
Beberapa hari sejak Darren terkurung...
Darren termenung dalam kesendiriannya di tengah sel. Dengan tangan dan kaki yang masih terikat, tak banyak yang bisa ia lakukan.
Di tengah situasi itu, ia terus berpikir bagaimana caranya untuk melarikan diri dari tempat itu.
"Sial, rantai ini menyerap semua sihir ku. Aku tak bisa mendobraknya dengan kekuatan mantra," Gerutu Darren pelan. "Mungkin satu-satunya cara untuk mendobrak rantai ini adalah menggunakan kekuatan fisik. Tapi aku tidak punya kekuatan fisik yang luar biasa."
"Sial, aku benar-benar kehabisan ide," Gerutu Darren lagi. "Hari ini adalah hari eksekusi. Jika aku tak cepat meloloskan diri, maka aku bisa mati di sini."
Ia sudah mendengar kabarnya, bahwa dirinya akan dieksekusi langsung di depan umum. Dan juga, Raja Iblis Ryan sendiri yang akan turun tangan dalam pengeksekusian tersebut.
Memang Darren ingin bertemu dengan Raja Iblis daerah ini, tapi bukan begini caranya. Ia mengharapkan pertemuan yang lebih tenang dan santai.
Saat Darren sedang memutar otak, tiba-tiba segerombolan tentara muncul dari pintu masuk. Mereka adalah utusan dari Raja Iblis Ryan untuk datang menjemput Darren.
"Kau diamlah! Kami akan membawa mu," Ucap salah satu tentara seraya melepaskan beberapa bagian rantai.
Setelah mereka melepas Darren, mereka segera mengamankannya dan membawanya secara hati-hati ke tempat sidang akan diadakan.
Sesampainya di sana, Darren melihat banyak sekali orang yang hadir ke sidang tersebut. Jumlahnya lebih dari ratusan dan mayoritas merupakan berasal dari ras iblis. Diantara para penonton itu, terlihat juga Deus, Michael, dan juga Bagus ikut hadir.
Dan sekarang, yang Darren tunggu-tunggu. Sesosok iblis yang Darren ingin temui sejak pertama kali ia menginjakkan kaki di tanah ini.
"Raja Iblis Ryan," Batin Darren saat melihat seorang pria duduk di sebuah takhta megah di hadapannya.
Ryan duduk di sebuah kursi khusus yang letaknya lebih tinggi dari lantai dasar. Dari atas, ia menatap Darren dengan penuh kejijikan.
Kesan pertama Darren sendiri saat melihat Ryan sedikit berbeda.
"Ku kira ia agak tua atau semacamnya. Tapi, beuhh... ini mah cowok ikemen!" Batin Darren dalam hati. "Cowok yang benar-benar cocok jadi husbu."
Ryan memiliki rambut merah padam dan mata tajam berwarna coklat menyala. Wajahnya sendiri seperti anak muda kalangan SMA.
Badannya tinggi besar. Dengan tangan dan kaki yang nampak berotot. Di atas kepalanya juga ada sepasang tanduk merah gelap yang mengacung keluar.
Pokoknya, Darren langsung insecure melihat penampilan Ryan yang jauh lebih keren darinya.
"Hey, kau melihat kemana!?" Teriak Ryan melihat Darren yang menatap dengan pandangan kosong.
Darren segera bangun dari lamunannya dan menyahut kaget. "Eh-- Tidak, aku hanya kepikiran sesuatu."
"Tidak ada gunanya berpikir untuk kabur. Rantai itu sudah menjamin semuanya. Dan walaupun kau berhasil melepasnya, kau takkan mau berhadapan dengan ku."
"Iya, iya, aku tahu," Darren membalas dengan nada muak.
Ryan segera memerintahkan para tentaranya untuk menyerahkan Darren pada algojo yang sedang berdiri di tengah ruangan.
Di sana, ia diikat pada sebuah tiang. Di sisinya, berdiri seorang algojo yang mengenakan penutup wajah. Ia memegang sebuah kapak besar di tangannya dan siap menerima perintah dari Ryan.
Ryan pun membuka sidang tersebut dengan melanturkan beberapa pertanyaan pada Darren.
