Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Meluruskan Keadaan


__ADS_3

Darren mendengus, "Aku tak boleh kalah di sini. Atau nyawa semua orang akan jadi taruhannya."


Ia melihat postur badan Tomatsu yang sudah siap bertempur. Walau ia seorang wanita, tapi sudah pasti kalau kekuatannya jauh lebih hebat dari pria manapun.


"Aku gak boleh meremehkan walau ia perempuan. Tapi..." Darren memperhatikan tubuh Tomatsu. "Body-nya boleh juga sih. Aku yakin dia bakal jadi waifu yang cocok."


Darren kembali berfokus ke pertarungan.


"Sudahlah. Aku bisa pikirkan itu nanti. Sekarang, aku harus waspada," Ucapnya dalam hati. "Sejauh iniini, Tomatsu baru menunjukkan dua jurusnya kepadaku."


"Pertama adalah serangan duri es-nya. Ia memunculkan duri-duri es dari dalam tanah dan melemparkannya. Dan dia bisa melakukannya tanpa merapal. Aku harus hati-hati."


"Kedua adalah serangan udara es. Serangan yang pernah ku lihat saat di pegunungan Erfroren. Aku harus lebih menjaga hidung ku dan tidak bernafas sembarangan."


"Dan untungnya, dia belum pernah melihat jurus ku sama sekali. Jadi aku sudah satu langkah di depannya."


"Setidaknya, walau informasi yang ku miliki sangat sedikit, aku akan menjadi dua kali lebih waspada tanpa diingatkan. Dan juga, kalau di lihat dari statusnya sebagai Raja Iblis, ia pasti punya banyak sekali pasokan Mana. Aku tidak boleh mengambil langkah sembarangan dan malah menghabiskan Mana ku sendiri."


Tomatsu melangkah perlahan kepada Darren dengan paras santainya.


"Apa kau sudah selesai berpikir?" Ucapnya.


Darren meringis. "Sudah, terimakasih sudah memberiku waktu," Balasnya. "Dan mungkin aku juga sudah menemukan cara untuk mengalahkan mu."


"Oh, benarkah? Kalau begitu tunjukkan!"


Tomatsu melompat ke udara dan melemparkan beberapa batang es yang runcing ke arah Darren.


Darren membalasnya dengan pertahanan yang kokoh. Tembok batu keras dan tebal langsung ia keluarkan di depannya.


"Earth Elemental: Stone Wall!"


Batangan es itu berhasil ditahan tapi, Darren tersadar.


"Kemana ia pergi?" Ia menoleh ke sekitar. Tomatsu sudah tidak ada dalam pandangannya. "Gawat! Aku terlalu fokus dengan serangannya dan sekarang aku kehilangannya."


Darren terus mewaspadai sekitarnya. Tomatsu bisa muncul dan menyerang darimana saja. Baik dari pohon, semak-semak, langit, atau bahkan...


"Dari dalam tanah!" Darren langsung melompat dari pijakannya.


Benar saja. Sebuah duri es muncul dari bawah dan hampir menusuknya tepat di anus. Terlihat wajah Tomatsu nongol sedikit dari balik butiran debu pasir di tanah.


Seett! Darren kembali mendarat.


"Kau hebat bisa menebak serangan ku," Tomatsu merangkak keluar. "Tapi akan kupastikan tidak agar akan meleset lagi lain kali."


Darren menarik nafas dan mengeluarkannya dengan cepat. Nyawanya hampir saja melayang. Kalau ia sampai mati, ia tak tahu akan kemana lagi.


Tomatsu kembali menghampiri Darren dengan agresif. Ia mengeluarkan tombak es dari tangannya dan mulai menyerang secara membabi buta.


Kecepatan serangnya sangat tinggi. Begitu ia menghunuskan tombaknya, ia bisa dengan cepat menariknya lagi dan mulai menyerang lagi.


