
"Hm... Sudah cukup gelap." Schlaff menghentikan langkah kakinya, memandang ke arah bulan yang baru saja bangun dari tidurnya.
Angin berembus kecil menyentuh punggung lehernya, membuat Schlaff reflek segera menggosok-gosoknya dengan tangannya. Rasanya angin malam ini cukup sejuk. Terlalu sejuk malahan. Hingga membuat dirinya merasa merinding tiap kali angin meniupnya.
"Kenapa perasaanku tidak enak ya?" Schlaff menggumam. "Apa yang kulihat tadi benar?"
Schlaff masuk ke dalam pikirannya, melihat kembali saat-saat ia bertemu Akira tadi. Ada sebuah pemandangan yang membuatnya sedikit gusar. Tapi sejauh ini, ia berusaha untuk berpikir positif. Hingga akhirnya ia tak dapat menahannya lagi.
"Dibalik lengan bajunya tadi... Apa itu luka?" Schlaff memasang muka khawatir. "Awalnya aku mengira aku salah lihat. Tapi sekarang aku malah jadi cemas. Aku harus memastikannya."
Schlaff segera memutar arahnya dan berlari menuju arah Akira pergi. Ia berkeliling dengan harapan dapat menemukan Akira. Gadis kecil itu tak pernah bercerita apapun tentang keluarganya, maupun kehidupannya. Schlaff sendiri jadi sedikit kesulitan untuk mencarinya.
"Seharusnya ada di dekat sini." Schlaff menarik nafasnya sambil bersandar pada sebuah tiang jalan di depan rumah. "Pemukiman di sini tidak terlalu ramai. Seharusnya aku bisa menemukannya jika bertanya dari rumah ke rumah."
Suasana jalan itu sangat sepi. Tak ada bunyi apapun selain beberapa decit kelelawar yang berterbangan ke sana sini. Schlaff melanjutkan pencariannya.
Ia berniat mengecek setiap rumah untuk mencari Akira. Matanya seketika tertuju pada sebuah rumah dengan pintu kayu yang tertutup rapat. Ia segera menghampirinya dan mengetuknya.
Tok... tok... tok... "Permisi. Apa ada orang?" Tapi tak ada balasan sedikitpun.
__ADS_1
Schlaff mencoba mendorong pintu, tapi nampaknya terkunci. Ia bisa mengetahuinya dari gagang pintu yang tak mau bergerak.
Schlaff menghela nafas. Ia hendak menyerah dan hampir pergi. Namun seketika telapak tangannya yang memegang gagang pintu merasakan sesuatu. Seperti sebuah getaran yang berasal dari dalam rumah.
"Gempa? Bukan, ini sesuatu yang lain." Schlaff langsung menyadari sesuatu memang tidak beres. "Asalnya tidak jauh dari sini. Mungkinkah dari balik pintu ini?"
Ia merasakan gagang pintu yang semakin bergetar hebat. Ia jadi semakin yakin dan membulatkan keputusannya.
Gubrakk! Pintu kayu yang rapuh terlepas dari bingkainya. Schlaff dengan sigap masuk sambil mencoba mengamankan situasi. Ia melihat ke sekeliling. Kemudian dikejutkan dengan sebuah patung hijau berbentuk manusia. Di sisinya, seorang gadis kecil sedang berdiri dengan tubuhnya dilumuri darah.
Schlaff spontan mengeluarkan senjata polisinya. Sebuah tongkat tumpul yang memang didesain untuk melumpuhkan lawan. Ia mengacungkannya ke arah makhluk yang tak dikenalinya itu.
"Angkat tanganmu! Lalu tiarap di lantai!" Schlaff berteriak.
Tangan Schlaff perlahan gemetar. Tongkatnya pun ia tarik seraya ia menatap jauh ke dalam pandangan anak itu. Sebuah tatapan yang pernah ia lihat sebelumnya.
"Akira?" Schlaff tak mampu berkata-kata lagi. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada gadis malang ini?
Mata yang ia kenali itu penuh dengan penderitaan. Mata yang ingin menangis, tapi setiap tetes air mata yang keluar sama dengan penderitaan yang ia rasakan.
"Akira, apa kau tidak apa?" Schlaff mendekat. Namun tiba-tiba sebongkah kristal hijau menujam keluar dari dalam tanah.
__ADS_1
Seuutt! Schlaff berhasil menghindar dari serangan dadakan itu. Dari situ ia yakin bahwa anak di depannya ini bukanlah anak sembarangan. Ia punya kekuatan hebat. Sayang, kekuatan itu kini malah melahap kemanusiaannya.
"Akira!" Schlaff berteriak sekencang mungkin, berharap gadis kecil itu dapat mendengar suaranya walau sedikit saja.
Apapun yang yang ada di depannya, Akira tak berkutik. Tatapan matanya menggambarkan apa yang ia rasakan. Perih, sakit, penderitaan, dan keinginan untuk mati. Seluruh trauma dan masa lalu yang dibencinya, meluap dalam bentuk kristal yang melambangkan betapa kerasnya kehidupannya.
Dengan sekilas, orang-orang pun takkan mengenalinya lagi sebagai manusia. Ia seperti sudah kehilangan batasan kemanusiaannya. Wujudnya begitu menyeramkan dengan tatapan tanpa kehidupan. Dan kini, Serina sedang berhadapan dengan makhluk jadi-jadian tersebut.
"Ini tidak mungkin, kan." Serina menatap kakinya yang telah terpaku oleh kristal-kristal hijau yang keras.
Ia melirik ke arah Akira. Saat itu juga, matanya terpelotot dengan bulu kuduk yang berdiri.
"Makhluk apa itu?" Serina menatap Akira yang berjalan perlahan ke arahnya.
Dari kedua matanya, darah menitis tanpa henti. Tak jarang di antara tetesan darah itu, terdapat serpihan-serpihan kristal yang ikut berlumur darah. Mulutnya menyeringai lebar, seolah menunjukkan kepada Serina bahwa ia adalah mangsanya sekarang.
"Ini mustahil."
.
.
__ADS_1
.
To be continued...