"Darren, seorang buronan dari Erobernesia, yang kabur hingga ke tanah iblis. Apa tujuan mu sebenarnya di sini?" Ryan memulai babak interogasi.
Darren berusaha sebisa mungkin menyembunyikan rencananya untuk mencari Raja Iblis sejati. Dan juga, ia harus hati-hati dalam menjawab atau kepalanya bisa dipenggal.
"Tidak ada maksud tertentu. Aku hanya kebetulan lewat," Jawab Darren.
Ryan memasang wajah curiga. "Aku meragukannya. Lalu, kenapa kau bergabung dengan para pemberontak?"
"Karena... aku berpikir kalau bergabung dengan mereka, aku bisa melewati negara ini dengan aman," Darren mulai kesulitan memberi jawaban. Ia terus berharap semoga ia tak salah memilih kata-kata.
Ryan bukanlah seorang Raja Iblis yang bisa ditipu begitu saja. Ia juga memiliki otak yang cukup cerdas.
Mendengar jawaban Darren, ia jadi semakin yakin kalau ada sesuatu yang Darren sembunyikan.
"Bagus-dono, periksalah kebohongan pada jawabannya!" Ryan menyuruh Bagus.
Bagus segera berjalan mendekati Darren dan mengulurkan telapak tangannya ke atas kepalanya.
Melihat itu, Darren jadi panik. Bagus bisa membongkar semuanya. Dan jika Ryan tahu kalau ia berbohong, maka algojo di sampingnya bisa mengayunkan kapaknya kapan saja.
"Pstt, Bagus. Ku mohon," Darren berbisik pelan.
Bagus menatapnya sekilas. "Untuk apa?" Ucapnya pelan. "Bukankah ini yang kau mau? Kau bisa saja bergabung dengan ku dan kita bisa kembali ke dunia kita lagi. Tapi kau memilih jalan terkutuk ini."
Darren menundukkan wajahnya. "Aku harus. Dengan begitu, mungkin kebenaran dunia ini bisa terbongkar," Balas Darren. "Dan saat kebenaran itu terbongkar, maka keadilan bisa ditegakkan."
"Aku tak mengerti. Kenapa kau sangat peduli dengan dunia ini?" Ucap Bagus lagi. "Padahal kita bisa kembali ke keluarga kita yang sebenarnya. Kenapa kau harus peduli dengan yang ada di sini?"
"Bagus, mungkin kau belum paham. Tapi, nyatanya aku sudah mati di dunia ku sana," Balas Darren. "Aku yakin keluarga ku yang di sana pasti telah menerima kematian ku. Aku pun sama. Aku menerima takdir ku dan mencoba untuk memulai hidup yang lebih baik."
"Apakah menurut mu ini semua baik? Kau tinggal di dunia yang sangat kotor. Perbedaan di mana-mana dan tak ada rasa toleransi. Ini lebih buruk dari dunia kita sebelumnya."
"Aku tahu. Itulah kenapa aku ingin menjadi harapan baru bagi dunia ini," Darren menatap Bagus dengan serius. "Aku tahu ini terdengar naif,l. Tapi, hidup ku sebelumnya sangat berantakan. Dan ku pikir, di sini aku bisa memperbaikinya."
Bagus hanya menatap Darren tanpa kata-kata.
"Bagus, ku mohon," Ucap Darren lagi memohon.
"Aku tak bisa. Aku ingin kembali. Ada seseorang yang sedang menunggu ku di sana," Balas Bagus.
Bagus kemudian berbalik dan menghadap kepada Ryan.
"Bagaimana?" Tanya Ryan.
Bagus menjawab. "Aku merasakan kebohongan dalam jiwanya."
Ryan segera menatap Darren. "Ku beri kau satu kesempatan lagi. Beritahu aku semua yang kau tahu, sekarang juga!"
Darren tentunya tidak bisa mengatakan hal yang sebenarnya. Jika mereka tahu semuanya, maka ia bisa berada dalam posisi yang lebih berbahaya.
Darren menggeleng. "Tidak. Aku tidak bisa menjawabnya."
Ryan nampak kecewa mendengar itu. Ia pikir ia bisa menggali beberapa informasi tentang organisasi pemberontak dengan menginterogasi Darren.
