Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Out of The Box


__ADS_3

Darren menatap tembok di depannya. Terlihat Shiro dan Tora sedang bertarung melawan musuh. Ia ingin membantu, tapi labirin dungeon terus menghambatnya.


"Musuh tentunya ingin memisahkan ku dari mereka," Pikir Darren. "Walau aku belum tahu pasti, tapi aku yakin bahwa labirin ini adalah perbuatannya. Berjalan di lorong-lorong ini sama saja berjalan di bawah rencananya. Aku harus memikirkan jalan lain. Jalan yang benar-benar di luar perkiraannya."


.


.


.


Sementara itu, Tora dan Shiro sedang berhadapan dengan Succubus yang hendak menangkap mereka. Mereka berdua terlihat fokus dan tak melepaskan pandangan mereka dari Succubus itu.


Succubus itu terlihat santai. Tapi mereka tahu bahwa itu hanya tipuan. Ia hanya mencoba membuat mereka lengah, padahal sebenarnya di balik itu semua, ia masih menyimpan kekuatan lain yang lebih dahsyat. Masalahnya, Tora dan Shiro masih belum tahu kekuatan macam apa yang ia sembunyikan itu.


"Untuk sekarang, kita hanya mengerti dengan kekuatan Manipulasi Ruang-nya. Nampaknya, ia juga bisa mengendalikan undead, tapi kita bisa kesampingkan itu untuk sementara," Pikir Tora. "Sepertinya aku harus memancingnya agar ia mengeluarkan semua mantranya. Tapi tetap saja, aku harus hati-hati."


Tora mengepalkan tangannya. "Dengan ini akhirnya aku bisa menunjukkan pada Esema-sama, bahwa aku bisa berguna baginya."


Tora berbisik pelan pada Shiro. "Shiro, bisakah kau membantu ku?"


Sementara itu, Succubus tersebut melihat mereka berdua saling berbisik. Melihat salah satu mereka mengangguk-angguk, ia langsung menyimpulkan bahwa mereka pasti sudah punya rencana.


"Mereka sepertinya sudah merencanakan sesuatu," Gumam Succubus itu. Tapi ia yakin pada kekuatannya dan tetap percaya diri. "Yah, apapun itu. Tetap saja mereka itu hanyalah serangga. Tidak mungkin mereka lebih kuat dariku."


Tora berhenti berbisik, tanda bahwa ia telah menyempurnakan rencananya.


"Ini rencana yang patut di coba, walau aku sendiri tak yakin dengan hasilnya," Ucap Tora pelan. "Shiro, cepat luncurkan sihir es mu!"


Shiro langsung mengambil posisi. Ia merapal mantranya dan membuat jarum-jarum es meluncur dengan cepat ke arah Succubus itu.


Succubus itu sudah mengambil posisi menghindar, tapi ia dikejutkan saat Tora tiba-tiba ikut merapal mantra.


"Wind Elemental: Wind Control!" Teriak Tora dengan cepat.


Strategi ini sebenarnya sudah pernah mereka berdua gunakan sebelumnya. Saat Darren pulang dari perjalanannya dan mengetes kemampuan mereka.


Tapi kali ini, berkat pengetahuan Tora yang semakin bertambah, ia menambahkan sedikit bumbu pada strategi itu. Ia cukup yakin atas pengalaman dan pengetahuannya sendiri, jadi ia menggabungkan keduanya dalam pertempuran ini.


Di tambah kerja sama yang cukup kompak, maka mereka masih punya kesempatan walau kecil. Tapi tetap saja, kemungkinan itu tak pernah nol.


Succubus itu terkejut melihat jarum-jarum es yang bergerak mengincarnya. Terlihat Tora dengan lihai menggoyangkan tangannya dengan anggun, ia lah yang mengendalikan angin untuk menggerakkan es-es itu.


"Kalian pikir itu cukup!?" Teriak Succubus itu.


Ia mengibaskan tangannya dan membuat jarum-jarum itu terhempas ke belakang. Dan alhasil, jarum-jarum itu menghilang termakan sihir manipulasi ruangan.


Tiba-tiba...


"Non-Elemental Spell: Slow!" Tora mengarahkan mantra itu pada sang Succubus.

__ADS_1


Kini Succubus itu menjadi sangat lambat.


"Tidak ada gunanya kau membuatku melambat. Kalian takkan bisa menghindari serangan pamungkas ku!" Ucap Succubus dengan lantang dan percaya diri.


"Oh, benarkah?" Balas Tora.


Tora sudah memprediksi bahwa serangan es Shiro mungkin akan menjadi pedang bermata dua.


Tora dan Shiro segera menunduk saat tiba-tiba jarum-jarum es tadi muncul dari belakang mereka.


"Apakah kau bisa menghindari itu?" Ucap Tora dengan mengejek. Ia tahu betul kemana jarum-jarum itu mengarah.


Seeuutt! Tepat sekali. Jarum-jarum itu meluncur ke arah sang Succubus.


Sang Succubus berusaha menghindar, tapi ia sadar bahwa mantra slow tadi bukan hanya sekedar pelambat biasa. Tora benar-benar sudah merencanakan ini.


Succubus itu panik. Jarum-jarum es itu sudah hampir mengenai wajahnya dan ia tak punya pilihan lain selain...


