
Sesuatu terasa masuk ke dalam tubuh Darren. Untuk sesaat, punggungnya terasa dingin tapi kemudian, rasanya menjadi sangat hangat dan nyaman.
"Apa aku mati?" Ucap Darren dalam hati, dengan perasaan putus asa dan pasrah. "Aku jadi mati dua kali, ya?"
Dengan matanya yang setengah tertutup, Darren melihat wajah Accel yang tersenyum lebar dari kejauhan. Ia benar-benar berniat membunuh Darren kali ini.
"Ah, benar. Aku mati," Ucap Darren lagi. "Aku telah menemui ajal ku di dunia ini. Tak terasa akan sesingkat ini."
Darren pun tergeletak di tanah. Dengan pandangannya yang sudah rabun, ia melihat jari-jemarinya. Ia menggerakkannya dan merasa tangannya sangat ringan.
"Loh, kok ringan?" Gumamnya.
Ia kembali membuka matanya, seakan teringat sesuatu. Ia menggerakkan jarinya dengan cepat, dan tangannya, semua terasa ringan.
"Apa-apaan ini? Kenapa aku gak mati?"
Ia mencoba bangkit dan benar, ia bisa beridiri dengan mudah tanpa kesulitan sama sekali.
"Apa sihir Wither itu tak bekerja?" Pikirnya.
Ia pun mulai memegangi bagian punggungnya sampai ia merasakan sebuah kain berkobar karena tertiup angin.
"Oh ya, aku lupa," Ucapnya. "Aku kan pake jubah sihir."
Accel disana berdiri dengan terkejut. Ia tak menyangka kalau sihirnya tak bekerja.
"Apa? Dia kebal?" Ucap Accel sambil terplongo.
Darren segera berdiri dan menggenggam kembali pedangnya.
"Bagaimana bisa!?" Ucap Accel tak percaya. "Sihir Wither adalah sihir kematian. Tak mungkin kau bisa selamat dari sihir itu!"
Darren membalasnya dengan sebuah tawa ledekan. "Main mu kurang jauh, Accel. Padahal kau mengaku sebagai seorang penyihir, tapi tentang hal ini saja kau tak tahu apa-apa."
Accel menggertakan giginya dengan kesal. "Berisik! Aku akan mengalahkan mu kali ini!" Teriaknya. "Aku yakin kau sudah kehabisan banyak Mana. Tak mungkin kau bisa menang."
Darren tertawa. "Aku tak setuju dengan cara pikir mu yang suka meremehkan orang."
Darren mengambil posisi meditasi. Disaksikan oleh Accel dan tentara Friedlich, ia mulai menyilangkan kakinya dan menggerakkan jarinya membentuk huruf O.
"Selesai," Ucapnya setelahnya.
Accel melihat Darren kembali berdiri. Ia sempat kebingungan dengan apa yang Darren lakukan?
"Apa yang kau lakukan?" Tanyanya dengan nada tinggi.
Darren hanya tersenyum tanpa menjawab. Ia hanya mengangkat tangan kanannya ke langit dan merapal sebuah mantra.
"Non-elemental Spell: Weather Modification!"
Awan segera mengepul dan langit menjadi gelap. Air hujan mulai turun rintik-rintik tak begitu deras.
Awalnya Accel hanya melongo kagum melihat kemampuan sihir Darren, tapi akhirnya ia sadar.
"Dia sengaja menggunakan sihir sehebat ini hanya untuk menunjukkan bahwa ia masih memiliki banyak Mana," Kata Accel pada dirinya. "Tak mungkin. Setelah dua pertarungan itu ia masih punya banyak Mana?"
"Tidak-tidak, sepertinya aku salah. Ini bukan tentang banyaknya Mana yang ia miliki, tapi seberapa cepat ia mengisi Mana-nya."
"Di lihat dari gaya-nya duduk tadi, itu pasti bukan hal biasa. Itu pasti semacam ritual pengisian Mana. Tapi apakah manusia punya kemampuan semacam itu?"
Darren melihat wajah Accel yang panik. Sepertinya Accel sudah tahu kebenarannya.
"Jadi bagaimana?" Tanya Darren.
Accel menghentakkan kakinya. Ia mengangkat tongkatnya dan berteriak kepada Darren, "Akan ku ambil kemampuan mu itu!"
Kemudian Accel mulai melangkah maju di tengah hujan itu.
Melihat itu, Darren mengangkat tangannya hingga setinggi dada dan merentangkannya dengan kepalan tangan terbuka. "Ho... kau menghampiri ku? Daripada lari kau lebih memilih untuk mendatangi ku?" Ucapnya dengan sedikit improvisasi.
