Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain

Isekai No Gakusei: Pelajar Dari Dunia Lain
Permainan dalam Penangkapan


__ADS_3

"Darren, apa kau yakin?" Bisik Kanrei melihat Darren yang sudah berdiri tegap. "Kita tak mungkin bisa memenangkan pertarungan ini. Kita kalah jumlah."


Darren balas berbisik. "Accel adalah orang cerdas. Semua ini kulakukan hanya semata-mata untuk ancaman," Ucap Darren "Mereka mungkin akan menang, tapi bukan berarti itu adalah kemenangan yang mereka inginkan."


"Apa maksud mu?" Tanya Kanrei.


"Mereka kemari hanya untuk menangkap ku. Jika aku bisa memanfaatkan hal tersebut, kemenangan sudah ada di depan mata kita," Ucap Darren.


Kanrei tak mengerti maksud Darren, tapi ia mencoba untuk mengikuti ritme.


Darren berjalan kedepan pasukan. Dengan jelas Accel bisa melihatnya.


"Darren, apa yang kau lakukan?" Tanya Ravenna kaget.


Darren tak menjawabnya. Ia hanya menoleh sedikit dan mengedipkan matanya sambil sedikit tersenyum.


"Accel!" Teriak Darren. "Yang kau incar itu aku, kan? Aku akan menyerah kepadamu sekarang juga."


Accel sedikit tak yakin dengan itu. "Trik apalagi yang kau mainkan kali ini?"


"Ini bukan trik," Ucap Darren.


Accel hanya menatapnya dengan penuh curiga. Tapi ia tak punya alasan untuk menolak penyerahannya. Lagipula, tujuan utamanya kesini kan untuk menangkap Darren.


"Bagaimana aku bisa mempercayai mu?" Sambung Accel.


Darren pun mengeluarkan pedangnya dan menancapkannya di tanah. Ia kemudian mengeluarkan sihir yang kuat dan menghancurkan pedang itu di depan semua orang.


Bruakk...


Semua orang terkejut, terlebih lagi dari pihak Darren.


"Darren, apa yang kau lakukan!?" Teriak Ravenna.


Darren pun menanggalkan jubahnya dan melepas semua perlengkapan tempurnya. Ia mulai berjalan ke arah Accel sambil menyerahkan barang-barangnya.


"Sebagai bentuk penyerahan ku, kau boleh miliki ini sebagai jaminan," Ucap Darren.


Accel masih tak percaya dengan Darren. Ini bisa saja menjadi salah satu triknya.


"Bagaimana, Accel-sama? Apa kita ambil saja perlengkapan ini?" Tanya salah satu tentara.


"Tidak. Buang saja benda itu," Balas Accel. "Benda itu bisa saja adalah salah satu alatnya. Kita tak akan mau mengambil resiko dengan membawa barang-barang itu bersama kita. Buang saja benda itu ke tanah."


Darren sedikit terkejut. Tapi ia terus melancarkan rencananya.


Setelah di geledah lagi, tak ditemukan barang-barang aneh pada Darren. Mereka pun menangkapnya dan membawanya masuk ke sebuah kereta.


"Sebelum itu..." Ucap Darren, "Aku ingin kau berjanji untuk tidak akan menyentuh desa ini lagi."


"Baiklah. Asalkan kau nurut dengan perintah kami," Balas Accel.


Darren pun dibawa oleh para tentara. Semua pasukan ditarik kembali ke kerajaan dengan mengawal kereta Darren dengan penuh penjagaan.


"Darren!" Teriak Ravenna, syok dengan apa yang ia lihat.


Darren hanya melambaikan tangannya sambil menoleh sedikit. Ia berkedip beberapa kali sambil tersenyum kecil.


"M-mungkinkah?" Ucap Ravenna dalam hati. "Dia sudah menyiapkan rencana untuk ini?"


.


.


.

__ADS_1


Beberapa Jam Kemudian...


