Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Tamu tak di Undang


__ADS_3

Ratusan anak panah mulai menuju ke arah mereka. Mereka berdua hanya menatap ke anak-anak panah itu dengan tatapan suram.


Darren terluka dan ia tidak bisa bergerak cepat. Sementara Tora sedang mengalami krisis mental. Mereka bisa saja menghindar, tapi itu tak menjamin mereka akan luput dari luka fatal.


Duarr! Sebuah suara dentuman terdengar keras. Seiringan dengan suara itu, sebuah gelombang angin yang kencang datang dan menghempaskan semua yang ada di area situ.


Semua anak panah yang sedang meluncur terhempas. Tora dan Darren juga ikut terlempar hingga beberapa meter, tapi itu tidak menimbulkan luka serius.


"A-Apa itu?" Gumam Darren sambil memegangi pundak kirinya.


Tora bangkit berdiri dan membantu Darren untuk ikut bangkit dengan kakinya. Tak lama kemudian, mereka melihat dua benda asing sedang melayang di langit kota itu.


"Apa itu tadi?" Ucap Tora sambil melotot syok. "Gelombang getaran itu sangat kuat hingga menghempaskan semua anak panah dengan mudah."


Darren membalas sambil mencabut batang panah di pundaknya. "Sesuatu pasti terjadi. Tapi kita harus pikirkan apa yang terjadi di sini dulu."


Mereka berdua melirik ke atas dinding. Terlihat Accel juga syok dengan apa yang terjadi, tapi itu tidak menghentikannya untuk membunuh Darren.


"Semuanya, cepat hujani lagi mereka berdua dengan anak panah!" Teriak Accel sambil menunjuk Darren dan Tora.


Para tentara mulai menarik benang mereka. Suara gesekan benang mulai terdengar secara serempak.


"Tembak!"


Tapi dari belakang Darren dan Tora, tiga orang datang berlari ke arah mereka.


"Earth Elemental: Stone Wall!" Ternyata itu Rendi. Ia bersama Remi dan Shiro.


Sebuah dinding besar muncul membelah area pertempuran, sehingga menghalangi pandangan mereka dengan musuh.


"Darren-sama, apa kau tidak apa-apa?" Shiro langsung meletakkan tombaknya dan menghampiri Darren.


Sementara itu Remi menjadi emosi saat melihat Tora. Ia langsung datang kepadanya dan menarik kerah bajunya ke atas.


"Dasar pengkhianat tak tahu malu!" Teriak Remi dengan keras hingga membuat Tora terpejam diam. "Berani-beraninya kau mendekati Darren-sama setelah melakukan hal serendah itu!"


Tora diam tak menjawab. Tapi Remi terus berteriak kepadanya. Emosinya benar-benar meluap.


"Remi, kita tak punya waktu untuk itu!" Ucao Rendi menariknya menjauh dari Tora. "Kita harus cepat pergi, atau para tentara itu bisa membunuh kita."


Mereka segera bergerak. Shiro menenteng Darren di pundaknya sambil berjalan agak sempoyongan. Tora menawarkan diri untuk membantu, tapi Remi melarangnya karena ia sudah tak percaya lagi padanya.


"Kau pengkhianat, tetaplah di belakang. Jangan dekati Darren-sama lagi!" Teriak Remi sambil pergi, diikuti Tora di belakangnya.


Sementara Rendi terus menerus membuat tembok di belakang mereka.


Accel jadi sangat emosi saat pandangannya pada Darren terputus. Ia segera memerintahkan para penyihir untuk melempar bola api untuk menghancurkan tembok batu itu.


Tapi setiap satu tembok hancur, selalu muncul tembok baru lagi di tempat yang sama. Rendi benar-benar mengerahkan semua tenaganya untuk melindungi teman-temannya.


"Cepat aktifkan mantra Cancelling! Jangan biarkan ia membuat tembok baru lagi!" Teriak Accel kepada para penyihir.


Para penyihir itu merapal mantra Cancelling dan tembok itu mulai kembali masuk ke dalam tanah. Setiap kali Rendi mencoba merapal mantra lagi, selalu digagalkan dan ia berakhir kehabisan Mana.


"Sial! Semuanya, cepat lari!" Teriak Rendi.