"Aku takkan kalah dari mu kali ini!" Balas Accel.
"Ho...ho.. kalau begitu, mendekatlah semau mu," Sambung Darren meneruskan referensinya.
"Water Shot!" Accel langsung menyerang tanpa banyak bicara.
Pew! Pew! Serangan air Accel dengan mudahnya dihindari oleh Darren.
__ADS_1
Dengan Mana-nya yang sudah pulih total, tubuhnya terasa ringan dan tenaganya meningkat jauh dari sebelumnya.
"Ha! Ha! Aku bisa menghindar dengan mudah," Ucap Darren tertawa-tawa sambil terus melompat kesana kemari.
Accel merasa jengkel. Serangannya sia-sia, sementara Mana-nya terus berkurang. Ia harus melakukan serangan efektif.
"Tidak ada gunanya jika aku terus bertarung. Dilihat dari kondisinya saja, bisa dibilang aku yang dirugikan disini," Pikir Accel. "Sebanyak apapun jurus yang ku lancarkan, tak ada yang berguna. Aku harus cari cara lain untuk mengalahkannya, walau itu cara licik."
"Ah iya, Desa Lizardmen itu..."
Accel mengulurkan tongkatnya ke langit. Melihat itu, Darren mempersiapkan pedangnya.
"Water Flower Blooms!"
Ciuuu!!! Sebuah gelembung air raksasa terpental ke langit.
Darren sudah bersial untuk menghindar, tapi apa yang di lihatnya membuatnya bingung sekaligus panik.
"Apa yang ia lakukan? Serangan itu tidak di arahkan kesini," Kata Darren dalam hati.
Gelembung air itu meledak di langit. Tanpa menimbulkan kerusakan sedikitpun.
Sebenarnya apa rencananya? Apa ini adalah salah satu rencananya juga?
Darren mengerutkan dahinya, saat ia mulai menyadari bahwa Accel tidak berniat menyerangnya sama sekali.
"Kau sudah kalah, Darren!" Teriak Accel.
Darren mulai sadar. Tadi itu bukanlah serangan, tapi itu adalah aba-aba.
"Keparat! Itu adalah sinyal untuk para pasukan," Ucap Darren.
"Sialan kau Accel!" Teriak Darren kesal.
Accel hanya tertawa. Ia kemudian melemparkan sihir blind pada Darren dan kabur dari situ.
"Sial, dia kabur," Gerutu Darren. "Berapa banyak musuh yang telah ku biarkan kabur?"
Tak ada gunanya mengejar Accel. Dia harus menyelamatkan desa itu terlebih dahulu. Darren berpikir untuk langsung pergi, tapi bagaimana dengan Akira? Apakah ia harus membawanya juga?
"Esema-sama," Tiba-tiba Fak datang menghampirinya. "Kau pergilah. Kami akan menjaga Kapten hingga ia bangun."
Darren sedikit terkejut. Apa mereka tak tahu kalau ia adalah seorang kriminal?
"Ya, itu benar. Kami berhutang nyawa pada mu," Sambung teman Fak.
Darren merasa terharu dengan tindakan mereka. Ia pun mempercayainya.
"Baiklah, aku serahkan dia pada kalian," Ucap Darren sembari meninggalkan tempat itu.
.
.
.
Step... Step... Step... Darren terus berlari melewati pohon-pohon.
"Di depan adalah desa Lizardmen. Aku harap semua orang baik-baik saja," Kata Darren.
Sesampainya disana, benar saja. Para pasukan Erobernesia sedang bertarung melawan para petualang. Eh tunggu, petualang?
"Ah! Mereka!" Ucap Darren, "Mereka adalah para petualang yang kami tangkap waktu itu. Tak kusangka kalau mereka akan ikut membantu para Lizardmen."
Tapi walau dengan bantuan beberapa petualang, tenaga Lizardmen masih kalah jauh dari para tentara Erobernesia. Jumlah mereka banyak sekali, bahkan beratus-ratus kali lipat dibandingkan gabungan petualang dan para Lizardmen.
"Gawat, aku harus membantu mereka."
Darren segera melompat dari semak-semak dan muncul dihadapan para petualang dan Lizardmen.
"Woah, itu Darren!" Ucap Kanrei antusias, sambil berusaha menahan beberapa tentara.
"Kanrei, lama tak berjumpa," Balas Darren sambil menghampirinya.
Dengan pertemuan singkat itu, Kanrei memberi tahu Darten bagaimana kondisi desa.
"Tak kusangka Accel akan mengirim sepertiga tentara kerajaan hanya untuk masalah semacam ini," Ucap Darren sambil menahan beberapa tentara. "Bagaimana kabar Riuku dan Takara?"
