak buah mu akan dilayani dengan pantas," Ucap Schlaff.

__ADS_1


Darren merasa yakin, dan ia bisa tenang. Tapi dari hal itu ia tersadar bahwa, di kerajaan damai ini pun, rasisme masih benar-benar terasa.


"Aku harus ubah peraturan buruk ini."


__ADS_2