Melihat mereka menjauh, Accel tak tinggal diam. Ia memerintahkan para pemanah untuk menembaku mereka lagi. Dalam sekejap, anak-anak panah kembali menutupi langit.


"Tak ada gunanya! Kita tidak bisa lari," Ucap Remi. "Merapal mantra pun tidak bisa. Kita terjebak."


Tapi lagi-lagi, sebuah gelombang getaran yang kuat kembali menghempaskan semua anak panah itu. Darren dan yang lain berhasil mempertahankan posisi mereka berkat gedung yang menutupi arah gelombang itu datang.

__ADS_1


Tapi kali ini ada sesuatu yang ikut terhempas dari langit. Satu dari dua benda yang melayang tadi terjatuh terbawa gelombang itu.


Gubrakk! Kepulan asap menutupi suasana. Pandangan mereka tertutup dan ini bisa jadi kesempatan yang bagus untuk lari.


"Tomatsu-sama!" Tapi tiba-tiba Shiro berteriak histeris.


Darren terkejut. "T-Tomatsu?"


Saat kepulan asap itu mulai menghilang, terlihat Tomatsu sudah tergeletak di tanah. Area di sekitar tempatnya jatuh hancur berantakan. Ia pasti menerima hantaman yang sangat kuat hingga bisa terhempas sejauh ini.


"Apa yang terjadi!?" Ucap Darren kebingungan sekaligus syok. "Apa yang terjadi, Shiro?"


Shiro menjawab. "Tadi, saat kami sedang di pasar..."


.


.


.


Beberapa Menit yang Lalu, Di Pasar...


"Halah, ini mah barang palsu," Ucap Tomatsu sambil mengamati sebuah batu sihir yang terpajang di sebuah stan.


Si pedagang membalas, "Jangan asal bicara ya! Tentu saja batu itu asli."


Tomatsu menyeringai dengan raut mengejek. "Heh, dasar manusia gak punya otak. Jelas-jelas batu ini gak memancarkan aura sihir sama sekali."


"Hey, jaga mulut mu ya! Kalau gak mau beli ya gak usah protes!"


Tomatsu dan pedagang itu saling cekcok sementara Shiro menepuk jidat menyaksikan itu.


"Tomatsu-sama, ayo kita pergi saja. Kita bisa bilang kepada Tora-kun kalau kita tidak mendapatkan barang yang dia cari," Ucap Shiro sambil menarik Tomatsu.


"Ah, Remi-kun. Ada apa?" Tanya Tomatsu.


Remi membalas sambil terengah-engah. "Dimana Darren-sama?"


"Ia sudah pergi duluan bersama Tora-kun," Jawab Tomatsu.


"Gawat!" Ucap Remi.


Shiro dan Tomatsu keheranan.


"Gawat kenapa?" Tanya Shiro.


Remi hendak menjelaskan tapi ia terlalu terburu-buru, jadi Rendi mengambil alih pembicaraan.


"Sebenarnya tepat sebelum kalian pergi, Mia dan Robert kembali dan membawa kabar tidak enak," Ucap Rendi. Wajah Tomatsu dan Shiro langsung mengkerut.


"Mereka bilang kalau Tora sudah berpindah pihak. Ia telah bekerjasama dengan Kerajaan ini dan Erobernesia untuk menangkap Darren-sama," Sambung Rendi.


Dalam sekejap wajah Shiro dan Tomatsu langsung tegang.


"I-Ini bohong, kan?" Ucap Shiro. "Tora-kun tidak mungkin melakukan itu."


Tomatsu juga menambahkan, "Ya, benar. Tora-kun tidak akan mengkhianati kami."


Rendi hanya menundukkan kepala sambil sedikit terpejam. "Aku tahu kalian mungkin tidak akan percaya ini. Tapi lebih baik kita segera ke sana dan memastikan keadaan Darren-sama sendiri."


Shiro dan Tomatsu jadi gelisah. Mereka berdua tidak percaya kalau Tora mengkhianati Darren. Tapi demi memastikan, mereka akhirnya setuju untuk menyusul Darren.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kita cepat ke sana," Ucap Tomatsu. "Darren-kun ada di gerbang barat. Kita masih punya waktu untuk ke sana."