Darren sudah cukup jauh dari desa. Ini sudah sekitar satu jam perjalanan. Sebentar lagi ia akan keluar dari hutan dan sampai di kota.


Di dalam kereta yang sama, seorang tentara duduk di depannya. Ia terus mengawasi Darren dengan ketat. Segala hal yang dilakukan Darren selalu diperhatikannya dengan teliti.


Bahkan jika Darren hanya bersender dan mulai bernyanyi kecil karena bosan, pria itu langsung meletakkan tangannya di atas pedangnya. Dan memberikan tatapan seakan memperingati Darren, "Lakukanlah sesuatu, maka akan kupenggal kepalamu."


Darren sedikit terganggu dengan orang itu, tapi ia mulai terbiasa.


"Kita sampai di kota!" Teriak salah satu tentara.


Darren mengeluarkan kepalanya di jendela. Ah benar, tembok kota yang tinggi sudah kelihatan.


Kereta mulai masuk melalui pintu gerbang.


"Ah iya, bagaimana keadaan Fabrio, ya?" Gumam Darren. "Semoga aku bisa melihatnya di gerbang."


Darren menoleh ke sekeliling, tapi tak ada tanda-tanda Fabrio di sana.


"Eh kau," Panggil Darren pada salah satu penjaga.


"Ada apa, buronan?" Sahutnya mengejek.


"Apa kah teman mu itu ada disini?" Sambung Darren. "Orang yang agak tua. Mirip om-om dan rambutnya agak sedikit putih. Dia juga penjaga gerbang di sini. Namanya Fabrio."


"Aku gak tau siapa yang kau bicarakan. Tapi kalaupun aku tau, aku gak mau memberitahu seorang buronan seperti mu," Balas penjaga itu sambil tertawa.


"Ah, begitu ya," Ucap Darren. "Lain kali, jika kita bertemu lagi. Akan ku traktir kau makan pedang."


Memasuki kota, banyak warga mulai berkumpul di sisi jalan.


"Dia buronan itu?" bisik warga saat melihat Darren melambai-lambaikan tangan di kereta.


"Dia membunuh banyak orang dan malah melambai-lambai."


Darren terus melambai-lambai tangannya. Dengan senyum lebar di wajahnya, ia berteriak, "Terimakasih telah menyambut ku begitu meriah. Aku sangat mengapresiasinya."


Accel yang berada di kuda terdepan, menoleh kebelakang. Ia melihat Darren berkelakuan seperti itu membuatnya sedikit berpikir bahwa ia sudah gila.


"Sepertinya ia gila," Ucapnya. "Menerima kekalahan memang susah sih."


Karena perjalanan ke pusat kerajaan masih jauh, mereka memutuskan untuk bermalam sebentar di situ. Bukan bermalam di penginapan, tapi di penjara.


"Aku akan tidur di penjara?" Tanya Darren.


"Tidak usah protes. Tempat ini cocok untukmu," Balas Accel. "Kalian, bawa dia masuk. Awasi dia, dan jangan sampai ia kabur."


Darren sedikit tertawa.


"Accel-sama, maaf aku mengatakan ini," Ucap salah satu tentara. "Tapi apakah tidak sebaiknya anda yang menjaga buronan ini sendiri?"


"Maksud mu?" Tanya Accel.


"Tak ada seorang pun di antara kami yang sekuat anda. Jika ia membobol keluar, maka kami semua bisa dihabisinya. Dan ia akan kabur dengan mudah," Ucap tentara itu.


Accel merengutkan dagunya. Ia berpikir kalau itu benar. Mengambil resiko sebesar itu tak setimpal hanya dibandingkan dengan tidur tak nyaman untuk satu malam.


"Baiklah, aku akan menjaganya," Ucap Accel. "Kalian beristirahatlah, besok pagi kita akan lanjut berangkat."


"Baik!"


.


.

__ADS_1


.


