
Langkah demi langkah, Darren berjalan bersama para pasukan Friedlich melalui terjalnya tebing Erfroren. Hawa udara mulai menghangat, menandakan sebentar lagi mereka akan keluar dari area gunung yang dingin.
Tiba-tiba seluruh pasukan berhenti. Mereka dihadapkan dengan jalan yang bercabang, satu ke kanan dan satu ke kiri.
"Kapten, kemana kita akan lewat?" Tanya salah satu tentara. "Jalan di kanan lebih aman, tapi kita harus memutari bukit terjal ini. Sementara jalan di kiri, kita akan menyusuri jurang yang agak dalam. Disana cukup gelap jadi kemungkinan akan ada monster yang menunggu, tapi perjalan kita akan lebih cepat."
Akira mulai melihat-lihat ke arah bukit di depan mereka. Kalau dikira-kira, bukit itu mungkin berdiameter tiga kilometer. Memutarinya akan memakan waktu sekitar beberapa hari, tergantung dari seberapa cepatnya pergerakan pasukan.
"Menurut ku, lebih baik kita ambil jalan cepat," Ujar Darren. Ia tak mau menunggu lama untuk bertemu Michael.
"Aku setuju dengannya," Sambung Akira. "Kita harus cepat ke Erobernesia. Satu-satunya yang mengejar kita hanyalah waktu. Aku yakin, monster disana bukanlah masalah besar."
Darren mengangguk setuju.
"Baiklah. Selama Si Hijau Zamrud bersama kita, kita pasti akan baik-baik saja," Ucap salah satu tentara dengan semangat.
Mereka pun mengambil jalan kiri dan mulai menuruni jurang yang cukup lebar.
Lama-kelamaan, suasana mulai gelap. Cahaya matahari tak sampai menyentuh dasar jurang. Darren pun membakar beberapa tongkat kayu yang pasukan bawa untuk dijadikan obor.
"Dengan ini, kita bisa melihat jalan kita," Ucap Akira senang. "Terimakasih Esema-kun, kau sangat membantu perjalan kami."
"Ya, tidak masalah," Balas Darren. "Sebenarnya aku juga berterimakasih. Berkat kalian juga, dendam ku akan terbayarkan."
Mereka berjalan lebih dalam. Semakin jauh ke dalam, hawa disana menjadi semakin horor. Dinding es di mana-mana, dan beberapa makhluk hidup terkubur didalamnya.
"Aku merasa sedikit anomali Mana pada tempat ini. Sebaiknya kita cepat keluar dari sini," Ucap Akira.
"Mulut jurang tak jauh dari sini. Sebentar lagi kita akan keluar," Ucap tentara.
Tiba-tiba, salah satu tentara tersandung dan menjatuhkan obornya ke tanah.
"Kau tidak apa?" Tanya temannya sambil membantunya berdiri.
"Ya, aku baik-baik saja."
Tapi saat ia hendak mengambil obornya, ia menyadari bahwa tanah yang mereka pijak bukanlah terbuat dari tanah, melainkan terbuat dari sebuah lantai es yang berbentuk seperti kaca.
"Apa itu?" Ucap orang tadi sambil menyipitkan matanya, melihat jauh kedalam es.
Suasana terlalu gelap, hingga tentara itu mengambil obornya dan menerangi lantai dibawahnya dengan api.
Tanpa disadari, lantai tersebut mulai meleleh.
"Semuanya, cepat cari tempat aman!" Teriak Akira begitu ia melihatnya.
Semua tentara mulai berlari, kecuali tentara satu itu. Ia terus menatap kedasar es tanpa bergerak sedikitpun.
"Fak, cepat pergi dari situ!" Ucap temannya.
Darren sedikit tertawa saat mendengar namanya itu.
Tapi Fak tetap diam. Ia terus menatap kebawah tanpa menghiraukan teriakan teman-temannya.
"Matur nuwun..., amarga sampeyan... aku bisa metu... saka kunjara iki" Fak mulai berbicara sendiri. "Saiki aku luwe..., sampeyan bakal nglegakake keluwenanku."