Mereka segera bergerak menuju tempat kemana Darren menuju, yaitu gerbang barat. Mereka berlari dengan cepat melewati kerumunan orang-orang.


Tapi semakin ke barat, mereka merasa kalau suasana jadi semakin sepi. Keramaian semakin berkurang sehingga mereka bisa bergerak lebih cepat.


Saat mereka sudah cukup jauh dari keramaian, sekarang jalan di situ sudah tidak ada lagi orang. Jalannya sepi dan sunyi, sehingga tapak kaki mereka bisa terdengar cukup jelas.


Tapi, muncul seseorang di tengah jalan. Orang itu mengenakan pakaian panjang seperti jubah dengan penutup kepala hingga menutupi wajahnya.


"Kita sudah cukup dekat dengan gerbang barat. Darren-sama pasti ada di sana!" Ucap Remi kepada yang lain.


"Oh, di barat, ya?" Orang asing itu tiba-tiba menyahut.


Ia langsung melompat dan menyerang mereka secara tiba-tiba.


"Hell Flame!" Ucap pria asing itu.


Sebuah api hitam berkobar tepat di hadapan mereka. Mereka segera berhenti dan mundur untuk menjaga jarak aman.


"Api ini--" Tomatsu segera menoleh ke arah pria itu. "Kau!"


"Kita bertemu lagi, Tomatsu," Ucap pria itu sambil membuka tudung kepalanya. Terlihat ia mengenakan topeng dan mengeluarkan sebuah pedang hitam panjang dengan beberapa pola garis-garis berwarna merah darah di pinggir mata pedangnya.


Tomatsu terlihat terkejut saat melihat pria itu. Ia bahkan langsung berteriak pada Shiro.


"Shiro, cepat pergi kepada Darren! Beritahu ia untuk pergi dari sini secepatnya!" Teriaknya. "Bilang bahwa ia disini!"


Shiro tidak mengerti apa yang terjadi. Dan pria bertopeng itu, sepertinya ia punya suatu hubungan dengan Tomatsu. Tomatsu pasti mengenalnya dan ia tahu kalau orang itu berbahaya. Tapi, apa hubungannya dengan Darren?


"Cepat!" Teriak Tomatsu lagi.


Shiro segera pergi meninggalkan Tomatsu, diikuti Remi dan Rendi di belakangnya. Jika Tomatsu sampai sepanik itu, pasti orang itu bukanlah orang biasa.


"Tidak semudah itu," Pria itu hendak mengejar Shiro, tapi Tomatsu menghadangnya.


"Jika kau mau ke sana, kau harus melalui ku dulu," Ucap Tomatsu.


Pria itu tertawa kecil, "Kau tidak berubah, Tomatsu. Bahkan setelah di penjara seribu tahun."


Pria itu mulai terbang. Kakinya terangkat dari atas tanah dan mulai melayang tinggi ke langit.


Tomatsu segera menyusulnya. Ia mengubah separuh kerapatan fisiknya menjadi debu sehingga menjadi ringan dan melayang dengan memanfaatkan angin yang berhembus.


"Bakat memanipulasi fisik, ya. Sepertinya aku baru melihat ini," Ucap pria itu. "Mengubah densitas tubuh mu sendiri dan memanfaatkan lingkungan sekitar mu. Ternyata kau sudah berubah lebih banyak dari yang ku duga."


"Walau tubuhku tak sepadat seperti normal, tapi pukulan tanganku akan tetap terasa sama," Balas Tomatsu.


"Benarkah?" Pria itu langsung melesat di udara dengan cepat. Ia mengepalkan tangannya dan meluncurkan tinjuan ke arah Tomatsu.


"Lambat!" Tomatsu dengan cepat membalasnya dengan tinjuan juga.


Kedua tangan mereka akhirnya saling bertemu dan berhantaman. Saking kuatnya hingga menghasilkan gelombang getaran yang kuat. Cukup kuat hingga membuat beberapa bagian bangunan rontok.


Kini wajah mereka begitu dekat. Mereka saling bertukar tatap serius dan keinginan ingin saling membunuh.


"Kenapa kau melindungi manusia itu?" Tanya pria itu sambil menatap mata Tomatsu dengan tajam.


"Bukan urusan mu," Jawab Tomatsu. "Akan ku lindungi dia dari mu. Apapun caranya!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2