Darren kesulitan mengimbangi kecepatan Tomatsu. Perlahan, beberapa bagian tubuhnya mulai tergores. Ia hendak menyerang balik tapi tidak ada kesempatan. Ia hanya bisa menghindar dan bertahan.


"Sial, kalau begini terus aku akan terpojok," Darren menggerutu sambil terus menangkis dengan pedang.


Akira dan Shiro menyaksikan pertarungan sengit itu. Tapi dalam lubuk hati mereka, mereka tahu kalau kekuatan Darren tak setara dengan Tomatsu.


"Esema-sama. Ia memang kuat, tapi..." Ucap Shiro sembari membalut lengan Akira dengan kain, "Raja Iblis itu jauh lebih kuat darinya."


"Sudah jelas. Bagaimanapun, Esema-kun hanyalah manusia. Manusia biasa tidak akan punya kesempatan melawan makhluk semacam itu," Balas Akira sambil menahan sakitnya. "Aku yakin dia juga tahu tentang itu. Tapi ia tetap bertarung dan tak menyerah."


Shiro merunduk setelah mendengar itu. Dalam benaknya ia berpikir. "Darren-sama, aku percaya kau pasti bisa. Kau itu kuat dan luar biasa."


Shiro kembali menoleh ke arah Darren yang sedang bertahan dari serangan bertubi-tubi.


"Darren-sama..." Ucapnya dengan nada pasrah.


Darren terus-menerus menerima serangan dari Tomatsu. Walau pedangnya bisa menahan semua serangan itu, tapi tidak dengan tangannya. Ia mulai merasa pegal dan tangannya gemeteran.


"Gawat, aku tidak bisa terus begini," Ucapnya dalam hati. "Aku harus melawan balik!"


Darren menarik tangannya, bermaksud untuk kabur dari situasi tersebut. Tapi ia malah meninggalkan area terbuka dari bagian dada hingga dagu. Tomatsu langsung memanfaatkan kesempatan itu dan menyerang dengan cepat.

__ADS_1


Jebreett! Dengan kepalan tangan yang sekeras es, Tomatsu meninju leher Darren hingga membuatnya terpental beberapa meter.


Darren berhasil mempertahankan posisi kakinya, tapi ia mulai merasa sesak.


"Nafas ku jadi sedikit sulit. Ini pasti karena tinjuan itu," Darren mengelus-elus lehernya dan mendapati sesuatu. "Leherku... BEKU!?"


Tomatsu tertawa sambil memandangi Darren yang panik.


"Bagaimana? Enak?" Ucapnya mengolok-olok. "Kau tidak akan bisa melepas mantra itu. Bahkan dengan sihir api terkuat pun."


Darren menatapnya, "K-Keparat."


Tomatsu melanjutkan tawanya, "Dengan sihir itu, tubuhmu akan membeku perlahan. Jika tak cepat kau tangani, kau akan berubah jadi es dalam setengah jam."


Darren kembali memegang lehernya. Benar saja, baru berapa menit, es nya sudah menyebar. Ia juga mulai merasa nafasnya jadi dingin dan menyakitkan.


"Satu-satunya cara untuk menghapus mantra itu adalah mengalahkan ku," Sambung Tomatsu. "Kalau kau bisa membunuh ku, maka mantra itu akan ikut menghilang. Tapi sepertinya kau akan mati duluan."


Darren menggertakkan giginya. "Jangan remehkan aku ya!"


Darren menoleh ke sekeliling. Ia menatap setiap benda yang ada. Mulai dari pohon, batu, dan juga asap yang masih terlihat jelas.


Shiro memperhatikan hal itu. "Dia..." Ia mulai mengerti apa yang Darren lakukan.


"Kau harus memahami kekuatan mu dan kekuatan musuh. Jika musuh lebih kuat, ciptakanlah beberapa skenario. Rencanakan aksi mu dan bersiaga untuk mengantisipasi aksi musuh."