Para tentara tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada Fak, tapi mereka mulai bersiaga. Mereka mengeluarkan senjata mereka dan menodongkannya ke arah Fak.
"Siapa kamu? Kamu bukan Fak!" Teriak teman Fak.
"Aku Tomatsu, raja setan es. Panguwasa mutlak Kerajaan Erfroren," Balas Fak yang mulai bergerak tanpa arah layaknya boneka.
"Dia bicara apa?" Ucap para tentara satu kepada yang lain. "Sepertinya ia berbicara bahasa iblis."
Mereka kebingungan dengan apa yang Fak bicarakan.
__ADS_1
Sementara Darren hanya berdiri disana terkejut sekaligus keheranan.
"Bahasa ini, kayaknya aku pernah dengar," Gumam Darren, "Ini kan bahasa Jawa. Kok bisa ada bahasa jawa di sini?"
Para tentara mulai kehabisan pilihan. Mereka tak tahu berhadapan dengan siapa. Makhluk yang merasuki Fak bisa saja adalah makhluk yang berbahaya. Mereka harus memusnahkannya.
"Serang dia!" Perintah Akira pada pasukannya. "Kita tidak bisa menyelamatkan Fak. Tapi aku yakin ia akan merasa terhormat bila mati untuk keselamatan dunia!"
Para pasukan mulai menyerang ke arah Fak secara bersamaan. Wah, pertempuran terjadi begitu cepat.
Fwuuu.... suara angin yang lembut mengitari seisi pasukan.
"Kalian, berhenti disana! Itu berbahaya!" Teriak Darren.
Tapi terlambat, sebelum mereka sempat mendengarnya, mereka semua menjadi es.
Akira dan Darren terkejut melihatnya.
"Mereka membeku begitu saja!?" Ucap Darren. "Sepertinya itu adalah ulah angin tadi."
"Ya, benar. Aku bisa melihatnya," Ucap Akira. "Angin tersebut memiliki sihir es didalamnya. Menghirupnya sekali, maka kau akan membeku."
Darren segera mengambil posisi. Ia mengeluarkan pedangnya dan mengaktifkan mantra Channelling-nya.
"Non-elemental Spell: Channelling!" Ia juga memasang mantra pada topeng Akira dan dirinya.
"Esema-kun, sebaiknya kau mundur. Aku akan mencoba menyerangnya," Ucap Akira sambil mengambil kuda-kuda.
Darren menurutinya. Ia mundur beberapa langkah hingga cukup jauh dari situ.
"Emerald Touch!" Akira mengeluarkan mantranya.
Seketika banyak sekali kristal-kristal hijau yang muncul dari permukaan tanah dan menyerang Fak. Jumlahnya sangat banyak dan muncul dari berbagai arah.
"Begitu kristal tersebut berhasil menusuk mu, maka kau akan mati," Ucap Akira. "Bagian terkecil dari kristal itu akan masuk ke aliran darah mu dan membekukan tubuhmu dari dalam. Bukan jadi es, tapi kau akan jadi patung zamrud yang eksotis!"
"Mantap! Dengan ini tidak mungkin kau bisa selamat!" Ucap Akira dengan percaya diri.
"Sampeyan mikir aku bakal gampang mati?" Ucap Fak.
Beberapa bagian tubuh Fak mulai menghijau. Tapi, tiba-tiba...
Jebrett!!!
Ia mematahkan bagian tubuh yang menghijau dengan mudahnya. "Aku dudu wong biasa. Apa kowe ora nate ngrungokake aku sadurunge?"
Slurrp... bagian tubuh yang terpotong kembali tumbuh dengan sempurna.
"Apa!?" Ucap Akira kaget. "Kalau begini, kita gak akan bisa melawannya."
Darren menatap mereka berdua yang berhadap-hadapan. Apa yang ia bisa lakukan agar dirinya selamat?
"Nuwun sewu, yen aku ngganggu," Ucap Darren tiba-tiba.
Akira menoleh ke arahnya dengan kaget, begitu juga Fak.