"Dark Elemental: Non-Euclidean!" Succubus meluncurkan mantranya.


Ia memanipulasi bagian lorong di depannya untuk mengirim jarum-jarum es itu ke tempat lain. Tapi, itu cukup untuk membuat bagian ruangan lainnya kembali normal.


Succubus itu pun menyadarinya. "Ia sengaja membuatku menggunakan jurus manipulasi ruang? Tapi bagaimana? Bagaimana ia bisa memperkirakan hal ini?"


Tora tersenyum puas saat melihat bagian lorong di belakangnya berubah. Benar, bagian lorong itu sudah kembali terlihat normal.


"Berhasil!" Seru Tora dalam hati. "Tak kusangka rencana ini akan berhasil. Walau awalnya aku sendiri tak yakin."


"Baiklah!"


Succubus itu tak tinggal diam. Ia sekarang sangat marah. Ia marah karena merasa malu, betapa mudahnya ia termakan trik mereka.


"Sialan kalian! Akan ku bunuh kalian dan ku jadikan pakan hewan!" Teriak Succubus itu dengan keras. Ia langsung berlari mengejar Tora dan Shiro.


Tora dan Shiro terus berlari, tapi mereka tak tahu jelas kemana sebenarnya tujuan mereka. Mereka hanya berusaha untuk lari dan bertahan hidup selama mungkin.


"G-Gawat!" Ucap Tora saat tak sengaja mengambil belokan yang salah. Kini di hadapan mereka hanya ada jalan buntu yang tertutup tembok. "Kita salah jalan!"


Mereka berdua berbalik dan menemukan Succubus itu telah menghalangi jalan berbalik.


"Mau kemana kalian, tikus-tikus kecil?" Ucapnya mengintimidasi.


Tora dan Shiro kembali mengambil posisi bertarung. Tapi mereka mulai gemetar. Pertarungan jarak dekat seperti ini benar-benar beresiko dan hampir tak ada kemungkinan menang.


Bertarung di ruangan sempit dengan monster yang bisa memanipulasi ruang. Itu sama seperti lalat yang berusaha melawan laba-laba di jaring laba-laba tersebut.


"K-Kita terpojok," Ucap Tora pada Shiro.


Sang Succubus mulai mendekati mereka. Sebuah senyuman kejam sudah terpasang di wajahnya, seakan sudah tak sabar untuk membunuh mereka berdua.

__ADS_1


Dub! DuB! DUB! DUUB! Tiba-tiba terdengar suara getaran dari tembok di samping mereka.


"S-Suara apa itu?" Gumam Shiro sambil mengacungkan tombaknya.


"Eh... apa peliharaan ku mengamuk lagi?" Ucap Succubus itu pelan.


Tiba-tiba...


DUARR!!!


Tembok itu hancur dan muncul seseorang dari lubah di tembok itu. Wajah Tora dan Shiro langsung menyala saat melihat muka orang itu.


"Esema-sama!" Ucap mereka berdua kompak.


.


.


.


Beberapa Menit yang Lalu...


Darren sedang memikirkan cara untuk bertemu kembali dengan kedua rekannya. Tapi labirin ini terus membuatnya kembali ke tempat awal.


"Jika aku melewati lorong itu, aku akan terus kembali dan berakhir di sini lagi," Pikirnya. "Aku harus mencari cara lain. Cara yang out-of-the-box!"


Darren menatap ke dalam lorong itu. Tapi, tiba-tiba lorong itu mulai berubah. Darren bisa melihat bahwa belokan tadi sudah benar-benar kembali seperti semula.


Ia bahkan mencoba untuk jalan memasukinya dan kali ini ia tak terjebak di tempat yang sama lagi.


"Apa mereka berdua yang menyebabkan ini?" Gumam Darren. "Sepertinya Tora dan Shiro sudah bekerja keras."


Ia kembali melacak posisi mereka dengan penglihatan Thermography-nya. Kali ini posisi mereka berubah. Mereka jadi lebih dekat, tapi musuh juga tetap terlihat masih bersama mereka.


Darren berada diambang antara perasaan lega sekaligus panik.


"Aku harus cepat menolong mereka!" Ucapnya.


Tapi saat ia kembali melirik ke arah lorong, ia menjadi sedikit ragu. Apa ia harus benar-benar melewati lorong-lorong mencurigakan itu.


"Lmao, no!" Ucapnya. "Aku sudah muak dengan lorong-lorong itu. Ini saatnya aku membuat jalan ku sendiri."


Darren menempelkan tangannya pada permukaan tembok. Ia tersenyum kecil dan sambil memejamkan matanya ia mengucap.


"Kalian berdua, kerja bagus. Sekarang kalian boleh beristirahat," Ucapnya dalam hati sambil mengalirkan sihir api pada tangannya. "Fire Elemental: Explosion!"


Ia membuat ledakan pada tembok-tembok itu. Sambil terus-menerus membuat ledakan, ia juga berlari menuju arah mereka melalui lubang yang ia buat pada setiap tembok. Dan akhirnya ia tiba di depan mereka.


"Esema-sama!" Ucap kedua rekannya itu dengan wajah menyala-nyala.

__ADS_1


Darren membalasnya dengan senyuman pede. "Kalian berdua, mundurlah. Sekarang giliran ku."


__ADS_2