Gubrakk!!! Darren dilempar dengan kasarnya ke dalam penjara. Dengan tangannya yang diborgol dan ruangan penjara yang tertutup rapat, akan sulit untuk keluar dari situ.


Apalagi Accel mengawasinya dari balik jeruji dengan duduk disebuah kursi kayu. Ia terus memperhatikan Darren dengan tatapan waspada.


"Ah, kau di sini juga ya, Accel," Ucap Darren.


Accel hanya membalasnya dengan tatapan yang semakin dingin.


"Aku senang kau disini. Setidaknya, itu bisa memastikan bahwa aku takkan dihajar diam-diam oleh para penjaga," Sambung Darren.


"Jika kau tak ingin dihajar, maka diamlah," Ucap Accel.


"Hoh, aku kan cuma ingin lebih akrab dengamu," Balas Darren. "Toh bentar lagi kita akan jadi rekan kerja."


"Rekan kerja?"


"Eh? Bukankah aku ditangkap agar bisa bekerja untuk kalian?" Ucap Darren. "Kau sendiri yang bilang bahwa orang sekuat diriku akan sia-sia kalau dibunuh."


"Diamlah! Hidup dan mati mu berada ditangan raja. Dialah yang akan memutuskan semuanya nanti," Balas Accel.


"Lalu menurut mu sendiri, apa aku akan dibunuh?"


Accel terdiam untuk sesaat. Ia tak memikirkan itu sebelumnya.


"S-sudahlah, diam! Aku berusaha untuk istirahat!" Ucapnya.


Darren tersenyum. "Ah, ku kira kau adalah teman raja, tapi ternyata kau tidak tahu apa-apa ya."


"Bicaralah semau mu. Aku takkan jatuh ke dalam jebakan perkataan mu," Kata Accel.


Darren menghela nafas. Ia berjalan pelan ke sebuah tempat tidur kecil yang menggantung di tembok dan duduk disitu.


"Iya juga sih. Aku percaya kau takkan mudah kedalam permainan kata seperti itu," Ucap Darren.


"Bicara apa kau ini?"


"Aku hanya berpikir bahwa sanjungan adalah senjata paling mematikan di dunia," Sambung Darren. "Tapi sepertinya kau bukanlah tipe orang yang suka disanjung. Kau adalah orang hebat"


"Sanjungan seperti itu takkan mengubah pandangan ku pada mu," Balas Accel.


"Tuh kan, benar apa kataku," Ucap Darren. "Sanjungan adalah salah satu bentuk permainan kata. Dengan mengambil hati seseorang saja, kau bisa menguasai arena tempur dengan mudah."


Accel mulai memiringkan kepalanya. "Sebenarnya apa yang kau bicarakan?"


"Kau tahu, beberapa orang sangat suka disanjung. Tapi ada juga yang tidak," Sambung Darren. "Orang-orang yang tak suka disanjung itu adalah orang-orang istimewa."


"Maksud mu?"


"Ah, bukan apa-apa. Aku hanya membicarakan hal tak berguna," Ucap Darren sambil tersenyum.


Accel merasa kesal dengan jawaban terakhir Darren. Ia menggebrak meja disamping kursinya dan berdiri.


"Aku tak tahu permainan kata apa yang barusan kau lakukan. Tapi, jika kau ingin menyanjung seseorang, maka katakanlah dengan jelas!" Ucapnya.


"Eh?"


"Kau ingin menyanjung ku, kan? Tapi kau terlalu malu untuk mengatakannya. Ego mu menghalangi niat mu!"


Darren terkejut. Sebena,rnya ia tak mengerti apa yang diucapkannya dari tadi. Ia hanya mencoba membuat Accel terbangun.


"Setidaknya rencana ku lancar," Ucap Darren dalam hati. "Dia sudah mulai terbawa pembicaraan. Dengan ini ia bisa terjaga semalaman."


"Maka besok adalah saatnya aku melakukan rencana selanjutnya."

__ADS_1


__ADS_2