"Jenengmu Tomatsu, bener?" Tanya Darren.
"Ya, bener," Balas Fak yang ternyata namanya adalah Tomatsu.
"Ngapa kowe nyerang aku?" Tanya Darren lagi.
"Aku luwe, lan butuh panganan," Jawab Tomatsu.
"Oh, aku ndeleng," Balas Darren. Ia kemudian mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memberikannya kepada Tomatsu dengan perlahan.
__ADS_1
"Opo iki?" Tanya Tomatsu sambil menganalisa barang pemberian Darren.
"Kuwi sate, disiram karo bumbu kacang," Jawab Darren. "Sampean luwe, kan? Coba dipangan, bisa uga nglegakake keluwen sampeyan."
Tomatsu kemudian menciumi aroma makanan Darren. Ia terlihat tertarik dengan makanan itu.
Chom... ia memakannya dalam sekali gigit.
"Enak tenan!" Ucapnya senang. "Apa sampeyan duwe liyane?"
"Apa sampeyan pengin luwih akeh?" Tanya Darren.
Tomatsu hanya mengangguk-mengangguk dengan putus asa. Ia ingin makanan itu lagi.
"Oke, nanging kanthi syarat," Ucap Darren.
"Opo?" Balas Tomatsu dengan cepat.
"Mbusak sulapmu, lan nuduhake dhewe!" Ucap Darren.
"OK!"
Seketika, semua orang disana kembali bergerak. Wujud es mereka menghilang. Fak juga mulai mendapatkan kesadarannya kembali.
Akira disana hanya terus menoleh kesana kemari menghitung jumlah pasukannya.
"Mereka semua lengkap," Ucap Akira. "Sebenarnya apa terjadi?"
Darren hanya tersenyum canggung. Bagaimana ia akan menjelaskan ini?
"Ah... aku..." Jawab Darren canggung, "Aku membuat kesepakatan dengannya."
"Jadi kau mengerti bahasa iblis?" Tanya Akira lagi.
"Eh, tadi itu bahasa iblis?" Darren terkejut. "Padahal itu bahasa jawa, loh."
"Ya, mungkin bisa dibilang begitu," Sambung Darren.
Tak lama kemudian, sesosok makhluk muncul dari bawah es. Semua orang kaget dan melompat mundur karena syok yang mereka terima sebelumnya.
"Dia menyerang lagi!" Ucap Fak yang sudah sadar.
"Tunggu! Tunggu! Tahan diri kalian!" Ucap Akira. "Biarkan Esema-kun yang mengatasi ini. Kalian mundurlah!"
Semua pasukan pun mundur sementara Darren maju menghampiri makhluk itu.
Swringg! Wujud makhluk yang sebelumnya tanpa fisik tiba-tiba berubah menjadi seorang perempuan.
"Sampeyan Tomatsu, kan?" Tanya Darren memastikan.
"Ya, bener," Jawabnya.
Darren segera mengeluarkan seluruh persediaan makanannya dan menyerahkannya pada Tomatsu yang sudah tak sabar untuk makan.
"Akeh panganan!" Ucapnya antusias. Ia kemudian melahap semua makan itu dalam sekejap. Membuat semua orang disana melongo dengan apa yang barusan mereka lihat.
"Dadi, apa sampeyan bakal ngeculake kita?" Tanya Darren.
"Ya, mesthi wae," Balas Tomatsu, "Aku wis kebak. Aku ora duwe urusan maneh karo kowe."
"Oke," Jawab Darren singkat. "Ada-ada aja raja iblis kayak begini."
Darren pun meninggalkan Tomatsu tanpa sepatah kata bersama para pasukan yang plonga-plongo dengan kejadian yang mereka baru saja saksikan.
Pada akhirnya semua orang selamat, dan mereka berhasil keluar dari Pegunungan Erfroren dengan cepat.
__ADS_1
"Raja iblis Tomatsu. Aku tak menyangka akan bertemu salah satu raja iblis di perjalanan ku."
"Tapi kok gak seram, ya?"