"Aku sedang kesal sekarang. Dan kau..." Ucap Ryan sambil menunjuk Darren. "Kau telah menghabiskan waktu ku untuk hal yang sia-sia. Lebih baik makhluk tak berguna seperti mu itu mati saja!"
__ADS_1
Darren langsung terkejut. Ia tak menyangka Ryan akan segera mengeksekusinya secepat ini.
Dari kejauhan, Deus dan Michael menyaksikan Darren yang sedang putus asa.
Di mata Michael, ini merupakan bentuk kepuasannya atas dendamnya kepada Darren yang selama ini ia pendam. Melihat Darren akan mati seperti ini, membuatnya tersenyum lebar tak henti-hentinya.
Sementara di mata Deus, ia merasa beryukur karena Darren akan segera mati. Baginya, kehadiran Darren di dunia ini adalah ancaman. Setidaknya bila ia tak bisa mengendalikannya.
"Algojo!" Teriak Ryan, bersiap memberikan perintah. "Penggal kepala manusia itu sekarang!"
Algojo tersebut mengangkat kapaknya. Dibalik penutup wajahnya, ia menatap Darren dan bersiap mengayunkan kapaknya.
Darren masih belum menyerah. Ia mencoba menggunakan segala sihir yang tersisa, namun rantai itu menyerap semuanya.
"Sial, ini gawat!" Darren menatap bilah kapak itu terayun ke arahnya.
Jebrettt!
Seketika suasana jadi hening. Para penonton terdiam dan semua orang ternganga.
Deus menyaksikan hal itu dari jauh. Ia pun menanyakan sesuatu pada Michael.
"Michael-dono, apakah algojo itu salah satu orang mu?" Tanya-nya.
Michael menyipitkan matanya dan melihat ke tengah ruangan.
"Sepertinya... bukan. Apa aku salah memerintahkan orang ya?" Balas Michael dengan nada bingung. "Rasanya aku tidak memerintahkan seseorang untuk menjadi algojo."
"Lalu, siapa orang di balik topeng itu?" Tanya Deus lagi dengan nada heran.
Di tengah-tengah ruangan, terlihat kapak yang seharusnya memotong leher Darren, malah mendarat di rantai yang mengikat Darren.
Darren yang sedari tadi menutup matanya, membuka matanya perlahan-lahan dan terkejut. Ia melihat tangannya yang terikat telah lepas dan bisa menggerakkannya dengan leluasa.
"Darren-sama, apa kau baik-baik saja?" Suara yang familiar keluar dari mulut algojo itu. Tak lama kemudian, penutup wajah algojo itu terlepas.
"Kau... Tora!?" Darren langsung tersadar begitu melihat wajah algojo itu. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Kami datang menjemput mu, Darren-sama," Balas Tora.
Darren menatap dengan wajah penuh bersyukur. Namun ia menyadari sesuatu dari ucapan Tora. "Tunggu-- Kami?"
Ryan langsung sadar kalau algojo itu adalah penyusup. Ia langsung geram dan segera memerintahkan pasukannya untuk menyerbu dua orang tersebut.
"Tangkap mereka!" Teriak Ryan.
Saat para pasukan kerajaan iblis hendak bergerak, mereka tiba-tiba terjatuh ke lantai secara serentak.
"Ada apa ini!?" Ryan kebingungan.
Ternyata, di antara para penonton, Hain telah mengaktifkan sihir spirit nya. Ia menyatukan kaki para tentara dengan lantai tanpa mereka sadari.
"Shiro, sekarang!" Teriak Hain di atas kursi penonton.
"Baik!" Shiro menyahut. "Ice Elemental: Freze!"
Melihat para tentaranya di kalahkan sebelum bertempur, Ryan jadi sangat kesal.
"Sialan, mereka sudah bergerak," Ryan menggerutu. "Sepertinya aku harus turun tangan."
"Yang mulia tidak perlu mengotori tangan anda. Biar aku yang mengurus ini," Michael tiba-tiba berjalan turun ke tengah-tengah ruangan.
Ryan hanya menatap Michael berjalan dengan angkuh. Ia sendiri tidak suka melihat hal itu. Seakan Michael berlagak jadi pahlawan. Tapi ia membiarkannya.