Ekspresi Shiro langsung cerah. "Woah! Jadi dia mencoba membuat skenario yang menguntungkannya. Kau sangat hebat, Darren-sama."


Darren kemudian langsung lari lurus ke arah Tomatsu. Tapi kali ini pedangnya tak ada di tangannya. Ia berlari lurus tanpa strategi khusus.


Tomatsu hanya menatapnya dengan kekecewaan. "Jadi kau sudah putus asa, ya."


Tomatsu mengangkat tangannya, bersiap mengayunkannya dan memukul Darren dengan sekuat tenaga.


Seuutt! Darren bergerak tiba-tiba. Ia melompati Tomatsu tanpa menyentuhnya sama sekali dan berlari lurus melewatinya.


Tomatsu terkejut. "Apa-apaan dia itu? Apa dia mau kabur?"


Tomatsu langsung mengangkat kakinya dan mengejar Darren.


"Kok jadi horor ya."


Darren mulai melompat dari pohon ke pohon. Tomatsu pun mengikutinya.


Darren berjalan di tanah. Tomatsu pun mengikutinya.


Ia pun mengepalkan tangannya. "Yosh. Sepertinya ini sesuai rencana!"


Darren kemudian lari dan bersembunyi di balik sebuah batu yang sangat besar. Tomatsu tertawa melihat itu.


"Apa dia bodoh? Sudah jelas aku tepat di belakangnya, tapi dia malah bersembunyi," Ucapnya sambil tertawa.


Tiba-tiba Darren kembali berlari keluar dari batu itu. Tomatsu sempat berpikir ada sesuatu yang janggal, tapi ia tak menghiraukannya dan tetap mengejar.


Setelah agak lama berlari. Tomatsu mulai merasa jengkel karena Darren terus menghindarinya.


"Apa ia tidak lelah?" Gumamnya. "Ah sudahlah. Aku langsung bunuh saja anak itu."


Tomatsu melompat dan mengeluarkan tombak es-nya. Ia menghunuskan tombaknya tepat di dada Darren.


Splash!


Mata Tomatsu langsung melotot. Ia tak menyangka hal yang terjadi di depannya.


"I-ini!?" Ia menarik kembali tombaknya. "Hydro Mimic!?"


Dari belakang, Darren sudah bersiap menebasnya dengan pedang hijau di tangan. Ia terlihat mengkomat-kamit mulutnya, seperti merapal sebuah mantra dengan suara yang sangat kecil.


Tomatsu langsung berpaling dan kembali menyerang sebelum Darren sempat menyerangnya. "Mati lah!"


Tapi saat ia hendak menghunuskan tombaknya. Sebuah senyuman muncul di wajah Darren. Senyuman percaya diri yang menyeramkan.


Jrreett! Petir yang sangat kuat menyambar Tomatsu begitu tombaknya menyentuh Darren. Ia terpental dengan luka yang parah.

__ADS_1


"S-Sihir macam apa ini!?" Tomatsu terkejut.


Darren membalasnya dengan senyuman lebar. "Thunder Elemental: Cover Me in Thunder."


Tubuh Tomatsu menerima terlalu banyak tegangan listrik, membuatnya lumpuh untuk beberapa saat.


Darren mendarat di tanah dengan kakinya. Menyaksikan Tomatsu yang terhempas dan tersungkur tak bisa bergerak.


Sementara Akira dan Shiro menyaksikannya dengan wajah yang bercahaya.


"Dia benar-benar mengalahkannya!" Ucap Akira. "Dia mengalahkan Raja Iblis!"


Shiro berusaha menenangkannya. "Akira-san, jangan banyak bergerak. Nanti luka mu terbuka lagi."


Darren mempersiapkan pedangnya. Bagaimanapun, Tomatsu adalah Raja Iblis sejati yang sangat kuat. Pertarungan ini belum berakhir. Tidak sampai ia bisa meluruskan semuanya.


"K-Kau," Ucap Tomatsu sambil berusaha menggerakkan tangannya. "Apa kau sebenarnya?"