"Mereka baik-baik saja. mereka bersama para warga desa, telah kami evakuasi ke dalam hutan, termasuk para manusia hewan yang telah kau kirim kesini." Balas Kanrei.
__ADS_1
"Ah, jadi mereka sudah sampai, ya," Ucap Darren. "Lalu, bagaimana dengan Kaido?"
"Ia sedang bertarung di tempat lain," Sambung Kanrei. "Tenang saja. Aku yakin dia baik-baik saja. Beberapa petualang juga bersamanya kok."
Darren tersenyum lega.
"Tapi pasukan ini terlalu banyak, kita tak bisa menahannya lebih lama," Ucap Kanrei. "Beberapa Lizardmen telah tumbang. Tapi berkat bantuan para petualang, mereka berhasil di obati walau tidak seratus persen sembuh."
"Keadaannya sangat memojokkan kita," Ucap Darren. "Kita harus lari."
"Lari?"
"Ya. Aku akan pancing mereka untuk menjauh. Lalu gunakanlah kesempatan itu untuk membawa semua orang kabur."
"Tapi itu sangat beresiko buat mu. Melawan semua pasukan sendirian, apa kau sudah gila?"
"Tak ada pilihan lain," Ucap Darren pasrah. "Mereka takkan segan untuk membunuh kita. Kita diam, maka kita mati."
Tiba-tiba, terdengar suara keras dari arah para pasukan Erobernesia. Ternyata itu Accel.
"Darren!" Ucapnya dengan keras. "Menyerahlah sekarang juga!"
Keadaan menjadi hening. Mereka semua menunggu jawaban dari Darren.
"Bagaimana jika aku menolak?" Tanya Darren.
"Bagaimana jika aku membunuh teman mu itu sekarang juga?" Balas Accel sambil menunjukkan Akira yang sudah tertangkap, bersama para pasukannya.
"Akira!" Panggil Darren. Tapi Akira masih pingsan.
Darren terdiam tak tahu harus apa. Keadaan sangat memojokkannya kali ini.
Terus melawan pastinya hanya akan mendatangkan hal buruk, melihat dari situasinya sekarang. Tapi menyerah juga tak menjamin bahwa desa Lizardmen akan aman.
"Aku tak bisa memilih salah satu!" Gerutu Darren. "Sial! Sial! Sial!"
Disaat Accel tersenyum lebar menunggu jawaban, dan tatapan putus asa yang terlihat jelas di mata Darren. Tiba-tiba sebuah petir menyambar dari langit.
Duar!!! Petir itu menyambar beberapa tentara Erobernesia. Dari sambaran itu pula muncul seekor serigala yang terlihat familiar di benak Darren.
Para tentara kaget dan kehilangan kewaspadaan mereka terhadap Akira.
Swoosh! Seseorang langsung menggendong Akira dan membawanya kepada Darren.
"Itu..." Ucap Darren pelan.
"Yo... halo Darren!" Ternyata itu Ravenna. "Lama tak berjumpa."
"Ravenna!" Balas Darren bersemangat.
"Sepertinya aku terlambat, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali," Sambung Ravenna.
Para tentara Erobernesia mulai berbisik satu sama lain.
"Bukankah itu petualang terkenal?" Bisik mereka.
"Iya benar. Kalau tidak salah, namanya adalah Ravenna."
"Apa dia membela para monster juga?"
Ravenna melihat sekeliling. "Seperti yang kuduga, mereka banyak sekali," Ucapnya membicarakan para pasukan kerajaan.
"Ya, kami bahkan kekurangan tenaga melawan mereka," Balas Darren.
"Tenang saja, aku tak sendiri kemari," Sambung Ravenna.
Phiwwftt!!! Ravenna mengeluarkan suara siul dengan mulutnya.
Goblin-goblin tiba-tiba bermunculan mengepung tentara Erobernesia yang banyak sekali jumlahnya. Mereka membawa pedang, tombak, panah, dan perisai.
Para tentara sontak terkejut.
"Goblin dan Lizardmen bekerja sama? Ini gawat!"
Para tentara muali gusar. Tapi Accek kembali meneriakkan peringatan.
"Kalian pikir hanya dengan bantuan Goblin seperti ini akan menakuti kami?" Teriaknya. "Kami adalah Tentara Erobernesia! Kami takkan takut kepada monster-monster rendahan seperti itu!"
"Kita lihat saja nanti," Balas Ravenna. "Saat kalian sudah kalah."
__ADS_1
Darren pun tersenyum lebar. Semangat bertarung dalam jiwanya kembali berkobar. Ia mengeluarkan pedangnya dan bersiap untuk pertarungan ronde ketiga.
"Ayo kita bersiap."