"Bagus-dono, kau ikut dengan ku," Ucap Michael pada Bagus.
"Eh, aku? Aku tak pandai dalam bertarung," Ucap Bagus.
"Kau tidak perlu ikut bertarung secara langsung. Kau cukup gunakan batu kegelapan itu," Balas Michael sambil memberinya sebuah pedang.
Pedang itu berwarna perak dengan garis motif berwarna kuning menyala. Di tengah-tengah pedang itu, terdapat sebuah lubang kecil.
"Pedang apa ini?" Tanya Bagus.
"Itu pedang khusus yang bisa menampung kekuatan batu sihir. Letakkanlah batu kegelapan itu di lubangnya dan kau bisa menggunakan kekuatan batu itu."
Michael menambahkan, "Kau harus bisa mengendalikan emosi mu dengan benar untuk menggunakan batu itu. Jika tidak, maka batu itu akan mengalahkan mu."
Bagus mengangguk paham. Ia segera melakukan apa yang Michael katakan dan benar saja. Begitu ia meletakkan batu itu di pedang tersebut, ia bisa merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir dari pedang itu.
"Kekuatan ini..." Ucap Bagus kagum.
Melihat Bagus dan Michael mendatangi mereka, Tora segera meminta Darren untuk kabur bersamanya.
"Darren-sama, ayo kita pergi!"
Namun, Darren kini sedang dihadapkan oleh musuh bebuyutannya. Orang yang telah membunuh kedua sahabatnya dulu.
Emosi Darren langsung meluap dan memberinya adrenalin untuk maju.
"Tidak, Tora. Aku tidak akan kabur kali ini," Ucap Darren sambil berjalan menghampiri Michael dan Bagus.
"Apa maksud mu, Darren-sama!?" Tora terlihat panik saat melihat Darren berjalan.
"Ku rasa itu sudah cukup jelas. Aku akan membunuh jenderal itu!"
.
.
.
Sementara itu di markas pemberontak...
"Jadi mereka pergi? Secara diam-diam?" Tanya Simson, setelah mendengar laporan dari anak buahnya.
Clara dan Dylan yang berdiri di sana, juga mendengar hal itu.
__ADS_1
Dyland hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas.
"Tak biasanya Hain akan bertindak gegabah seperti ini," Ucapnya.
Sementara Clara malah nampak gelisah. Ia mulai terlihat seperti itu sejak rapat kemarin.
"Ada apa dengan mu, Clara?" Tanya Dyland pada adiknya. "Kau nampak berbeda sejak kemarin. Apa kau tidak enak badan?"
"T-Tidak, bukan apa-apa. Sesuatu hanya mengganggu pikiran ku," Balas Clara segera membuang raut gelisahnya. "M-Maksudku, aku khawatir dengan keadaan mereka."
"Tenang saja. Aku yakin Hain tidak akan bertindak bodoh," Balas Dyland. "Dia memang sering bertindak ceroboh. Tapi jika ia serius, ia bisa jadi orang yang menakutkan."
"Apa menurut mu dia sedang serius sekarang?" Ucap Simson menyahut.
"Kurasa iya. Ia sampai bertindak sejauh ini," Balas Dyland.
Simson melipat tangannya di atas meja dan menyenderkan kepalanya di atasnya. Ia menghela nafas dengan wajah yang frustasi.
Ia sendiri bingung dengan apa yang ia telah pilih. Apakah ini jalan yang terbaik? Apa dengan begini semua orang akan aman?
"Ku rasa kita harus--" Simson hendak berbicara, namun tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu.
Sesosok berbadan besar, dengan sepasang tanduk di kepalanya. Ia memiliki mata merah yang menyala dan punya kulit coklat yang nampak keras.
"Permisi semuanya," Ucap sesosok itu yang merupakan seorang ogre.
Simson langsung berdiri dari kursinya saat menyadari ogre itu adalah orang asing. Ia segera mengambil posisi waspada dengan mata yang tajam.
"Siapa kau?" Tanya Simson kebingungan.
"Perkenalkan, nama ku Hioni. Ogre pengembara ke seluruh penjuru dunia," Balas ogre itu.