"Kekuatan sihir semacam ini. Seumur hidupku belum pernah aku melihatnya," Sambung Tomatsu. "Bahkan Dewa Petir pun tak pernah mengeluarkan sihir seperti ini."


Darren menghampiri Tomatsu dengan perlahan. "Aku hanyalah siswa SMA," Jawab Darren walau ia tahu Tomatsu tidak akan mengerti.


Tomatsu berusaha bangkit berdiri, tapi tubuhnya telah lumpuh. Walau ia seorang Raja Iblis, tapi kekuatan petir seperti itu membuat tubuhnya rusak. Baru kali ini ia merasakan sihir sehebat ini.


"Jadi, apa kau akan menyerah?" Tanya Darren.


Tomatsu terkekeh. "Menyerah?" Ucapnya. "Tidak akan! Aku datang ke sini untuk memusnahkan kalian!"


Darren menjongkokkan tubuhnya. "Tapi kenapa?"


Tomatsu membalas dengan emosi yang berapi-api. "Kerajaan ku. Kerajaan ku hancur! Dan kalian harus membayarnya!"


"Eh?"


"Aku tahu kalau kalian memanfaatkan kesempatan disaat aku dipenjara. Jadi kalian menyerang kerajaan ku, kan!"


Darren paham sekarang. Tomatsu adalah Ratu dari Kerajaan Erfroren yang dimana sekarang tempat itu sudah tidak ada lagi.


Mungkin Tomatsu mengira kerajaannya telah dihancurkan oleh suatu pihak. Dan kebetulan, Friedlich adalah kerajaan terdekat dengan Erfroren. Ia pasti sudah termakan emosi dan menyerang begitu saja tanpa berpikir.


"Tapi sesuai apa yang ku baca di buku. Friedlich bukanlah Kerajaan yang suka menyerang dan menguasai suatu daerah. Mereka adalah kerajaan damai yang puas dengan apa yang mereka miliki."


"Atau sebenarnya ada kesalahpahaman?"


Darren pun bertanya pada Tomatsu. "Tomatsu, sebenarnya kapan terakhir kali kau melihat kerajaan mu berdiri?"


Tomatsu menanggapi dengan wajah kesal. "Apa hubungannya?" Balasnya. "Seribu tahun lalu, kerajaan itu masih berdiri dengan anggun. Bahkan salju dan es belum menutupi tempat itu."


"Eh? Seribu tahun? Dan salju belum turun di Erfroren?"


Darren merungut dagu. "Sepertinya ada ke salahpahaman disini," Ucapnya. "Kerajaan mu berdiri seribu tahun yang lalu. Sedangkan, Friedlich berdiri tiga ratus tahun yang lalu."


Wajah Tomatsu langsung berubah. "Jadi, maksud mu. Bukan kalian yang menghancurkan kerajaan ku?"


Darren mengagguk. "Aku jadi penasaran dengan apa yang terjadi seribu tahun yang lalu."


Tomatsu memendamkan kepalanya di tanah. "Sial. Bikin malu saja," Ucapnya pelan.


Ia pun mengangkat kepalanya dan menatap Darren. "Kau," Ucapnya keras. "Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"


"Seharusnya aku yang bertanya," Balas Darren.


Tomatsu melepas nafasnya. "Huff... aku akan pergi kalau begitu."


"Kemana?"


"Mencari orang yang bertanggung jawab atas semua ini."


Darren ikut melepas nafas. "Ngomong-ngomong soal tanggung jawab," Darren pun melirik ke tembok kota yang sudah hancur.


Tomatsu langsung melotot kaget. "Y-Yah... soal itu..."


Darren menarik nafas panjang. "Kau bisa jelaskan semuanya nanti. Tapi mau kah kau mampir sebentar?" Tanya Darren.

__ADS_1


"Mampir?"


Darren menyipitkan matanya. "Ada yang ingin ku tanyakan kepada mu."


__ADS_2