Sementara Clara menatap ogre itu dengan mata melotot. "K-Kau, apa yang kau lakukan di sini?"
Dyland dan Simson menoleh pada Clara. "Clara kau kenal dia?"
Clara tak menjawab dan hanya melirik sedikit.
"Aku hanya ingin mengabari sesuatu, tentang pemuda manusia itu," Hioni langsung menoleh pada Clara. Ia bicara seakan sudah saling mengenal.
"Siapa? Esema?" Sambung Clara.
Hioni mengangguk. "Ya," Balas Hioni. "Nama sebenarnya bukanlah Esema. Melainkan Darren."
Dyland dan Simson terkejut saat mendengar itu.
"Darren!? Manusia yang menjadi buronan karena membela sekelompok manusia hewan?" Ucap Simson kaget.
"Ya, tepat sekali," Jawab Hioni.
Simson sangat terkejut, sampai-sampai ia kembali duduk di kursinya tanpa tenaga.
"Tak ku sangka ada orang seperti itu di organisasi kita," Ucap Simson. "Tapi, apa yang ia ingin lakukan di negara ini?"
"Ku rasa aku tahu alasannya," Sambung Hioni.
"Ha? Apa itu?"
"Dia sedang mencari Raja Iblis Sejati."
Mereka bertiga terkejut bukan kepalang. Baru kali ini mereka mendengar seorang manusia ingin mencari Raja Iblis Sejati secara langsung.
"Apa maksud mu? Bukankah Raja Iblis Sejati sudah lama mati?" Ucap Dyland.
Hioni tidak menjawab sama sekali. Yang ia lakukan hanyalah melirik ke arah Clara dan menatapnya.
"Kau tahu yang harus kau lakukan, kan?" Ucap Hioni pada Clara.
Clara nampak risih setelah mendengar ucapan Hioni. Ia menggigit bibirnya dan kemudian menjawab. "Ya. Akan ku lakukan."
"Baguslah. Lebih baik kau segera ke sana sekarang. Aku yakin Tuan ku akan senang mendengar bahwa kau menepati janji mu," Sambung Hioni.
"Tunggu, sebenarnya ada apa ini?" Simson memotong pembicaraan mereka. "Clara. Ada apa ini? Kau tak pernah bilang apa-apa tentang ini semua."
Clara terdiam, sementara Hioni menyahut. "Kau akan tahu semuanya di akhir. Itu pun jika kau punya kesempatan"
Hioni kemudian merentangkan tangannya dan merapal beberapa mantra.
Tiba-tiba, sebuah portal muncul di hadapan mereka.
"Aku akan tinggalkan portal ini terbuka untuk dua puluh empat jam ke depan. Portal ini terhubung ke aula depan kastil Raja Iblis Ryan. Jika kalian berniat menolong Darren, maka masuklah ke portal itu. Tapi jika kalian tidak mau, maka tinggalkan saja," Ucap Hioni.
Hioni menambahkan, "Tapi sebelum itu, sebaiknya kalian pikirkan baik-baik, apakah yang kalian lakukan ini sudah benar? Jika memang begitu, maka rencanakanlah langkah kalian selanjutnya dengan teliti."
Hioni berjalan keluar dari pintu.
Simson masih tidak paham dengan ucapan Ogre itu. Ia hendak menanyakan suatu hal lagi. Ia pun berlari dan menyusulnya.
"Tunggu seben--" Tapi begitu ia melewati pintu, ogre tersebut sudah menghilang tanpa jejak. Layaknya ditelan bumi.
"Siapa dia tadi?" Ucap Simson. "Clara, apa dia kenalan mu?"
Clara tidak menjawab dan malah mengatakan hal lain. "Kita harus pergi ke sana."
Simson menatap bingung.
Sementara Dyland berdiri sambil mengangkat alisnya. "Kenapa sekarang kau ingin pergi? Bukankah kemarin kau sendiri yang bilang untuk tidak menyelamatkan Esema?"
"Kali ini berbeda. Aku sudah punya rencana lain," Ucap Clara. "Dan kali ini, akan ku akhiri semuanya dengan pasti."
.
.
.
To be continued...
__ADS_1